Suara mesin bubut dari Workshop produksi di lantai bawah masih samar-samar terdengar sampai ke…
SANITASI
Suara mesin bubut dari Workshop produksi di lantai bawah masih samar-samar terdengar sampai ke lantai dua Gedung M—tempat dimana Sekretariat BEM Fakultas Teknik berdiri. Saat ini jarum jam yang ada di dinding sudah menunjukkan lewat angka sebelas malam. Jika ada orang yang lewat ruangan itu, mereka pasti akan mencium bau oli dari baju yang dikenakan beberapa fungsionaris yang bercampur dengan aroma kopi sasetan dan tumpukan kertas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).
Johan memijat pangkal hidungnya. Sebagai Ketua BEM Fakultas Teknik, minggu-minggu menjelang pergantian kepengurusan selalu jadi neraka bagi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik.
“Oi, Jo, ini draf revisi anggaran dari Departemen Minat Bakat. Anak-anak minta di tanda tangani malam ini biar besok subuh bisa dicairin ke dekanat,” kata Rayan, Sekretaris Umum, sambil meletakkan seonggok map tebal di meja kerja Johan yang agak berantakan.
“Taruh situ dulu aja, Yan. Nanti gue baca lima belas menit lagi,” jawab Johan dengan suara agak serak akibat pilek.
Rayan menepuk bahu Johan pelan sebelum pamit keluar untuk merokok di selasar. Begitu pintu sekretariat tertutup, menyisakan Johan sendirian di ruangan yang diterangi lampu neon putih yang agak berkedip, iPad gen-1 yang ada di atas mejanya bergetar.
Johan menghentikan pijatan di hidungnya, lalu meraih iPad yang layarnya mendadak menyala terang, menampilkan rentetan notifikasi BlackBerry Messenger (BBM) yang masuk bertubi-tubi tanpa jeda. iPad ini memang dia khususkan untuk akun keduanya—memakai nomor satu lagi yang ia daftarkan untuk keperluan verifikasi berkas legal, arsip digital BEM, dan beberapa keperluan administrasi cadangan yang jarang dia cek secara personal di ponsel miliknya.
Kedipan baris notifikasi itu membuat rasa pusing Johan hilang seketika.
[Dimas Anougrah invited you to the group ‘Sanitasi’]. [Dimas Anougrah changed your group permissions to: Admin].
Dahi Johan mengernyit dalam.
Dimas Anougrah?
Jantung Johan seketika berhenti. Dia ingat betul pernah meng-accept PIN orang itu beberapa bulan lalu saat forum lingkar ketua lembaga kampus. Dimas adalah salah satu aktivis kemahasiswaan yang sangat vokal terhadap isu isu minoritas dari Fakultas Kedokteran.
Sebelum jemari Johan sempat mengetikkan pesan bahwa Dimas salah memasukkan orang, sebuah pesan pribadi (PM) masuk dari kontak Dimas Anougrah.
Dimas Anougrah PING!!! Bro, admin grup udah gue pindahin ke BBM lu yang ini, ya. Sesuai obrolan kita di kantin FK kemarin. Gue mau fokus sidang skripsi besok, jadi gue mau rehat dulu dari pergerakan. Hp bb gue juga layarnya retak jadi perlu ke konter hp buat diperbaiki. Gue ngeri chat grup kita diintip orang konter XD. Tolong beberapa minggu ini pegang anak-anak dulu, lo kan yang paling vokal juga kemarin. Terusin perjuangan, bersihin kampus kita dari kaum menyimpang kayak si Johan, Pebri, Niko, dkk. Gue minta tolong banget, bro.
[System message: Dimas Anougrah has left the group ‘Sanitasi’]
Johan tertegun, menatap layar iPad-nya dengan tatapan kosong selama beberapa detik. Otaknya yang cerdas langsung merangkai apa yang baru saja terjadi. Dimas tampaknya salah menyalin digit terakhir PIN BBM salah satu mahasiswa yang hendak dia tunjuk sebagai penerus admin. Angka dan huruf terakhir PIN kedua Johan di BBM adalah angka ‘8B’, kemungkinan besar meleset dua karakter dari PIN salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran yang menjadi kaki tangan Dimas selama ini.
Johan mulai menyimpulkan kalau kata 'Sanitasi' yang menjadi nama grup itu jelas bukan berarti kebersihan lingkungan kampus. Itu sepertinya istilah samaran, sebuah nama dari sekumpulan mahasiswa yang merasa sedang membersihkan sesuatu yang mereka anggap kotor di lingkungan universitas.
Dan nama Johan—yang ia yakini adalah namanya sendiri yang disebut Dimas dengan makian kasar sebagai salah satu target utama. Johan menarik napas panjang melalui hidungnya yang agak tersumbat, lalu mengetuk ikon grup beranggotakan 47 orang tersebut. Jantung Johan berdegup lebih kencang saat matanya memindai daftar anggota yang aktif di dalam grup BBM tersebut. Karena sebagian Himpunan atau BEM di kampusnya menggunakan nama asli pada display name BBM mereka, membuat Johan langsung mengenali beberapa di antaranya yang juga anak Fakultas Teknik.
Fathur – Teknik Elektro.
Bagas – Teknik Sipil.
Dito – Teknik Mesin.
Dada Johan mendadak terasa sesak. Mereka adalah orang-orang yang tadi siang bersalaman dengannya di koridor Teknik, bahkan Dito adalah adik tingkat satu jurusan dengannya yang baru saja ikut merokok bersama setelah selesai rapat koordinasi internal sore tadi.
Namun, dari puluhan nama itu, perhatian Johan langsung terkunci pada satu nama di bagian atas daftar anggota yang aktif. Sebuah display name yang menggunakan nama asli tanpa inisial, dengan status PM yang sedang mendengarkan lagu Daft Punk feat. Pharrell Williams – Get Lucky.
Nama yang tidak pernah berubah sejak mereka masih memakai seragam putih-abu-abu. Dan, nama yang dulu hampir setiap malam bertukar pesan bbm dengannya, membahas mimpi-mimpi besar tentang cita-citanya menjadi dokter. Di sana, di antara barisan orang-orang yang membencinya, tertera nama: Ryu Alfareza.
Johan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit, menatap langit-langit sekretariat sejenak sebelum jarinya mulai meng-scroll ke atas pada layar iPad-nya. Dia membaca riwayat obrolan lama grup yang otomatis bisa diakses karena statusnya sekarang adalah admin yang sekarang memegang kuasa penuh grup tersebut.
‘Sanitasi’
Bagas Yohanes Eh itu si Johan ketua BEM FT makin hari makin kaga tahu diri dah gw liat. Tadi siang lewat koridor dekanat gontai banget jalannya, jijik gw liatnya. Kok bisa orang menyimpang kayak gitu kepilih jadi pimpinan fakultas kita?
Fathur Elonandra Asli, mukanya tebel banget. Udah banyak di-spill di Twitter sama facebook kampus tempo hari kalo dia demen batangan, harusnya tau diri langsung mundur dari jabatan ketua BEM FT.
Rangga Tau tuh cok. Lagian anak-anak se-angkatan sama dia juga pada lembek, kenapa gak ada yang berani ngelabrak langsung pas forum mubes kemarin sih? Kalo gue yang seangkatan dan se-fakultas sama dia, itu dia udah gua pelonco tiap hari di gedung teknik. Fathur sama si bagas nih berani di bbm doang dah, lu pada kan se-fakultas sama dia, berarti lu pada satu gedung sama dia lah. Lu pada kaga ada yang ketemu dia langsung ngajak berantem, lemah lu pada. Si Dito ini juga udah se-fakultas dan se-program studi sama si kontol itu, harusnya lu ajak aja berantem jing. Ini lu sebagai adek tingkatnya, diem doang. Lemah lu pada ah, kaga ada yang turun tangan neror si homo itu.
Ryu Alfareza Oi, udah. Si bencong kayak gitu gak bakal mempan kalau lo semua berisik di group chat doang. Dia ngerasa aman karena sejauh ini cuma dapet sanksi sosial kecil. Akun alter gue di Twitter udah mulai naikin utas baru lagi pake bukti-bukti lama. [Sent a picture: Tangkapan layar akun Twitter @antibencong] Coba kalian bantu RT tweet gue yang ini. Kita bikin mentalnya kena dulu sampe dia gak berani dateng ke kampus sama sekali.
Bagas Nah mantap ini, wkwk. Udah gua bantu re-tweet pake akun cloningan gue, ye.
Fathur Elonandra Gua juga udah kirim ke grup angkatan SMA gue biar diramein orang-orang. Biar mampus sekalian tuh si Johan.
Johan menatap baris demi baris bubble chat itu, lalu bayangannya beralih pada bubble chat Ryu yang dia kenal dulu semasa SMA. Ryu adalah cinta pertamanya semasa SMA yang dulu membuatnya sadar kalau dia sebenernya hanya mencintai lelaki atau gay, Ryu juga yang dulu sempat menolongnya saat anak se-angkatannya melalukan perudungan verbal di sekolah.
‘Kenapa lo bisa sampai di titik ini, Ryu?’ batin Johan, tatapannya melembut, digantikan oleh rasa sedih yang jauh lebih besar daripada rasa marah dan kecewanya.
Johan mencengkeram pinggiran meja kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di kepalanya akibat flu mendadak hilang, digantikan oleh sensasi hantaman telak tepat di ulu hatinya. Ia memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi, menatap layar iPad-nya dengan napas yang memburu.
Johan menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan jemari yang sedikit gemetar namun bergerak cepat, ia mulai melakukan screenshot pada setiap riwayat percakapan di grup. Mulai dari makian kasar, rencana mereka untuk meruntuhkan mentalnya, hingga bukti keterlibatan Ryu dalam akun alter penyebar kebencian tersebut, semua tersimpan rapi di galeri. Setelah memastikan semua bukti tersimpan rapi di galeri iPad-nya, Johan segera mengirimkan semua file tersebut ke alamat e-mail pribadinya dan menyimpan cadangan di cloud storage. Setelah memastikan seluruh bukti aman tersimpan di cloud storage cadangannya, Johan menutup aplikasi BBM dan mematikan layar iPad tersebut. Ia memasukkannya ke dalam tas selempang dengan gerakan terburu-buru lalu menyambar jaket almamater yang tersampir di sandaran kursi dan segera memakainya.
Johan melangkah keluar dari ruangan sekretariat tanpa menutup pintu, membiarkan pintu berderit tertutup. Di selasar, ia menemukan Rayan yang sedang mengembuskan asap rokok ke arah langit.
“Yan,” panggil Johan dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin.
Rayan menoleh, membuang puntung rokoknya ke samping tiang. “Eh, Jo? Lah, kok udah rapi? Udah selesai lo baca dan tanda tangan draftnya?”
“Belum,” jawab Johan dengan menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski tenggorokannya masih terasa gatal. "Nanti gue selesaiin baca dah sekalian tanda tangan pas balik. Gue sekarang ada urusan mendadak, harus ketemu orang sebentar, Yan."
Rayan mengernyitkan dahi, menatap Johan dari atas ke bawah dengan tatapan curiga. “Tengah malem gini lo emang mau kemana? Ini udah hampir jam dua belas, Jo. Mau nyari siapa emang? Orang udah pada balik ini, tinggal kita berdua doang disini.”
Johan tersenyum, sebuah senyum yang dipaksakan. “Ada pokoknya gue mau ketemu orang bentar. Enggak bakal lama, kok. Dia juga kayaknya masih ada di kampus dan belum balik. Tolong jagain sekre sbentar, ya, jangan biarin siapa pun masuk. Gue balik sejam lagi.”
Rayan hanya mengedikkan bahu, menganggap itu mungkin urusan asmara atau masalah pribadi yang enggan diceritakan Johan. “Ya udah, ati-ati lo. Jangan kelamaan di luar lo, apalagi lo lagi flu gitu.”
Johan mengangguk lalu hanya memberikan lambaian tangan singkat tanpa menoleh lagi.
Ia memacu langkahnya menuruni anak tangga, keluar dari Gedung Fakultas Teknik menuju parkiran. Ia tidak mengambil motornya; ia memilih berjalan kaki karena ia tahu tujuannya tidak jauh— gedung Fakultas Ilmu Budaya (FIB) berada disebelah gedung fakultas teknik. Udara dingin angin malam menusuk tulang saat dia berjalan kaki membuat tubuhnya agak menggigil, namun tidak sedingin rasa sakit yang merambat di dadanya. Johan tahu betul ke mana ia harus pergi. Ia yakin, pasti di gedung FIB yang lampunya masih menyala di lantai tiga, tempat biasanya anak-anak sastra atau bahasa berkumpul untuk menyelesaikan tugas—Ryu pasti ada di sana.
Sambil meremas tali tasnya, Johan memantapkan langkah menuju gedung itu. Ia tidak lagi peduli dengan flu yang menyumbat hidungnya. Ia hanya ingin menatap mata orang yang dulu pernah memegang seluruh dunianya, dan bertanya satu hal kepada cowok itu, kenapa harus dia?
( 〃▽〃)
Langkah kaki Johan terasa berat saat sampai di gedung FIB, dia mulai menyusuri arah selasar Fakultas Ilmu Budaya. Bau tanah basah sisa hujan sore tadi menguar, bercampur dengan aroma bau gedung ini. Matanya langsung tertuju ke lantai dua, tepatnya ke arah sebuah ruang perpustra (Perpustakaan Sastra) yang lampunya masih menyala terang. Dia tahu, Ryu punya kebiasaan buruk atau mungkin itu satu-satunya hal yang ia sukai dari sifat Ryu dulu—cowok FIB itu betah berjam-jam di gedung ini sampai ketiduran di sofa perpustra ketika tugasnya belum selesai.
Johan menggaruk tengkuknya dan menaiki tiap anak tangga dengan napas yang tertahan. Begitu sampai di depan ruangan itu, dia bisa mengintip di balik celahnya—Johan melihat punggung seseorang yang duduk membelakangi pintu, itu Ryu. Dia sedang memangku laptop dengan cahaya layar yang menyorot ke wajahnya.
Ceklek.
Johan mendorong pintu itu sehingga berderit. Ryu tidak menoleh sama sskali, mungkin mengira itu security kampus yang biasa berpatroli.
"Saya udah bilang, lho, pak, saya bakal beres jam dua dini hari nanti, Pak. Bentar lagi kok," ucap Ryu tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Gue bukan security," sahut Johan datar.
Suasana hening seketika. Ryu membeku detik itu juga, dia seperti mengenal suara ini. Ia perlahan memutar kursi putarnya, dan saat matanya menangkap sosok Johan yang berdiri dengan jaket almamater Fakultas teknik yang sedikit kusut, ia tampak seperti melihat hantu yang berwajah hancur. Pupil matanya seketika melebar, napasnya tertahan selama lima belas detik sebelum ia dengan cepat mengubah air mukanya kembali menjadi ekspresi datar—bahkan dia memberikan sedikit senyum tipis.
"Johan?" Ryu menutup layar laptopnya perlahan. "Bikin kaget aja lo, ngapain lo tengah malem gini di gedung fakultas gue?" tanyanya dengan nada agak ketus, lalu dia memutar kursinya lagi menghadap depan dan kembali mengetik.
"Lo masih suka begadang di sini ya?" Johan berjalan mendekat, langkahnya beradu dengan lantai keramik, Ryu berdehem mengiyakan tanpa mengeluarkan suara apapun. "Gue jadi inget, lo paling benci kalau ada yang gangguin lo ngerjain tugas di sini. Gue kira lo udah gak pernah lagi ngerjain tugas disini sampai tengah malem kayak dulu lagi."
Ryu menghela napas. Dia menyenderkan tubuhnya ke kursi. "Basa-basi lo masih nggak berubah, ya. Ada perlu apa sebenernya lo kesini? Kalau soal kerja sama antar fakultas lo dengan fakultas gue, ya, sama ketua bem FIB lah, Han."
Johan berhenti tepat di depan Ryu. Ia tidak membalas perkataan cowok itu. Tangannya perlahan merogoh tas ranselnya, mengeluarkan iPad gen-1 miliknya. Dia menekan tombol samping sehingga layarnya menyala, memperlihatkan daftar anggota grup 'Sanitasi' yang baru saja ia buka.
"Gue kesini bukan buat bahas kerja sama dengan ketua bem fakultas lo." Jawab Johan dengan menyodorkan layar iPad itu tepat di depan mata Ryu. "Gue cuma mau tanya satu hal doang. Sejak kapan lo gabung sama grup begini?"
Ryu menatap layar tersebut dengan seksama. Detik itu juga, topeng ketenangannya retak. Wajahnya yang tadi santai mendadak pucat pasi, kedua telapak tangannya menjadi dingin.
"Apaan dah ini? Grup apa ini, Han? Lo kenapa nunjukin grup begini ke gue sih? Lagian, Han, nama Ryu bukan cuma gue doang kali di kampus ini, bisa aja ini adek tingkat kita," kilah Ryu dengan tertawa sumbang, ia mencoba mengambil iPad dari tangan Johan, Johan menariknya cepat.
"Gak usah bohong, Ryu. Gue admin grupnya sekarang, Dimas yang jadiin gue admin disana. Tolong ngaku sekarang, itu lo apa bukan?” cercanya cepat dengan mata yang menatap tepat ke manik mata Ryu, mencari sisa-sisa orang yang dulu pernah menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan hidup selama ini.
“Bukan, itu bukan gue.”
“Bohong,” potongnya secepat mungkin, Johan menyugarkan rambutnya kebelakang. "Gue tahu itu lo, lo jangan ngelak lagi. Kalo lo penasaran kenapa gue bisa ada disana, itu karena Dimas salah masukin pin orang, dan malah masukin pin bbm—sekarang semua riwayat chat kalian muncul semua di iPad gue. Termasuk akun Twitter alter lo yang nyebar utas itu.”
Ryu seketika terdiam.
Bahunya yang tadi tegak perlahan merosot begitu saja. Tidak ada lagi sapaan ramah atau pura-pura tidak tahu diantara mereka. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding di belakang meja, membuang napas panjang yang terdengar cukup frustrasi.
"Kalo itu emang gue kenapa?" pekik Ryu cepat, tatapannya yang teduh tadi sudah berubah menjadi tajam dan penuh kebencian terhadap johan. "Lo mau apa emang? Mau ngadu ke rektorat? Atau mau ngadu ke dosen fakultas gue?”
"Apa gue pernah ngelakuin sesuatu yang salah sama lo pas kita pacaran dulu? Sampai lo sebegitu bencinya dan pengen hancurin hidup gue, dan lo pengen gue di-DO oleh pihak kampus karena gue gay?"
Ryu tertawa keras, suara tawanya memantul di dinding perpustra. "Lo nanya apa salah lo, Han? Lo mau tahu kesalahan lo apa? Gue kasih tahu aja, keberadaan lo selama ini udah bikin standar kehidupan di kampus ini rusak, tahu enggak? Dan buat gue, ngeliat lo masih bisa berdiri dan bergabung jadi anak bem Fakultas Teknik bahkan jadi presbem–setelah apa yang kita lalui dulu, itu bikin gue mual."
Ryu bisa melihat tatapan johan yang sendu kepadanya dan dia tahu johan sepertinya merasakan kekecewaan yang mendalam kepada Ryu yang dulu membela dan melindunginya semasa sekolah, kini berdiri di sana sebagai orang yang paling ingin melihatnya jatuh.
Entah bagaimana, suara dengung yang menusuk telinga tiba-tiba memenuhi indra pendengaran Ryu. Ruangan perpustakaan sastra FIB yang remang-remang mendadak terasa berguncang hebat, seolah ada gempa yang sedang menariknya paksa.
Engh...
Ryu tersentak hebat, tubuhnya menegang dan ia terbangun dengan posisi duduk di atas tempat tidur. Ia terbangun dengan napas yang memburu, paru-parunya seolah kekurangan oksigen. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya sehingga membuat kaos tidurnya lembap, jantungnya juga berpacu seirama dengan detak jam dinding yang terdengar nyaring di kamarnya. Ryu mengerjapkan mata berkali-kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu tidur yang agak remang-remang. Ia menoleh kearah samping dengan gerakan kaku, di balik selimut tebal yang sedikit tersingkap, ia bisa melihat pacarnya yang masih tertidur pulas dengan posisi menyamping ke arahnya dengan wajah yang terlihat sangat tenang.
Ryu bisa mendengar suara napas teratur dari kekasihnya, bahkan lengan cukup kekar kekasihnya masih berada diatas perut Ryu. Tidak ada perselisihan diantara mereka karena grup BBM bernama 'Sanitasi’, bahkan tidak ada kata putus yang terucap pada bilah bibir mereka sehingga konflik itu bisa terjadi seperti yang ada di dalam bunga tidurnya.
Cowok FIB itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih gemetar. Dadanya masih terasa sesak akibat sisa-sisa emosi yang ia rasakan karena mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Ia menatap Johan cukup lama, memastikan bahwa cowok yang dicintainya itu benar-benar ada di sebelah dan tetap menjadi miliknya.
Ryu menghela napasnya, dia menatap cowok di sebelahnya yang sama sekali tidak tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, masih tersimpan masa lali yang suram bahkan tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Tiga tahun yang lalu, saat mereka baru duduk di bangku SMA, jauh sebelum ia dekat dengan Johan dan jatuh cinta padanya, Ryu pernah menjadi bagian dari homophobic di sekolahannya, bahkan ia dulu bergabung dalam grup anti kaum menyimpang yang ada di Facebook—grup yang sangat aktif menebar kebencian. Saat itu, Ryu adalah salah satu orang paling vokal yang mencaci-maki Johan (sosok yang dulu sering menjadi bahan bully-an anak seangkatan karena orientasi seksualnya yang berbeda dari yang lain) dengan kata-kata paling keji di internet.
Ryu terisak pelan saat ingatan itu sebagai masa lalu yang keji itu kembali muncul, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Ryu perlahan merebahkan tubuhnya kembali, memeluk pinggang Johan dengan erat, seolah ingin menyerap kehangatan tubuh kekasihnya untuk mengusir rasa bersalah yang masih sering merayap di jiwanya. Ryu memejamkan mata, memanjatkan doa dalam diam agar rahasia itu tetap terkubur selamanya, dan agar Johan tidak pernah tahu bahwa orang yang kini menjadi pacarnya adalah orang yang sama dengan yang pernah mencoba menghancurkannya bertahun-tahun silam.
Tangisan ryu mulai mereda, dia menatap wajah Johan dengan tatapan sendu. Perlahan, ia mengulurkan tangannya, membelai rambut Johan dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
“Maafin aku, ya, Han,” derunya lirih dengan suara mengambang tipis di udara.
Ryu memejamkan matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh kembali. Ia berharap–sangat berharap, rahasia itu akan terkubur selamanya. Tetapi, jauh di lubuk hatinya, Ryu tahu bahwa jika suatu saat kebenaran itu terungkap, ia ingin dirinya sendiri yang berdiri di hadapan Johan, menanggung semua amarah cowok itu, dan memohon maaf dengan tulus—meski ia tahu mungkin maaf itu tidak akan pernah bisa menebus rasa sakit yang ia ciptakan dulu.
Ryu mendekatkan wajahnya, mengecup pipi dan bibir Johan sekilas dengan penuh kelembutan, rasa sayangnya kepada Johan bahkan melebihi segalanya di dunia ini. Ia hanya ingin menjaga cowok teknik ini, dan bisa menebus dosa masa lalunya dengan mencintai Johan sampai akhir hayat mereka.
“Aku sayang banget sama kamu, Han. Maafin aku, ya, sayang,” gumamnya lagi, sebelum akhirnya memeluk tubuh cowok teknik yang suka memanjakannya dengan erat, kembali berusaha mencari ketenangan dalam dekapan orang yang paling ia cintai dan sangat mencintainya.
END
메타데이터
- post_id
- 861e197cf8bc
- slug
- suara-mesin-bubut-dari-workshop-produksi-di-lantai-bawah-masih-samar-samar-terdengar-sampai-ke-861e197cf8bc
- url
- https://medium.com/@yohanryu_/suara-mesin-bubut-dari-workshop-produksi-di-lantai-bawah-masih-samar-samar-terdengar-sampai-ke-861e197cf8bc
- canonical_url
- https://medium.com/@yohanryu_/suara-mesin-bubut-dari-workshop-produksi-di-lantai-bawah-masih-samar-samar-terdengar-sampai-ke-861e197cf8bc
- author_url
- https://medium.com/@yohanryu_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 06:11:15