← Back to list

Sorry, Heart…

Jenle au.

하찬 · 2024-10-03 18:04 · 3 claps · 8.6 min read
#fanfiction #nct-dream #jeno #chenle #jenle
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Sorry, Heart…

Jenle au.

Senyuman di bibir tipis berwarna cherry itu mengembang kala kedua netra cerahnya menangkap sosok pria tampan yang hampir selama setengah tahun itu menemani hari-harinya.

Dengan langkah ringan ia berjalan menghampiri pria yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya itu, tangan mungilnya menggenggam tali paperbag berisi kotak makan siang hasil masakannya yang akan ia berikan kepada sang kekasih.

“Kak Jeno!!” Panggilnya dengan ceria, berharap akan mendapatkan sapaan balik dan tatapan hangat seperti yang biasa diberikan oleh kekasihnya.

Namun harapannya sedikit terkikis saat melihat Jeno yang menoleh dengan tatapan sedingin es. Chenle menipiskan seyuman cerahnya, sedikit banyak bingung dengan tatapan asing yang tak pernah Jeno tunjukan kepadanya. Serumit apapun masalah yang sedang dihadapi Jeno, pria itu tidak pernah menunjukan raut wajah sedatar itu pada Chenle. Atau mungkin Chenle yang belum terlalu mengenal Jeno lebih dalam?

Tapi Chenle tidak tau penyebabnya. Apakah Chenle telah melakukan kesalahan fatal yang tak ia sadari?

Meski begitu, Chenle tetap mempertahankan senyumannya hingga tubuh mungilnya berhasil berdiri dihadapan tubuh Jeno yang begitu tegap. Mungkin suasana hati Jeno sedang tidak baik saat ini, maka Chenle akan membuatnya merasa lebih baik dengan bekal yang telah ia siapkan.

“Kak Jeno, ini aku buatkan bekal makan siang untuk kakak. Ini makanan kesukaan kakak loh.” Chenle menyodorkan paperbag ditangannya dengan penuh harap.

Namun alih-alih mengambilnya seperti biasa, Jeno hanya menatapi mata cantik itu dengan tatapan yang sangat sulit dibaca oleh Chenle. Entah kenapa tatapan itu membuat Chenle takut.

“Zhong Chenle.” Panggilnya dengan nada yang sangat asing ditelinga Chenle.

“Y-ya?” Chenle meneguk ludahnya kasar, tenggorokannya tiba-tiba mengering, ia bahkan ingin memutuskan kontak mata dengan Jeno namun ia tahan karena ia ingin mendengarkan kelanjutan ucapan Jeno.

“Gue gak bisa lanjutin hubungan ini.” Ucap Jeno tanpa keraguan.

Chenle membeku, rentetan kalimat yang sangat ia takutkan itu pada akhirnya keluar dari mulut Jeno. Senyuman manisnya perlahan memudar, tatapan cerahnya mulai memburam, tangan mungilnya yang masih terulur bergetar hebat. Tapi Chenle mencoba menahan sebisanya, ia tidak ingin menangis dihadapan Jeno.

Tapi apa masalahnya? Chenle merasa selama ini hubungan mereka amat sangat baik-baik saja. Enam bulan hubungan mereka bahkan tidak pernah diisi oleh pertengkaran. Apakah hubungan mereka terlalu datar sehingga Jeno merasa bosan?

Pupil mata yang biasanya terlihat jernih itu bergetar, masih menatap Jeno yang mempertahankan ekspresi datarnya. Ia mencoba mencari jawaban dan alasan tanpa harus bertanya. Tetapi Chenle tidak merasa pantas untuk menanyakan alasannya, jadi ia simpulkan sendiri bahwa Jeno sudah tidak mencintainya lagi. Itu sudah menjadi alasan yang cukup bagi Chenle untuk menerima keputusan sepihak dari Jeno.

Yang lebih muda memutuskan kontak mata terlebih dulu, mencoba menetralkan ekspresinya kemudian kembali mendongkak dengan senyuman tipis yang terlihat menyedihkan.

“Kalau begitu saya permisi, sunbae.” Chenle membungkuk layaknya seorang junior yang harus menghormati seniornya. Membangun kembali benteng untuk mereka berdua.

Chenle tidak ingin berlama-lama berada dihadapan Jeno, ia tidak ingin menangis didepan pria yang masih sangat ia cintai itu. Jeno sudah melepaskannya, dan Chenle tidak bisa berbuat apapun. Bahkan untuk mempertahankan hubungan mereka pun Chenle merasa tidak pantas. Ia hanyalah mahasiswa biasa dari keluarga sederhana yang seharusnya tidak pernah bersanding dengan Lee Jeno sang kakak tingkat dari kalangan atas, memiliki jabatan penting di kampus dan memiliki segudang prestasi.

Enam bulan yang ia lalui bersama Jeno akan selalu ia ingat selamanya.

Nasib Chenle hari ini benar-benar tidak beruntung. Ia patah hati, kemudian ia juga menerima amarah dari sang dosen karena mendapatkan nilai ulangan paling rendah dikelasnya. Padahal Chenle ingin cepat-cepat pulang untuk mengistirahatkan pikirannya namun ia malah berakhir diruang belajar karena ia harus memperbaiki nilainya jika lulus di mata kuliah dosen itu.

Bibir kecilnya menggerutu karena semua tulisan yang tercetak di buku itu membuat kepalanya sakit. Biasanya disaat-saat seperti ini Jeno akan dengan senang hati membantunya belajar. Huh, bahkan Chenle tidak diizinkan untuk menikmati masa patah hatinya.

Entah berapa jam Chenle mencoba bergelut dengan beberapa buku pelajaran yang harus ia pelajari, cukup membuat Chenle terkejut karena saat ia keluar dari ruang belajar ternyata langit yang tadinya cerah sudah menggelap diiringi rintikan deras air hujan juga gemuruh yang seolah mengisi keheningan malam itu.

Beberapa mahasiswa yang juga baru keluar dari ruang belajar ternyata udah menyiapkan payung di dalam tas mereka sehingga mereka tidak perlu kesulitan seperti Chenle. Sebenarnya Chenle sangat ingin meminta tolong salah satu dari mereka untuk berbagi payung sampai ke halte, namun Chenle terlalu segan untuk berbicara. Ia memang tidak pandai berinteraksi dengan orang lain. Maka ia putuskan untuk menunggu setidaknya sampai hujannya sedikit reda.

Tangan kecilnya terulur untuk menyentuh air yang turun dari langit itu, Chenle menghela nafasnya. Apakah ia harus menerjang ribuan air ini? Chenle sangat ingin menangis dibawah rintikan hujan, tapi hujan ini terlalu deras belum lagi petir yang saling bersahutan. Ia takut tersambar petir.

Sebuah tarikan lembut membuat Chenle terperanjat. Ia pikir hanya dirinya yang tersisa disana. Matanya membulat lucu ketika sadar bahwa Jeno lah yang menariknya.

“Jangan hujan-hujanan.” Ucapnya pelan, tangan yang ia gunakan untuk menarik Chenle tadi ia masukkan kedalam saku celana.

“Oh.. saya..” Uh, Chenle bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Keberadaan mantan kekasihnya ini membuat suasana menjadi canggung.

Oh, bahkan Chenle tidak menyangka bahwa sekarang ia memiliki mantan kekasih untuk pertama kalinya.

Jeno menatap Chenle yang lebih mungil darinya, pemuda manis itu sudah enggan menatapnya padahal Chenle selalu mengatakan bahwa ia sangat menyukai tatapan mata Jeno.

“Tunggu disini.” Titahnya entah untuk apa.

Chenle hanya terdiam ketika Jeno berlari kearah dimana pria itu memarkirkan mobilnya. Jantungnya masih bertalu-talu, ia tidak bisa terlalu lama berada didekat Jeno dengan status mereka yang sudah bukan lagi sepasang kekasih.

Sementara itu Jeno yang sudah berada didalam mobil mengusak rambutnya yang sedikit basah sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia tidak menyangka akan terjebak dalam suasana hujan bersama dengan seseorang yang telah ia patahkan hatinya beberapa jam yang lalu itu.

Jujur saja, setelah Jeno mengatakan bahwa ia mengakhiri hubungan mereka ia sendiri bertanya-tanya mengapa Chenle tidak menuntut penjelasan kepadanya? Kenapa pemuda itu langsung menerima keputusan Jeno begitu saja? Bahkan Jeno tak melihat setitikpun air mata yang keluar dari mata jernih yang sangat ia sukai itu.

Jeno merasa Chenle tampak baik-baik saja seperti tidak ada hal yang terjadi hari ini. Seolah-olah keputusan sepihak Jeno untuk mengakhiri hubungan mereka ini tak meninggalkan luka apapun untuk Chenle. Membuat Jeno ragu, apakah selama ini Chenle benar mencintainya atau ia terpaksa menerima Jeno karena muak sebab Jeno berkali-kali menyatakan perasaannya pada Chenle padahal pemuda itu selalu menolak ajakan Jeno untuk berkencan?

Teringat bahwa ia tadi menyuruh Chenle untuk menunggu, Jeno pun segera menjalankan mobilnya untuk menghampiri Chenle.

Tapi bukannya menunggu, Jeno justru melihat Chenle yang berlari menerjang hujan menuju halte yang berada diseberang gerbang utama. Pria itu menghela nafasnya pendek. Memangnya siapa yang akan suka rela menerima tumpangan seseorang yang sudah mematahkan hatinya begitu saja?

Jeno hanya bisa berharap semoga Chenle tidak terkena flu ataupun demam, mengingat pemuda manis itu cukup sensitif terhadap cuaca dingin.

Selamat datang kembali kehidupan kampus yang monoton!

Ah, bukan hanya kehidupan kampus tetapi seluruh kehidupan Chenle akan kembali monoton setelah Jeno tidak lagi menjadi kekasihnya.

Semenjak masuk ke kampus ini Chenle memang tidak memiliki siapapun. Ia tidak pandai bersosialisasi, tidak bisa berbasa-basi untuk mencari teman, dan ia selalu merasa canggung jika berinteraksi dengan orang lain membuat Chenle kesulitan untuk mendapatkan teman dekat. Hingga akhirnya Jeno lah yang pertama kali berusaha melakukan pendekatan pada Chenle, meskipun Chenle menghindarinya beberapa kali namun Jeno tidak menyerah untuk terus menawarkan pertemanan kepada Chenle.

Chenle bukannya abai pada niat baik Jeno yang selalu mengulurkan tangannya, ia hanya tidak memiliki rasa percaya diri. Kampus tempat ia menuntut ilmu ini terbilang kampus bergengsi. Untuk menjadi mahasiswa disini yang dibutuhkan bukan hanya uang tetapi juga nilai yang mumpuni. Sementara Chenle saat itu hanya beruntung, kampus ini memanglah kampus impiannya oleh sebab itu semasa sekolah ia berusaha mengumpulkan banyak uang untuk bisa masuk kesini. Dan untuk nilai, Chenle tidak bisa dibilang sebagai murid yang pintar, namun karena keinginannya ia berusaha memperbaiki nilai-nilainya yang untungnya ia berhasil mendapatkan nilai diatas rata-rata untuk bisa mengikuti tes masuk meski dengan sedikit harapan. Nyatanya, walaupun dengan peringkat terbawah Chenle berhasil masuk ke kampus ini.

Orang-orang di kampus ini begitu mewah dan dari kalangan atas, begitu pula dengan Jeno. Oleh sebab itu Chenle tidak berani mendekati siapapun dan ia merasa tidak percaya diri untuk berteman dengan Jeno.

Pertemuan pertama mereka ketika Chenle tak sengaja menyelamatkan Jeno, pemuda manis itu menemukan tugas Jeno yang sepertinya tertinggal di ruang belajar. Saat itu Jeno panik bukan main karena tugas itu merupakan tugas kelompok yang mana Jeno bisa merugikan teman sekelompoknya jika Chenle tidak datang bak malaikat penyelamat dan mengembalikan tugasnya.

Sejak saat itu Jeno mulai menaruh perhatian pada Chenle dan selalu berusaha mendekati Chenle disetiap kesempatan.

Kemudian datang waktu dimana Jeno menyatakan perasaannya pada Chenle. Jelas pemuda itu terkejut bukan main karena hal ini merupakan pertama kali yang terjadi di hidupnya.

Tentu saja Chenle menolaknya, jangankan untuk berkencan dengan Jeno, untuk menjadi temannya saja Chenle masih merasa tidak pantas. Jeno begitu populer dan penuh prestasi, apa kata mahasiswa lain jika yang menjadi kekasih Jeno adalah seorang mahasiswa yang tidak ada apa-apanya. Chenle hanya tidak ingin Jeno menanggung malu.

Chenle pikir, Jeno akan membencinya karena Chenle menolaknya begitu saja. Namun pria tampan yang memiliki senyuman menawan itu tak menyerah begitu saja. Jeno berulang kali menyatakan perasaannya, meyakinkan Chenle bahwa pemuda manis itu memang pantas untuk dicintai. Hingga akhirnya membuat rasa percaya diri Chenle muncul, mungkin ia memang pantas mendapatkan cintanya Jeno. Akhirnya Chenle pun menerima Jeno sebagai kekasihnya.

Keduanya menjalani hubungan dengan begitu ringan, menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan untuk menghilangkan penat setelah belajar seharian, Jeno juga banyak membantu Chenle dalam pelajaran. Sebagian besar waktu kencan mereka dihabiskan diruang belajar dan di meja belajar. Keduanya tidak pernah bertengkar, bahkan perdebatan sekecil apapun mereka hindari. Jeno dan Chenle bisa dibilang sebagai pasangan yang bahagia, sampai kahirnya semuanya harus berakhir kemarin tanpa sebab dan alasan yang jelas.

Chenle menghela nafas pendek, kemarin ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis dihadapan Jeno, namun begitu sampai dirumah tangisnya pecah. Chenle menangis semalaman, membuat sepasang mata cantiknya membengkak pagi ini.

Semalam Chenle sengaja menerjang hujan untuk menghindari Jeno yang akan memberikannya tumpangan. Ia tidak mau terlihat rapuh didepan Jeno.

Chenle memutuskan untuk pergi ke gazebo setelah mata kuliahnya selesai. Sebenarnya ia lapar tapi jika ia pergi ke kantin ia takut bertemu dengan Jeno.

“Oh iya, ada ini.” Chenle tersenyum kecil saat menemukan ramen mentah yang ia beli sebelum berangkat kuliah.

Ramen yang tadinya untuk makan malam itu ia putuskan untuk dimakan sebagai camilan. Ia tersenyum puas melihat mie yang sudah ia hancurkan itu sudah tercampur dengan bumbunya.

“Eeehh…” Chenle terkejut ketika seseorang merebut ramennya dari belakang tubuhnya.

Lebih terkejut lagi ketika ia melihat siapa orang yang telah mengambil ramennya.

“Ka.. Jeno sunbae, ada apa?” Tanya Chenle pelan. Jeno terlihat galak sekali dari kemarin.

“Udah berapa kali gue bilang buat gak makan ramen mentah. Apa lo gak punya makanan lain yang layak buat di makan?” Jeno menatap tak suka pada Chenle yang hanya menunduk.

“Kalau gak mau ke kantin, seenggaknya bawa bekal dari rumah. Jangan makan makanan gak sehat kayak gini.” Omelnya.

Chenle berdeham pelan, jantungnya berpacu mendengar perhatian Jeno yang masih sama seperti dulu. Chenle takut pertahanannya runtuh.

“Maaf… kalau Jeno sunbae mau ramennya silahkan ambil. Saya permisi.” Chenle bergegas membereskan tas dan buku-bukunya. Ia harus segera pergi dari hadapan Jeno sebelum air matanya tumpah.

“Zhong Chenle sebentar – astaga lo demam?!” Pekik Jeno yang terkejut ketika tangannya menyentuh pergelangan tangan Chenle yang terasa panas.

Jeno menarik Chenle agar kembali berdiri dihadapannya, telapak tangannya yang besar ia tempelkan di kening Chenle membuat ia meringis saat merasakan suhu badan Chenle yang terlampau panas.

“Pasti karena hujan-hujanan semalam.” Jeno terdengar khawatir. “Ayo gue antar ke unit kesehatan.” Tangan mungil itu hendak ditarik oleh Jeno namun Chenle berhasil menahannya dan melepaskan genggaman tangan Jeno.

“Saya bisa pergi sendiri, sunbae.” Tolak Chenle hati-hati.

“Jangan keras kepala Chenle!” Jeno menggeram pelan. Sungguh ia sangat khawatir pada pemuda dihadapannya ini.

“Tolong.. tolong jangan kayak gini. Saya gak mau kembali berharap dan berpikir kalau sunbae masih mencintai saya.” Lirih Chenle.

Chenle mendongkak, memberanikan diri untuk menatap mantan kekasihnya yang selalu terlihat tampan. Senyuman kecil terbit diwajah yang tampak sendu itu membuat Jeno semakin membeku disana.

“Sunbae.. ah.. maaf kalau saya lancang tapi untuk yang terakhir kalinya izinkan saya panggil kamu kak Jeno ya?” Pinta Chenle, Jeno tak menjawab ia hanya mampu menatap Chenle yang tampak berusaha kuat disana.

“Kemarin aku terlalu kaget untuk mencerna semua yang terjadi. Aku gak nyangka, ternyata hari dimana kita berakhir bakalan dateng secepat ini. Untuk itu, aku mau berterimakasih ke kak Jeno. Terima kasih karena pernah membuat aku merasa dicintai, ini pengalaman pertama yang menyenangkan. Dicintai dan mencintai orang setampan dan sehebat kak Jeno, aku bahagia banget. Aku harap kak Jeno pun ngerasa bahagia selama pacaran sama aku, maaf karena aku banyak kurangnya.” Bibir yang masih tersenyum itu bergetar kecil.

“Aku hargai keputusan kak Jeno, aku gak akan tanya alasannya. Karena aku rasa, kalau seseorang memutuskan untuk mengakhiri hubungan tandanya cintanya sudah habis, kan? Untuk apa aku pertahankan kalau cintanya kak Jeno udah habis.” Chenle bisa menangkap Jeno yang menggeleng kecil disana.

“Bahagia selalu ya, kak Jeno. Orang yang udah kasih aku kebahagiaan harus selalu bahagia.” Tutup Chenle.

Pemuda manis itu menyunggingkan senyuman paling tulus yang bisa ia tunjukkan saat ini. Rasanya menyesakkan, tapi Chenle berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Ia tidak ingin dikasihani oleh Jeno.

“Kalau begitu saya permisi ya, Jeno sunbae.” Pamit Chenle.

Sudah saatnya ia kembali ke tempat dimana ia hanyalah seorang Zhong Chenle yang memiliki kehidupan monoton.

Hubungannya dengan Jeno memang berakhir, tapi hidup tetap harus berjalan bukan?

“Maaf…”

kkeut


메타데이터
post_id
86b0bcf2f2f6
slug
sorry-heart-86b0bcf2f2f6
url
https://medium.com/@athenaakim21/sorry-heart-86b0bcf2f2f6
canonical_url
https://medium.com/@athenaakim21/sorry-heart-86b0bcf2f2f6
author_url
https://medium.com/@athenaakim21
status
ok
fetched_at
2026-07-22 15:34:17