Setumpuk Surel untuk Setitik Orang Dewasa –Avia Maulidina
Buku kumpulan surel untuk setiap orang yang dikenal.
Setumpuk Surel untuk Setitik Orang Dewasa –Avia Maulidina
Pernahkah kita membayangkan, pada setiap awal tahun kita mendapatkan surel yang mengharukan? Surel yang pengirimnya adalah orang yang kita kenal, yang mengapresasi segala bentuk perjalanan hidup kita. Aku membayangkan itu, dan rasanya begitu meneduhkan. Apalagi periode email yang kita terima ini pada setiap awal tahun, sebuah awal perjuangan hidup yang baru.

Gramedia Digital
Buku ini berisi hal meneduhkan itu. Penulisnya, Avia Maulidina yang begitu jeli dan empatik, memulai sebuah eksperimen naratif di Instagram Story-nya, membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin dikirim surel — hingga akhirnya terkumpul 139 permintaan. Meskipun pada saat itu yang memintanya baru mengenal Avia melalui Instagram, Avia tidak keberatan. Ia menampung semuanya dan merogoh setiap tenaganya untuk menelusuri kehidupan setiap dari mereka. Tak heran jika setiap pesan yang dikirim Avia pun terasa sangat intim dan terpersonalisasi.
Selain berisi bacaan surel yang berhasil dikirim dan balasan surel yang berhasil dijawab si peminta surel, buku ini juga menautkan cerita si penerima surel sehingga kita secara tidak langsung menjadi turut menelusuri lebih dalam kehidupan para penerimanya. Ikut membedah krisis seperempat abad, merayakan titik balik yang mengubah hidup mereka, hingga terjun bersama untuk menyelami sudut pandang baru yang perlahan mampu menggeser persepsi kita terhadap kehidupan sehari-hari.
Dari perjalanan surel tersebut, ada beberapa refleksi kritis yang berhasil dirangkum:
1. Merayakan Kehadiran Orang di Sekitar Kita
Kita menghabiskan ribuan hari dengan menyapa banyak wajah dan merengkuh sejumlah teman, tetapi ironisnya, sering kali kita lupa untuk benar-benar melihat mereka. Ada jarak yang sayang jika dibiarkan kosong tanpa mencoba mendalami cerita di baliknya. Menjangkau kawan lama, sekadar memastikan kabar yang sesungguhnya, atau mengapresiasi progres sekecil apa pun yang mereka lalui, ternyata bisa menjadi sebuah kapal emosional yang kembali menghubungkan kita untuk lebih dekat dengan mereka.
2. Ilusi Gelar “Orang Baik”
Julukan “orang baik” rupanya adalah sebuah konsep yang sangat rapuh dan subjektif. Seseorang yang menjadi pahlawan di cerita kita bisa saja menjadi penjahat di narasi orang lain, begitu pun sebaliknya. Ketika kita menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa mengumpulkan validasi kebaikan dari seluruh dunia adalah sebuah kelegaan tiada akhir. Karena ketimbang kita kehabisan napas karena selalu memaksakan diri untuk mencoba menyenangkan semua orang, melakukan hal sebaik mungkin tanpa menyakiti orang lain dalam batas kesadaran kita saja — sebetulnya sudah lebih dari cukup.
3. Menyimpan Angan Masa Kecil sebagai Bahan Bakar Diri
Setiap dari kita pasti pernah memiliki deklarasi asa di masa kecil yang diucapkan dengan penuh keyakinan. Misalnya asa untuk kuliah di luar negeri atau membangun bisnis impian. Seiring bertambahnya usia, dunia yang bergonjang-ganjing mungkin memburamkan peta jalan menuju ke sana. Namun, menyimpan gigihnya keyakinan bahwa “belum tahu kapannya, tapi suatu hari pasti akan terjadi”, bukan berarti naif. Keyakinan itu valid untuk dipelihara, sebab di titik terendah saat kita merasa lelah, memori akan gairah masa kecil sering kali memaksa kita untuk tetap melangkah.
4. Seni Berkompromi dengan Kebisingan
Dunia orang dewasa tidak pernah sepi dari lalu-lalang pendapat yang sering kali memekakkan telinga. Melawan dan menangkis semua suara itu hanya akan menguras habis energi yang kita punya. Pada akhirnya, insting bertahan yang paling realistis adalah berkompromi — memilih untuk mengambil jarak sejenak sembari melihat sisi baik dari kebisingan tersebut, tanpa harus kehilangan jati diri.
5. Realitas Hubungan Low Maintenance
Ada miskonsepsi besar bahwa pertemanan yang low maintenance artinya bisa menghilang dalam waktu yang lama dan berharap segalanya tetap terasa sama. Aktualnya, sekecil apa pun porsinya, low maintenance tetap perlu maintenance. Tanpa inisiatif untuk melempar pesan setelah sekian lama tidak saling berkabar, ikatan pertemanan yang paling santai sekalipun akan memudar dan menemukan garis akhirnya secara alamiah.
6. Mengakui Lelahnya Menjadi Manusia
Dalam rutinitas kehidupan yang dinamis sekaligus menjengkelkan, pertanyaan “apakah kamu pernah lelah dan ingin mati saja?” rupanya bukan lagi kejutan yang besar. Ada banyak benang kusut yang sekeras apa pun kita urai, tidak pernah benar-benar terurai. Munculnya keinginan pasif untuk “pensiun dini” dari riuhnya dunia adalah validasi atas betapa melelahkannya fase hidup ini. Perasaan itu bisa dipandang sebagai respons manusiawi yang wajar, selama ia hanya menjadi tempat singgah bagi keluh kesah pikiran, tidak sebagai keputusan untuk benar-benar dieksekusi.
Photo by Ambitious Studio | Rick Barrett on Unsplash*
Buku ini cocok dibaca bagi kita yang sudah lama tidak berinteraksi dengan teman-teman yang tempo dulu menjadi teman seperjuangan. Sembari menyelam setiap halaman, sembari kita membayangkan betapa kita merindukan mereka — menjadi semacam perasaan nostalgia yang meneduhkan.
Setelah membaca buku ini, aku secara cepat menghubungi beberapa temanku. Karena energiku tidak sebanyak itu untuk menjangkau semuanya, setidaknya beberapa dulu. Sisanya, biar aku pikirkan akan aku hubungi kapan.
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com
메타데이터
- post_id
- 86c6de85b50b
- slug
- setumpuk-surel-untuk-setitik-orang-dewasa-avia-maulidina-86c6de85b50b
- url
- https://medium.com/booknotations/setumpuk-surel-untuk-setitik-orang-dewasa-avia-maulidina-86c6de85b50b
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/setumpuk-surel-untuk-setitik-orang-dewasa-avia-maulidina-86c6de85b50b
- author_url
- https://medium.com/@akhyatunnisa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11