Gunongan Aceh: Ketika Warisan Arsitektur Berhadapan dengan Tantangan Zaman
Oleh:Naida Fitria,Fatia Fanisa,Safa Fikrana Program Studi Arsitektur Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Gunongan Aceh: Ketika Warisan Arsitektur Berhadapan dengan Tantangan Zaman
Oleh:Naida Fitria,Fatia Fanisa,Safa Fikrana Program Studi Arsitektur Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
ABSTRAK
Gunongan merupakan salah satu warisan arsitektur Kesultanan Aceh yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektural yang tinggi. Bangunan ini tidak hanya dikenal sebagai simbol kasih sayang Sultan Iskandar Muda kepada Putroe Phang, tetapi juga merepresentasikan perpaduan estetika, filosofi, dan identitas budaya Aceh melalui bentuk serta ragam ornamentasinya. Artikel ini bertujuan mengkaji Gunongan menggunakan pendekatan kritik arsitektur dengan meninjau aspek estetika, kontekstual, fungsi, dan pelestarian. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gunongan masih mempertahankan karakter arsitektural yang kuat sebagai cagar budaya. Namun, tantangan modernisasi, perubahan kawasan, dan minimnya interpretasi arsitektur bagi pengunjung menunjukkan perlunya strategi pelestarian yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada pelestarian nilai sejarah dan makna budaya agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Kata kunci: Gunongan, kritik arsitektur, warisan budaya, pelestarian.
Pendahuluan
Arsitektur merupakan wujud nyata dari perjalanan sejarah, budaya, dan identitas suatu peradaban. Sebuah bangunan tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk beraktivitas, tetapi juga menjadi media yang merekam nilai-nilai sosial, filosofi, dan teknologi pada masa pembangunannya. Oleh karena itu, bangunan bersejarah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar peninggalan fisik. Di dalamnya terkandung cerita, simbol, dan identitas yang membentuk karakter suatu daerah. Keberadaan bangunan cagar budaya menjadi penting karena mampu menghubungkan generasi masa kini dengan sejarah yang telah membentuk kehidupan masyarakat saat ini.
Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki banyak peninggalan arsitektur bersejarah dengan nilai budaya yang tinggi. Salah satu bangunan yang masih bertahan hingga sekarang adalah Gunongan, yang terletak di kawasan Taman Sari, Kota Banda Aceh. Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sebagai bagian dari kompleks Taman Ghairah dan dikenal sebagai simbol kasih sayang Sultan kepada Putroe Phang, permaisuri yang berasal dari Pahang. Kisah tersebut menjadikan Gunongan bukan hanya sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai representasi hubungan budaya, politik, dan kehidupan Kesultanan Aceh pada masa kejayaannya.
Secara arsitektural, Gunongan memiliki karakter yang unik dan berbeda dari bangunan tradisional Aceh lainnya. Bentuk bangunan yang menyerupai gunung bertingkat dipadukan dengan berbagai ornamen khas Aceh, seperti motif peucok reubong, bunga teratai, dan pola geometris yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa Gunongan tidak dibangun hanya untuk memenuhi fungsi tertentu, tetapi juga sebagai karya seni yang sarat makna filosofis. Setiap elemen arsitekturnya mencerminkan kemampuan masyarakat Aceh pada masa Kesultanan dalam mengolah bentuk, ruang, dan ornamen menjadi sebuah karya yang memiliki identitas kuat.
Meskipun memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi, keberadaan Gunongan saat ini menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan kawasan perkotaan di sekitarnya, meningkatnya aktivitas wisata, serta perubahan pola pemanfaatan ruang dapat memengaruhi kualitas lingkungan cagar budaya tersebut. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat mengenal Gunongan hanya melalui kisah romantis Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang, sementara nilai arsitektural, filosofi bentuk, dan makna setiap elemennya belum banyak dipahami. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian sebuah bangunan bersejarah tidak cukup dilakukan melalui pemeliharaan fisik semata, tetapi juga memerlukan upaya untuk menjaga makna, identitas, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks tersebut, kritik arsitektur menjadi salah satu pendekatan yang penting untuk memahami kualitas sebuah karya secara lebih komprehensif. Kritik arsitektur tidak bertujuan mencari kelemahan suatu bangunan, melainkan memberikan penilaian yang objektif terhadap aspek estetika, fungsi, konteks, serta pelestariannya. Melalui pendekatan ini, Gunongan dapat dikaji sebagai sebuah karya arsitektur yang tidak hanya merepresentasikan masa lalu, tetapi juga memiliki peran dalam menjawab kebutuhan masyarakat masa kini sebagai media edukasi sejarah, identitas budaya, dan destinasi wisata heritage.
Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan mengkaji Gunongan dari perspektif kritik arsitektur dengan menelaah karakter visual, nilai simbolik, hubungan bangunan dengan konteks lingkungannya, serta tantangan pelestarian yang dihadapi pada era modern. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga warisan arsitektur Aceh, tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai aset budaya yang memiliki nilai edukatif dan identitas bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Objek Kajian
Objek kajian dalam artikel ini adalah Gunongan, salah satu bangunan cagar budaya yang terletak di kawasan Taman Sari, Kota Banda Aceh. Gunongan merupakan peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar awal abad ke-17. Bangunan ini dikenal sebagai simbol kasih sayang Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, Putroe Phang, yang berasal dari Kerajaan Pahang. Selain memiliki nilai historis yang tinggi, Gunongan juga menjadi representasi kejayaan peradaban Aceh pada masa lalu melalui perpaduan antara seni, budaya, dan arsitektur.
Secara fisik, Gunongan memiliki bentuk yang menyerupai gunung bertingkat dengan komposisi massa yang mengerucut ke bagian atas. Karakter visual bangunan diperkuat oleh berbagai ornamen khas Aceh, seperti motif peucok reubong, bunga teratai, serta pola-pola geometris yang mencerminkan pengaruh seni Islam. Elemen-elemen tersebut menunjukkan bahwa Gunongan tidak hanya dibangun sebagai elemen dekoratif dalam taman kerajaan, tetapi juga sebagai karya arsitektur yang mengandung makna simbolis dan filosofi kehidupan masyarakat Aceh pada masa Kesultanan.
Dalam kajian ini, Gunongan dianalisis melalui pendekatan kritik arsitektur dengan meninjau aspek estetika, fungsi, konteks lingkungan, serta upaya pelestariannya. Analisis difokuskan pada bagaimana karakter arsitektural Gunongan mampu mempertahankan nilai sejarah dan identitas budaya di tengah perkembangan Kota Banda Aceh. Selain itu, kajian ini juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam pelestarian Gunongan sebagai bangunan cagar budaya agar tetap relevan bagi masyarakat sekaligus menjadi media edukasi sejarah dan budaya bagi generasi mendatang.
Analisis Arsitektural Gunongan
Gunongan merupakan salah satu karya arsitektur bersejarah yang memiliki karakter visual dan nilai simbolik yang kuat. Keunikan bangunan ini terletak pada bentuknya yang menyerupai gunung bertingkat, berbeda dengan bangunan tradisional Aceh pada umumnya. Bentuk tersebut tidak hanya menghadirkan daya tarik estetis, tetapi juga merepresentasikan konsep gunung sebagai simbol keagungan, keteguhan, dan penghormatan terhadap alam. Dalam konteks sejarahnya, bentuk Gunongan juga dikaitkan dengan upaya Sultan Iskandar Muda menghadirkan suasana yang mengingatkan Putroe Phang akan kampung halamannya di Pahang.
Dari aspek estetika, Gunongan menunjukkan komposisi bentuk yang proporsional dengan susunan massa bangunan yang semakin mengecil ke arah puncak. Komposisi ini menciptakan kesan monumental meskipun ukuran bangunan relatif tidak terlalu besar. Detail arsitekturalnya diperkaya oleh ragam ornamen khas Aceh, seperti motif peucok reubong, bunga teratai, dan pola-pola geometris yang dipengaruhi oleh seni Islam. Keberadaan ornamen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mencerminkan pertumbuhan, kesucian, serta keharmonisan antara manusia, budaya, dan Sang Pencipta.
Dari aspek fungsi, Gunongan pada masa Kesultanan tidak dirancang sebagai bangunan hunian maupun bangunan pemerintahan. Bangunan ini lebih berperan sebagai elemen lanskap dalam kompleks Taman Ghairah yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga kerajaan. Dengan demikian, fungsi utama Gunongan bersifat simbolik dan rekreatif. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut mengalami transformasi. Saat ini, Gunongan lebih dikenal sebagai situs cagar budaya, objek wisata sejarah, dan sarana edukasi yang memperkenalkan kejayaan Kesultanan Aceh kepada masyarakat luas.
Apabila ditinjau dari aspek kontekstual, keberadaan Gunongan tidak dapat dipisahkan dari kawasan Taman Sari sebagai bagian dari lanskap sejarah Kota Banda Aceh. Penempatan bangunan pada kawasan taman menunjukkan bahwa sejak awal Gunongan dirancang sebagai bagian dari komposisi ruang yang harmonis antara bangunan dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, perkembangan kawasan perkotaan yang semakin pesat menyebabkan konteks historis tersebut mulai berkurang. Bangunan-bangunan modern, kepadatan aktivitas, dan perubahan tata ruang kota secara perlahan mengubah suasana kawasan yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan kerajaan.
Dari aspek pelestarian, kondisi fisik Gunongan masih menunjukkan tingkat keaslian yang cukup baik karena telah melalui berbagai upaya konservasi oleh pemerintah. Struktur utama bangunan, bentuk massa, serta sebagian besar ornamentasinya masih dapat dikenali dan dipertahankan. Meskipun demikian, pelestarian tidak seharusnya hanya berfokus pada menjaga kondisi fisik bangunan. Nilai-nilai sejarah, filosofi, dan makna arsitektural yang terkandung di dalam Gunongan juga perlu terus disampaikan kepada masyarakat melalui media interpretasi, edukasi, dan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Gunongan merupakan karya arsitektur yang berhasil memadukan unsur estetika, sejarah, dan budaya dalam satu kesatuan desain. Keunikan bentuk serta kekayaan makna yang dimilikinya menjadikan Gunongan tidak hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas budaya Aceh yang masih memiliki relevansi hingga saat ini. Oleh karena itu, keberlanjutan pelestarian Gunongan perlu dilakukan secara menyeluruh agar bangunan ini tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai warisan budaya sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.
Kritik Arsitektur Gunongan
Sebagai salah satu peninggalan Kesultanan Aceh yang masih bertahan hingga saat ini, Gunongan berhasil mempertahankan identitas visualnya sebagai ikon sejarah dan budaya Kota Banda Aceh. Keunikan bentuk bangunan, kekayaan ornamen, serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya menjadikan Gunongan memiliki daya tarik yang tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga historis. Namun, apabila ditinjau dari perspektif kritik arsitektur, masih terdapat beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian agar keberadaan Gunongan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Salah satu persoalan yang cukup menonjol adalah minimnya interpretasi arsitektur bagi pengunjung. Sebagian besar masyarakat mengenal Gunongan melalui kisah romantis Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang, sementara makna arsitektural yang terkandung pada bentuk bangunan, susunan ruang, maupun ragam ornamentasinya belum banyak dipahami. Informasi yang tersedia di kawasan situs masih lebih banyak menjelaskan aspek sejarah dibandingkan nilai arsitektur yang menjadi identitas utama bangunan. Akibatnya, pengalaman pengunjung cenderung berhenti pada aktivitas melihat dan berfoto tanpa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai filosofi desain Gunongan.
Selain itu, perubahan konteks kawasan juga menjadi tantangan tersendiri. Pada masa Kesultanan Aceh, Gunongan merupakan bagian dari kompleks Taman Ghairah yang dirancang sebagai taman kerajaan dengan suasana yang mendukung nilai simbolis bangunan. Namun, perkembangan Kota Banda Aceh telah mengubah karakter lingkungan di sekitarnya. Keberadaan bangunan modern, peningkatan aktivitas perkotaan, serta perubahan tata ruang menyebabkan hubungan visual antara Gunongan dan lanskap historisnya semakin berkurang. Kondisi ini mengurangi kemampuan bangunan dalam menyampaikan narasi sejarah secara utuh kepada masyarakat.
Dari aspek pelestarian, upaya konservasi yang dilakukan selama ini telah berhasil menjaga kondisi fisik Gunongan sehingga bentuk asli bangunan masih dapat dikenali. Akan tetapi, pelestarian fisik saja belum cukup untuk mempertahankan nilai sebuah warisan budaya. Pelestarian juga perlu diarahkan pada upaya menjaga makna, fungsi edukatif, dan keterlibatan masyarakat. Program interpretasi digital, penyediaan papan informasi yang lebih komunikatif, pemanfaatan teknologi seperti kode QR, hingga penyelenggaraan kegiatan edukasi berbasis sejarah dan arsitektur dapat menjadi strategi untuk meningkatkan pemahaman pengunjung terhadap nilai Gunongan.
Di sisi lain, pengelolaan kawasan wisata juga perlu memperhatikan prinsip keberlanjutan. Meningkatnya jumlah wisatawan merupakan hal yang positif bagi pelestarian melalui sektor pariwisata, tetapi apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara fungsi wisata, pelestarian cagar budaya, dan edukasi masyarakat agar keberadaan Gunongan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Berdasarkan berbagai aspek tersebut, dapat dipahami bahwa tantangan utama Gunongan bukan terletak pada kualitas arsitekturnya, melainkan pada bagaimana warisan budaya tersebut dimaknai dan dikelola di era modern. Gunongan telah berhasil mempertahankan autentisitas bentuk dan nilai sejarahnya, tetapi keberhasilannya sebagai karya arsitektur akan semakin lengkap apabila didukung oleh sistem pelestarian yang mampu menjaga hubungan antara bangunan, lingkungan, dan masyarakat. Dengan demikian, Gunongan tidak hanya dipandang sebagai monumen masa lalu, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang terus hidup dan memberikan inspirasi bagi perkembangan arsitektur serta pelestarian budaya di Indonesia.
Kesimpulan
Gunongan merupakan salah satu warisan arsitektur Kesultanan Aceh yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan estetika yang tinggi. Keunikan bentuk bangunan yang menyerupai gunung, dipadukan dengan ragam ornamen khas Aceh serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, menjadikan Gunongan sebagai representasi identitas budaya Aceh sekaligus bukti kemajuan seni arsitektur pada masa Kesultanan. Keberadaannya hingga saat ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya memiliki fungsi sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai media edukasi dan penguatan identitas masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis dan kritik arsitektur, dapat disimpulkan bahwa Gunongan masih mampu mempertahankan karakter arsitektural dan autentisitasnya sebagai bangunan cagar budaya. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pelestarian fisik bangunan, tetapi juga dengan perubahan konteks kawasan, minimnya interpretasi arsitektur bagi pengunjung, serta perlunya pengelolaan yang lebih berorientasi pada edukasi dan keberlanjutan. Oleh karena itu, upaya pelestarian perlu dilakukan secara lebih komprehensif dengan mengintegrasikan konservasi fisik, penyampaian nilai sejarah dan filosofi bangunan, serta pengelolaan kawasan yang mampu mendukung pengalaman belajar masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Gunongan diharapkan tidak hanya tetap terjaga sebagai aset cagar budaya, tetapi juga mampu menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan nilai-nilai sejarah dengan kehidupan masyarakat masa kini. Dengan demikian, pelestarian Gunongan tidak sekadar mempertahankan keberadaan sebuah bangunan, melainkan juga menjaga identitas budaya Aceh agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Daftar Pustaka
Asse, A. A. (2023). Leaflet Gunongan (Seri Informasi Cagar Budaya № 07/2023). Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Gunongan. Repositori Kemendikbud.
Restiyadi, A., & Syam, A. I. (2019). Gaya ornamentasi Gunongan. Berkala Arkeologi Sangkhakala, 21(1), 16–34.
Sagita, E. S., Nurlaili, & Nurkamari. (2022). Analisis pelestarian cagar budaya: Studi kasus Cagar Budaya Taman Sari Gunongan. Jurnal Sains Riset, 12(2).
Republik Indonesia. (2010). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Yulianti, F., & Amalia, R. (2017). Peran Dinas Pariwisata terhadap wisata sejarah Gunongan di Kota Banda Aceh.
메타데이터
- post_id
- 86fed6da5c28
- slug
- gunongan-aceh-ketika-warisan-arsitektur-berhadapan-dengan-tantangan-zaman-86fed6da5c28
- url
- https://medium.com/@fatiafanisa14/gunongan-aceh-ketika-warisan-arsitektur-berhadapan-dengan-tantangan-zaman-86fed6da5c28
- canonical_url
- https://medium.com/@fatiafanisa14/gunongan-aceh-ketika-warisan-arsitektur-berhadapan-dengan-tantangan-zaman-86fed6da5c28
- author_url
- https://medium.com/@fatiafanisa14
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-22 15:25:09