Surat Untuk Hari Senin
Menyusuri setapak kata menuju senin
Surat Untuk Hari Senin

Teruntuk yang terkasih, Hari Senin! Sumber: pixabay
Menyusuri setapak kata menuju senin
Pagi-pagi benar, aku berbenah. Bersiap-siap menyambut senin. Satu usbu berlalu lagi. Cepat sekali. Aku bahkan hanya melewati malam dengan sekali kedip. Sekali kulepas kedipan itu, aku menjumpai senin. Hari baru, usbu baru, cerita baru.
Selamat membuka usbu, kali ini aku menulis mewakili mulut yang tidak kuasa berkata pada senin yang katanya gemar mencuri riang.
Jadi, teruntuk yang terkasih, hari senin.
Bolehkah kita bersahabat? Aku sudah lama merindu untuk berdamai dan menyambut gemar di setiap kejadian. Kejadian tidak terduga yang kamu sediakan. Kejadian yang kemudian melahirkan paradigma. Kamu mengambil sebagian riangku, lalu menebusnya dengan riang yang lain. Riangmu hasil tuaian ujian emosiku.
Bolehkah kita bersama bersepakat untuk membuka usbu baru dengan semarak? Menghamburkan bunga dengan sedikit daun kedengarannya elok. Aku hanya beride, jikalau sepakat aku bisa membayar tuntas. Aku tebus girangmu dengan semarakku.
Lagi, teruntuk yang terkasih, hari senin.
Aku mengakui hadirmu. Hadir bersama berjuta untaian rasa. Terkadang solid, terkadang teruntai lalu berserakan. Terkadang memberi pedih, lalu kemudian mengajak senang. Kuindahkan harimu dalam kata senin. Senandung lirik cerita yang teruntai kemarin, mari solidkan kembali. Sembari aku berandai bertukar makna. Aku berandai juga mengumpulkan kisah. Kisah dari sisa hari senin usbu kemarin
Seninku banyak bergurau. Usbu ini dia hadir, lalu usbu berikutnya dia dilahap semesta. Usbu kemarin dia gembira, usbu ini dia menikmati sendu. Dia memberi cerita haru kemudian menertawakannya. Dia jumpai aku pada waktunya yang tepat, tapi tidak dengan waktuku.
Kemudian, teruntuk yang terkasih, hari senin.
Mari bersahabat. Sudah aku rampungkan kisahnya. Kisah hari senin dengan berjuta gurauannya. Dengan kemudian, aku bersedia bersahabat, dan terus bersurat dengan hari senin.
Mari bersurat. Berisyarat memperbaiki. Menghilangkan paradigma, lalu kita hidup sentosa. Kusuratkan kisah hari seninku bersama kata yang mewakili. Kusolidkan semua benang cerita yang teruntai berantakan.
Teruntuk hari senin, surat ini kutulis dengan semarak di wajahku.
메타데이터
- post_id
- 870123aba8de
- slug
- surat-untuk-hari-senin-870123aba8de
- url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail/surat-untuk-hari-senin-870123aba8de
- canonical_url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail/surat-untuk-hari-senin-870123aba8de
- author_url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 08:18:29