← Back to list

Kenapa Kita Sering Malu Sendiri Saat Mengingat Memori Cringe Bertahun-Tahun Lalu?

Siti Kamilat’Tu Sa’Diyah & Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog

Milawesome · 2026-06-01 15:45 · 0 claps · 2.5 min read
#cringe #cringeworthy #shy
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🛠️ · Crafts & DIY

Kenapa Kita Sering Malu Sendiri Saat Mengingat Memori Cringe Bertahun-Tahun Lalu?

Siti Kamilat’Tu Sa’Diyah & Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog

Photo by Ufoma Ojo on Unsplash

Photo by Ufoma Ojo on Unsplash

Pernah gak sih kalian lagi mau tidur, terus tiba-tiba otak memutar ulang kejadian memalukan bertahun-tahun lalu?

Mungkin tentang salah ngomong saat presentasi, melambaikan tangan ke orang yang ternyata tidak menyapa kita, atau bercanda terlalu berlebihan lalu suasananya malah jadi canggung. Anehnya, meskipun kejadian itu sudah lama berlalu, rasa malunya masih terasa nyata sampai sekarang.

Yang lebih aneh lagi, memori seperti ini sering muncul di waktu-waktu tidak terduga. Padahal kita mungkin sudah lupa materi pelajaran minggu lalu, tapi kejadian memalukan waktu SMP masih tersimpan jelas di kepala. Otak manusia memang punya prioritas yang kadang terasa tidak masuk akal.

Dalam psikologi, fenomena ini sebenarnya cukup umum dan memiliki penjelasannya sendiri. Salah satu konsep yang berkaitan dengan hal tersebut adalah spotlight effect. Gilovich et al. (2000) menjelaskan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita.

Sering kali, kita merasa semua orang masih mengingat kesalahan atau momen memalukan yang pernah kita lakukan. Padahal, kemungkinan besar orang lain sudah melupakannya sejak lama, atau bahkan sejak awal memang tidak terlalu memperhatikannya. Kenyataannya, orang lain biasanya juga sibuk memikirkan diri mereka sendiri.

Fenomena ini juga berkaitan dengan sesuatu yang disebut rumination, yaitu kecenderungan untuk memikirkan kembali pengalaman negatif secara berulang-ulang. Nolen-Hoeksema (2000) menjelaskan bahwa seseorang sering kali terus “mengunyah” pikiran negatif di kepalanya, termasuk rasa malu atau penyesalan terhadap kejadian masa lalu.

Hal inilah yang membuat momen cringe terasa seperti diputar ulang berkali-kali oleh otak. Kita mulai berpikir:

Kenapa gue dulu begitu ya? malu-maluin banget

Selain itu, rasa malu termasuk dalam self-conscious emotion, yaitu emosi yang berkaitan dengan bagaimana kita melihat diri sendiri di hadapan orang lain. Emosi seperti malu, bersalah, atau canggung biasanya muncul karena kita takut dinilai negatif secara sosial (Tangney & Dearing, 2002).

Tidak heran kalau momen memalukan lebih sulit dilupakan dibanding kejadian biasa. Memori yang melibatkan emosi cenderung tersimpan lebih kuat, terutama jika berkaitan dengan identitas diri. Conway dan Pleydell-Pearce (2000) menjelaskan bahwa memori autobiografis membantu seseorang membentuk pemahaman tentang dirinya sendiri. Karena itu, pengalaman yang memicu emosi kuat sering kali menjadi lebih melekat dalam ingatan.

Namun, menariknya, kita sering kali memperlakukan kesalahan kecil di masa lalu seolah-olah semua orang masih mengingatnya sampai sekarang. Padahal kenyataannya, orang lain kemungkinan besar juga sibuk memikirkan momen memalukan mereka sendiri.

Dengan kata lain, mungkin kita bukan satu-satunya orang yang tiba-tiba malu sendiri sebelum tidur. Bedanya, setiap orang sibuk mengingat “cringe moment”-nya masing-masing.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa manusia memang cenderung lebih keras pada dirinya sendiri dibanding pada orang lain. Kita mengingat kesalahan kecil terlalu lama, lalu membesarkannya di kepala sendiri.

Jadi, kalau suatu malam kalian tiba-tiba teringat momen memalukan lima tahun lalu, tenang saja. Kemungkinan besar orang lain sudah lupa. Hanya otak kita saja yang kadang hobi memutar ulang arsip lama tanpa diminta. Karena rupanya, rasa malu juga punya cara sendiri untuk bertahan hidup di dalam ingatan.

Daftar Pustaka

Conway, M. A., & Pleydell-Pearce, C. W. (2000). The construction of autobiographical memories in the self-memory system. Psychological Review, 107(2), 261–288. https://doi.org/10.1037/0033-295X.107.2.261

Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one’s own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222. https://doi.org/10.1037/0022-3514.78.2.211

Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511. https://doi.org/10.1037/0021-843X.109.3.504

Tangney, J. P., & Dearing, R. L. (2002). Shame and guilt. Guilford Press.


메타데이터
post_id
871e60f663e8
slug
kenapa-kita-sering-malu-sendiri-saat-mengingat-memori-cringe-bertahun-tahun-lalu-871e60f663e8
url
https://medium.com/@Milawesome/kenapa-kita-sering-malu-sendiri-saat-mengingat-memori-cringe-bertahun-tahun-lalu-871e60f663e8
canonical_url
https://medium.com/@Milawesome/kenapa-kita-sering-malu-sendiri-saat-mengingat-memori-cringe-bertahun-tahun-lalu-871e60f663e8
author_url
https://medium.com/@Milawesome
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56