← Back to list

EPS. O2; Cinta Penjaga Warung dan Supir Truk Cantik

Javanese version

AMOREOSEN · 2026-05-25 15:24 · 0 claps · 9.7 min read
#gay #boys-love #ryulyul #javanese #lokal
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

EPS. O2; Cinta Penjaga Warung dan Supir Truk Cantik

Javanese version

Dimas mengendarai treknya yang mengalunkan DJ Ajeng Febria kuat — kuat malam itu. Namun dj itu serasa hanya lewat di telinganya, tak ada gelengan kepala menikmati lagu atau sekadar suaranya yang ikut melantun pada musik itu.

Kepalanya dililit kain, merasakan pusing yang luar biasa karena dimarahi telak oleh bosnya. Pasirnya telat datang sampai dua jam lamanya. Tak lupa kernetnya yang juga ikut lelet karena sempat terjungkal di proyek dekat rumahnya. Sial sekali.

“Mas, mampir madang tah ngopi kunu ayo, kok melasi raimu,” kernetnya meminta untuk mampir, sungguh dia merasa iba melihat muka mulus Dimas yang sekarang mengerut kusut seperti gombal.

Dimas hanya mengangguk lesu tanpa menoleh, tangannya terangkat satu untuk memijat pelipisnya yang terasa berat. Belum lagi sesaat ia melihat postingan status whatsapp Mbak Putri Kesayanganya yang mulai hitung mundur tanggal nikahannya.

12 hari menuju halal. Pake foto kebaya dan emoji cincin.

MAK JEDER!

Hatinya langsung kempot kaya ban bocor kena paku cor tiga inci.

Dimas berdoa lamat — lamat semoga nikahannya batal, semoga Mbak Putri ilfeel sama lakinya, semoga ada dukun yang tiba — tiba nyamperin dia kasih pelet buat Mbak Putrinya.

Ditengah memikirkan kemungkinan mustahil itu, baris kalimat yang terkirim untuknya semalam secara tiba — tiba muncul di otaknya.

‘bakal bojomu’

Arul yang tiba — tiba mendapatkan nomornya, lalu mengirimkan foto tampannya yang hanya menggunakan kutang singlet saja. Dimas heran kenapa pria itu bisa membuatnya linglung. Bahkan heran kenapa dia adalah adik dari kesayangannya, mirip juga enggak.

Trek pink itu kini mulai berbelok dan melipir ke arah rentetan warung. Suara mesin trek yang keras diiringi tanah yang sedikit bergerak karena kedatangan trek itu disambut hangat para pemilik warung.

Dimas mematikan mesin treknya, lalu mundukkan kepalanya untuk disandarkan pada stir trek itu. Tangannya masih menggenggam erat gagang stir itu, matanya terpejam kuat merasakan kepalanya yang seolah berperang.

“Ayo he! Ojok kesurupan ndek kene, ngopi ayo. Aku te nang Mbak Irma, kuangen ndelok pupune.”

Dimas hanya menatap malas kernetnya yang mulai turun dan berjalan riang dengan senyum mesum menuju warung Mbak Irma, sedangkan Dimas hanya menatap jejeran warung itu. Netranya selalu tertuju pada warung dengan gedhek dan bangunan dominan kayu yang menjadi destinasi tetapnya selama ini.

Sebelum Mbak Putri dikabarkan akan rabi.

Kakinya dibawa melangkah menuruni treknya dan langkahnya berat menyusuri tanah berdebu menuju warung itu, berjalan lurus menuju warung tujuannya, warung yang sama. Dapat terlihat beberapa supir yang singgah disana, lesehan untuk sekadar rokok an atau memesan makanan. Asap rokok menggantung tipis di udara, bercampur suara tawa bapak — bapak dan denting sendok kena gelas kopi.

Dimas berjalan menuju meja tempatnya biasa memesan, penuh. Hingga akhirnya Dimas hanya kebagian pada sisi ujung meja yang berdekatan dengan pintu yang hanya tertutup gorden.

“Sing dodolan nandi iki, Pak?” tanya Dimas kepada salah satu supir yang berada di sebelahnya.

“Metu, mariki balik.”

Anggukan lesu menjadi respon dari jawaban itu, hingga suara motor mulai mendekat kearah warung itu. Atensi seketika tertuju pada halaman warung yang kini dihadiri dua manusia yang menaiki motor scoopy merah, Arul dan Mbak Irma. Mereka berboncengan dengan tangan Mbak Irma yang merangkul mesra perut Arul.

Dimas merasa ada yang aneh, tapi rasanya ia tak kuasa untuk mengungkapkannya. Ia lebih memilih untuk diam, sementara telinganya awas mendengarkan godaan dari para supir itu kepada Arul dan Mbak Irma.

“Waduh,” salah satu supir langsung nyeletuk sambil siulan. “Lek dibonceng Arul gelem rek. Aku yo pengen tah nggonceng”

“Duh ojok ngunu, sungkan karo calon bojo.” Mbak Irma yang akan selalu tertawa malu jika digoda. Hal yang biasa, tapi hari ini tampak lebih menyebalkan rasanya.

“Peh, calon bojo Rul!”

Godaan dan respon dari Mbak Irma hanya dibalas senyum dan tawa ringan dari empu yang menjadi sasaran utamanya, Arul. Kakinya dibawa melangkah untuk masuk hingga atensinya menemukan Dimas yang duduk di ujung meja.

“Loh? Teko arek iki?” alisnya naik sedikit.

“Ojok nyocot, kopi karo nasgor age, luwe aku.”

“Luwe opo luwe?”

“Yo luwe cok, opo neh?”

“Bekne kangen aku”

“Matamu!”

Arul terkikik geli, menggoda Dimas adalah hal favoritnya setelah ini. Dimas masih mendumal sebelum tangannya mulai membuka bungkus rokoknya. Batang rokok itu diputar dan dimainkan, masih belum ingin untuk membakarnya. Hingga netranya terus memperhatikan kedua manusia yang kini berada di balik meja.

Mbak Irma membantu Arul untuk menyiapkan warungnya, membantu untuk sekadar mencuci piring dan gelas, atau mungkin kelihatannya begitu jika tangan dan susu Mbak Irma tidak dibuat — buat untuk terus menempel pada Arul.

Dimas melihatnya jelas, terkadang Mbak Irma mencoba untuk mencondongkan badannya–susunya, menjawil, atau bahkan secara sengaja seolah membuat dirinya–susunya tersenggol oleh Arul. Namun yang lebih bajingan adalah respon Arul, ia hanya tertawa dan tak berniat untuk mengusir atau menghindar dari Mbak Irma yang mulai terang — terangan menggodanya. Laki — laki apa Arul ini, mau saja digoda seperti itu.

Sedetik kemudian Dimas tersadar, kenapa ia harus marah? Kenapa ia merasa kesal? Bukankah seharusnya itu hal bagus? Karena Mbak Irma menyukai Arul itu artinya ia bisa bebas. Dan seharusnya sekarang ia harus memikirkan Mbak Putri yang akan dinikahi orang lain, bukan malah Arul yang tak ingin menghindari godaan Mbak Irma.

“Mbak warung e samean opo onok seng nungguk? Mang kernetku mrunu soale.”

“Loh iyo tah?” Mbak Irma langsung nengok kaget

“Iyo, jare kangen pupu e samean.”

“Waduh, sek yo Mas Arul… aku tak balik nang warung, engkuk aku tak mampir neh ya.”

“ASU COK DIMAS!” Suara ketawa dari para pria disana mengisi riuh ramai warung.

Tebakan kalian benar, Dimas yang secara tiba — tiba berucap. Entah apa yang ada dipikirkannya yang pasti Dimas ingin Mbak Irma segera pergi dari hadapannya meninggalkan Arul yang menjaga warungnya.

Sepiring nasi goreng dan kopi kini tersaji dihadapannya, rokok yang semula masih dimainkan tak jadi dinyalakan. Bau sedap dari kepulan hangat nasi goreng itu kini menyapa indra penciumannya bawang putih, cabai dan kecap. Hingga satu elemen unik mencuri perhatiannya. Telor dadar dibentuk hati.

“Opo iki?”

“Love”

“Arek gendeng cok!”

Arul nyender di kulkas belakangnya sambil senyum jail. “Lha awakmu nyapo se meneng ae mulai maeng?”

“Karepku tah!”

“Awakmu jeles a?”

“ORA COK! SOPO SG CEMBURU!”

“Sopo rek cemburu?” Mbak Irma kini kembali hadir di tengah keributan kecil di warung itu.

“Iki loh Dimas jare jelesi” jawab Arul sembari menganggukan dagunya kearah Dimas.

“ORA ASU! JELES AMBEK SOPO AKU?!”

“Lho? Jare sayang aku awakmu, Dim?”

“Cok fitnah su asu!”

Suara tawa bariton mulai riuh menghiasi warung itu, tawa mereka menguar melihat perdebatan yang terhidang bersama kopi mereka.

“Wes a, rebutan dadi bojone Arul wes.”

Sumpah serapah, absen kebun binatang sampai segala jenis tai sudah diucapkan Dimas dalam hatinya. Karena kini Mbak Irma kembali hanya untuk modus tanya nasi, gabisa apa dia masak sendiri. Pikir Dimas.

Kini suasana riuh mulai terganti, warung itu semakin sepi kala matahari mulai pergi. Namun Dimas justru masih setia duduk dengan kopinya. Kopi yang sudah mulai sisah lethek doang. Dimas yang lebih pendiam itu sempat membuat Arul merasa janggal. Jujur janggal.

“Awakmu iki jane opo o seh, Dim? Sek kepikiran Mbak Putri tah?” kini suaranya lebih rendah dan pelan, terkesan lembut seolah takut menyakiti lawannya.

Arul mengambil duduk di seberang Dimas, di belakang meja pas. Lengannya dilipat bertumpu pada meja, atensinya semua tertuju kepada yang ada di depannya, Dimas yang masih murung.

“Budrek pokok, sedinoan apes. Mbak Putri yo sido rabi… gaeroh wes aku iki opo o.”

Arul tidak menjawab, tapi tubuhnya kini bangkit meninggalkan Dimas yang mulai menenggelamkan wajahnya pada lenggannya yang dilipat. Kepalanya sedikit lagi akan pecah rasanya, hingga suara gelas yang diletakkan diatas meja membuatnya mengangkat kepala untuk melihatnya. Teh hangat.

Uap tipisnya naik pelan, aroma melati samar langsung menyeruak tanpa permisi ke hidung Dimas.

“Lapo kok nggawe teh?”

“Cek awakmu fresh, ojok ngopi ae.”

Tangan Arul segera mengangkat gelas kopi yang sudah sisah lethek dan kerak itu untuk dicuci, meninggalkan Dimas yang perlahan menghirup aroma teh tersebut lalu meminumnya. Hangat dan sedikit tenang. Mungkin ia memang butuh sesuatu yang baru untuk mencari tenang.

DUK! DUK!

Suara kayu yang disentak paksa.

“Lapo e, Mas?”

“Iki loh, selorokan e gak kenek bukak. Tulungono seh, Dim.”

Dimas kini mulai berjalan ke tempat Arul, tangannya ikut membantu untuk membuka laci yang macet itu. Ruang belakang meja kasir itu sempit banget. Lutut mereka sering senggolan tiap gerak. Bau sabun dari badan Arul masih kecium samar, campur aroma kopi dan rokok dari warung. Suara hentakan kayu mengisi warung itu, hingga akhirnya laci itu berhasil dibuka.

Helaan nafas lega keluar dari bibir mereka, Dimas yang sedikit membungkuk mencoba untuk bangun. Hingga tak sadar Arul sedang mencoba membuka laci yang berada di sisi lainnya. Begitu Dimas bangkit, permukaan pipinya telah bersentuhan dengan bibir Arul. Secara tak sengaja, Arul mencium pipi Dimas. Meninggalkan mereka berdua mematung.

Mata Dimas membola sebelum akhirnya ia mundur secara tergesa, tanpa sadar menabrak ujung kulkas di belakangnya.

“ADUH!”

“HEH! Koisonee ilho!” Arul menghampiri Dimas yang mengelus kepala bagian belakangnya. Tangan Arul terangkat untuk mengelus belakang kepala Dimas, raut khawatir tercetak jelas pada wajah tegas itu. Dimas hanya bisa menatap wajah yang fokusnya ini berada pada belakang kepalanya.

“Lakaran kok gak di wasno, loro a?”

Kini netra Arul beralih fokus menatap Dimas yang ternyata sudah lebih dahulu menatapnya. Oh ralat, menatap bibirnya.

Alis Arul mengernyit bingung, sebelum terangkat pada detik berikutnya. Dimas secara tiba — tiba mengecup bibirnya. Sepersekian detik, sebelum Dimas ikut membola seolah baru menyadari tindakannya.

“Mas, aku… anu–”

Arul hanya terkikik geli, Dimas yang melihatnya mencoba mencari kesempatan untuk kabur dari sana, belum sempat bergerak kini tangan Arul sudah lebih dahulu menahan kedua bahunya.

“Enak e mari nyium katene kabur.”

“Mas, sumpah… aku gak sengojo. Sumpah, Mas. Aku… aku–”

“Opo, Dim? Genahe awakmu iki sakjane yo seneng aku se?”

Dimas hanya terdiam seribu bahasa. Kuotes yang terpampang pada truk pink nya kini mulai berjalan di kepalanya.

Budal golek uang ben moleh e iso di sayang, sopo ngerti diambung pisan.

Dimas hanya menunduk, tak berani menatap netra Arul yang kini mulai terasa melucutinya yang tengah terkurung dalam kungkungan Arul. Dimas memejamkan matanya erat — erat, berdoa semua ini hanyalah mimpi dan dia masih terbaring di kursi supirnya. Namun jemari Arul yang kini mulai menyentuh dagunya membantah semuanya.

Arul mengangkat dagunya, membawa wajah Dimas untuk menatapnya. Pejaman mata Dimas kini mulai terbuka, matanya sayu penuh resah, berbanding dengan Arul yang tampak siap untuk menerkamnya.

Jarak mereka sangat dekat untuk ukuran manusia yang baru saja melemparkan sumpah serapah sebelumnya. Netra mereka terkunci. Hingga Arul memajukan wajahnya, nafas hangat yang menyapu bibirnya mulai terasa. Dimas seolah ketindihan, tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Hingga bibir Arul kini telah berada di bibirnya, kali ini Arul yang menciumnya.

Kecupan singkat untuk memastikan sesuatu yang belum jelas. Dimas masih terdiam, ia bingung. Seharusnya ia sudah memukul Arul, menjambaknya seperti waktu itu atau bahkan dia bisa mendorongnya hingga tersungkur. Namun otak dan tubuhnya seolah memiliki dua pikiran yang berbeda.

Melihat Dimas yang tidak menunjukkan perlawanan, tangan Arul yang berada di dagu Dimas kini beralih untuk menangkup rahang Dimas, membawanya dalam ciuman yang lebih dalam.

Kedua belah bibir itu kini dipertemukan, Arul mulai melumat bibir menul Dimas yang jauh lebih manis bercampur kan dari rasa teh yang sempat diminumnya tadi. Bibir itu mulai di sesap, mencari rasa manis yang masih tersimpan. Dimas tak menunjukkan perlawanan sama sekali, justru kini ia mulai membalas ciuman hangat Arul, tangannya berada di dada bidang Arul. Jemarinya meremat kecil kaos yang dikenakan Arul ketika bibirnya terasa disesap sedikit kuat oleh Arul, meninggalkan sensasi yang membuatnya seolah melayang.

Tangan Arul yang sejak tadi menggantung di sisi tubuhnya perlahan turun, menyelinap ke pinggang Dimas dengan gerakan hati — hati namun mantap mak jos. Jemarinya mencengkeram sisi kaos Dimas pelan sebelum menarik tubuh itu mendekat. Jarak di antara mereka yang semula hanya setipis helaian napas kini benar-benar terkikis habis. Dada mereka saling bersentuhan, panas tubuh masing-masing terasa bahkan meski masih terhalang lapisan pakaian tipis yang mulai kusut karena saling berimpitan.

Keduanya masih saling memakan bibir satu sama lain. Tanpa sadar ciuman mereka kini semakin dalam. Nafas hangat bercampur aroma kopi, rokok, dan teh manis yang masih tertinggal di lidah mereka. Tangan Dimas mulai merambat untuk menyelip di antara helaian rambut Arul. Rambut itu terasa halus di sela jarinya sebelum akhirnya tanpa sadar Dimas menggenggamnya sedikit kuat, menjambak pelan seolah melampiaskan pusing, bingung, dan segala rasa aneh yang sedari tadi berputar di kepalanya. Sedang sang pelaku mulai menekan tengkuk Dimas untuk memperdalam ciuman mereka, pinggang Dimas tak henti dibawa untuk lebih intim bergesekan dengan tubuhnya.

Bibir itu masih bertaut, Arul mulai memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri sedikit agar ciuman mereka terasa lebih pas. Sampai saat Arul mulai menggigit kecil bibir bawah Dimas untuk membuka mulutnya, bibir Dimas terbuka sedikit dan sedetik setelahnya Arul mulai melesakkan lidahnya masuk, hangat dan pelan, membuat tubuh Dimas menegang kaget.

“Hmphh! Nnghh–”

Tangan Dimas langsung mencengkeram pundak Arul kuat. Lututnya hampir lemas waktu Arul mulai memainkan ciuman itu lebih dalam, lebih basah, lebih intim dari sebelumnya. Nafas mereka bertabrakan. Suara kecupan kecil dan gesekan bibir memenuhi ruang sempit belakang warung itu. Bahkan Dimas bisa mencium jelas aroma sabun dari leher Arul yang bercampur samar dengan bau asap rokok dan minyak goreng warung.

Permainan mereka akan terus berlanjut jika saja Kernet Dimas tak memanggil dari luar warung.

“MAS DIM! HE MOLEH AYO! OJOBKU NELPON!”

Tautan bibir keduanya langsung terlepas begitu saja. Nafas mereka masih memburu ketika kepala mereka spontan menoleh ke arah depan warung. Pintu masuk warung yang bahkan belum di tutup sepenuhnya. Trek pink miliknya masih terparkir apik di seberang warung, suara lalu lalang kendaraan masih menghiasi jalanan.

Mereka berciuman di warung itu dengan pintu terbuka lebar.

Dimas langsung mundur setengah langkah dengan wajah merah padam sampai telinga. Bibirnya basah dan sedikit bengkak bekas dicium Arul. Sementara Arul cuma ngusap bibirnya sendiri sambil nyengir kecil seperti orang gak punya dosa.

Suara langkah kaki mulai mendekat ke arah warung.

“KUNU O! CEPET!” bisik Dimas panik sambil dorong dada Arul pelan.

Arul malah ketawa pelan sebelum akhirnya bergerak santai kembali ke arah laci kasir seolah sedari tadi cuma sibuk benerin selorokan macet. Sedangkan Dimas buru-buru membalik badan ke arah kulkas, pura-pura sibuk lihat deretan minuman dingin meski kepalanya kosong total.

“Betah men se, ayo moleh ojobku nelfon ilho! Lapo lakaran ndek kunu, ngerewangi korah — korah a?” Kernetnya muncul dari depan warung sambil garuk perutnya yang kini sudah dibiarkan telanjang.

“Ora, lha lapo se.” Dimas berusaha menjawab senormal mungkin walau napasnya masih tak karuan.

“Ayo moleh kok!”

“Muliho sek wes, aku ngkuk ae.”

“Gendeng kon! Terus piye awakmu mulih e?”

“Gampang, pedah akeh. Kono wes, selak porek jare ojobmu.”

Kernetnya mendecih sebelum akhirnya menyetujui perintah Dimas. “Yowis disikan aku yo, Mas Arul disik!”

“Yo!” jawab Arul santai dari balik meja kasir.

Kini hanya tinggal mereka berdua lagi, netra mereka sesekali melirik kearah luar warung Menanti kepergian trek pink yang pemiliknya justru memilih untuk tinggal lebih lama disini.

Hingga suara mesin dan Dj yang mengalun dari trek itu kini mulai terdengar samar. Netra Dimas masih terfokus menatap jalanan yang mulai kosong sebelum menghela nafas lega.

Namun kini pandangannya justru beralih kearah Arul yang berjalan menuju pintu warung, tangannya dengan cekatan menutup pintu warung dan membawa beberapa barang untuk masuk, dia berkemas.

“Lapo kok nutup warung? Sek yamene.”

Arul hanya menoleh sekilas sebelum seringai tipis tercetak di wajahnya dengan tangannya masih memegang kunci pintu.

“Ben gak ono sing ganggu.”

Jancok…


메타데이터
post_id
87a304abc7b4
slug
eps-o2-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-87a304abc7b4
url
https://medium.com/@amoreosen/eps-o2-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-87a304abc7b4
canonical_url
https://medium.com/@amoreosen/eps-o2-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-87a304abc7b4
author_url
https://medium.com/@amoreosen
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30