Berani Menulis (7)
Prinsip 5: Mengambil Keputusan Berdasarkan Petunjuk Wahyu
Berani Menulis (7)
Prinsip 5: Mengambil Keputusan Berdasarkan Petunjuk Wahyu
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kembali lagi dengan saya, Muhammad Fakhri Fadhlillah.
Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dalam serial refleksi dari buku 30 Prinsip Hidup dari Al-Qur’an karya Nor Kandir. Setelah pada tulisan sebelumnya kita belajar tentang pentingnya menjaga kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, kali ini kita akan memasuki prinsip kelima yang menurut saya sangat menentukan arah kehidupan seseorang, yaitu mengambil keputusan berdasarkan petunjuk wahyu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36).
Jika dipikir-pikir, hampir seluruh kehidupan kita diisi oleh keputusan. Mulai dari keputusan kecil seperti bagaimana memanfaatkan waktu, hingga keputusan besar seperti memilih pasangan hidup, menentukan pekerjaan, memilih lingkungan pergaulan, bahkan menentukan jalan hidup yang akan ditempuh.
Namun, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah, apa yang sebenarnya menjadi dasar dari setiap keputusan yang kita ambil?
Sering kali kita mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Kadang berdasarkan logika semata. Tidak sedikit pula yang mengikuti pendapat mayoritas, tren media sosial, atau sekadar karena “semua orang juga melakukannya.”
Padahal sebagai seorang muslim, Allah telah memberikan pedoman yang jauh lebih sempurna daripada sekadar perasaan ataupun pendapat manusia, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Inilah yang menjadi inti dari prinsip kelima.
Buku ini mengingatkan bahwa seorang mukmin sejatinya tidak menjadikan hawa nafsu sebagai kompas kehidupannya. Ketika Allah dan Rasul-Nya telah memberikan ketentuan yang jelas, maka tugas seorang hamba bukan lagi mencari pembenaran lain, melainkan belajar untuk tunduk dan menaati dengan penuh keyakinan.
Saya pribadi merasa bahwa prinsip ini bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak kondisi ketika keinginan diri bertabrakan dengan aturan Allah. Terkadang kita mengetahui mana yang benar, tetapi hati masih berharap pilihan yang lebih mudah. Kita mengetahui mana yang halal, tetapi tergoda oleh keuntungan yang tampak lebih besar. Kita memahami mana yang diridhai Allah, tetapi khawatir dianggap berbeda oleh lingkungan sekitar.
Di situlah letak ujian keimanan.
Ketaatan kepada Allah sering kali menuntut keberanian. Berani menolak sesuatu yang menguntungkan tetapi tidak halal. Berani meninggalkan lingkungan yang membawa kepada kemaksiatan. Berani berkata “tidak” ketika semua orang berkata “iya”. Dan berani tetap istiqamah meskipun harus berjalan sendirian.
Menariknya, Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali terdapat kebaikan di dalamnya, meskipun terkadang belum mampu kita pahami saat ini.
Saya teringat sebuah pelajaran bahwa manusia memiliki pengetahuan yang sangat terbatas. Kita hanya mampu melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus. Bisa jadi sesuatu yang menurut kita baik justru menjadi sebab keburukan, dan sesuatu yang terasa berat justru menjadi pintu keberkahan yang belum pernah kita bayangkan.
Karena itulah, keputusan yang dibangun di atas wahyu sejatinya adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba. Ia mengakui bahwa ilmu Allah jauh lebih luas daripada akalnya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini terasa sangat relevan.
Seorang mahasiswa dapat memilih untuk mengerjakan tugas dengan jujur meskipun banyak temannya menggunakan cara instan. Seorang pegawai berani menolak praktik suap walaupun peluang kariernya menjadi lebih lambat. Seorang pemuda lebih mendahulukan agama ketika memilih pasangan hidup daripada sekadar penampilan atau status sosial. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari, seorang muslim berusaha mengatur jadwalnya agar tidak mengorbankan waktu salat demi urusan dunia.
Keputusan-keputusan seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di sanalah kualitas keimanan sedang diuji.
Hal lain yang sangat saya sukai dari Islam adalah adanya salat istikharah. Ketika kita berada di antara dua pilihan yang sama-sama baik, Allah mengajarkan agar kita melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Ini menjadi bukti bahwa seorang mukmin tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Ia selalu meminta petunjuk kepada Rabb yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dari prinsip ini saya belajar bahwa kehidupan bukan tentang seberapa banyak pilihan yang kita miliki, melainkan tentang apakah pilihan tersebut mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya.
Boleh jadi sebuah keputusan membuat kita kehilangan sesuatu di dunia, tetapi justru menyelamatkan kita di akhirat. Dan boleh jadi sebuah keputusan terlihat berat pada awalnya, namun ternyata menjadi sebab datangnya ketenangan yang selama ini kita cari.
Semoga kita termasuk orang-orang yang setiap kali dihadapkan pada sebuah pilihan, tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang Allah ridhai?”
Karena sesungguhnya keputusan terbaik bukanlah keputusan yang paling mudah, bukan pula yang paling menguntungkan menurut manusia, melainkan keputusan yang paling dekat dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita, meneguhkan hati kita di atas jalan yang lurus, serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam setiap keputusan yang kita ambil.
Wallahu a’lam bish-shawab.
InsyaAllah, pada tulisan berikutnya kita akan kembali melanjutkan perjalanan menelusuri hikmah dari buku 30 Prinsip Hidup dari Al-Qur’an karya Nor Kandir. Semoga setiap prinsip yang kita pelajari tidak berhenti menjadi bacaan, tetapi dapat diamalkan dengan sebenar-benarnya dalam kehidupan sehari-hari.
메타데이터
- post_id
- 87e5a83945f3
- slug
- berani-menulis-7-87e5a83945f3
- url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-7-87e5a83945f3
- canonical_url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-7-87e5a83945f3
- author_url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 10:29:04