Butterfly.
Cw /mention kiss/fluffy

Jikyu.
Butterfly.
Cw /mention kiss/fluffy
Cinta tanpa restu bagai kapal yang terombang-ambing. Ombak membawanya ke kanan dan ke kiri, ke muka dan ke belakang, mengikuti kemana ombak membawa dan mendorongnya. Ia tak punya pijakan kuat untuk bertahan. Selayaknya junkyu sekarang. Dirinya seakan terombang-ambing tanpa pegangan, tanpa punya tempat untuknya menambat kepercayaan. Dirinya seakan kehilangan sumber penguat hati setelah menerawang tentang bagaimana respon kedua orangtuanya mengenai hubungan di luar norma yang kini ia hadapi. Seakan-akan tak memiliki pendukung di lingkup relasinya.
Lelaki berparas adiwarna itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang, pipinya tampak mengkilap di terpa silau. Ia menatap jendela dengan kilatan cahaya matahari 11.00 siang yang berpendar ke seluruh ruangan. Matanya membengkak merah, sedang irisnya tampak basah. Lantaran tangisnya sekitar jam sembilan pagi tadi malah ia bawa tidur, hingga jadilah membengkak seperti sekarang. Ia terjaga saat dirasa istirahatnya cukup.
Mengingat sesuatu negatif setelah bangun tidur ternyata sangat-sangat tidak enak, dan akhirnya ia kembali terseret pada kejadian beberapa jam lalu hingga sedikit menangis. Akh! Apa benar kedua orangtuanya tidak akan merestui hubungan di luar norma ini?. Kenapa respon mereka terhadap anak teman sang mama itu tampak membuatnya seakan jatuh terhempas dari langit ke dasar bumi?. Padahal itu hanya sebuah respon kecil dan basic, tidak jelas pula!.
Sekali lagi, junkyu terlalu innocent menghadapi sebuah kisah percintaan. Ia menganggap bahwa dirinya sedang melalui kisah rumit mengenai dunia romansa. Dia masih sangat terkejut di terpa kisah baru dalam hidupnya.
_____
12.00 pm. NT ent, building.
Jihoon tak dapat menerka seorang Kim junkyu. Sosok sahabat yang kini telah menjadi sosok yang dia puja. Sedari mereka masih di apartemen tadi, ia sempat menghampiri dan memeluk tubuh junkyu lantaran mendapati netra pria itu yang sembab. Pikirnya, mungkin junkyu menangis lantaran long text yang ia kirim pagi tadi, akan tetapi dirinya kian sadar bahwa kemelut pikiran pria itu bukan tentang pesan tadi.
Si Kim masih tampak murung dan kelam. Meskipun lelaki manis itu sangat berusaha untuk menutupinya. Ia tentu masih nyambung saat jihoon coba mengajaknya bicara. Lelaki itu juga menunjukkan semburat malunya tatkala ia coba memberikan tatapan intens tepat pada irisnya. Bahkan mereka sama-sama salah tingkah sambil menahan tawa. Hanya saja jihoon sadar kalau junkyu terlihat menyembunyikan sesuatu.
Ke-empat pria yang tentunya tampan kini terlihat membentuk pose juga formasi dengan setelan busana milik brand Dieo beserta perintilannya. Ada yang menunjukkan wajah dengan sudut pandang tajam, ada pula yang percaya diri akan smirknya, dan ada pula yang memamerkan tatapan innocent sesuai konsep yang di tentukan.
Namun beberapa kali jihoon dapati tatapan mata junkyu yang kosong. Lantas berhasil ia sadarkan acap kali tangannya bergerak lembut menyentuh tangan junkyu. Lelaki manis itu kembali di buat salah tingkah sambil tersenyum kikuk ke arah jihoon, hingga jihoon memutuskan untuk tidak melepas genggaman tangannya selama pemotretan.
“Junkyu fokus!” Teriak sang fotografer. Kali ini bukan jeongwoo, melainkan fotografer; — lebih senior, yang kini tengah bertugas. sehingga junkyu tak dapat membalasnya dengan protes gurauan seperti yang biasa ia lakukan terhadap jeongwoo ataupun haruto.
Junkyu semakin mengeratkan genggamannya pada tangan besar jihoon, hingga terasa hangat dan mendebarkan. Membuat rasa lesunya memudar. Ia tersenyum dengan lembut sampai membuat sang fotografer ikut tersenyum puas.
Mereka kembali fokus pada pekerjaan, menerima terpaan kilap cahaya blitz kamera.
Saat terjadi perubahan posisi, jihoon seakan sengaja menginterupsi wilayah junkyu, hingga keduanya menjadi berdekatan. Jaehyuk dan junghwan dibuat saling lirik dan merotasikan matanya malas. Kedua pria yang tengah kasmaran itu seolah-olah membuat konsep baru, yang untungnya tak mendapat protes sama sekali.
Junkyu rasanya sangat ingin mengumpat kearah jihoon lantaran sempat-sempatnya membuat ia berdebar saat ini. Bahkan diam-diam pemuda park itu merengkuh pinggangnya hingga ia rasakan geli yang menyengat.
Jihoon sedikit terkekeh sebab melihat rona merah yang menjadi hiasan alami di wajah junkyu saat ini.
“okay rest!”
Para peragawan sontak menghela nafas kasar lantaran berkeringat juga lelah. Mereka berpencar, menyamankan diri masing-masing.
Jihoon menangkap eksistensi junkyu yang kini berjalan keluar studio. Sudut bibirnya spontan terangkat sebab melihat keberadaannya saja membuat ia merasakan euforia senang yang teramat. Junkyu itu sangat menarik dari segala sisi.
“muak nggak sih bang liat orang pacaran di tengah pemotretan?” Tiba-tiba suara junghwan menginterupsi tatap jihoon ke arahnya. Pria yang sedikit lebih muda itu ternyata sedang menjadikan jaehyuk sebagai objek bicara.
“hooh!, Lu liat gak tadi ada bunga-bunga tuh di sekitar mereka?”
“malah gua liat ada gambar dewa cupid bang di atas kepala mereka ckckck!” dua orang model itu akhirnya terkekeh menertawai sarkasme yang mereka utarakan.
“kalian ngomongin gua?” Ujar jihoon di akhiri decak sebal.
“pacar lu juga!” Balas jaehyuk.
“kita berdua nggak pacaran!” elak jihoon. kini lelaki itu sudah beranjak dari yang tadi duduk di sofa sejenak, kini berdiri kokoh.
“lah? Belom bang?”
“kepo aja seh!” ketus sekali. Jihoon mulai berjalan menjauhi ruangan menuju pintu. Ia hendak menyusul kemana sosok junkyu pergi tadi.
“dih gitu ya Lo!” — “iya! Seenggaknya cerita kek!” Sahut dua lelaki rekannya tersebut.
“kalo belum valid gua males cerita!” Seru jihoon abai. Kini tubuhnya sudah hilang di telan belokan. Membuat junghwan dan jaehyuk kembali saling tatap.
“Lo sakit kah?”
Suara yang terdengar lembut namun penuh wibawa tadi berhasil membuat junkyu terkejut saat sedang asyik melamun di depan cermin wastafel kamar mandi. Kini pemuda park itu berjalan menghampiri, lantas berdiri tepat dihadapannya dengan hanya menyisakan jarak beberapa Senti. Ujung sepatu mereka bahkan saling berbenturan. Kelopak mata junkyu spontan terpejam tatkala merasakan hangat telapak tangan jihoon yang memegangi dahinya. Setelah itu kembali terbuka beberapa detik kemudian.
Dapat junkyu lihat senyuman jihoon yang terhujam teduh kearahnya. Junkyu kembali dibuat merinding ketika telapak tangan itu turun ke bagian pipi dan rahangnya saat ini. Namun ia tak menolak, kelembutan jihoon membuatnya nyaman seakan merasakan hal baru. Ia hanya memberikan tatapan polosnya terhadap pria itu sekarang.
“j-jihoon mengenai waktu itu…”
“ssst, ngga usah di bahas kalau malah memberatkan pikiran Lo. Nanti-nanti aja, jangan sekarang.”
Junkyu menggigit bibir bawahnya. “S-sorry, Hoon. Gue m-masih syok aja sih, duh” berkali-kali junkyu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merasa tak enak. Kepalanya tertunduk, ia sangat malu sekali.
“gue ngerti maaf” kini jihoon menangkup kedua pipi pemuda dihadapannya. Junkyu kembali di buat sedikit menengadah.
Entah mungkin lantaran junkyu sudah tahu kalau jihoon memiliki perasaan lebih terhadapnya, ia tak mengelak tatkala pipinya menjadi objek elusan lembut jemari jihoon. Biasanya mereka seakan merasa sama-sama cringe atau gengsi. Biasanya junkyu akan memukul atau mencubit bagian tubuh jihoon yang mengenai dirinya. Tapi kali ini mengapa rasanya begitu candu?. Pria Kim tersebut ingin jihoon terus menunjukkan tiap afeksinya.
Saat ini junkyu sudah merasakan pipinya yang begitu panas, bahkan terlalu panas dan sulit ditahan hingga debaran jantungnya amat ribut bagai tabuh genderang di keramaian pesta. Tangannya meremat ujung busananya sendiri. Giginya gemeretak di dalam sana.
“j-jihoon-ah?. — ” junkyu seakan tercekat, kepalanya makin tunduk bahkan membuat jihoon khawatir.
“s-seandainya g-gua ulur waktu terlalu lama… l-lo tetep bakal nunggu?— hhh!” seakan-akan nafas yang tadi tercekat kini membuncah keluar. Junkyu merasa lemas setelah mengatakannya. Berbeda dengan ia yang blak-blakan pagi tadi. Ia sendiri heran kenapa tidak sepercaya diri sebelumnya?.
Jihoon dibuat terkekeh geli, kedua tangannya hendak membuat kepala junkyu kembali tegak, namun tiba-tiba malah terlempar di kedua sisi lantaran kini dua lengan junkyu bergerak cepat menginterupsi, lalu telapak kecil itu menangkup wajahnya. Ia ternganga menerima pergerakan junkyu yang tiba-tiba.
“PLISS, gue serius! Pokoknya jangan berhenti yaa?” rengek junkyu sembari menyelami manik kelam jihoon. Dapat jihoon dengar rengekan junkyu yang di selingi sedikit getaran, mungkin karena gugup. Ia juga balas menatap iris hazel junkyu yang bulat penuh, di hiasi dengan bulu mata lentiknya. Alis cantiknya pun tampak bertaut penuh khawatir. Semakin besar keinginannya untuk menjamah mata cantik itu.
“chup!~” jihoon mencuri kecupan gesit tepat di atas kelopak mata hazel junkyu yang sejak tadi menarik perhatiannya. Bahkan masih dapat ia rasakan bulu mata lentik itu berkedip tadi. Tangan junkyu yang tadinya menangkup pipi jihoon sontak jatuh lemas di kedua bahu kokoh pria park itu. Ia terlalu terkejut dan tubuhnya bergetar hingga tak sadar jemarinya meremat pundak jihoon.
“maaf, gue lancang. Gue sukaaaa banget sama Lo" jihoon berbicara lembut. Kini telunjuknya meniti alis junkyu, di elusnya berkali-kali dengan perlahan. Sampai mata indah tersebut mulai sayu. “ — Alis Lo indah banget, mata Lo juga, semua yang ada di Lo indah banget. Gimana bisa gue berhenti suka sama manusia indah kaya gini huh?”
Perkataan jihoon membuat junkyu semakin kuat meremat bahu pemuda dihadapannya, melampiaskan perasaan kupu-kupu nya di sana. Susah payah ia teguk saliva yang kini berusaha membasahi tenggorokan keringnya.
“j-jihoon-ah~, J-jangan gituu gua maluu!” Junkyu mencicit. Ah, bahkan rasanya airmata pun keluar dari ujung obsidiannya sekarang. Saking mati-matian ia tahan segala euforia nya sekarang.
Pemuda park itu sudah kepalang gemas. Dirinya segera memegang kedua pinggang junkyu yang ternyata begitu ramping dan pas di telapaknya. Junkyu di buat berjengit lagi, sekaligus merasa heran kenapa tiap pergerakan pria ini selalu membuatnya berdebar dan melambung seaka kehilangan pijakan?. Kini jihoon mengikis jarak, hingga tubuh bagian depan mereka sangat rapat.
“y-ya~!?” Tatapan sinis junkyu berikan kepada jihoon, berniat menakuti tapi malah mendapat kekehan dari pemuda itu. “ — hhh! y-ya! Park jihoon! Gua makin yakin kalo Lo yang cium gue malem itu! — hhh~ hh!” dada junkyu tampak naik turun cepat lantaran ngos-ngosan saat berbicara.
“iya, maaf ya?.”
“hahh!?” Setelah terkejut beberapa saat, kini junkyu pukuli tubuh jihoon hingga pemuda itu mengaduh. “— egh! Jahat! Lo jahat! Lo udah nyuri first kiss gue! Park!”
“Aduh, maaf — gue beneran minta maaf, lagipula gue kan emang first kiss Lo?”
“y-ya t-tapi! Akh! Gue kan mabuuuuk!”
“ya maaf, lain kali nggak pas mabuk kok”
“maksud Lo dasar setan! Nyebelinnn!” Junkyu memberontak di dalam rengkuhan jihoon, namun si Park tak jua melepaskannya. Malah ia tertawa melihat tingkah junkyu yang begitu menggemaskan untuk di tonton.
Junkyu menyebik. Matanya menatap penuh kesal namun binar nya malah menambah kesan manis.
“gemes banget sih!” Setelah berkata demikian, jihoon tambah erat memeluk tubuh junkyu, sampai si Kim merintih. lalu menghujami kecupan kuat di setiap wajahnya.
“hng! Jihooon!” Sudah banyak usaha ia lakukan agar ciuman jihoon berhenti, namun tenaga si Park ternyata sedikit lebih kuat darinya. Ia lelah sendiri hingga akhirnya diam menerima. Bukan main bulu-bulu halus di wajahnya di buat bangkit lantaran menerima ciuman jihoon yang makin lama makin lembut. Dapat ia rasakan ketika tangan jihoon menuntun tangannya agar balas memeluk pinggang pemuda itu. Rasanya sangat kaku lantaran degup jantung nya seakan membuat ruh di tubuhnya merangsek keluar. kedua pipinya kini kembali di tangkup. Junkyu beranikan diri untuk tetap membuka mata, menyaksikan setiap wajah jihoon mendekat sampai di rasanya bibir basah itu menempel di pipi, alis, dahi, dan hidung. Setelah itu keduanya kembali larut dalam tatapan Lamat.
“i love u~” perkataan jihoon keluar seakan sebuah bisikan. Junkyu memerah, bibirnya bergerak patah-patah seolah hendak buka suara. “Ssst — ” namun tiba-tiba jihoon menahannya. “ — Gue ngerti Lo masih mau mikir, jadi ga usah di jawab dulu”. Akhirnya bibir junkyu kembali mengatup. Jakunnya bergerak seolah menelan perkataan nya yang tadi hendak keluar.
Manik junkyu tiba-tiba bergerak menatap bilah bibir jihoon yang tadi menciumi wajahnya itu, lantas tiba-tiba bergerak kembali menatap tepat di mata pemuda Maret tersebut. Tapi tak sampai satu detik, junkyu seakan kembali salah fokus terhadap bibir lembut si Park. Ia seakan tak sadar kalau keterusan menatap labiumnya.
Jihoon seolah faham, hingga ia beranikan diri untuk mengikis jarak, mengarahkan bibirnya ke arah bibir junkyu yang tentu saja sejak tadi memporak-porandakan egonya. Semakin tipis jarak, semakin terasa pula wangi nafas yang menerpa.
“**tak tak tak!” **junkyu dan jihoon terlonjak hebat.
Suara derap langkah sepatu membuat kedua daksa itu mendelik lalu berpisah, bak kue lapis yang terpisah secara paksa satu dengan yang lain.
“ck! Di sini rupanya?” Suara bariton seseorang membuat junkyu dan jihoon menoleh. Terdapat haruto dengan Hoodie gelap khasnya, ia lalu memberikan glare sebal, bergantian ke arah dua modelnya yang kini tampak mematung di dua sudut berbeda.
“cepet bang jihoon! Sekarang by one! Lo pertama,kak junkyu ke dua.” mendengar hal tersebut, junkyu lah yang lebih dulu mengambil langkah seribu. Jalannya seolah lari, antara gugup karena hampir ketahuan, malu dengan jihoon, atau taku terlambat? Entahlah!. Berbanding terbalik dengan jihoon yang santainya mengalahi siput. Membuat haruto geram.
“ck! Iyaa iyaaa!” decak jihoon seolah mengerti arti tatapan yang haruto berikan. Kemudian ia terkekeh lalu berjalan cepat. Bah! Gedeg rasanya haruto tuh!.
— HANA.
메타데이터
- post_id
- 87e5ce7d35fa
- slug
- butterfly-87e5ce7d35fa
- url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/butterfly-87e5ce7d35fa
- canonical_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/butterfly-87e5ce7d35fa
- author_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 02:22:02