← Back to list

Gerimis di Musim yang Salah

Terinspirasi dari Buku Karya Muhammad Asrofi dengan Judul yang Sama

Pak Kris · 2025-07-27 15:16 · 0 claps · 2.3 min read
#puisi #patah-hati #beda-agama #gerimis #cerpen
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Gerimis di Musim yang Salah

Terinspirasi dari Buku Karya Muhammad Asrofi dengan Judul yang Sama

Malam ini langit tak tampak seperti malam biasanya. Agustus masih berada di pertengahan musim kemarau, tetapi langit sedang mendung dan orang orang pasti tahu akan turun hujan; atau setidaknya gerimis. Malam ini bintang sedang tak menunjukkan batang hidungnya. Begitu pula dengan rembulan, ia tak lagi memantulkan mentari saat mendung makin menjadi.

Biasanya di malam seperti ini kau akan memberi kabar padaku. Pesan pesan singkat menjelma peluk hangat. Rasa itu memecah udara dingin yang menyeruak. Bagai kopi dalam cangkir, ia hangat seakan mengecup lembut bibirku. Datang dan tak pergi, menanti mendung mereda.

Namun mendung tak juga reda. Malah hujan semakin deras mendera. Ia tempias, hingga selasar rumahku basah oleh tiap titik tangisnya. Aku yang sedang duduk di depan pintu, ikut basah kuyup saat hujan semakin kejam menyerbu bumi. “Mungkin bila kau ada di sini hujan tak terasa seperti hujan, dingin tak lagi ada”, gumamku dalam hati.

Pikiranku mulai melayang layang pada masa di mana aku dan kamu masih kita. Membayangkan setiap hal manis yang kami lalui. Menikmati masa di mana perbedaan tak lagi menjadi batasan untuk mencintai.

Pikiran itu tentang kita yang sedang berhenti dari perjalanan panjang. Kita sedang berhenti di warung makan kesukaanmu saat melakukan perjalanan. Di warung itu menjual berbagai macam makanan. Mulai dari nasi Padang dengan berbagai lauk, sampai soto ayam kesukaanmu. Kau memesan soto ayam dengan nasi yang sedikit dengan ekstra ayam. Kemudian sang pemilik warung akan bertanya padamu, “mau telur nggak dek?” dan tentu saja dengan kebiasaan yang sama kau menjawab, “iya pak, boleh.” Setelah itu, penjual soto menyiapkan pesananmu. Ia mulai menuangkan nasi sesuai porsimu, lalu potongan ayam dan mie bihun ditaburkan di atasnya. Tak lupa penjual soto meletakkan telur yang dibelah dua di posisi paling atas. Aku masih ingat ketika kau tidak ingin memakan bawang goreng saat itu. Alasanmu, bawang goreng membuat rasa soto terlalu gurih, aku mengiyakan saja.

Setelah soto yang kau pesan datang, kau mengambil sambal tetapi tidak dengan koyanya. Katamu, “ini terlalu asin untukku yang manis.” Setelah berkata demikian normalnya seorang lelaki akan mencubit pipi kekasihnya.

Pikiranku kembali melayang maju sampai pada saat di mana kita berpisah. Kita berada di sudut taman. Kita terdiam. Tak saling menatap namun ingin menetap. Pada waktu itu bagiku kamu renjana, dan bagimu aku dewana. Aku benar benar membenci situasi saat itu. Semua penghuni taman ikut hening. Tak ada suara sedikitpun. Hanya suara di pikiran kita yang berusaha menahan untuk tak saling pergi.

“Jadi, mau gimana kita sekarang?”, Tanyamu tiba tiba memecah hening.

“Aku janji sama kamu buat nggak pergi, kan?” Jawabku sambil menatap matanya.

“Tapi kita beda Xel, kita nggak sama.” Tandasmu yang melawan kata-kataku.

Obrolan tentang perbedaan membuat kita rapuh. Tak berdaya jika harus membahas kita yang beda. Bukankah Tuhan menciptakan cinta untuk terus ada? Bukankah kau yang umatNya diperbolehkan menjadi pasanganku yang juga hambaNya? Tetapi mengapa kita berpisah karena adanya Pencipta yang kita yakini?

Namun argumenku terhadapmu tak ayal hanya bualan belaka. Karena bagimu, yang berbeda tak bisa bersama. Kita tetap berpisah. Tak berjalan di jalan yang sama adalah jalan keluar yang kau ambil. Kau dengan dirimu, dan aku dengan diriku.

Suasana di taman mulai berisik. Langit mulai mendung dan air mulai turun bagai gerimis yang ritmis. Angin bertiup kencang. Lalu, kita pulang bagai orang yang berjalan di tanah gersang.

Aku kembali tersadar dari lamunan ku terhadap masa lalu. Hujan mulai reda. Air yang turun hanya menyisakan bunyi ‘tik tik’ pelan. Gerimis yang sama sedang turun di luar. Gerimis di musim yang salah adalah kita. Gerimis di musim yang salah membuat hati kita terluka.


메타데이터
post_id
883a06f74094
slug
gerimis-di-musim-yang-salah-883a06f74094
url
https://medium.com/@axelkurniawan547/gerimis-di-musim-yang-salah-883a06f74094
canonical_url
https://medium.com/@axelkurniawan547/gerimis-di-musim-yang-salah-883a06f74094
author_url
https://medium.com/@axelkurniawan547
status
ok
fetched_at
2026-07-26 15:53:26