Sepatu, Oh Sepatu ….
Buku & Film (Episode 5)
Sepatu, Oh Sepatu ….
Buku & Film (Episode 5)

Tokoh Ali dan Zahra dalam film Children of Heaven (Sumber: mediaindonesia.com)
28 Mei 2026. Tidak terasa sudah sebulan setelah aku menonton film Para Perasuk di bioskop, sekarang menyusul lagi dengan film lainnya. Kita memang tidak boleh mempermainkan waktu, ya.
Tanggal 27 Mei 2026 lalu, film Children of Heaven versi remake Indonesia akhirnya rilis di bioskop, bertepatan dengan Hari Iduladha. Tetapi, aku tidak langsung menonton di hari pertama, karena harus fokus dengan tesis yang masih dalam tahap copy editing. Aku pun memutuskan untuk menonton di esok hari saja. Masih dalam perayaan Iduladha, rasanya aneh kalau aku main pergi sendiri tanpa menghabiskan waktu bersama kedua orang tua dan adikku, meskipun hanya sekadar di rumah.
Di malam hari, setelah bertarung dengan tesis, dan masih ada dua poin lagi yang harus aku perbaiki di daftar revisi, aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan membuka aplikasi m.tix, melihat jadwal Children of Heaven pada tanggal 28 Mei 2026 di Cinepolis Tamini Square. Yes, ternyata ada di jam 1 siang! Mantap itu! Tanpa banyak drama, aku langsung beli tiketnya lewat aplikasi, jadi besoknya aku tinggal cetak tiket tanpa harus ribet menentukan seat. Izin dari ortu juga sudah dapat. Gas deh! Sudah tahu anaknya ini bookworm dan sinefili, sekalinya izin mau nonton film di bioskop langsung diizinkan. Hihihi.
Rencana jalan di hari Kamis lalu mulus tanpa hambatan. Tidak disangka, pas sampai di Cinepolis, ternyata ramai, lho! Aku curi-curi dengar dari keramaian orang yang memesan tiket, ternyata mereka adalah rombongan TPQ yang pastinya juga satu tujuan dengan aku, yaitu menonton Children of Heaven. Film aslinya yang berasal dari Iran saja sudah terkenal sekali, dan bagus pula, sampai masuk nominasi Piala Oscar, pasti akan banyak rombongan bawa anak berbondong-bondong mau nonton, persis ketika zaman film Jumbo ditayangkan tahun lalu.
Meskipun aku sudah memesan tiket lewat m.tix, sayangnya di Cinepolis Tamini Square tidak ada mesin cetak tiket khusus, jadi aku harus tetap ikut mengantre seperti calon penonton yang lain. Gokilnya, ada seorang laki-laki di depanku yang memesan tiket film Badut Gendong, kalian mau tahu berapa tiket yang dia pesan? Sekitar 30. Belum selesai sampai situ, ternyata dia juga nambah beberapa, mungkin 10–20 tiket. Buset dah, situ bawa rombongan, ya? Nunggu tiket dicetak sebanyak 50 pieces kelihatannya sudah seperti menunggu kertas tesis di-print. Rasanya aku ingin menertawakan laki-laki yang sedang memesan tiket itu. Tetapi, buat apa? Yowes, semoga acara nobarnya lancar! Jangan bikin rusuh pas filmnya udah mulai!
Sambil menunggu proses transaksi dan cetak tiket laki-laki di depanku, aku samar-samar mendengar suara ibu-ibu di belakangku. Dia agak lupa dengan judul film yang sedang diincar oleh sebagian besar calon penonton di sana, sampai berkali-kali bilang, “Children of … Children of ….”
Karena tidak tahan dengan si ibu yang masih lupa dengan judul filmnya, aku bantu lengkapi kata di akhir, “Heaven, Bu,” kataku. Ibu itu hanya ber-oh ria sambil tertawa. Kemudian, dia bilang ke aku, “Nonton itu juga, ya? Sendirian aja, Bu?” Aku hanya mengiyakan sambil tersenyum.
Memang ciri khas seorang sinefili, nonton film sudah seperti konsumsi otak. Jadi, tidak perlu teman nonton, sendirian juga tidak masalah.
Setelah dapat giliranku untuk menyetak tiket, tanpa banyak drama, hanya butuh waktu satu menit, tiketku langsung sampai di tangan. Sayangnya, untuk menunggu pintu teater dibuka, aku hanya bisa berdiri, karena semua kursi di selasar bioskop sudah penuh. Hiks.
Seperti biasa, kalau tidak memotret poster filmnya, belum lengkap!

Kurang ke bawah ini sebenernya. Karena ada orang di belakangku, aku tidak bisa berlama-lama di depan poster itu. (Sumber: Dokumen Pribadi)

Sampai ada poster spesialnya. Namanya juga remake film besar. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Pintu teater 2 sudah dibuka, aku langsung masuk. Heran, kenapa rombongan TPQ itu belum masuk juga? Apa sedang sibuk memesan makanan? Ah, ya sudahlah, nikmati momen sendirian di bioskop sambil menonton beberapa trailer film yang masih coming soon.
Karena aku belum pernah menonton versi originalnya, jadi aku hanya menerima cerita dari versi Indonesia. Ternyata ceritanya di-setting pada tahun 1988. Harga barang paling mahal sekitar Rp1.000,00. Tidak seperti sekarang yang paling mahal sekitar Rp100.000,00. Huehehe. Aku merasa tidak ada konflik yang berlebihan di cerita ini. Mendebarkan, iya. Tetapi, tidak disangka ternyata tahu-tahu ceritanya sudah sampai bagian konflik, klimaks, bahkan resolusi. Ringan, tetapi menyentuh, dan relate dengan seluruh manusia di dunia ini, yaitu tentang perjuangan antarsaudara dan tentang sepatu. Aku pun punya pengalaman perih soal sepatu.
Dari review orang-orang tentang Children of Heaven versi original vs remake, pasti lebih ngena versi original. Kalau versi Indonesia, meskipun alur ceritanya plek-ketiplek dari versi original, tetapi ada beberapa polesan supaya relate dengan orang kita. Ada beberapa jokes yang disisipkan, belum lagi banyak pula komika yang hadir sebagai pemeran di film ini, seperti Oki Rengga, Muhadkly Acho, Dodit Mulyanto, Benidictus Siregar, dan Lolox. Dari trailer pun sebenarnya sudah kelihatan pasti ada jokes meskipun tidak membuat kita tertawa sampai terbahak-bahak, yaitu adegan Oki Rengga yang berperan sebagai guru olahraga, yang menyatakan bahwa Ali tidak bisa ikut lomba lari maraton karena slotnya sudah penuh, lalu Ali menangis sambil mengelap air matanya di baju Oki.
[embed]Trailer Children of Heaven
“Baju Bapak ini! Bikin kerjaan aja kamu memang.”
-Pak Bowo (Oki Rengga)
Entah atas dasar apa diselipkan jokes seperti itu. Apakah karena pemeran guru olahraganya adalah seorang komika? Hm … hanya Hanung Bramantyo yang lebih tahu.
Teringat pula aku ketika di adegan awal, pada saat Ali sedang berbelanja di pasar dan mampir ke warung jualan kentang, ada Beni yang berperan sebagai asisten dari pemilik warung. Melihat dia muncul, yang terlintas di benakku adalah, “Eh, si bau anjing!”
Gara-gara Agak Laen: Menyala Pantiku, jangan salahkan aku, ya!
Ada juga yang menyatakan bahwa musik di film versi Indonesia terlalu lebay alias kebanyakan dibanding versi originalnya. Tanpa music scoring di versi original, film terasa baik-baik saja. Tetapi, beda lagi kalau versi Indonesia, banyak music scoring yang mengiringi setiap adegan. Memang ciri khas Indonesia begitu, sih. Film harus ditambahkan music scoring supaya feel-nya lebih ngena. Haduh …. Tetapi, syukurlah, yang menjadi penata musik di film versi Indonesia ini salah satunya adalah Ricky Lionardi. Dari penilaian Timothy Fidealo a.k.a Ngelantur Indonesia, dia adalah penata musik yang tidak pernah gagal mengatur “posisi” music scoring di film-film. Contohnya seperti di film My Annoying Brother versi Indonesia dan film Esok Tanpa Ibu.
Aku jadi teringat perihal film Miracle in Cell No. 7 versi original vs Indonesia. Bagi yang masih ingat adegan di ending, pada saat si tokoh utama, Yesung vs Kartika sedang menatap balon yang nyangkut di kawat dinding penjara, ia mendadak melihat sosok ayahnya yang sedang mengucapkan salam perpisahan sambil menaiki balon udara. Kalau di versi original alias Korea Selatan, adegan itu hanya dihiasi dengan music scoring yang lembut, sedangkan versi Indonesia malah ditambah dengan suara original soundtrack yang berjudul “Andaikan Kau Datang Kembali” yang dinyanyikan oleh Andmesh. Menurutku, sudah pakai backsound OST, ada pula suara Dodo Rozak lagi dadah-dadah ke Kartika, itu suara penyanyi sama aktornya nubruk, woy! Pusing akutu dengernya. Lebih enak versi Korea Selatan, sekadar music scoring, tidak lebay.
Balik lagi, orang kita memang senangnya pakai suara.
Sepatu, ini adalah ciri khas dari film Children of Heaven. Sebuah benda yang tidak bisa kita tinggalkan ketika pergi, meskipun harus jemput abang go-food sekalipun.
Aku punya pengalaman mantap tentang sepatu, tetapi bukan berbagi sepatu dengan adikku. Justru aku dan adikku malah bertukar kamus bahasa Korea dan bahasa Jepang.
Jadi, bulan April lalu, aku menghadiri sebuah event bedah buku dan film Na Willa di Senayan City. Aku baru pulang jam 5 sore karena acara baru selesai jam 3 sore, belum lagi aku harus cari restoran karena belum makan siang, dan kakak tingkatku mengajakku untuk melihat-lihat barang di beberapa toko. Sudah jam 5 teng, aku harus kembali ke rumah, tidak peduli aku pulang sendirian dan meninggalkan kakak tingkatku yang masih asyik window shopping.
Malangnya, ketika sudah di luar lobi, ternyata hujan. Awalnya aku ingin memesan taksi online, tetapi antara sayang ongkos dan masih kikuk dengan pelayanan taksi online, aku memilih pulang naik ojek online saja sampai ke Stasiun LRT Dukuh Atas. Kebetulan aku selalu membawa payung dan jas hujan ketika pergi. Aku nekat menerobos hujan, masa bodoh celana dan sepatuku basah. Sudah sore, ayo pulang!
Di perjalanan, komunikasi antara supir ojek dan aku tidak terlalu baik, karena bisingnya suara kendaraan di sore hari, ditambah hujan deras. Intinya dia bertanya, apakah aku ingin diturunkan di stasiun? Ya jelas lah, aku kan sudah atur di aplikasi kalau tujuanku adalah Stasiun LRT Dukuh Atas. Apesnya, supir ojek online tersebut malah menurunkanku di Stasiun KRL Sudirman. WADUH, AKU HARUS JALAN BEBERAPA METER LAGI!
Salahku sih, mengapa aku tidak mengelak dan lanjut jalan sampai ke Stasiun LRT Dukuh Atas? Ah, aku tidak mau banyak drama, apalagi pada saat itu sedang hujan, ribet lagi kalau perjalanan dilanjutkan. Aku memutuskan untuk turun di Stasiun KRL Sudirman saja, meskipun harus berjalan beberapa meter, belum lagi aku harus melewati jalan yang terhubung antara stasiun KRL dengan stasiun LRT. Entah berapa menit aku habiskan untuk berjalan kaki di tengah hujan deras itu.
Sesampainya di Stasiun LRT Dukuh Atas, aku duduk dulu di peron setelah lelah berjalan tanpa berlari. Celanaku basah, tetapi lebih parah sepatuku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan sepatuku. Aku mencoba melepas sepatu, dan benar saja, alas bawah sepatuku lepas, basah pula. Mungkin karena dipaksa dipakai sambil berbasah-basahan dengan air hujan, teksturnya jadi terasa lengket dengan kaus kaki, dan akhirnya malah lepas seiring dengan banyaknya langkah kakiku. Haduh, tahan dulu deh. Ini tinggal naik LRT, terus nyambung ojek online lagi, tidak banyak drama jalan kaki seperti sebelumnya.
Di sisi lain, aku juga memiliki sepatu hitam yang khusus aku gunakan pada saat UPM atau Uji Pengendalian Mutu yang diadakan di akhir semester. Peraturan di kampusku mengharuskan para mahasiswa untuk menggunakan kemeja putih, bawahan hitam, jilbab putih untuk muslimah, serta sepatu tertutup berwarna hitam pada saat UPM. Sepatu yang aku gunakan sudah dibeli dari awal kuliah S-2, sayangnya, ukurannya agak sempit. Tetapi, karena tidak mau merepotkan orang tuaku, aku tetap memaksa untuk memakai sepatu itu saja. Toh, cuma sekali dalam setengah tahun, sekitar 3–4 jam, setelah itu lepas lagi.
Setelah hancurnya sepatu andalan yang biasa aku gunakan untuk pergi, aku pun mencari sepatu baru di online shop. Sepatu yang aku incar adalah model flat shoes. Aku menemukan banyak pilihan dan desainnya keren-keren! Wow … aku harus pilih sepatu yang harganya ramah dengan saldo rekeningku, yang pasti tokonya juga harus trusted. Akhirnya ketemu, dan sampai hari ini, sepatu itu menjadi teman baikku untuk berpergian, menggantikan sepatuku yang sudah bonyok. Yeay!
Sebenarnya, ada alasan aku lebih memilih flat shoes ketimbang sepatu biasa atau sneakers. Aku adalah tipe orang yang kalau pakai sepatu di awal, pasti fungsinya sudah seperti sandal, alias bagian belakangnya terinjak. Apalagi kalau habis ngajar di pesantren, aku terbiasa memperbaiki sepatu di teras pesantren ketimbang fokus langsung mengenakannya di depan masjid. Itu yang membuat bagian belakang sepatuku jadi “terjepit”, dan akibatnya, karena kebiasaan burukku itu, bagian belakang sepatuku jadi terasa penyok. Pabo! Hiks ….
Setelah aku dibelikan sepatu hitam baru oleh orang tuaku, aku berniat untuk memakainya selain untuk kegiatan UPM atau bahkan sidang tesis nanti. Tetapi, mengingat kebiasaan burukku tentang mengenakan sepatu yang asal-asalan, aku lebih memilih menggunakan flat shoes, karena tidak banyak “drama”, sekali pakai langsung terpasang, tidak seperti sneakers yang harus menunduk atau duduk dulu supaya sepatunya terpasang sempurna di kaki.
Begitulah dramaku tentang sepatu. Di tengah derasnya hujan, sepatu “warisan” mamaku yang sudah bonyok kini telah diganti dengan sepatu yang aku beli sendiri. Warnanya? Sudah pasti, pink.
Oh iya, balik lagi ke film, aku teringat ada quotes yang dilontarkan oleh wali kelas Ali kepada sang kepala sekolah, aku lupa persis apa yang dikatakan sang guru, tetapi intinya adalah jangan langsung menghakimi tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Kepala sekolah, yang diperankan oleh Muhadkly Acho, sudah kesal karena Ali selalu datang terlambat, akhirnya mengusir Ali dari sekolah, syukurlah wali kelas Ali yang diperankan oleh Dodit Mulyanto menasihati sang kepala sekolah agar tidak bertindak gegabah. Ia harus tahu kenapa Ali bisa berkali-kali terlambat ke sekolah. Bukan hanya karena faktor malas, bisa saja karena faktor lain.
Aku jadi teringat santriku yang ghosting beberapa pekan ini. Sampai sudah ada empat tanda A di daftar absenku. Sudah berkali-kali balas “Insyaallah” di direct message Instagram ketika aku tanya apakah dia akan masuk, tetapi setelahnya malah tidak ada kabar. Katanya mau pinjam buku, giliran bukunya dibawa malah tidak datang. Mana tanggung jawabnya, Tong?
Kembali ke nasihat wali kelasnya Ali, jangan langsung menghakimi tanpa tahu penyebabnya. Sebenarnya, kenapa sih santriku yang satu itu sudah mulai jarang masuk? Apakah karena faktor sosialisasi antara dia dan teman-temannya di pesantren? Atau karena faktor lain? Entahlah. Dia yang dulunya terlihat gagah dan bercita-cita menjadi atlet taekwondo terkenal, kini malah menghilang dari hadapanku. Roda memang berputar.
Setelah filmnya selesai, seperti sinefili pada umumnya, tidak lengkap jika tidak menyaksikan ending credits. Para penonton sudah berdiri dan satu persatu meninggalkan ruang teater, aku masih menatap layar bioskop, melihat nama-nama kru yang bekerja di balik layar. Lalu, sampailah pada nama-nama pemeran, hanya ditayangkan nama asli aktor/aktris tanpa terlihat mereka berperan sebagai apa. Mungkin itu ada di bagian tengah, karena aku tidak menyaksikan ending credits sampai habis. Di awal, sudah pasti nama Jared Ali, lalu disusul Humaira Jahra, dan nama-nama pemain lainnya. Tidak ada desain berlebihan dalam ending credits film Children of Heaven versi Indonesia. Bisa dibilang, vibes-nya hampir mirip seperti ending credits film Ipar adalah Maut. Wajar sih sama, sutradaranya Hanung Bramantyo juga! Hahahaha!
Sekian curahan hatiku di malam Minggu yang biasa saja. Kalau Ali dan Zahra berbagi sepatu, aku dan adikku berbagi kamus, kalian dan saudara kalian berbagi apa, nih?
[embed]
메타데이터
- post_id
- 88d7d8d5ffb0
- slug
- sepatu-oh-sepatu-88d7d8d5ffb0
- url
- https://medium.com/@asaliarizky/sepatu-oh-sepatu-88d7d8d5ffb0
- canonical_url
- https://medium.com/@asaliarizky/sepatu-oh-sepatu-88d7d8d5ffb0
- author_url
- https://medium.com/@asaliarizky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 03:04:42