← Back to list

Menemukan Kompas Diri di Tanah Rantau

Foto oleh Windah Limbai di Unsplash

Giki Krisnawanti · 2026-05-22 13:25 · 0 claps · 3.3 min read
#merantau #kemandirian #diri-sendiri
Open on Medium ↗

Menemukan Kompas Diri di Tanah Rantau

Foto oleh Windah Limbai di Unsplash

Foto oleh Windah Limbai di Unsplash

​Merantau adalah keputusan terbesar yang pernah kuambil. Bagi sebagian orang, merantau mungkin sekadar berpindah kota untuk sekolah atau bekerja. Namun bagiku, merantau adalah laboratorium ruang ujian tempatku belajar tentang satu kata yang terdengar gagah tapi sebenarnya sunyi, yaitu Kemandirian.

​Dulu, ada seseorang yang pernah berkata kepadaku,

"Kalau di perantauan yang jauh dari rumah, apa-apa harus bisa sendiri. Cari makan, cari duit, bahkan sekadar periksa ke klinik harus diusahakan sendiri."

​Mendengar kalimat itu, dadaku seketika bergemuruh. Pertanyaan-pertanyaan skeptis langsung bermunculan di kepala: Apa aku bisa? Apa aku sanggup?

​Sebagai seorang anak tunggal yang dulunya segala sesuatu selalu diusahakan oleh Ibu, transisi ini terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Apalagi, aku harus belajar berdiri di atas kaki sendiri setelah kehilangan Ibu. Sosok yang selama ini menjadi duniaku. Menatap kenyataan bahwa aku harus melangkah jauh dari kampung halaman tanpa teman bercerita, tanpa ada yang menyemangati saat gundah, atau memberi nasihat saat salah, sejujurnya membuatku sempat gentar.

Aku belajar berjalan sendiri, bahkan meski aku tak tahu jalan yang kupilih ini benar atau tidak.

​Kemandirian di tanah rantau ternyata tidak melulu soal hal-hal besar, melainkan diuji dari keputusan-keputusan kecil yang remeh. Terkadang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

​Aku ingat sekali momen ketika ingin membeli kipas angin. Sebenarnya, aku mendambakan kipas angin besar yang menempel di dinding seperti milik orang-orang. Namun, aku sadar akan keterbatasan fisik dan kemampuanku untuk memasangnya.

Ketika aku meminta saran, sebuah kalimat sederhana namun menampar masuk ke telingaku:

​"Jangan beli barang yang membuatmu susah atau harus minta bantuan. Kamu di sini gak ada sosok laki-laki yang bakal bantu kamu. Beli sesuatu sesuai kemampuanmu saja."

​Yaps, sejak mendengar itu, sudut pandangku berubah. Setiap kali ingin membeli sesuatu, otaknya langsung berputar otomatis: Ini beneran kepakai atau penting gak ya? Susah gak masangnya? Butuh duit lagi gak buat bayar orang ngebantuin?

Karena dulu sewaktu di kampung halaman, setiap kali ada masalah dengan alat rumah tangga, aku selalu memanggil orang untuk membetulkannya. Hampir selalu ada uang yang harus dikeluarkan, entah 20 ribu atau 50 ribu rupiah.

Bahkan ketika meminta bantuan ke saudara sendiri pun sama saja. Mereka biasanya akan berkata, 'Kasih uang ya buat dia beli rokok,' atau 'Kasih buat jajan anaknya.'

Dari sana aku sadar, mengharapkan bantuan dari orang lain, bahkan dari keluarga sendiri tanpa memberikan imbalan memang sesuatu yang sulit.

​Sekarang, ketika aku sudah berada di kota orang, isi kepalaku saat membutuhkan bantuan tentu jadi jauh lebih rumit dan panjang.

Pikiran-pikiran cemas mulai bermunculan: Bakal cukup gak ya uang 50 ribu ini? Atau aku harus memanggil orang profesional cuma untuk urusan sekecil ini? Kalau panggil profesional, pasti biayanya jauh lebih mahal, kan?"

​Pertimbangan rumit ini pun kembali terjadi saat aku hendak membeli kompor gas.

Aku berpikir berulang kali bepikir dalam hati. Beneran kepakai gak ya? Bakal masak setiap hari? Bakal bikin lebih hemat?

Belum lagi kebingungan teknis yang menguras energi: harus beli kompor jenis apa? Selang yang seperti apa? Regulator yang gimana? Tidak ada ruang untuk bertanya, dan bayangan tentang siapa yang akan merakitnya nanti sempat membuatku maju mundur.

​Namun, di sinilah keajaiban itu sering kali datang. Allah selalu memberikan jawaban dengan cara yang tidak disangka-sangka.

​Aku mendatangi sebuah toko, bertemu dengan pegawai yang sangat ramah. Dengan suka cita, mereka merekomendasikan merek kompor, memaparkan kelebihan dan kekurangannya, bahkan menawarkan diri untuk merakitkannya sampai bisa terpasang sempurna.

Di momen-momen seperti itu, aku merasa hangat. Allah tidak pernah membiarkanku sendirian. Akan selalu ada tangan yang menuntun, bahkan sekalipun itu datang dari orang asing.

​Tuntutan untuk mandiri dan keengganan untuk merepotkan orang lain menempaku jadi sosok yang nekat. Suatu hari, aku membeli sebuah lemari secara online. Itu adalah kali pertama aku mencoba merakit barang yang ukurannya terbilang besar sendirian.

​Hasilnya? Lemari itu berdiri, tapi tanpa gagang pintu. Aku terkendala alat dan keahlian untuk memasangnya.

​Apakah aku kecewa? Awalnya iya. Namun, aku memilih berdamai dengan keadaan. Aku berbisik pada diri sendiri: "Gak apa-apa, sekarang hanya ini kemampuanku. Bisa merakit sampai tahap ini saja sudah hebat."

Aku belajar untuk tidak lagi menghakimi diriku sendiri atas hal-hal yang belum kuasai.

​Menjalani hidup di perantauan bagaikan berjalan di kegelapan tanpa buku panduan. Untuk beberapa masalah, aku dituntut memikirkan sendiri, mencari solusi sendiri, dan mencoba memperbaiki semuanya sendiri.

​Dengan langkah yang tertatih, risiko salah langkah itu pasti ada. Namun, ketika aku salah melangkah, mau tidak mau aku harus berlapang dada menerima cercaan atau kritik dari sekitar.

Lalu, bagaimana jika berhasil? Aku belajar untuk tidak berharap akan ada tepuk tangan atau apresiasi dari orang lain.

​Dari perjalanan yang sunyi namun padat maknanya ini, aku belajar banyak hal.

Merantau tidak hanya mengajariku cara bertahan hidup secara fisik atau finansial. Lebih dari itu, proses ini mengajarkanku sebuah kedewasaan emosional: belajar menerima dan mengenali siapa yang benar-benar paham dan mengerti atas diriku sendiri.

​Ternyata, sosok yang paling mengerti dan bisa diandalkan itu bukanlah orang lain, melainkan refleksi diriku sendiri di dalam cermin. Di tanah rantau ini, aku tidak hanya mencari nafkah, tapi aku sedang pulang menuju diriku yang seutuhnya.


메타데이터
post_id
88eff0f3b468
slug
menemukan-kompas-diri-di-tanah-rantau-88eff0f3b468
url
https://medium.com/@gikikrisna/menemukan-kompas-diri-di-tanah-rantau-88eff0f3b468
canonical_url
https://medium.com/@gikikrisna/menemukan-kompas-diri-di-tanah-rantau-88eff0f3b468
author_url
https://medium.com/@gikikrisna
status
ok
fetched_at
2026-07-14 14:45:02