← Back to list

Angin Ribut Awal Ramadan dan Syawal

Perdebatan soal penentuan awal Ramadan dan Syawal hampir selalu muncul setiap tahun. Ia seperti tamu rutin yang datang tanpa diundang, tapi…

Shadow Man Lithiani · 2026-03-20 11:46 · 0 claps · 1.7 min read
#ramadan #syawal #rukyat #khgt
Open on Medium ↗

Angin Ribut Awal Ramadan dan Syawal

Dokumen Pribadi (Awal Januari 2022)

Dokumen Pribadi (Awal Januari 2022)

Perdebatan soal penentuan awal Ramadan dan Syawal hampir selalu muncul setiap tahun. Ia seperti tamu rutin yang datang tanpa diundang, tapi sudah bisa ditebak kapan hadirnya.

Media nasional ramai memberitakan. Headline portal berita penuh dengan perbandingan. Media sosial pun ikut riuh.

Di satu sisi ada Muhammadiyah dengan metode hisabnya. Di sisi lain ada NU dengan pendekatan rukyatnya.Dua organisasi besar, dua metode berbeda, dan jutaan pengikut yang ikut menyuarakan keyakinannya masing-masing.

Lalu diskusi pun bergulir: hisab atau rukyat? KHGT atau standar MABIMS? ilmiah atau empiris? Semua terasa penting. Semua ingin dianggap benar.

Dan entah kenapa, perbedaan ini selalu terasa “seksi” di waktu-waktu tertentu.

Tapi saya sering bertanya dalam hati: Kenapa perdebatan seperti ini hanya ramai ketika masuk Ramadan dan Syawal? Mengapa tidak setiap pergantian bulan Hijriah kita seribut ini?

Padahal dalam satu tahun, ada dua belas bulan Hijriah. Namun yang benar-benar menjadi perhatian hanya dua: Ramadan dan Syawal.

Barangkali karena keduanya berkaitan langsung dengan ibadah yang sangat terasa dalam kehidupan sosial: puasa dan Idulfitri.

Atau mungkin juga karena kita memang lebih mudah terpancing pada sesuatu yang tampak di permukaan, daripada yang berlangsung diam-diam setiap bulan.

Kalau saya pribadi, saya memilih mengikuti hisab dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Alasannya sederhana: saya melihat ada upaya untuk menghadirkan sistem penanggalan yang presisi secara astronomi.

Kita hidup di zaman di mana manusia mampu menghitung gerhana, posisi bulan, bahkan pergerakan benda langit dengan sangat akurat. Maka rasanya masuk akal jika perhitungan itu juga digunakan untuk menentukan waktu-waktu penting dalam kalender Islam.

Dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Q.S. Yunus ayat 5, dijelaskan bahwa Allah menciptakan matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya, serta menetapkan manzilah-manzilahnya agar manusia dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Ayat ini sering dipahami sebagai dasar bahwa fenomena langit bukan sekadar hiasan kosmos, tetapi juga sistem penunjuk waktu bagi manusia.

Artinya, ada ruang bagi akal untuk membaca keteraturan itu. Ada ruang bagi ilmu untuk berkembang. Dan mungkin di situlah kita diajak untuk melihat bahwa perbedaan metode tidak selalu berarti perbedaan tujuan.

Maka, daripada sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar, mungkin kita bisa mengambil jarak sejenak.

Bahwa Ramadan tetaplah Ramadan, entah kita memulainya di hari yang sama atau berbeda. Bahwa Syawal tetaplah Syawal, dengan segala makna kemenangan yang ingin kita rayakan.

Dan pada akhirnya, ibadah tetap kembali pada diri masing-masing. Bukan pada siapa yang paling dulu. Tetapi pada siapa yang paling sungguh-sungguh.


메타데이터
post_id
89079c1d61f0
slug
angin-ribut-awal-ramadan-dan-syawal-89079c1d61f0
url
https://medium.com/@wi.isnanto/angin-ribut-awal-ramadan-dan-syawal-89079c1d61f0
canonical_url
https://medium.com/@wi.isnanto/angin-ribut-awal-ramadan-dan-syawal-89079c1d61f0
author_url
https://medium.com/@wi.isnanto
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33