Dear Name ✨
🌼 bxg 🌼 Soulmate au 🌼 Typo bertebaran 🌼 semi-angst 🌼 spacetime related 🌼 Reincarnation
Dear Name ✨
🌼 bxg
🌼 Soulmate au 🌼 Typo bertebaran 🌼 semi-angst 🌼 spacetime related 🌼 Reincarnation

Eunha memilih musim gugur menjadi musim kesukaannya. Karna ia dapat melihat daun maple yang berguguran dari jendela flat nya, ia akan keluar dengan Coat tebal yang membuatnya hangat atau sekedar mampir ke kedai kopi untuk membeli segelas coklat hangat.
“hai kak Jihoon, kita bertemu lagi"
Ini pertemuan mereka untuk ke 5 kalinya sejak malam hujan di depan restoran cepat saji kala itu.
Dan Eunha cukup sering bertemu sang takdir di beberapa kesempatan.
“hm? Kau tau namaku?”
Walaupun mimpi indah yang Eunha harapkan tidak berjalan seperti kisah orang lain.
“y-ya"
“apakah kita saling mengenal?” suara Husky sang takdir membuat Eunha tersenyum sekenanya.
“ya"
“hm.. namamu?”
“Eunha, Jung Eunha"
“ah! Eunha.. apa kabar?”
“Ka Jihoon aku datang"
Sejujurnya, Eunha sedang berusaha. Pada awalnya ia tidak berniat untuk mendekati sang takdir duluan, tapi..
Jika bukan ia yang memulai, ini tidak akan berjalan semestinya.
“hm? Kamu siapa?” Seorang pemuda tinggi semapai berambut hitam dengan mata sipit menyapanya.
“a.. apa ka Jihoon ada?”
“ada, kamu siapa? Ada keperluan apa?”
“em.. aku Jung Eunha.. Eunha"
Sang pemuda di depannya tersenyum melihat kegugupan Eunha.
“santai.. aku Hoshi, sahabat Jihoon dari kecil, ada urusan apa ya?”
“aku membawa ini untuk ka Jihoon” Eunha memperlihatkan bekal buatannya.
“hm? Tunggu" mata sipit Hoshi melebar walaupun tidak begitu kentara.
“apa kau?”
“ya?”
Hoshi menarik lengan Eunha cepat, membuat Eunha terlonjak kaget.
“kamu soulmate Jihoon?”
Jujur, Eunha kaget. Kenapa pemuda di depannya bisa tahu? Tidak apakah Ka Hoshi bisa melihat benang kasat mata itu juga?
“a-aku punya kemampuan aneh, maaf mengagetkan mu" Hoshi melepas genggamannya.
“tidak apa ka, dan iya.. aku soulmate ka jihoon”
Hoshi menghela nafas sebentar lalu menuntun Eunha masuk kedalam apartemen sahabatnya.
Eunha melihat sekeliling, pertama kali dalam sekian kehidupannya bahwa ia memasuki tempat tinggal seorang pemuda, dan lagi seseorang itu adalah takdirnya.
“Jihoon di sana" ujar Hoshi menunjuk sebuah ruangan, “dia bersama temannya yang lain"
“teman kakak juga?”
“ya"
Eunha mengangguk.
Lalu hening di antara mereka.
“kamu tau suatu kebenaran?” Tanya Hoshi.
Eunha menatap pemuda yang jauh lebih tinggi dari dirinya itu.
“tidak, tapi aku sedikit dapat menebak”
Hoshi terkekeh, “kalau kah menebak bahwa Jihoon punya kelainan, ya kau benar"
Eunha tidak kaget, semua manusia punya sebuah ability yang mungkin tidak dimiliki orang lain, pada kasus ini Jihoon mungkin punya ability yang berlebihan.
“apa?”
“dia punya penyakit? Entahlah aku bisa menyebutnya penyakit atau tidak"
“amnesia?”
“kau dapat menebaknya?” tanya Hoshi sedikit kaget.
“aku beberapa kali bertemu ka Jihoon belakangan ini"
Pantas..
“ya, mirip tapi ini bukan amnesia, para ahli memanggilnya kelainan pada kinerja otak yang membuat yang mengalami tidak bisa mengingat nama seseorang"
Oke, Eunha akui dia kaget.
Tidak bisa mengingat nama seseorang?
“kamu belum pernah dengar?”
“belum, sama sekali"
Padahal dia sudah berkali-kali di hidupkan.
“aku lupa apa nama keren nya"
“bukankah itu tidak penting?” Tanya Eunha, lugas dan sukses membuat Hoshi terkekeh.
“dia mengenal wajahmu tapi tidak ingat namamu, dia tau aku sahabatnya tapi dua tidak ingat namaku"
“ah begitu..”
“sejujurnya aku kaget, tapi bersyukur kamu muncul sekarang” ujar Hoshi.
“kenapa?”
“Tahun depan, Jihoon akan memulai pengobatan intensif, orang tuanya sudah tiada dan dia hanya punya kakek dan beliau sudah tiada, jadi sekarang kerabat yang mengasuhnya"
“…..”
“kau tau apa selanjutnya bukan?”
“meninggalkannya?”
“ya kurang lebih"
“jahat" Eunha, walaupun sudah berkali-kali hidup sendirian di dunia tidak bisa membayangkan seseorang yang di tinggal keluarga Karna keterbatasan nya
“tenang saja, sekarang ada kamu keluarganya bukan?”
Eunha menatap Hoshi.
“semua biaya pengobatan sudah aku, Wonwoo dan Jun yang tanggung, tapi kami tidak bisa 24 jam ada di sampingnya.”
“aku paham"
“ya, memang sudah tugasmu sih berada di sampingnya. Ku peringatkan jangan pernah lelah"
“tidak akan"
Eunha juga tidak tau, mengapa Jihoon begitu special, bercahaya dan selalu jadi objek utama pandangannya. Inikah yang di sebut takdir?
“aku yakin Jihoon bisa sembuh"
“kalau pun tidak aku tidak akan pergi"
“hm, baiklah ayok masuk.. jangan lupa perkenalkan dirimu lagi"
“siapa?”
“Una datanggg"
Eunha tersenyum cerah menatap mata penuh tanda tanya sang kekasih.
“Una? Namamu Una?”
“Jung Eunha, halo kakak mau makan apa hari ini?” Ujar nya mengelus Surai gelap Jihoon.
Jihoon perlahan merasa nyaman, tubuh dan otaknya bekerja mengingat “Apapun”
“aku buat teriyaki, Kaka suka?”
Jihoon mengangguk senang “mauuu" memeluk sang soulmate erat.
Kali ini Eunha bersyukur dihidupkan kembali, mendapatkan banyak hal baru yang tak pernah ia rasakan, sakit dan kecewa sudah biasa, tapi kebahagiaan menatap mata seseorang baru ia rasakan di kehidupan ini.
Bahagia saat melihat pantulan nya di kata berbinar sang kekasih.
“Na, nginep ya?”
“hm?”
“besok aku harus pindah ke rumah karantina" Jihoon menatap gelas nya yang kosong.
“oke"
Mata Jihoon berbinar, kembali merentangkan tangannya minta di peluk.
Sungguh kekanakan, tapi Eunha menyukainya
Eunha menutup tirai, Hujan besar di luar membuat udara dingin sekaligus membuat dirinya bernostalgia tentang pertemuan pertama mereka.
“na, sini" Jihoon menepuk2 tempat di sisinya, menyuruh sang kekasih untuk ikut bergelung dalam selimut tebal.
Eunha tersenyum menuruti kemauannya.
Memeluk Jihoon yang sedang menonton serial superhero kesukaannya “It Will be Fine ka" Ujar Eunha, mengelus tangan Jihoon yang bebas.
Jihoon berkali kali mencium pucuk kepala Eunha. Mengatakan tersirat bahwa ia begitu menyayangi gadis dalam rengkuhannya.
“aku gamau tidur”
“hm?” Eunha mendongak, menatap wajah putih porselen tanpa cela Jihoon. Berkali-kali di lihatpun, tetap tampan.
“aku mau inget kamu sampai besok"
Eunha terhenyak, langsung memperbaiki posisi duduknya walaupun tangannya tidak melepas tautan.
“kakak, besok harus pindah kan? Pasti capek, jadi sekarang harus tidur ya?”
Jihoon menggeleng.
“aku takut…”
“ga ada yang perlu di takutin kakak, Una ada disini sama kakak ya??” Eunha menatap Jihoon penuh sayang, meyakinkannya.
Jihoon merangsek masuk kepelukan hangat kekasihnya, bersandar pada bahunya, erat tidak mau lepas.
“aku cuma mau inget kamu setidaknya sampe besok na"
Kata-katanya ambigu, walau begitu Eunha tetap memberikan pelukan kembali yang sama eratnya
“aku janji ga akan nyusahin kamu lagi”
Eunha membeku.
“kamu ga harusnya ngerawat aku na, ngejaga aku sampai semua waktu kamu cuma buat aku..
Harusnya kamu nikmatin hidup indah kamu, bukannya malah ada disini”
“ka..”
“jadi besok, pas aku pergi, kamu harus lupain aku, sama kayak aku yang selalu gitu.
Pasti sakit ya na? aku lupa sama kamu berkali-kali"
Air mata Eunha turun dengan bebas. Tapi pelukannya makin erat.
“kakak, hiks.. kakak ga harusnya ngomong gitu”
“kakak kayak gitu bukan Karna Kaka mau lupain Una kan? kakak ga sengaja jadi plis jangan salahin kakak, hiks.. Una ga pernah bosen walaupun harus ngenalin diri Una lagi dan lagi, jadi kakak jangan pergi, Una gamau sendiri"
Ia menangis.
Dari sekian kehidupan, dan seluruh rasa sakit yang di deritanya, di pukul oleh ibu tiri di kehidupan ke dua atau di khianati oleh keluarga sendiri di kehidupan ke 4.
Eunha tidak mau di tinggalkan oleh kekasihnya. Orang yang benar2 ia cintai.
“Una.. Una ga sendiri oke? Una bisa nyari orang lain yang bisa selalu ada buat Una" Jihoon menghapus air mata sang kekasih dengan tangan indahnya.
Eunha menggeleng kuat.
“kakak..”
“hm"
“kita soulmate kakak tau?”
Jihoon tertawa kecil.
“kakak tidak percaya?”
“tidak ada bukti sayang" Jihoon tersenyum seadanya. Jadi Eunha menarik tangan kanannya dan mengaitkan kelingking keduanya.
“lihat baik-baik!” ujar Eunha.
Dan mata Jihoon membulat, sebuah benang berwarna merah tipis seperti kabut muncul ketika kelingking mereka di kaitkan. Membuat air matanya yang sudah ia tahan dari tadi jatuh bebas.
“lihat? Kakak ga sendiri, aku juga, kita milik satu sama lain kakak.. jadi jangan minta aku cari yang lain, Karna aku cuma punya kakak" Eunha memeluk Jihoon erat.
Membuat Jihoon yang masih mencerna segalanya kembali membalas pelukan hangat itu.
“aku bakal tunggu kakak, aku bakal selalu di samping kakak entah kakak sembuh atau ga sembuh oke?”
“ya"
Eunha tersenyum.
“na"
“ya kaa?”
“jangan lelah ya, kakak sayang kamu” Jihoon mengecup tipis bibir kekasihnya. Menyalurkan kebahagiaan dan kepercayaan nya.
“Una juga sayang kakak"
Malam itu, dua orang yang saling memiliki menghabiskan malamnya dengan cerita, mimpi dan candaan. Sampai fajar datang, dan salah satunya harus pergi
Hanya pergi sementara, menjemput harapan yang lebih besar untuk bersama selamanya.
.
.
Fin 🥰
메타데이터
- post_id
- 8909030eb336
- slug
- dear-name-8909030eb336
- url
- https://medium.com/@qiqasza/dear-name-8909030eb336
- canonical_url
- https://medium.com/@qiqasza/dear-name-8909030eb336
- author_url
- https://medium.com/@qiqasza
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 13:38:14