← Back to list

Lintas Menoreh

Sudah beberapa kali aku melakukan perjalanan riding di daerah Kulon Progo, namun perjalanan kali ini yang paling membuat berkesan, maka…

Den Akrom · 2026-07-01 16:27 · 0 claps · 5.1 min read
#jogja #adventure #riding #motocross
Open on Medium ↗

Lintas Menoreh : Catatan Perjalanan Dari Nglinggo Ke Kalibiru

Beberapa kali sudah aku menjelajahi kawasan Menoreh dengan sepeda motor. Namun perjalanan kali ini meninggalkan kesan yang berbeda. Bukan karena medannya paling sulit atau pemandangannya paling indah, melainkan karena perjalanan ini akhirnya menyelesaikan rute yang sempat gagal kutuntaskan dua minggu sebelumnya.

Saat itu aku berangkat dari Waduk Sermo dengan rencana menuju Kebun Teh Nglinggo melalui jalur hutan di sisi utara waduk. Rencana itu berhenti di tengah jalan ketika ban motorku bocor. Belasan kilometer kulalui sambil mendorong motor hingga menemukan tambal ban. Perjalanan selesai sebelum benar-benar dimulai.

Minggu, 24 Mei 2026, aku memutuskan kembali. Kali ini rutenya kubalik. Perjalanan dimulai dari rumah di Padokan Lor, Kasihan, Bantul sekitar pukul enam pagi. Jalanan masih lengang ketika motor mengarah ke barat melewati Gamping, Gancahan, Minggir, lalu memasuki wilayah Kulon Progo. Tujuanku langsung menuju Kebun Teh Nglinggo.

Seperti biasanya, aku sengaja menghindari jalur utama. Jalan-jalan kampung yang sempit, sesekali berbatu, justru membuat perjalanan terasa lebih hidup. Di tempat-tempat seperti inilah suasana pedesaan masih terasa utuh.

Memasuki Pagerharjo, jalan mulai menanjak. Aku cukup terkejut melihat sebagian ruas menuju Nglinggo kini sudah diperlebar dan diaspal dengan baik. Beberapa tahun lalu jalur ini terasa jauh lebih sempit dan sulit dilalui. Meski hanya beberapa kilometer sebelum kembali menyempit, perubahan itu sedikit banyak mengubah wajah Samigaluh dan memudahkan akses menuju kawasan wisata.

Tak lama kemudian aku tiba di Kebun Teh Nglinggo. Udara pegunungan masih dingin, sementara hamparan kebun teh tampak hijau diterpa cahaya matahari pagi. Aku menerbangkan DJI Neo sebentar untuk mengambil beberapa foto udara sebelum melanjutkan perjalanan.

Top view Kebun Teh Nglinggo

Top view Kebun Teh Nglinggo

Dari atas kebun teh, pandanganku tertuju pada sebuah bukit di sisi barat daya. Di puncaknya berdiri sebuah gardu pandang yang tampak sepi. Tempat itu bernama Gunung Jaran. Tanpa banyak berpikir, aku langsung menyalakan motor dan menuju ke sana.

Motor kutitipkan di sebuah warung bernama Kafe Teh Misi. Di belakangnya terdapat beberapa bangunan penginapan yang dahulu ramai karena berada di kawasan Tumpeng Menoreh. Kini suasananya jauh lebih tenang.

Tangga beton membawa langkahku menuju puncak. Aku sempat mencari loket masuk, tetapi tidak menemukannya. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan semuanya hingga aku berdiri di samping gardu pandang.

Gardu pandang Gunug Jaran

Gardu pandang Gunug Jaran

Puncaknya memang tidak luas, tetapi panorama yang tersaji membuat langkah tadi terasa sepadan. Dari sini terlihat jelas lanskap Perbukitan Menoreh, Kebun Teh Nglinggo, dan bangunan Tumpeng Menoreh yang berdiri di kejauhan. Dari sudut ini aku baru benar-benar memahami mengapa bangunan itu dinamai “Tumpeng”. Bentuk bukit tempatnya berdiri memang menyerupai sajian tumpeng khas Jawa.

Lansekap, di Sebelah kiri Tumpeng Menoreh, kanan Kebun Teh Nglinggo. diambil dari Gardu Pandang Gunung Jaran, Nglinggo

Lansekap, di Sebelah kiri Tumpeng Menoreh, kanan Kebun Teh Nglinggo. diambil dari Gardu Pandang Gunung Jaran, Nglinggo

Setelah puas menikmati pemandangan, aku kembali ke area kebun teh. Kali ini tujuanku adalah sebuah warung sederhana milik Pak To.

Aku memesan segelas teh hijau hangat yang diolah langsung olehnya. Obrolan ringan perlahan berubah menjadi percakapan panjang. Di tengah cerita, ada satu hal yang membuatku penasaran. Cara Pak To berbicara berbeda dari yang kubayangkan. Bahasa Indonesianya runtut, pilihan katanya rapi, dan ia bercerita dengan tenang.

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Sebelum menetap di Nglinggo, Pak To pernah bekerja di Semarang, Jakarta, bahkan hingga luar Pulau Jawa pada era 1980-an. Setelah menikah, ia mengambil keputusan besar untuk meninggalkan pekerjaan di kota dan memilih tinggal di kampung halaman istrinya di Nglinggo.

Kini kesehariannya diisi dengan mengolah hasil kebun.

Teh hijau yang kuminum berasal dari kebun sekitar dan diproses sendiri. Aromanya segar dengan rasa yang bersih tanpa perlu tambahan gula. Selain teh, Pak To juga mengolah kopi robusta lokal hasil panen warga. Proses sangrai hingga penyeduhannya masih menggunakan cara sederhana.

Aku sempat bertanya apakah ia tidak tergoda mengikuti tren kedai kopi modern.

Pak To hanya tersenyum.

“Biarlah saya tetap memakai cara tradisional. Biar itu yang menjadi pembeda.”

Jawaban singkat itu justru menjadi bagian yang paling kuingat dari pertemuan kami.

Kopi dan Teh buatan Pak To

Kopi dan Teh buatan Pak To

Setelah berpamitan, perjalanan berlanjut menuju Kebun Teh Tritis. Jaraknya tidak jauh dari Nglinggo, tetapi suasananya jauh lebih sepi. Jalan menuju lokasi sebagian besar rusak dan jarang dilalui wisatawan, padahal pemandangan yang ditawarkan tidak kalah menarik.

Dari warga sekitar aku mengetahui bahwa kawasan ini pernah menjadi lokasi penelitian pengembangan teh oleh peneliti UGM pada dekade 1990-an. Saat itu teh menjadi salah satu komoditas penting masyarakat. Namun tidak semua lahan menghasilkan kualitas daun yang baik sehingga perlahan sebagian kebun beralih fungsi. Kini wisata menjadi penggerak utama ekonomi kawasan ini.

Perjalanan terus berlanjut menembus jalan-jalan kecil di kawasan Menoreh. Jalur berganti menjadi jalan batu dengan tanjakan curam yang sesekali memaksaku memindahkan posisi duduk agar motor tetap mendapat traksi. Untungnya motor bebek tuaku masih sanggup melaluinya tanpa banyak keluhan.

Beberapa kali aku memasuki hutan pinus yang teduh. Cahaya matahari hanya menembus sela-sela pepohonan. Sesekali terlihat kebun kopi robusta dan kebun durian milik warga. Jalan ini rupanya berada di kawasan Kaligesing, Purworejo.

Google Maps kemudian mengarahkanku menuju Pule Payung. Aku tidak berhenti lama, hanya mengambil beberapa foto Waduk Sermo dari ketinggian sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Kalibiru.

Jalan menuju Kalibiru masih seterjal yang kuingat. Kawasan wisata yang dahulu sangat ramai kini terasa lengang. Beberapa spot foto masih terawat, bahkan kini bisa dinikmati tanpa biaya tambahan. Warung-warung di dalam kawasan justru tampak tutup seluruhnya. Padahal hari itu adalah hari Minggu.

Aku menerbangkan drone sekali lagi. Dari udara, Waduk Sermo tampak tenang, dikelilingi perbukitan hijau yang perlahan berubah warna diterpa matahari siang.

Menjelang sore aku memutuskan pulang. Di tengah perjalanan sebuah papan bertuliskan “Embung Bogor” membuatku spontan berhenti. Nama itu mengingatkanku pada kota tempat aku dilahirkan. Rasa penasaran membawaku berbelok sejenak sebelum akhirnya kembali menuju Bantul.

Embung Bogor

Embung Bogor

Matahari mulai condong ke barat ketika roda motor meninggalkan kawasan Menoreh. Udara pegunungan perlahan berganti hangatnya dataran rendah.

Perjalanan hari itu ternyata bukan tentang berapa kilometer yang berhasil kutempuh atau berapa banyak destinasi yang kukunjungi. Yang paling membekas justru percakapan dengan Pak To, jalan-jalan sunyi yang jarang dilalui orang, dan kesempatan melihat Menoreh dari sudut yang berbeda.

Lintas Menoreh bukan rute yang paling populer. Sebagian jalannya sempit, curam, bahkan rusak di beberapa titik. Namun justru di situlah letak daya tariknya. Setiap tikungan membuka lanskap baru, setiap tanjakan menghadirkan pengalaman berbeda, dan setiap pemberhentian selalu menyimpan cerita.

Perjalanan yang sempat gagal dua minggu sebelumnya akhirnya selesai juga. Ban bocor yang kala itu memaksaku berbalik arah ternyata hanya menunda cerita, bukan mengakhirinya.


메타데이터
post_id
890a0dcbec89
slug
lintas-menoreh-890a0dcbec89
url
https://medium.com/@denakrom/lintas-menoreh-890a0dcbec89
canonical_url
https://medium.com/@denakrom/lintas-menoreh-890a0dcbec89
author_url
https://medium.com/@denakrom
status
ok
fetched_at
2026-07-13 14:03:22