Unexpected Love.
Tags: ABSOLUTE DOMINANCE. Oral (both ways), deep fingering, rough and raw sex. Very explicit dialogue—unfiltered "cunt/cock" talk…
Unexpected Love.
Tags: ABSOLUTE DOMINANCE. Oral sex, deep fingering, rough and raw sex. Very explicit dialogue—unfiltered "cunt/cock" talk. Creampie, breathplay, and hair pulling, soft but heavy on the tension. It’s a mess, but a beautiful one. No holds barred, darlings. Read at your own risk.
“Sialan, dia wangi sekali.” Kalimat itu selalu menggema di kepalamu tiap kali berhadapan dengan Jairah. Aroma parfumnya tidak pernah berubah; masih konsisten sejak pertama kali kalian bertemu hingga detik ini.
“Jadi, apa yang membuatmu ragu dan takut? I’m all ears.” Jairah berujar sambil menopang dagu, menatapmu intens setelah selesai memesan. Jantungmu mulai berpacu liar. Ada keraguan besar yang menghimpitmu—apakah kamu benar-benar siap menceritakan rahasia kelam empat tahun lalu padanya?
“Kalau kamu belum siap buat cerita, gapap — ”
Kamu menyela ucapan Jairah dengan suara parau. “Aku ditinggal nikah karena dia selingkuh....” Kalimatmu tertahan di udara. Jairah tidak memotong, ia hanya diam dan menatapmu, memberimu ruang untuk melanjutkan. “Dan itu terjadi empat tahun yang lalu.”
“Sejak saat itu, aku takut untuk memulai lagi. Tapi jujur saja, itu sulit ... karena jauh di lubuk hati, aku tahu aku butuh seseorang di sisiku,” ujarmu pelan. Kamu berusaha menjaga ekspresi wajahmu tetap datar walau suaramu mulai pecah. Ayolah, tenang, batinmu. Kamu pikir kamu sudah berdamai dengan luka itu, namun nyatanya, menceritakannya kembali justru membangkitkan sesak yang sama di dadamu.
“Aku anak perempuan yang fatherless. Dan aku benci dampaknya—bagaimana aku harus menanggung beban karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku sempat berpikir kalau mantanku yang kemarin itu adalah pelabuhan terakhirku, tapi nyatanya? Dia menghamili perempuan lain dan harus menikahinya. Dia benar-benar brengsek.”
Tatapan Jairah seolah berkata bahwa ia ingin membawamu pergi sekarang juga ke tempat di mana tak ada orang lain, agar kamu bisa menumpahkan tangismu. Seberapa kuat pun topeng yang kamu pasang, Jairah bisa melihat dengan jelas bahwa kamu hancur di dalam saat menceritakan luka itu.
Tak ingin terlihat rapuh, kamu cepat-cepat mengganti topik pembicaraan sebelum matamu yang berkaca-kaca itu mengkhianatimu. “Dan yang terakhir ... dia itu egois.” Kamu membuang muka, tak sanggup menatap Jairah lebih lama lagi.
“Maaf aku harus seterbuka ini soal urusan ranjang. Tapi selama dua tahun lebih hubungan itu berjalan ... dia tidak pernah benar-benar memuaskanku.” Kamu menunduk, menggigit bibir bawahmu saat mengakui fakta pahit itu di depan Jairah.
Sebulan setelah percakapan jujur itu, keadaan membawa kalian ke sini. Di dalam sebuah kamar hotel yang privat, hanya ada kamu dan Jairah.
Jairah benar-benar pendengar yang baik; ia menyimak setiap detail alasan mengapa kamu masih takut untuk membuka hati. Setelah makan malam itu usai, Jairah mengantarmu pulang. Namun, tepat sebelum kamu turun dari mobilnya, ia menahanmu dan berbisik pelan,
“Give me a chance. I’m going to fuck you so good and make you cum as many times as you want.”
Apakah Jairah menepati perkataannya? Tentu saja. Buktinya sekarang kamu berada di satu kamar yang sama dengannya.
“Mmmhhh.. nggghhh, ahhh! Jairah, why are you so good at this..” rintihmu pasrah. Tubuhmu terbaring telanjang di bawah kungkungannya, membiarkan Jairah dengan rakus menghisap puting kirimu. Sementara itu, jemarinya yang lincah sibuk menggoda klitorismu, memberikan stimulasi yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya.
“Name.. lihat, memek kamu sudah basah sekali.” Suara rendah Jairah terdengar begitu frontal di keheningan kamar, hanya ada suara kecipak karena vaginamu yang basah. Bukannya merasa tersinggung, kata-kata kotor itu justru membakar gairahmu, membuatmu semakin menginginkannya lebih dari apa pun.
Jairah tidak terburu-buru. Ia tampak sangat menikmati pemandangan tubuhmu yang menggeliat di bawahnya. Jari tengah dan jari manisnya yang panjang kini sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam lubangmu yang panas, bergerak keluar masuk dengan ritme yang mematikan. Sementara itu, ibu jarinya tidak berhenti menekan dan memutar di atas klitorismu yang sudah sangat sensitif.
“Look at you, Name ... kamu becek banget sampai suaranya kedengeran jelas begini,” bisik Jairah dengan suara rendah yang bergetar.
Suara becek dari jemarinya yang mengocok liangmu bercampur dengan rintihanmu yang semakin tidak beraturan. Setiap kali jarinya menghujam ke dalam, kamu bisa merasakan otot-otot di sana menjepit jemarinya dengan erat.
“Jairah... hngghh, no... wait! Aku—aku mau keluar!” serumu sambil mencengkeram sprei hotel dengan kencang. Kepalamu mendongak, lehermu menegang seiring dengan gelombang nikmat yang mulai berkumpul di perut bawahmu.
Jairah justru menyeringai puas. Alih-alih melambat, ia justru mempercepat gerakan jarinya dan menekan klitorismu lebih keras. “Don't hold back, baby. Cum for me. Show me how much you want it.”
“Ahhhhhhh!” Tubuhmu tersentak hebat. Kamu merasakan sensasi seperti tersengat listrik saat lubangmu berdenyut-denyut kencang menjepit jari-jari Jairah. Cairan bening luruh begitu saja, membanjiri tangan Jairah seiring dengan tubuhmu yang lemas dan napas yang tersenggal-senggal setelah mencapai puncak pertama yang begitu hebat.
Jairah perlahan menarik jarinya yang sekarang basah kuyup oleh cairanmu. Ia membawa jari-jari itu ke depan bibirnya, menyesapnya perlahan sambil menatapmu dengan pandangan yang sangat gelap—tatapan seorang predator yang baru saja mencicipi mangsanya.
“Baru ronde pertama dan kamu sudah keluar sebanyak ini?” Jairah bangkit untuk menanggalkan celananya, dan saat kain itu jatuh ke lantai, matamu membelalak sempurna. Kamu tertegun, sejenak lupa bagaimana cara bernapas melihat apa yang ada di hadapanmu. Milik Jairah benar-benar besar, panjang, dan berurat menonjol—tampak begitu mengintimidasi sekaligus menggoda di bawah lampu kamar yang temaram.
“Kenapa? Kaget?” Jairah terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar penuh percaya diri.
Tanpa menunggu perintah, kamu bergerak maju. Rasa penasaran dan gairah yang sudah di ubun-ubun membuatmu berlutut di antara kedua kakinya. Kamu menggenggam batangnya yang panas dengan kedua tanganmu, merasakan denyut nadinya di telapak tanganmu, sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam mulutmu.
“Ahhhhhhh... Name...” Jairah mendesah parau, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kehangatan mulutmu membungkus miliknya yang tegang.
Kamu menyepongnya dengan rakus, memainkan lidahmu di bagian kepalanya yang sensitif sementara tanganmu mengocok pangkalnya dengan ritme cepat. Suara slurping yang basah memenuhi keheningan ruangan, memicu adrenalin Jairah semakin liar. Tubuh pria itu menegang, jemari kakinya meringkuk menahan nikmat yang menghujam sarafnya.
“Ahhh, shit... keep going, baby...” rintihnya sambil sesekali menggerakkan pinggulnya, menyodok lebih dalam ke kerongkonganmu.
Saat Jairah merasa sudah berada di ambang batas dan hampir mencapai puncak, ia tiba-tiba bertindak. Tangannya yang besar merasuki sela-sela rambutmu, menjambaknya dengan kuat hingga kepalamu terdongak paksa.
“No, no... not yet,” geramnya dengan napas tersenggal. Jairah tidak mau kalah begitu cepat. Ia menarikmu berdiri dengan satu sentakan kasar namun terkendali, lalu mendorong tubuhmu hingga telentang di atas ranjang.
Ia tidak membiarkanmu mengambil napas. Jairah langsung memposisikan dirinya, membuka lebar pahamu, dan tanpa basa-basi ia menghujamkan miliknya yang sudah basah oleh air liurmu ke dalam lubangmu yang masih berdenyut sisa orgasme tadi.
“AAHHH! Jairah!” kamu berteriak kencang, matamu berair saat merasakan ukuran besarnya yang egois itu memasuki habis pertahananmu dan mengisi setiap inci di dalam sana hingga terasa begitu penuh dan sesak.
“God….. you feel so tight...” Jairah mengerang nikmat, urat di lehernya menonjol saat ia mulai menghantammu dengan tempo yang pelan.
Kalian bisa beradu diatas ranjang seperti ini karena Jairah yang mulai bertanya-tanya;
“How do you like your sex? Rough or gentle?”
“What are your fetishes? Don’t be shy, tell me everything.”
“What’s your favorite position? I want to make sure you’re comfortable—and satisfied.”
Kamu menjawab itu semua dengan jujur dan sambil malu-malu juga, dan yang paling Jairah suka adalah, ternyata kesamaan mereka dalam seks banyak. Maka dari itu lah mereka bisa berakhir di ranjang seperti sekarang ini.
Jairah juga tidak langsung terburu-buru mengajak kamu untuk seks, tapi Jairah juga mengajakmu jalan beberapa kali, membangun bonding dan chemistry.
Jairah tidak langsung menghajarmu. Ia menatap matamu dalam-dalam, mengunci tanganmu dengan lembut namun kuat di atas kepala. Ia masuk dengan perlahan, sangat perlahan, seolah ingin kamu merasakan setiap inci dari ukurannya yang merenggangkan dinding rahimmu.
“Shhh, relax, baby... nikmatin setiap detiknya,” bisiknya rendah, suaranya terdengar begitu menenangkan sekaligus mengintimidasi.
Ia mulai bergerak dengan ritme yang tenang. Setiap dorongannya panjang, dalam, dan penuh penekanan. Tidak ada suara hantaman kulit yang kasar, hanya suara gesekan yang basah dan napas Jairah yang berat di ceruk lehermu. Ia menciumi bahumu, memberikan lumatan-lumatan kecil yang membuat bulu kudukmu meremang.
“Seks yang lembut begini... apa kamu juga suka? Merasakan kontol saya ada di dalam kamu?” Jairah bertanya sambil menyapu anak rambut dari wajahmu yang memerah.
Kamu hanya bisa melenguh, matamu sayu menatapnya. Dominasinya terasa begitu nyata meskipun gerakannya pelan. Namun, seiring dengan lubangmu yang semakin basah dan desahanmu yang semakin berisik, tatapan Jairah mulai berubah. Kelembutan di matanya memudar, digantikan oleh kilatan predator yang lapar.
“Tapi sepertinya... kamu sudah siap untuk yang lebih dari ini, kan?”
Tanpa aba-aba, Jairah merubah posisinya. Ia menarik kakimu hingga bertumpu di bahunya, membuat lubangmu terbuka semakin lebar dan terekspos sepenuhnya.
Ia memukul pantatmu sekali hingga meninggalkan bekas merah, lalu tanpa ampun, ia menghujamkan miliknya dengan satu sentakan yang sangat keras.
“AAHHH! Jairah!” kamu memekik kaget, tubuhmu tersentak ke atas.
“There she is,” geram Jairah. Temponya berubah drastis—dari ayunan lembut menjadi hantaman yang brutal dan tidak teratur. Ia mulai memacu miliknya dengan kekuatan penuh. Suara plap, plap, plap yang nyaring kini memenuhi ruangan, menggantikan keheningan tadi.
“Kamu mau yang kasar, kan? Saya entot sampai kamu nggak bisa jalan besok!”
Jairah menjambak rambutmu agar kamu mendongak, memaksamu untuk menerima ciuman kasarnya sementara bagian bawahnya terus menumbukmu tanpa henti. Tidak ada lagi kelembutan; yang ada hanya gairah murni yang meledak-ledak. Setiap sabetannya terasa seperti ingin menghancurkan pertahananmu, membuat tempat tidur itu berderit seirama dengan teriakan nikmatmu yang memenuhi kamar hotel.
“Fuck, baby… You’re so tight when I hit you like this…” Jairah menggeram puas, memacu kecepatannya hingga titik maksimal, membawamu menuju puncak yang jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Tempo gerakan Jairah sudah tidak manusiawi lagi. Setiap hantaman yang ia berikan terasa semakin cepat, dalam, dan bertenaga, seolah ia ingin menyatukan tubuh kalian menjadi satu. Kamu sudah benar-benar berada di ujung tanduk; pandanganmu mengabur, dan seluruh otot tubuhmu menegang hebat.
“Jairah... hngghh, wait! Aku mau keluar lagi... I’m close!” rintihmu sambil mencengkeram lengan berototnya, kuku-kukumu menancap kuat di sana.
“Me too, Name... fuck, me too! Keluar bareng saya, sayang. Give it all to me!”
Jairah merengkuh tengkukmu, menarikmu ke dalam ciuman yang dalam dan penuh tuntutan. Di bawah sana, ia menghujamkan miliknya sedalam mungkin untuk terakhir kalinya.
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar. Kamu menjerit tertahan di dalam mulutnya saat rahimmu berdenyut kencang, memeras milik Jairah dengan jepitan yang luar biasa nikmat. Di saat yang bersamaan, Jairah mengerang sangat keras, tubuhnya menegang kaku saat ia menyemprotkan seluruh bebannya jauh ke dalam dirimu.
Cairan hangatnya terasa memenuhi rahimmu, beradu dengan pelepasanmu sendiri yang membanjir. Kalian berdua gemetar hebat di bawah selimut, saling mendekap erat seolah nyawa kalian bergantung pada satu sama lain. Napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu liar menjadi satu-satunya suara yang terdengar selama beberapa detik yang terasa abadi itu.
메타데이터
- post_id
- 892fe2ab95e4
- slug
- unexpected-love-892fe2ab95e4
- url
- https://medium.com/@sleepyhead_/unexpected-love-892fe2ab95e4
- canonical_url
- https://medium.com/@sleepyhead_/unexpected-love-892fe2ab95e4
- author_url
- https://medium.com/@sleepyhead_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 07:35:29