← Back to list

#2: Kakak Tingkat

Jogja di bulan Agustus adalah tungku raksasa. Matahari seolah turun beberapa senti lebih rendah, membakar aspal dan kulit para mahasiswa…

desertverse · 2026-04-28 07:27 · 0 claps · 2.7 min read
#nakamoto-yuta #alternate-universe #fanfiction #fanfic #angst
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative

#2: Kakak Tingkat

pin

pin

Jogja di bulan Agustus adalah tungku raksasa. Matahari seolah turun beberapa senti lebih rendah, membakar aspal dan kulit para mahasiswa baru yang dipaksa berdiri rapi di lapangan kampus. Naura salah satunya. Dengan topi caping yang dicat warna-warni dan papan kardus bertuliskan nama kelompok di dada, ia merasa seperti badut yang sedang dijemur.

Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Pandangannya mulai berbayang. Di tengah hiruk-pikuk teriakan komisi disiplin, seorang laki-laki dengan almamater yang lengannya digulung asal-asalan berjalan mendekat.

“Dek, itu mukanya sudah kayak kertas kalkir, pucat banget. Keluar dari barisan sekarang,” tegur suara itu. Rendah, tanpa intonasi membentak, tapi tidak bisa dibantah.

Naura mendongak sedikit, menyipitkan mata yang perih karena peluh. Di depannya berdiri seorang kakak tingkat dengan rambut hitam yang sedikit berantakan tertiup angin sepoi-sepoi. Laki-laki itu tidak memakai kacamata hitam seperti panitia lainnya, membuat Naura bisa melihat matanya yang tajam namun punya binar jenaka.

“Saya… saya nggak apa-apa, kak,” gumam Naura kaku.

“Nggak apa-apa matamu. Sini ikut aku ke tenda medis,” balas laki-laki itu sambil menarik pelan ujung lengan baju Naura.

Di bawah tenda medis yang baunya campur aduk antara minyak kayu putih dan debu, laki-laki itu menyodorkan segelas teh hangat. Ia duduk di kursi sebelah Naura, menyilangkan kaki dengan santai.

“Namanya siapa?” tanya si kakak tingkat.

“Naura, kak.”

“Aku Nino. Nggak usah panggil ‘kak’, panggil Nino aja.”

Naura mengerutkan kening, merasa tidak enak hati. “Eh, tapi kan mas — maksud saya, kak Nino — senior saya?”

Nino tertawa. Suara tawanya renyah, seperti suara kerupuk yang dipatahkan, terdengar sangat lepas di tengah suasana ospek yang tegang. “Kita paling juga cuma beda setahun. Aku bukan kompeni yang harus kamu takuti. Jarak setahun itu cuma soal siapa yang lebih dulu tahu letak kantin paling murah, bukan soal siapa yang lebih berkuasa.”

Namun bagi Naura, jarak satu tahun itu tetaplah sebuah jurang. Setelah ospek berakhir, ia sering tidak sengaja bertemu Nino di berbagai sudut kampus. Di perpustakaan, di koridor fakultas, atau di parkiran motor yang semrawut.

Setiap kali melihat Nino, Naura akan otomatis menegakkan punggung dan memasang wajah formalnya. Ada rasa canggung yang aneh, seperti rasa ingin menyapa tapi takut dianggap terlalu akrab, atau rasa ingin menghindar tapi sebenarnya ingin diperhatikan.

Suatu sore, saat Naura sedang asyik membaca buku di bawah pohon beringin depan rektorat, sebuah bayangan menutupi halamannya.

“Serius amat, lagi baca mantra biar dapet pacar?”

Naura tersentak. Ia mendongak dan menemukan Nino berdiri di belakangnya, menyengir lebar sambil membawa dua plastik es teh cekek. Tanpa permintaan izin, Nino duduk di sebelah Naura, cukup dekat hingga Naura bisa mencium aroma sabun mandi yang samar dari baju Nino.

“Mas Nino… kok di sini?” tanya Naura, suaranya naik satu oktav karena gugup.

“Lagi patroli. Takut ada maba yang kesambet penunggu pohon ini,” canda Nino sambil menyodorkan satu es teh cekek ke pipi Naura yang dingin. “Minum, Ra. Jangan kaku terus kalau ketemu aku. Aku perhatiin dari jauh, kamu kalau lihat aku tuh kayak lihat hantu. Emang aku semenakutkan itu ya?”

Naura menerima es teh itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan kulit tangan Nino yang hangat. Ada sengatan listrik kecil yang membuatnya refleks menarik tangan. “Bukan gitu, Mas. Cuma ya, Mas kan senior.”

Nino meletakkan punggungnya di batang pohon, menatap langit yang mulai menguning.

“Ra, tahu nggak? Di kampus ini, semua orang sibuk jadi siapa yang paling pinter, siapa yang paling senior, siapa yang paling aktif. Aku capek sama semua itu. Aku cuma pengen jadi Nino yang bisa ngobrol santai sama Naura tanpa embel-embel tahun angkatan.”

Ia menoleh, menatap Naura dengan tatapan yang membuat jantung Naura seolah merosot ke perut. “Berhenti manggil aku ‘Mas’ atau ‘Kak’ kalau kita cuma berdua. Oke?”

Naura menunduk, menyembunyikan pipinya yang mendadak panas. “Terus panggil apa?”

“Nino. Cukup Nino.”

Naura mencoba mengucapkannya dalam hati. Nino. Nama itu terasa ringan di lidah, tapi berat di hati.

Canggung itu masih ada, menggantung di antara mereka seperti kabut tipis. Tapi di balik kabut itu, Naura mulai melihat sesuatu yang lebih terang dari sekadar senioritas. Sebuah ketertarikan yang seharusnya ia waspadai sejak awal.


메타데이터
post_id
898b7208dcb0
slug
2-kakak-tingkat-898b7208dcb0
url
https://medium.com/@desertverse/2-kakak-tingkat-898b7208dcb0
canonical_url
https://medium.com/@desertverse/2-kakak-tingkat-898b7208dcb0
author_url
https://medium.com/@desertverse
status
ok
fetched_at
2026-07-19 04:46:19