Kehidupunk
Mencoba menelan pahit manisnya kehidupan
Kehidupunk
Kesadaran kita ternyata akan terbuka di waktu yang berbeda-beda dalam mengartikan hakikat kehidupan. Bahwa untuk bisa menyenangkan banyak orang adalah bukan tugas kita. Bahwa ekspektasi orang lain yang di taruh di pundak kita adalah bukan sesuatu yang harus kita kabulkan. Bahwa jalan yang kita pilih untuk di lalui, sepenuhnya adalah hak kita. Bahwa kebahagiaan kita, senyum yang tumbuh merekah di bibir dan aura wajah kita, energi positif yang terpancar dari diri kita, itu semua jauuuh lebih penting dari apapun.
Tapi lumayan sulit memang, nyatanya aku saja belum di bukakan pintu kesadaran untuk hal itu. Teori seringkali lebih mudah di pahami dan masuk akal ketimbang praktik langsung. Itu sudah hal biasa, dan kita semua harus tetap belajar mencoba.
Sebenarnya tulisan ini ditujukan untuk diriku sendiri, karena aku sedang berada di fase takut mengecewakan banyak orang, terutama orang-orang terdekat.
Jadi, aku baru saja pulang dari perantauan, katakanlah sudah selesai belajar di sana. Saat ini aku sedang menjalani proses bekerja di suatu tempat yang mana pekerjaan tersebut sama sekali tidak sinkron dengan jurusan kuliah yang aku ambil. Sebelum belajar di perantauan, aku di didik ilmu agama oleh guru sekaligus role model para murid (semoga beliau terus di beri kesehatan dan panjang umur). Beliau yang menjembatani kedekatan hubunganku dengan Tuhan sejak lulus Sekolah Dasar hingga tamat SLTA. Tentu beliau juga tau bagaimana keseharianku, kemampuanku, ketidakmampuanku, kelebihanku, kekuranganku, dan ke ke yang lain. Hingga pada ahirnya, berita mengenai pekerjaanku terdengar sampai kepada beliau, dan berita bagaimana reaksi beliau-pun terdengar sampai telingaku. Lebih dari sekedar kaget, beliau sangat tidak menyangka. Mungkin beliau memandang aku sebagai murid yang lurus dan manut pada saat itu (pede bgt wkwk) sehingga ketika terjun di dunia pekerjaan yang tidak ada nilai spiritual di dalamnya di pandang seperti kendunyan alias ngoyo mengejar materi.
Jika di pikir-pikir, keputusan hidup yang aku ambil seringkali lahir dari realita keadaan yang menganga di depan mata. Aku juga layak bermuara di lebih dari satu titik, tidak ingin fanatik. Mengumpulkan macam-macam pemikiran yang melimpah ruah di dunia yang di anggap berseberangan dengan nilai agama. Tapi ternyata mentalku belum cukup sangar untuk bisa menampik hal-hal yang terus merubung seisi kepala. Sehingga kakiku di sandung oleh banyak keraguan dan pertanyaan dalam diri ‘apa memang aku keliru, ya?
Ketakutanku mengecewakan banyak orang masih menyala. Tapi aku akan terus berbisik pada diri sendiri, bahwa apapun yang aku jalani saat ini adalah bagian dari proses. Tidak ada yang salah selagi masih terus menomorsatukan Tuhan.
Mari, berbahagialah versi masing-masing.
메타데이터
- post_id
- 8a0e4fb76ef1
- slug
- kehidupunk-8a0e4fb76ef1
- url
- https://medium.com/@byadinda/kehidupunk-8a0e4fb76ef1
- canonical_url
- https://medium.com/@byadinda/kehidupunk-8a0e4fb76ef1
- author_url
- https://medium.com/@byadinda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 04:48:47