BUNTU KANDORA: DI ANTARA BATU, SUNYI, DAN ERONG
“Catatan Perjalanan Tim Speleologi Korpala Unhas Lanskap Karst Toraja”

BUNTU KANDORA: DI ANTARA BATU, SUNYI, DAN ERONG
“Catatan Perjalanan Tim Speleologi Korpala Unhas Lanskap Karst Toraja”
Oleh: Muhammad Maulana Arif
LATAR BELAKANG
Angin, laut, dan perahu menjadi saksi awal perjalanan panjang manusia Austronesia dalam menapaki dunia. Dari wilayah asalnya di utara, mereka bergerak menyusuri samudra, membawa bahasa, pengetahuan, serta cara pandang terhadap kehidupan dan kematian. Perjalanan itu tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk persebaran manusia, tetapi juga dalam sistem budaya yang terus hidup dan bertransformasi di berbagai wilayah yang mereka singgahi, termasuk di Nusantara.
Dalam pandangan masyarakat Austronesia, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan. Seperti halnya pelayaran yang mereka kenal baik, arwah diyakini menempuh perjalanan menuju alam lain. Keyakinan ini kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk praktik penguburan, salah satunya melalui penggunaan peti kayu. Peti tersebut bukan sekadar wadah, melainkan simbol sebuah “kendaraan” bagi arwah untuk melanjutkan perjalanannya.
Jejak pemikiran ini masih dapat ditelusuri hingga ke Sulawesi Selatan, khususnya di Tana Toraja. Di wilayah ini, tradisi penguburan menggunakan peti kayu yang dikenal sebagai eromg menjadi salah satu representasi nyata dari warisan budaya Austronesia yang tetap bertahan hingga kini.
Eksplorasi yang dilakukan tim speleologi Korpala unhas di Kawasan Karst Buntu Kandora membuka kembali jejak-jejak tradisi penguburan masa lalu yang selama ini tersembunyi dalam lanskap karst. Melalui penelusuran gua dan dokumentasi lapangan, ditemukan berbagai erong dalam konteks penguburan yang masih memperlihatkan pola penempatan, variasi bentuk, serta makna simbolik yang kuat.
Sebagai wadah kubur berbahan kayu, erong tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan jenazah, tetapi juga merepresentasikan konsep perjalanan arwah dalam kepercayaan masyarakat Toraja. Bentuk-bentuk erong yang menyerupai perahu maupun tongkonan menunjukkan adanya simbolisme yang erat kaitannya dengan tradisi Austronesia, di mana kematian dipahami sebagai proses perpindahan menuju alam leluhur. Penempatan erong pada gua dan tebing yang sulit dijangkau semakin menegaskan bahwa praktik ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui pertimbangan kosmologis dan simbolik yang mendalam.
PENUTUR AUSTRONESIA DAN MAKNA PERJALANAN ARWAH
Ketika kelompok penutur Austronesia mulai menyebar sekitar ribuan tahun yang lalu, mereka tidak hanya membawa teknologi pelayaran, tetapi juga kosmologi yang membentuk cara mereka memahami dunia. Laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan bagian dari kehidupan yang sarat makna. Dari sinilah lahir gagasan tentang perjalanan baik dalam kehidupan maupun setelah kematian.
Dalam banyak tradisi Austronesia, arwah tidak “diam”, melainkan bergerak. Ia menempuh perjalanan menuju dunia leluhur, sering kali dibayangkan berada di tempat yang jauh, melampaui batas-batas dunia manusia. Oleh karena itu, diperlukan sarana yang dapat mengantarkan arwah tersebut. Di sinilah peran peti kayu menjadi penting.
Di berbagai wilayah Austronesia, ditemukan peti kayu dengan bentuk menyerupai perahu. Bentuk ini bukan kebetulan, melainkan refleksi dari pengalaman kolektif masyarakat yang akrab dengan dunia maritim. Perahu menjadi simbol transisi dari dunia yang satu ke dunia yang lain.
ERONG, PETI KAYU DAN JEJAK AUSTRONESIA DI TORAJA
Di Toraja, konsep ini menemukan bentuknya yang khas melalui erong. Peti kayu ini tidak hanya digunakan sebagai tempat jenazah, tetapi juga sebagai medium yang sarat makna simbolik. Ditempatkan di gua-gua atau ceruk tebing yang tinggi dan sulit dijangkau, erong seolah berada di antara dua dunia tidak sepenuhnya di bumi, namun juga belum sepenuhnya di langit.
Bentuk erong pun beragam. Ada yang sederhana, tetapi ada pula yang menyerupai perahu. Dalam konteks ini, bentuk perahu menjadi sangat penting, karena mengingatkan pada akar budaya Austronesia yang memandang perjalanan sebagai bagian dari siklus kehidupan. Erong berbentuk perahu dapat dipahami sebagai representasi konkret dari gagasan bahwa arwah membutuhkan sarana untuk mencapai alam leluhur.
Selain itu, terdapat pula erong yang menyerupai tongkonan, rumah adat Toraja. Bentuk ini memperlihatkan bagaimana konsep lokal berkembang di atas fondasi budaya yang lebih tua. Tongkonan bukan hanya rumah, tetapi simbol asal-usul, identitas, dan status sosial. Dengan demikian, erong tidak hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang siapa individu tersebut dalam kehidupan sosialnya.
pada masa lalu jenazah ditempatkan dalam erong dan disimpan di gua-gua yang sulit dijangkau. Praktik ini menunjukkan adanya perpaduan antara pertimbangan praktis dan simbolik. Gua menjadi ruang sakral, sementara ketinggian lokasi memberikan perlindungan sekaligus makna transendensi. Sebagaimana dijelaskan oleh Tangdilintin ( 1975)2
ERONG DAN STRUKTUR SOSIAL
Seiring waktu, erong tidak hanya menjadi bagian dari ritual kematian, tetapi juga mencerminkan struktur sosial masyarakat Toraja. Bentuk, ukuran, dan tingkat kerumitan erong sering kali berkaitan dengan status sosial individu yang dikuburkan.
Akin Duli (2013)1 menekankan bahwa variasi bentuk erong mencerminkan perkembangan budaya sekaligus stratifikasi sosial. Erong yang lebih kompleks, seperti yang menyerupai tongkonan, umumnya digunakan oleh kelompok dengan status lebih tinggi. Dengan demikian, erong menjadi simbol yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan dunia arwah, tetapi juga merepresentasikan posisi sosial dalam kehidupan duniawi.
Menariknya, dalam satu erong sering kali ditemukan lebih dari satu individu. Hal ini menunjukkan bahwa konsep kekerabatan dalam masyarakat Toraja tidak terputus oleh kematian. Keluarga tetap menjadi satu kesatuan, bahkan setelah berpindah ke dunia lain.
KESINAMBUNGAN YANG TETAP HIDUP
Hingga kini, meskipun berbagai perubahan telah terjadi, tradisi penguburan di Toraja masih mempertahankan jejak-jejak lama tersebut. Erong mungkin tidak lagi digunakan secara luas seperti dahulu, tetapi makna yang dikandungnya tetap hidup dalam praktik budaya masyarakat.
Dari perjalanan panjang penutur Austronesia hingga ke pegunungan Toraja, kita dapat melihat bagaimana sebuah gagasan tentang perjalanan, tentang arwah, tentang hubungan antara yang hidup dan yang mati tetap bertahan dan bertransformasi. Erong menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sesuatu yang terus hidup, mengalir, dan menemukan bentuknya dalam setiap generasi.
TEMUAN ERONG DI KARST BUNTU KANDORA
Perjalanan menuju kawasan karst Buntu Kandora tidak pernah benar-benar mudah. Tebing-tebing batu kapur berdiri tegak, dipeluk oleh vegetasi lebat yang seakan menyembunyikan sesuatu di baliknya. Jalur yang harus dilalui bukan hanya terjal, tetapi juga sunyi sebuah lanskap yang sejak awal memberi kesan bahwa tempat ini pernah dipilih dengan pertimbangan yang tidak sederhana.
Kondisi erong yang telah rusak juga menyiratkan satu hal penting rapuhnya warisan budaya di tengah perubahan lingkungan dan minimnya perlindungan. Namun di sisi lain, lokasi yang sulit dijangkau justru menjadi alasan mengapa sebagian konteks masih bertahan hingga kini. Keheningan gua, yang dahulu menjadi bagian dari ruang sakral, kini sekaligus menjadi pelindung alami bagi tinggalan tersebut. Lebih dari sekadar temuan arkeologis, erong di Buntu Kandora adalah pengingat bahwa lanskap karst bukan hanya bentukan geologi, tetapi juga ruang budaya. Di dalamnya tersimpan jejak perjalanan manusia tentang bagaimana mereka memilih tempat, membangun makna, dan merawat hubungan dengan leluhur.
Pada akhirnya, eksplorasi di Buntu Kandora bukan hanya tentang menemukan erong, tetapi tentang membaca kembali narasi lama yang masih tersisa di antara batu, kayu, dan sunyi. Sebuah narasi tentang perjalanan yang dimulai dari laut bersama penutur Austronesia, dan berakhir di tebing-tebing sunyi, tempat arwah dipercaya melanjutkan perjalanannya.
Daftar Pustaka
Duli, A. (2013). “Peti Mandu : Sebuah Perahu Simbol Roh Leluhur Masyarakat Enrekang Sulawesi Selatan”.
Duli, A. (2013). “Peti Mandu : Sebuah Perahu Simbol Roh Leluhur Masyarakat Enrekang Sulawesi Selatan”. Jurnal RIMA (Review Bahasa Indonesia and Malaysian Affairs), Vol 47, №1, 2013.
Tangdilintin, L. T. (1975). Toraja dan Kebudayaannya
Rosmawati, R. (2025). Pre islamic butrial practices of south sulawesi
메타데이터
- post_id
- 8a1cd6ccf310
- slug
- buntu-kandora-di-antara-batu-sunyi-dan-erong-8a1cd6ccf310
- url
- https://medium.com/@berKeLana_/buntu-kandora-di-antara-batu-sunyi-dan-erong-8a1cd6ccf310
- canonical_url
- https://medium.com/@berKeLana_/buntu-kandora-di-antara-batu-sunyi-dan-erong-8a1cd6ccf310
- author_url
- https://medium.com/@berKeLana_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 00:11:25