Independensi Mahasiswa: Antara Agensi, Kelompok, dan Seni Olah-olahnya.
Independensi Mahasiswa: Antara Agensi, Kelompok, dan Seni Olah-olahnya.

Mahasiswa itu selalu datang membawa nama besar sebagai agen perubahan, penjaga nurani bangsa, barisan kritis yang katanya tidak mudah dibeli. Dari lorong-lorong kampus yang penuh spanduk dan diskusi, mereka berjalan sambil mengucap kata-kata besar tentang kebebasan, keadilan, dan masa depan. Namun, sebagaimana banyak hal indah dalam dunia politik, kata-kata itu sering kali lebih hidup di poster daripada di perilaku. Independensi mahasiswa pun kerap menjelma seperti bayangan nampak ada, tapi saat didekati, ia memudar di bawah lampu kekuasaan.
Anthony Giddens memberi kita jalan untuk membaca hal ini lewat gagasan agensi. Manusia, dalam pandangannya bukan sekadar benda yang diseret arus struktur. Ia punya daya untuk bertindak, menimbang, dan memantau tindakannya sendiri. Mahasiswa, dalam pengertian ini semestinya menjadi subjek yang sadar akan dirinya, sadar akan tempat ia berdiri, dan sadar pula pada struktur yang membungkus hidupnya. Tetapi mahasiswa sering kali lebih cepat sadar pada tenggat tugas daripada pada jerat kuasa. Mereka lihai membaca kalender akademik. Sayangnya mereka gagap ketika harus membaca kenyataan sosial yang menekan di luar kelas.
Dari titik itulah independensi mahasiswa menjadi soal yang tidak sederhana. Sebab merdeka tidak selalu berarti lepas dari semua ikatan. Kadang kala ini berarti berani tahu apa yang sedang mengikat dirinya. Giddens mengingatkan bahwa struktur tidak pernah benar-benar hilang, tetapi manusia tetap punya ruang untuk bergerak di dalamnya. Mahasiswa seharusnya memanfaatkan ruang itu untuk menjaga jarak dari kenyamanan yang merusak daya kritis. Namun, sikap berbicara lain ketika yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketika ternyata ruang gerak itu dipakai untuk mencari posisi aman, bukan posisi benar.
Sydney Tarrow lalu membawa kita pada soal yang lebih keras bahwa gerakan tidak lahir dari kesepian tetapi memuai dari aksi kolektif. Mahasiswa kalau mau disebut gerakan, tidak cukup hanya memiliki suara lantang satu-dua orang yang pandai berpidato. Ia harus menjadi kumpulan yang sadar arah, sadar lawan, dan sadar tujuan. Tarrow menunjukkan bahwa gerakan sosial tumbuh dari jaringan, solidaritas, dan momentum politik. Jika eksistensi kelompok mahasiswa mestinya bukan sekadar nama organisasi, jabatan, atau kaos almamater, maka akan timbul denyut bersama yang hidup dari keberpihakan.
Tetapi di sinilah ironi mulai menebal. Banyak kelompok mahasiswa yang hadir bukan sebagai tubuh kolektif yang tegas, melainkan sebagai kumpulan kepentingan kecil yang kebetulan berkumpul di bawah satu bendera. Mereka tampak hidup dalam rapat, tampak kompak dalam dokumentasi, dan tampak bersemangat dalam forum. Kenyataannya ketika berhadapan dengan risiko yang tersisa sering hanya kehati-hatian yang dibungkus sebagai kedewasaan. Kelompok yang seharusnya menjadi tempat menempa idealisme justru berubah menjadi ruang pelan-pelan menua bersama kompromi.
Dari benak inilah, perjalanan mahasiswa sering bergerak aneh bermula dari ruang kritik menuju ruang kedekatan. Mereka datang ke rezim membawa bahasa perubahan. Mereka pula yang pulang membawa rasa bangga karena dianggap “dipanggil” dan “didengar.” Seakan-akan kedatangan itu sendiri sudah cukup untuk disebut perjuangan. Padahal, mendatangi kekuasaan tidak selalu berarti melawannya. Kadang, itu justru cara yang paling halus untuk dibelai oleh sistem, lalu perlahan-lahan dijinakkan olehnya. Dalam keadaan begini, idealisme tidak mati dengan bunyi ledakan; ia menguap pelan, hilang di antara undangan, fasilitas, dan kesempatan yang terlalu menggoda untuk ditolak.
Eksistensi kelompok mahasiswa di hadapan rezim sering memunculkan wajah yang ganda. Di satu sisi, mereka masih berbicara tentang rakyat, tentang keadilan, tentang perubahan. Di sisi lain, mereka sibuk menjaga hubungan baik dengan kekuasaan yang justru kerap menutup jalan bagi suara-suara itu. Mereka ingin terlihat kritis tanpa kehilangan akses. Mencoba tampak berjarak tanpa benar-benar menjauh. Itulah seni paling halus dari politik kampus tetap menyebut diri pejuang, sambil perlahan belajar bersalaman dengan tangan yang dulu dikritik.
Kalau dilihat lewat kacamata eksistensial, mahasiswa sesungguhnya dipanggil untuk menanggung kebebasannya sendiri. Sartre mengingatkan bahwa manusia tidak bisa lari dari tanggung jawab atas pilihannya. Begitu pula mahasiswa. Mereka tidak bisa terus-menerus menyalahkan struktur, budaya kampus, atau tekanan organisasi jika dirinya sendiri memilih untuk tenang di tengah ketidakadilan. Kebebasan memang berat, sebab ia menuntut keberanian untuk kehilangan kenyamanan. Dari situlah banyak mahasiswa terpeleset. Mereka ingin terdengar merdeka, tetapi tidak ingin menanggung mahalnya kemerdekaan itu.
Mahasiswa dengan independensinya bukanlah sekadar kemampuan untuk terlihat berbeda dari orang lain. Ia adalah kemampuan menjaga nalar tetap tajam ketika semua orang mulai belajar berkompromi. Ia adalah keberanian untuk tetap berkata tidak ketika pintu kekuasaan terbuka lebar dan mengundang masuk. Ia adalah kesanggupan kelompok untuk tetap menjadi kelompok yang hidup dari kesadaran bersama, bukan dari kedekatan dengan kursi-kursi yang berkuasa. Sebab kalau mahasiswa hanya pandai mendekat, tetapi tidak pandai menjaga jarak yang tersisa hanyalah generasi fasih menyebut dirinya kritis dengan faktanya sibuk menjadi pelengkap ketertiban.
Dibantu Pustaka
Aspinall, Edward. 2012. “Indonesia: Moral Force Politics and the Struggle Against Authoritarianism.” Dalam Student Activism in Asia: Between Protest and Powerlessness. Oxford: Oxford University Press.
Blunden, Andy. 2016. Anthony Giddens on Structuration.
Della Porta, Donatella. 2001. Review of Power in Movement: Social Movements and Contentious Politics karya Sidney Tarrow. Acta Politica 36(1): 100 – 103.
Mage, Ruslan Ismail. 2014. “Meredupnya Gerakan Mahasiswa Pasca Pemilihan Presiden 2014.” Akses: Jurnal Ilmu Politik.
Muzakar, Abdullah. Gerakan Mahasiswa dalam Perspektif Karl Marx. Lombok: Yayasan Suluh Rinjani.
Sahu, D. R. Sociology of Social Movement: Introduction.
Abba, Akbar. “Matinya Gerakan Mahasiswa.” Edunews.id.
Tarrow, Sidney. 1998. Power in Movement: Social Movements and Contentious Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
메타데이터
- post_id
- 8a20fb2d1289
- slug
- independensi-mahasiswa-antara-agensi-kelompok-dan-seni-olah-olahnya-8a20fb2d1289
- url
- https://medium.com/@rifqiiick/independensi-mahasiswa-antara-agensi-kelompok-dan-seni-olah-olahnya-8a20fb2d1289
- canonical_url
- https://medium.com/@rifqiiick/independensi-mahasiswa-antara-agensi-kelompok-dan-seni-olah-olahnya-8a20fb2d1289
- author_url
- https://medium.com/@rifqiiick
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 06:45:58