← Back to list

Review Rise of Empires: Ottoman (Season 1), Upaya Sultan Mehmed II Menggenapi Nubuat Rasulullah

Beberapa hari lalu, saya maraton nonton Rise of Empires: Ottoman. Sebenarnya, saya sudah tahu seri ini, tetapi entah mengapa saya tidak…

Dewisartika Naura · 2026-05-02 23:47 · 0 claps · 5.1 min read
#konstantinopel #mehmed-ii #ottoman-empire #netflix #history
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History 🎬 · Film & Television

Review Rise of Empires: Ottoman (Season 1), Upaya Sultan Mehmed II Menggenapi Nubuat Rasulullah

Poster seri Rise of Empires: Ottoman (imdb)

Poster seri Rise of Empires: Ottoman (imdb)

Beberapa hari lalu, saya maraton nonton Rise of Empires: Ottoman. Sebenarnya, saya sudah tahu seri ini, tetapi entah mengapa saya tidak tergerak untuk menyaksikannya. Padahal Muhammad Al-Fatih adalah tokoh idola saya sewaktu SMU dan kuliah dulu. Ya, dulu, karena sering membaca tentang sejarah Islam terutama penaklukan-penaklukan yang dilakukan orang-orang Islam, saya menjadi terkesima dengan kiprah para tokohnya. Selain Muhammad Al-Fatih, ada juga Salahuddin Al Ayyubi, Thariq bin Ziyad, Saad bin Waqqash, dan Timur Lenk. Bahkan saking sukanya saya sama Muhammad Al-Fatih, saya menamai anak bungsu saya dengan namanya.

Bermaksud menghibur diri, saya memutuskan untuk menonton Rise of Empires: Ottoman. Sesuai judulnya, dulu, mulanya saya berpikir film ini tentang kebangkitan Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di awal-awal. Mungkin mirip seri Turki berjudul Erthugrul. Namun, setelah mencari tahu, ternyata seri ini berkisah mengenai Muhammad Al-Fatih dalam upayanya merebut Konstantinopel.

Keterangan Seri

Judul : Rise of Empires: Ottoman

Sutradara : Emre Sahin

Penulis skenario : Kelly Mcpherson

Pemain : Cem Yiğit Üzümoğlu (Mehmetd II), Tuba Büyüküstün (Mara Brankovic), Tommaso Basili (Constantine XI Palaiologos), Ushan Çakır (Zaganos Pasha), Birkan Sokullu (Giovanni Giustiniani)

Rilis : 24 Januari 2020

Tayang : Netflix

Sinopsis

Mehmed (Muhammad) II yang menjadi gubernur Manisa di Kepulauan Aegea mendadak menerima surat dari Adrianople (ibukota Kesultanan Utsmaniyah) yang mengabarkan kematian ayahnya, Sultan Murad II. Mehmed II lekas menuju ibukota untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai sultan. Begitu berkuasa, Mehmed mulai menyasar Konstantinopel sebagai target penaklukannya meski ditentang wazir utamanya, Candarli Halil Pasha.

Sementara itu, di Konstantinopel, Kaisar Konstantine mulai resah atas rencana Mehmed II menaklukkan kekaisarannya. Beruntung, ia mendapat bantuan untuk mempertahankan kota dari para tentara bayaran yang dipimpin Giovanni Giustiniani dari Genoa. Sultan Mehmed II pun mulai bergerak untuk melaksanakan rencananya. Salah satunya dengan mempekerjakan seorang insinyur pembuat meriam dari Hungaria bernama Orban. Kelak, meriam raksasa rancangan Orban ini digunakan untuk menghancurkan tembok Benteng Theodosius yang lebih dari 1000 tahun melindungi Konstantinopel dari musuh serta disebut-sebut menjadi benteng yang tak bisa dihancurkan karena sistem pertahanannya yang berlapis-lapis.

Cem Yiğit Üzümoğlu sebagai Sultan Mehmed II (imdb)

Cem Yiğit Üzümoğlu sebagai Sultan Mehmed II (imdb)

Dalam upayanya menguasai Konstantinopel, Sultan Mehmed II juga menyurati Kaisar Konstantine agar menyerah. Namun, tawaran ini ditolak sang kaisar. Upaya Mehmed II melancarkan serangan ke kota selain terhalang tembok benteng juga pasukan Giustiniani yang mampu menghalau pasukan Mehmed II di luar benteng yang berujung kekalahan pasukannya.

Sultan Mehmed II juga berusaha menembus perairan Tanduk Emas (Golden Horn) sebagai pintu masuk Konstantinopel. Sayangnya, hal ini juga mustahil mengingat Kekaisaran Byzantium mamasang rantai raksasa sebagai penghalang. Berbagai upaya dilakukan Mehmed II, tetapi selalu berujung pada kegagalan yang mau tak mau memengaruhi moral pasukannya. Kabar tentang bergabungnya pasukan dari Hungaria dan sekitar untuk membantu Kekaisaran Byzantium juga menjadi perhatian Mehmed II sehingga ia sengaja mengirim ibu tirinya, Mara Brankovic pulang kampung untuk menjadi telinganya.

Walaupun kegagalan demi kegagalan menembus Benteng Theodosius terus gagal, Mehmed II tak patah arang. Ia melakukan cara lain dengan memindahkan kapal-kapal militernya ke perairan Tanduk Emas dengan melewati daratan yang terletak di belakang koloni Galata yang merupakan sekutu Byzantium. Kendati demikian, bukan berarti cara ini mampu untuk mengalahkan pasukan. Mehmed II dan pasukannya masih kesulitan menaklukan tembok benteng. Ketika hendak menyerah dengan menuruti permintaan Candarli Halil Pasha untuk melakukan genjatan senjata, Mara Brankovic mendapat ilham dari pengamatan ahli astrologi yang meramalkan kemenangan Mehmed II.

Kabar baik dari Mara Brankovic ini tentu disambut gembira Mehmed II sehingga memutuskan untuk menggempur Byzantium. Ditambah lagi sebelum melakukan serangan akhir, ia mendapat pertanda dari Hagia Sophia. Pertanda ini juga disaksikan Kaisar Konstantine dan penduduk Konstantinopel yang yakin bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Ditambah lagi bantuan yang dijanjikan Sri Paus berupa armada militer dari Venesia belum mencapai kota. Mehmed II akhirnya berhasil menaklukkan kota pada 29 Mei 1453 setelah berminggu-minggu mengepung Konstantinopel.

Review Rise of Empires: Ottoman

Giustiniani saat memasuki Konstantinopel (imdb)

Giustiniani saat memasuki Konstantinopel (imdb)

Usai menyelesaikan enam episode seri musim pertama ini, saya hanya membatin, oh, jadi begini kronologis penaklukannya. Jujur saja, ini membantu pemahaman saya akan bagaimana Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel. Maklum saja, meski telah membaca kisahnya, saya masih kebingungan dengan beberapa hal termasuk tentang posisi Tanduk Emas. Ditambah lagi, seri ini memiliki format semi dokumenter sehingga makin memudahkan saya untuk memahami apa yang sedang ditampilkan karena ada penjelasan dari sejarawan atau pakarnya. Sebenarnya, saya tidak familiar dengan tontonan drama semi dokumenter ini. Namun, setelah menyaksikan Rise of Empires: Ottoman, ternyata menarik juga.

Menonton drama berlatar sejarah,tentu saja makin membuat pengetahuan saya bertambah. Terutama mengenai hal-hal yang ditampilkan di seri ini berdasarkan penjelasan dari narasumber yang tidak pernah saya dapatkan dari membaca termasuk bagaimana tanda-tanda langit ternyata sangat berpengaruh terhadap masyarakat abad ke-15 termasuk orang-orang Turki (Ottoman) sendiri. Belum lagi mengenai pengaruh penting Mara Brankovic dalam kehidupan Sultan Mehmed II. Mara sendiri merupakan istri dari Sultan Murad II yang berasal dari Serbia dan ibu pengganti bagi Mehmed.

Pernikahan ini sendiri dilakukan untuk memperkuat aliansi antar kerajaan. Walaupun menjadi istri seorang sultan,Mara tetap memeluk Kristen Ortodox. Ngomong-ngomong tentang istri atau para selir sultan Ottoman ini, kebanyakan dari mereka adalah perempuan Kristen yang diambil dari kawasan Balkan dan sekitarnya. Ya, jadi tidak murni dari orang-orang Turki. Para perempuan yang kemudian diislamkan inilah yang di kemudian hari banyak menurunkan para sultan.

Gara-gara nonton seri ini juga akhirnya membuat saya membuka lagi lembar buku Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah yang saya beli pada 2004 silam yang membahas Muhammad Al Fatih. Baik di buku ini maupun di serinya, rupanya ada perbedaan umur Mehmed II naik tahta sekaligus berusaha menaklukkan Konstantinopel. Di buku disebutkan Mehmed II berumur 22 tahun sementara di seri ia berusia 19 tahun.

Kaisar Konstantine (imdb)

Kaisar Konstantine (imdb)

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana di seri ini Mehmed II digambarkan sebagai sosok manusia biasa yang pendendam dengan menghukum mati Candarli Halil Pasha usai menaklukkan Konstantinopel. Dendam ini sendiri sudah ia bawa sejak remaja terutama sewaktu Halil Pasha membujuk Sultan Murad II untuk naik tahta kembali. Sementara di buku, jujur saja, penggambaran Mehmed II tanpa cela.

Saya sebenarnya agak kecewa dengan penggambaran Hagia Sophia di seri ini. Saya membayangkan saat Mehmed II memasuki gereja ini, penampakan bangunan ini akan sangat indah alias berwarna plus menampilkan gambar Bunda Maria dan Yesus yang menjadi ciri khas bangunan ini. Sayangnya, harapan saya tidak terwujud. Alih-alih menyoroti kemegahan dan keindahan Hagia Sophia, warna suram alias hitam justru yang mendominasi plus CGI-nya kelihatan banget (menurut saya). Kecewa? Jelas.

Kekecewaan saya tak berhenti di sini saja. Meskipun seri ini menampilkan Sultan Mehmed II sebagai sosok sentral, entah kenapa justru saya merasa kisah di seri ini diambil dari sudut pandang (POV) orang Byzantium terutama Kaisar Konstantine dan Giustiniani. Secara emosi, saya lebih bersimpati terhadap perjuangan dua tokoh ini dalam mempertahankan Konstantinopel sedangkan adegan-adegan pertempuran yang melibatkan Mehmed II terbilang sedikit (iya sih, sebagai komandan tertinggi tentu lebih banyak mengatur strategi).

Namun, ya, terlepas dari plus dan minusnya seri ini versi saya, Rise of Empires: Ottoman masih sangat layak untuk ditonton karena ya, sekali lagi, banyak hal yang bisa didapat dengan menonton seri ini.


메타데이터
post_id
8a21a72fa769
slug
review-rise-of-empires-ottoman-season-1-upaya-sultan-mehmed-ii-menggenapi-nubuat-rasulullah-8a21a72fa769
url
https://medium.com/@dewisartika.naura/review-rise-of-empires-ottoman-season-1-upaya-sultan-mehmed-ii-menggenapi-nubuat-rasulullah-8a21a72fa769
canonical_url
https://medium.com/@dewisartika.naura/review-rise-of-empires-ottoman-season-1-upaya-sultan-mehmed-ii-menggenapi-nubuat-rasulullah-8a21a72fa769
author_url
https://medium.com/@dewisartika.naura
status
ok
fetched_at
2026-08-06 12:05:14