Aku percaya sihir?
Photo by Artem Maltsev on Unsplash
Aku percaya sihir?
Sihir itu nyata

Photo by Artem Maltsev on Unsplash
Aku bisa sedih membaca berita duka yang terjadi 50 tahun lalu, aku bisa termenung membaca syair yang ditulis seribu tahun yang lalu, aku bisa tertawa oleh jokes yang ditulis oleh orang yang hidup dua milenium yang lalu.
Aku bisa mendengar suara orang mati!
Ibn al-Athir menulis perasaan sangat putus asa dan kesedihan yang mendalam ketika kota-kota Islam hancur oleh serangan bengis bangsa Mongol pada abad ke-13.
“Maka alangkah baiknya jika ibuku tidak melahirkanku, dan alangkah baiknya jika aku telah mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang dilupakan. Sungguh, peristiwa ini termasuk yang paling dahsyat dan musibah yang paling mengerikan. Barangsiapa berkata bahwa sejak Allah menciptakan Adam hingga sekarang, umat manusia tidak pernah diuji dengan musibah seperti ini, maka sungguh ia benar.”
Aku merasa ia berbicara dengan serius dihadapanku. Meski ia telah mati lebih dari 800 tahun yang lalu.
Ini adalah sihir!
Hanya sebuah tulisan aku bisa mengintip pikiran orang asing, seperti Epictetus seorang filsuf yunani yang hidup sebagai budak abad ke-1 namun menulis pemikiran Stoik yang kini masih dibaca oleh jutaan orang. Atau Rumi seorang penyair Persia abad ke-13 yang kehilangan sahabat jiwanya lalu menuangkan kesedihan dan kebijaksanaannya dalam syair-syair yang masih menggema hingga hari ini. Maupun Xuanzang seorang biksu Tiongkok abad ke-7 yang menulis pengembaraannya yang menempuh ribuan kilometer ke India untuk mencari naskah-naskah Buddhis asli, begitu bersejarahnya hingga menginspirasi legenda “Journey To The West”. Bahkan curhatan seorang remaja pada tahun 2014 di laman Facebook.
Ajaib bukan? tawa, air mata, ketakutan, harapan. Semua berpindah dari kepala ke kepala, dari abad ke abad, tak perlu mantra, tak perlu ritual, cukup sebuah kalimat dan aku bisa melintasi ruang dan waktu.
Aku ingin belajar sihir ini!
Mungkin inilah salah satu cara agar aku bisa “hidup” setelah tubuh tiada. Aku ingin menulis, menulis seperti botol yang dilempar ke lautan waktu, jika tidak ada yang menemukannya, setidaknya aku pernah menulis.
Aku percaya sihir? tak perlu kuungkapkan kan?
메타데이터
- post_id
- 8a294eb0105d
- slug
- aku-percaya-sihir-8a294eb0105d
- url
- https://medium.com/@littlefox_/aku-percaya-sihir-8a294eb0105d
- canonical_url
- https://medium.com/@littlefox_/aku-percaya-sihir-8a294eb0105d
- author_url
- https://medium.com/@littlefox_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 17:43:02