DIMANA TAK ADA NAMA KITA
Gavriel dan Ganesha saling mencintai, tapi cinta mereka adalah sesuatu yang dianggap “penyakit” oleh masyarakat.
DIMANA TAK ADA NAMA KITA

Malam telah larut. Angin membawa debu dan juga sayup-sayup dari suara kemarahan. Dua tubuh berlari di tengah kegelapan, kaki-kaki mereka menghantam tanah dengan langkah panik . Terseret oleh rasa takut yang mendesak dari belakang. Nafas keduanya tersengal, tubuh mereka sudah lusuh — berdarah, kotor, dan hampir kehilangan tenaga.
“Ke arah sana! Mereka lari ke arah barat!” Teriakan warga memecah keheningan malam. Senter menyala menyorot ke segala arah untuk mencari keberadaan dua manusia yang sedang mereka kejar. Langkah-langkah cepat terdengar sangat ribut, dan suara caci maki mulai terdengar semakin dekat.
Gavriel menggenggam tangan Ganesha erat, seolah jika ia melepasnya sedikit saja dunia akan mencuri satu-satunya hal yang berharga dari hidupnya. Mereka membelok ke gang kecil, melewati beberapa rumah kosong yang ada disana hinggaakhirnya menemukan sebuah gudang tua — terbengkalai, berkarat, penuh debu dan serpihan kayu lapuk.
“Masuk!” desis Gavriel, setengah menyeret Ganesha yang hampir tumbang. Mereka mendorong pintu berat itu, masuk ke dalam gelap lalu menutupnya dengan cepat. Gavriel mengganjal pintu dengan batang kayu dan menutup palangnya dari dalam.
Beberapa detik kemudian — DUG! DUG! DUG! Pintu bergetar dengan hebat seakan-akan dapat roboh kapan saja jika ketukan keras itu semakin banyak dan berulang secara terus menerus. Teriakan kemarahan dan cacian dari para warga yang mengejar tadi terdengar sangat tidak manusiawi. Bahkan perkataan mereka semua benar-benar melukai hati, sangat amat melukai.
“Kalian menjijikkan! Kalian membawa kutukan!” “Keluar kalian! Dasar penyakit masyarakat!” “Kalian najis! Kalian pembawa aib!” “Keluar! SEKARANG!”
Cahaya senter menyorot dari celah-celah kayu. Bayangan mereka terpantul di dinding. Sebuah bayangan yang dapat menunjukkan bahwa keduanya sangat teramat hancur dan ketakutan. Ganesha terduduk sembari memeluk lututnya mencari ketenangan yang sudah pasti tidak terasa sama sekali. Tubuhnya gemetar hebat menahan segala rasa takut dan juga rasa sakit mendengar cacian dari para warga yang terus menerus menghujam dadanya dengan keras. Kalung salib di lehernya tergenggam erat, seperti satu-satunya tali yang dapat menahan kewarasannya. Gavriel menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, begitu erat seolah ia bisa menghentikan dunia yang mencoba membuat mereka hancur di luar sana.
“Sudah sudah kita selamat, untuk sekarang…” suaranya bergetar, namun tetap mencoba terdengar tenang. Ia menempelkan dagunya di atas kepala Ganesha. Tak ada hal yang lebih ia jaga dalam hidup selain Ganesha di pelukannya malam ini.
“Gavriel, aku capek…. a-aku takut…” suaranya terputus di antara isakan. Suara tangisan yang awalnya terdengar pelan berubah menjadi keras ketika Gavriel memeluknya dengan erat, sangat erat. Seakan-akan pelukan ini bisa saja direbut oleh orang-orang diluar sana.
“Aku di sini… aku janji gak akan ninggalin kamu…” Gavriel memberikan beberapa kecupan di pucuk kepalanya Ganesha, memberikan sedikit ketenangan kepadanya.
Beberapa saat kemudian, suara di luar mulai mereda dan suara langkah kaki mulai menjauh. Hening, meninggalkan mereka di dalam gelap, namun bukan berarti ini sudah aman. Keadaan ini masih bisa dibilang belum aman.
“Kita gak bisa terus kayak gini…” bisik Ganesha dengan suara serak. Dengan kasar, ia mendorong tubuh Gavriel hingga pelukan mereka terlepas. Matanya — yang bengkak karena terlalu banyak menangis — menatap penuh ketakutan dan kebingungan. Sorot itu begitu jelas, dan Gavriel tahu… ia tahu persis apa yang sedang diteriakkan mata itu, meski tak ada kata-kata yang terucap.
“Mau sampai kapan, Gavriel? Mau sampai kapan kita lari ,sembunyi bahkan mengganti identitas kita? Apakah kita tidak bisa hidup layaknya orang lain?”
Gavriel terdiam. Kalimat Ganesha menggantung di udara, menikam lebih dalam dari yang bisa ia akui. Kata-kata Ganesha terlalu benar — terlalu menyakitkan untuk dibantah. Sampai kapan mereka akan terus berlari, menyembunyikan cinta yang dianggap najis oleh mata dunia? Sampai kapan harus hidup dalam bayang-bayang, menanti hari ketika semua rahasia terbongkar dan mereka kembali jadi buruan? Cinta mereka, hanya bisa hidup di sela-sela ketakutan yang tidak tahu kapan kebahagiaan itu datang.
“Jawab aku Gavriel ! kita harus gimana?”
Masih tak ada jawaban. Ganesha menatapnya dengan mata memerah, penuh luka dan harap. Mengharapkan sebuah jawaban yang dapat melepaskan mereka berdua dari tekanan ini. Melepaskan mereka berdua dari ketakutan yang berlarut-larut ini.
“Aku… a-aku tidak tahu.” suara Gavriel nyaris tak terdengar.
“Tidak tahu? Kamu bilang tidak tahu?!” suara Ganesha meninggi, diseret amarah yang selama ini ia tahan. Bagaimana tidak, selama ini, mereka terus berpindah. Dari kota ke kota, dari gelap ke gelap. Semua itu demi bisa mencintai dalam senyap. Dan setiap kali dunia mulai mencium bau dari hubungan keduanya, mereka harus pergi lagi. Dan lagi. Dan lagi. Ganesha sudah tidak bisa menahan semuanya. Lelah, tubuhnya lelah, pikirannya lelah, mentalnya juga lelah. Seharusnya Gavriel memiliki jawaban itu bukan ? kenapa dia seakan tidak memiliki rencana sama sekali ?
Ia menatap Gavriel — mata itu sudah sembab, merah, nyaris bengkak. Bahkan untuk menangis pun, matanya seperti tak sanggup lagi. Sudah terlalu banyak air mata yang sudah jatuh. Terlalu banyak luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Luka yang bahkan Gavriel pun mungkin tak benar-benar mengerti.
“Aku ninggalin semuanya buat kamu, Gavriel…” suaranya serak, hampir tak terdengar, tapi beratnya menghantam seperti ribuan batu di dada.
“Rumah, keluarga, bahkan kepercayaanku sendiri. Setiap kata yang keluar seperti serpihan dari dirinya yang tercerai. Serpihan diri yang benar benar sudah hancur dan tidak bisa disatukan kembali. Bahkan mungkin sebagian serpihan tersebut sudah hilang entah kemana.
“Aku kehilangan segalanya dan sekarang kamu bilang kamu gak tahu kita harus gimana?”
Ia tertawa kecil — pahit, lirih, menyayat — sebelum akhirnya tubuhnya ambruk duduk, seakan segala beban itu terlalu berat untuk ditahan berdiri. Sesak, dadanya sangat sesak.
“Apa semua ini sia-sia, Gav?” bisiknya lirih. “Apa aku… sebodoh itu?”
Dan keheningan datang. Bukan keheningan yang memberi ruang untuk mereka bernapas tetapi keheningan yang memeluk mereka dengan perasaan hampa. Hening yang membuat cinta pun terdengar seperti kebohongan. Karena orang yang selama ini ia yakini sebagai rumah, kini justru membuatnya merasa paling sendirian di dunia.
“Ganesha — ”
“Lebih baik aku mati saja.”
Seakan dunia terhenti, waktu membeku, udara disekitar ruangan mendadak berubah menjadi dingin. Dada Gavriel seketika sesak dan dalam detik itu, seluruh dunia terasa jatuh.
Tidak… Jangan bilang itu… Jangan bilang kamu sampai ke titik itu karena aku…
Wajah Ganesha yang penuh kelelahan, suara yang retak karena terlalu banyak menahan, semuanya menghantam Gavriel tanpa ampun. Ia merasa seperti ditelanjangi oleh kenyataan; bahwa ia bukan pelindung namun ia adalah penyebab akan segala yang terjadi di hidup Ganesha
Rasa marah dan benci tiba tiba menjalar begitu saja tanpa ampun dipikiran Gavriel. Bukan, bukan rasa bencinya kepada Ganesha. Namun yang ia benci sekarang adalah dirinya sendiri. Dirinya yang tak punya rencana. Dirinya yang menarik Ganesha ke dalam kegelapan tanpa tahu jalan keluar. Dirinya yang selama ini hanya bisa berkata “aku pengen kamu aman” tapi tak pernah tahu caranya.
Ia jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk. Genggamannya pada kenyataan mulai mengendur. “Maaf…” katanya lirih, putus asa. “Maaf kalau aku bikin kamu merasa hidup kamu tidak pantas diperjuangkan…”
Dunia memiliki hukumnya sendiri untuk mengatur kehidupan yang ada. Dunia memiliki peraturannya yang diturunkan dari generasi ke generasi, menciptakan batasan yang mengikat setiap langkah manusia. Tapi, apakah hukum ini benar-benar membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik? Atau justru menjadikannya sebagai kekuatan yang menindas, yang mengurung jiwa-jiwa yang hanya mencoba untuk hidup dengan cara mereka sendiri?
Ketika mereka dipaksa untuk mematuhi aturan yang tidak pernah mereka pilih, ketika dunia menilai mereka hanya dari apa yang tampak di luar, apakah itu menjadikan dunia lebih adil atau malah lebih kejam?
Dunia berkata, “Ikuti aturan, dan kamu akan diterima.” Tetapi di balik aturan itu ada ribuan jiwa yang tersakiti, yang dipaksa untuk bersembunyi, untuk menghapus apa yang mereka rasakan, hanya karena itu tidak sesuai dengan norma yang ada.
Gavriel dan Ganesha tahu betul bahwa dunia tidak akan pernah memberikan jawaban yang mereka cari. Dunia tidak peduli dengan rasa sakit mereka, tidak peduli akan cinta yang tumbuh di dalam hati mereka. Dunia hanya peduli pada aturan yang jelas. Aturan yang tidak pernah memberikan ruang untuk mereka. Lalu, apa arti semua aturan ini jika hanya menghasilkan penderitaan tanpa akhir? Apa gunanya dunia yang disebut “baik” jika setiap langkah menuju kebahagiaan harus dibayar dengan rasa takut dan penyesalan?
Hubungan mereka, yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan, namun terperangkap dalam kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apapun selain rasa takut dan kesedihan. Setiap kali mereka mencoba untuk melangkah maju, ada sesuatu yang selalu menghentikan mereka — sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua, yang selalu menarik mereka kembali ke dalam kesulitan yang lebih besar juga.
Tak ada tempat untuk berharap. Tak ada tempat untuk bermimpi tentang masa depan. Harapan mereka selalu datang dan pergi, seperti api yang berkobar hanya untuk dipadamkan oleh angin yang lebih kuat.
Mereka hanya bisa terus berlari — tanpa tujuan dan tanpa harapan yang jelas. Mereka tahu mungkin suatu saat mereka akan jatuh. Mungkin, mereka akan terperangkap selamanya dalam keputusasaan ini. Tapi untuk saat ini, mereka hanya bisa bertahan. Bertahan dalam kegelapan yang tak bisa dihindari, dalam dunia yang tidak akan pernah menerima mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Tidak ada yang bisa menolong mereka. Dan mereka hanya bisa berjalan, berdua, menatap ke depan tanpa tahu apa yang akan datang, tetapi juga tahu bahwa di balik semua itu, tak ada lagi tempat untuk pulang.
“Kita… akan pergi lagi, ya?”
메타데이터
- post_id
- 8a2a7baceec5
- slug
- dimana-tak-ada-nama-kita-8a2a7baceec5
- url
- https://medium.com/@gav_enyouky/dimana-tak-ada-nama-kita-8a2a7baceec5
- canonical_url
- https://medium.com/@gav_enyouky/dimana-tak-ada-nama-kita-8a2a7baceec5
- author_url
- https://medium.com/@gav_enyouky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 07:29:46