Yang Katanya Selamanya
Akankah, beberapa hal dapat dicapai secara bersama?
Yang Katanya Selamanya

Akankah, beberapa hal dapat dicapai secara bersama?
Sejujurnya, banyak kata yang selama ini menaungi pikiran atas “katanya”, banyak pula kalimat-kalimat yang membuatku bingung. Ini arahnya kemana dan kenapa alurnya jadi seperti ini. Hubungan yang selama ini kukira dapat membersamai, nyatanya tidak bisa. Aku memang menempatkannya tidak pada skala prioritasku yang paling utama, melainkan kesekian, karena yang paling utama tentu saja orang tuaku.
Lalu, apa yang harus ku lakukan atas permintaan yang ternyata ia tidak bisa membersamai karirku yang selama ini telah kususun dan sekarang aku telah berada di tengah jalan menuju apa yang ingin ku gapai. Semua yang telah kuusahakan rasanya sia-sia bila ia harus menjadi prioritas yang paling utama diatas segala hal yang tengah kuusahakan atas nama Ayahku.
Aku pernah membaca bahwa cinta dan karir memang tidak bisa bersama. Kali ini aku rasanya setuju, perihalnya adalah sudut pandangnya apakah memungkinkan untuk saling mendukung satu sama lain. Dan apakah akan berkeinginan untuk saling mendukung satu sama lain. Nyatanya, beberapa kali kudapati tidak, prioritasku sudah bukan soal cinta dan asmara sejenisnya. Melainkan hidup di Indonesia saja rasanya menjadi beban yang paling berat untuk dipikul. Mungkin, tidak untuk kali ini. Aku sedang membangun, membangun hal tidak ku miliki sejak lahir. Membangun apa yang akan membuatku tidak menyesal di masa depan nantinya.
Meski, sedih bila itu terjadi, namun hidupku akan tetap berjalan sesuai takdir. Aku masih harus bangun pagi, makan, kuliah, rapat, dan ikut kegiatan eksternal lainnya. Hidupku akan terus berjalan meski bukan untuk perihal cinta. Aku hidup untuk diriku sendiri, aku sampai dititik ini juga untuk diriku sendiri. Bonusnya, aku mendapat dukungan dari orang tuaku setelah 3 tahun pula aku meyakinkan mereka. Bonusnya, asmara hanyalah toping hidup yang mengindahkan perjalanan hidupku, namun bila itu ternyata menyesakkan, kenapa aku harus terjebak dalam hal yang tidak menjadi prioritas hidupku.
Kisah cinta memang akan selalu best seller bagi kehidupan orang-orang. Namun, bagiku, yang belum memiliki apa-apa. Disaat aku sedang membangun apa yang sedang kuusahakan untuk masa depan, maka logikaku yang akan berjalan. Ia bukan lagi prioritas yang menjadikanku tempat menemukan hal yang menjaminku di masa depan. Ia juga bukan tujuan utamaku untuk hidup dan terus bertahan sejauh ini.
Hidup yang sebenarnya lebih rumit, lebih menyedihkan, lebih sakit dari novel atau film yang kita lihat dalam media digital dan cetak. Itu hanya romantisasi saja. Sejak kuliah, hanya diriku yang berkembang dengan berbagai dusut kemanusiaan yang terus kupertanyakan kepada dunia. Jangankan untuk memikirkan hal-hal romantis, dunia justru membebankan pada pundak “akankah kamu tetap hidup di masa sekarang?”
Ahahaha, logikaku sudah bermain bersamaan dengan naluriku. Maka, jika ingin selesai, selesailah.
Jika dengan ini adalah hal yang patut untuk di relakan, maka sudahi saja.
메타데이터
- post_id
- 8a3ad2ba8db3
- slug
- yang-katanya-selamanya-8a3ad2ba8db3
- url
- https://medium.com/@aesci/yang-katanya-selamanya-8a3ad2ba8db3
- canonical_url
- https://medium.com/@aesci/yang-katanya-selamanya-8a3ad2ba8db3
- author_url
- https://medium.com/@aesci
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13