← Back to list

⚗️: Miskonsepsi dalam Pembelajaran Kimia di Sekolah (Pt.2)

Alo, mijn vriend! How’re u? How’s ur day? :) I hope u always fine and health.

Elvis Maharani · 2026-07-08 13:54 · 0 claps · 3.3 min read
#misconception #chemistry #chemistry-education
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧪 · Chemistry 🎮 · Gaming

⚗️: Miskonsepsi dalam Pembelajaran Kimia di Sekolah (Pt.2)

Alo, mijn vriend! How’re u? How’s ur day? :) I hope u always fine and health.

Kali ini aku akan melanjutkan pembahasan mengenai beberapa miskonsepsi yang sering dijumpai dalam pembelajaran kimia di sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan edukasi agar tidak terjadi lagi kesalahan dalam memahami konsep-konsep kimia yang ada.

Ukee, langsung saja! :D

Miskonsepsi 3: Jari-jari atom adalah jarak antara inti atom dengan elektron valensi ❌

Tahukah kamu, definisi jari-jari atom sebagai jarak antara inti atom dengan elektron valensi sudah tidak relevan. Definisi tersebut masih bisa diterima hanya saat perkembangan teori atom Bohr saja.

Jari-jari atom (berlandaskan teori Bohr)

Jari-jari atom (berlandaskan teori Bohr)

Akan tetapi setelah munculnya teori mekanika kuantum, maka sudah tidak relevan. Mengapa? karena menurut teori mekanika kuantum, posisi elektron tidak dapat ditentukan secara pasti, yang bisa ditentukan hanyalah daerah yang paling boleh jadi menemukan elektron di sana yang disebut sebagai orbital.

Jenis-jenis orbital elektron dalam atom (sumber: science20.com)

Jenis-jenis orbital elektron dalam atom (sumber: science20.com)

Maka berdasarkan fakta tersebut, menjadi mustahil untuk dapat mengukur jari-jari atom secara pasti. Sehingga digunakanlah pendekatan yang lebih tepat untuk mendefinisikan jari-jari atom, yaitu jari-jari kovalen dan jari-jari Van der Waals.

Penentuan jari-jari kovalen didasarkan pada panjang ikatan kovalen dalam molekul kovalen. Sehingga jari-jari atomnya adalah setengah jarak antar inti kedua atom sejenis yang berikatan kovalen.

Jari-jari atom menurut pendekatan jari-jari kovalen

Jari-jari atom menurut pendekatan jari-jari kovalen

Adapun penentuan jari-jari Van der Waals didasarkan pada interaksi Van der Waals antarpartikel sejenis. Sehingga jari-jari atomnya adalah setengah jarak antar inti kedua partikel sejenis yang mengalami interaksi Van der Waals.

Jari-jari atom menurut pendekatan jari-jari Van der Waals

Jari-jari atom menurut pendekatan jari-jari Van der Waals

Jadi, jari-jari atom tidak lagi didefinisikan sebagai jarak antara inti dengan elektron valensi, yep! ^^ Dan dari hal ini kita belajar bahwa sains itu bersifat tentatif, artinya dapat berubah, diperbaiki, ataupun disempurnakan sesuai bukti dan data ilmiah terbaru yang lebih kuat. Jadi, sebagai pembelajar, kita harus berlatih berpikir terstruktur, meletakkan konsep dalam sistem kognitif kita sesuai temuan yang paling mutakhir.

Miskonsepsi 4: Hukum Kekekalan Massa tidak berlaku di sistem terbuka❌

Salah satu keteraturan alam yang membuatku takjub terhadap ciptaan Allah adalah hukum kekekalan massa yang dicetuskan oleh Antoine Laurent Lavoisier (i’ve a little memory of how to call “la vwah see yay” instead of “lavoase” kkakaka T_T). Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh Lavoisier, ia menemukan suatu keteraturan bahwa massa zat reaktan dan produk selalu sama. Artinya, jika massa reaktan yang bereaksi adalah x gram, maka produk yang dihasilkan juga akan sebanyak x gram.

Akan tetapi, aku pernah bingung dengan fakta reaksi yang terjadi di sistem terbuka.

Pembakaran kayu (sumber: istockphoto.com)

Pembakaran kayu (sumber: istockphoto.com)

Misalnya, beberapa ranting kayu yang massanya 0,5 gram dibakar di ruang terbuka sampai menjadi jelaga. Ternyata ketika jelaganya ditimbang, massanya kurang dari 0,5 gram. Apakah dalam kondisi ini hukum kekekalan massa tidak berlaku? Jawabannya, tetap berlaku. Hanya saja, sebagian besar massa kayu berubah menjadi gas CO₂ dan H₂O yang lepas ke udara dan tidak ikut diperhitungkan massanya, maka dari itu kelihatannya seperti hukum kekekalan massa tidak berlaku disini, padahal tetap berlaku.

Miskonsepsi 5: Larut berarti mengalami reaksi kimia❌

Nah, ini adalah miskonsepsi yang sering ku jumpai dalam beberapa contoh LKPD yang ku temukan di internet. Tidak semua reaksi pelarutan termasuk reaksi kimia. Dikatakan reaksi kimia jika terjadi pembentukkan zat baru, misalnya reaksi pembakaran (kayu berubah jadi jelaga dan gas), pengkaratan (besi berubah menjadi senyawa karat), pembusukan, pelarutan NaOH dalam HCl menghasilkan NaCl dan H₂O, dll. Adapun reaksi seperti pembuatan larutan gula, garam itu bukan reaksi kimia melainkan reaksi fisika, karena identitas zatnya tetap sama, yang terjadi hanyalah perubahan wujud zatnya/penyebaran partikel-partikel zatnya dalam pelarut.

Reaksi pelarutan garam:

Garam natrium klorida (NaCl) hanya terurai menjadi ion-ion penyusunnya.

Garam natrium klorida (NaCl) hanya terurai menjadi ion-ion penyusunnya.

Reaksi pelarutan gula:

Gula hanya berubah penyebaran molekul-molekulnya dari yang semula sangat rapat (wujud zatnya solid) menjadi renggang (wujud zatnya aquos)

Gula hanya berubah penyebaran molekul-molekulnya dari yang semula sangat rapat (wujud zatnya solid) menjadi renggang (wujud zatnya aquos)

Jadi, jangan sampai salah yep! :D

Nah itulah tadi beberapa miskonsepsi kimia yang cukup umum terjadi. Semoga bermanfaat buatku, buatmu, dan buatnya.

See u next in my next yappin, dadah! ฅʕ•̫͡•ʔฅ

[2026, Jul 8 | 08.51pm]


메타데이터
post_id
8a555549e0c2
slug
️-miskonsepsi-dalam-pembelajaran-kimia-di-sekolah-pt-2-8a555549e0c2
url
https://medium.com/@elvismaharani/%EF%B8%8F-miskonsepsi-dalam-pembelajaran-kimia-di-sekolah-pt-2-8a555549e0c2
canonical_url
https://medium.com/@elvismaharani/%EF%B8%8F-miskonsepsi-dalam-pembelajaran-kimia-di-sekolah-pt-2-8a555549e0c2
author_url
https://medium.com/@elvismaharani
status
ok
fetched_at
2026-07-09 20:42:47