← Back to list

Hidup Manusia Usia QLC dimana Pengaruh Digital Menggerogoti Langkahnya

Dunia digital tak melulu soal hambatan. Mindset yang benar dalam perkembangan digital membuat hidup menjadi lebih baik. Namun, apa benar…

Khonsaamuj · 2026-03-23 01:19 · 0 claps · 2.4 min read
#digital #growth-mindset #aware
Open on Medium ↗

Hidup Manusia Usia QLC dimana Pengaruh Digital Menggerogoti Langkahnya

Dunia digital tak melulu soal hambatan. Mindset yang benar dalam perkembangan digital membuat hidup menjadi lebih baik. Namun, apa benar itu yang dirasakan pemuda yang sadar pertumbuhannya diikuti oleh dunia digital? Mari menyelami buah pikiran pemuda QLC yang hampir di setiap langkahnya ditemani dunia digital.

Saya mengambil definisi rentang usia Quarter Life Crisis (QLC) dari ahli psikologi Zein Permana. Rentang usia QLC dimulai dari umur yang selisihnya 3 tahun baik ke atas maupun ke bawah dari usia 25 tahun, artinya usia QLC adalah usia 22–28 tahun. Langkah awal sebelum menginjak fase QLC mungkin adalah hal yang penting.

Pemuda menjelang fase QLC tak dipungkiri memiliki semangat yang luar biasa. Mereka mengeksplor sana-sini, mencari tempat untuk eksistensi diri, dan menguji pengaruh kendali diri. Namun, pemuda yang fase menjelang QLC-nya diterjang epidemi covid merasa digiring oleh situasi yang sama sekali berbeda. Mereka mencoba bertahan dan belajar. Mereka mendapat perayaan legal day pada saat pandemi covid melanda.

Legal day di Indonesia adalah hari dimana seseorang yang sudah lewat 17 tahun fan bisa tercatat sebagai penduduk yang bertanggung jawab. Realita kehidupan baru saja akan dihadapinya tetapi anjuran untuk mengisolasi diri membuat mereka terpaksa melihat dunia lewat layar kaca gadget. Semua teman dan orang penting dalam hidup mereka available di whatsapp, line, dan aplikasi lainnya. Dunia menggeser prioritas mereka ada di dunia maya.

Dunia maya atau yang lebih luasnya lagi dunia digital sebenarnya bukan hal yang asing karena chat bbm muncul juga ketika mereka ada di sekolah dasar. Namun, permasalahannya adalah dunia realita yang mereka hadapi itu berubah menjadi dunia digital. Di saat itulah standar hidupnya bergeser secara total. Setidaknya, inilah tiga poin yang mereka sadari di usia QLC setelah sebelumnya sempat terpaksa banyak di rumah sebagai anjuran melewati epidemi covid.

  1. Menghilangnya role model di dunia nyata

Khusus dalam pandangan mereka, role model yang ideal itu ada di dunia maya. Kenyataannya, manusia memiliki sisi kejam dan sisi malaikat (yang kalau dikendalikan maka akan keluar pada situasi yang pantas). Namun, karena itu pula mereka sangat pemilih. Mereka mengagumi tokoh-tokoh dengan pencitraan yang selalu baik dan sulit melihat orang dewasa di sekitarnya yang mencontohkan kebaikan disertai kebijakan.

  1. Peluang yang banyak membuat daya juang terbagi

Informasi peluang tentang pengembangan diri, kuliah, kerja, berkarya, perawatan, dan lainnya membuat mereka menganggap peluang tersedia begitu banyak. Pemuda berpikir akan bisa mendapatkan semua kemahiran itu kalau mau mencoba. Nyatanya, manusia butuh waktu untuk menjadi expert, dipercaya, dan dikatakan sebagai ahli. Tak pernah ada yang instant di dunia ini bahkan bayi lancar berjalan setelah berbulan-bulan belajar dengan sesekali terjatuh dan berpegangan. Perasaan aman dengan peluang yang banyak inilah yang membuat mereka jarang merasakan daya juang tinggi untuk fokus pada suatu hal.

  1. Standar media sosial yang dicek secara berkala

Titik baru hidupnya diputuskan dengan ditemani oleh media sosial. Pertimbangan akan konsekuensi dari jalur hidup baru diambilnya dari media sosial karena generasi mereka terhubung lewat sana. Usai mendapat pencapaian atau pengalaman mereka akan mengunggahnya di media sosial dengan berbagai alasan, misal sebagai pembelajaran bagi yang lain, sebagai kabar untuk teman-teman, sebagai kenangan jejak digital dan lain sebagainya. Lantas, hal itu membuat fenomena FOMO riskan mengakar ke dalam hati-hati pemuda QLC.

Tiga poin tadi memerlukan refleksi terhadap pola pikir dan pola perilaku yang selama ini dilakukan. Satu-satunya cara untuk mengakui hal negatif ini adalah dengan kesadaran. Perilaku tersebut mungkin keluar dari cara hidup alamiah manusia yang selama ini terbukti berhasil eksisten. Langkah selanjutnya adalah dengan memperbaiki hal yang salah dan sebisa mungkin belajar tentang realita kehidupan nyata yang ada.

Kesadaran dicari dari dalam diri dan bukan dari kesadaran orang lain yang biasanya tidak awet dijadikan motivasi. Dunia digital adalah tools untuk memperluas wawasan namun bukan menjadi core bagi peningkatan kualitas dan kedamaian hidup. Perbaikan hidup itu utamanya tetap ada di dunia nyata yang dibersamai dengan orangtua, para guru, teman seperjuangan, dan diri sendiri.


메타데이터
post_id
8a68e8dd7861
slug
hidup-manusia-usia-qlc-dimana-pengaruh-digital-menggerogoti-langkahnya-8a68e8dd7861
url
https://medium.com/@khonsaamuj/hidup-manusia-usia-qlc-dimana-pengaruh-digital-menggerogoti-langkahnya-8a68e8dd7861
canonical_url
https://medium.com/@khonsaamuj/hidup-manusia-usia-qlc-dimana-pengaruh-digital-menggerogoti-langkahnya-8a68e8dd7861
author_url
https://medium.com/@khonsaamuj
status
ok
fetched_at
2026-06-22 17:31:34