Sebelum Hari Merah Datang
Photo by Bernd 📷 Dittrich on Unsplash
Sebelum Hari Merah Datang
Photo by Bernd 📷 Dittrich on Unsplash
Tujuh hari sebelum 'hari merah' itu tiba, gravitasi seolah berkhianat. Kepalamu berdenyut—bukan sekadar pening biasa, melainkan semacam alarm peringatan dari alam bawah sadar.
Hasrat untuk sekadar melangkah ke luar atau menyesap kopi sambil berbasa-basi mendadak menguap. Segala hal di sekitarmu, entah kenapa, berubah wujud menjadi ancaman tak kasatmata. Kau mulai memasang kuda-kuda, merapatkan barikade di balik pintu depan demi menyambut si 'tamu bulanan'. Padahal kau sangat hafal konsekuensinya: begitu ia mengetuk, kau akan bertransformasi menjadi monster dari mitologi paling mematikan yang siap mengunyah siapa saja.
Ketika ada yang lancang bertanya, "Kau kenapa?", bendungan itu jebol. Kau memuntahkan segalanya. Mulai dari rekan kerja yang kelewat menyebalkan, karier yang terjebak di jalan buntu, silsilah keluarga yang tak pernah absen dari disfungsi, hingga romansa tragis di mana lelaki itu lebih suka menempatkanmu di etalase 'sekadar teman'. Kau menuding semesta, melaknat keadaan. Semuanya terasa bagai luka yang disiram cuka.
Di tengah gemuruh dengan racauan dikepala, kau memeluk kekacauan itu—bahkan sampai pada titik di mana kau mengutuki setiap dosa kecil yang pernah kau lakukan di masa lalu.
Kau mulai merasa seperti lelucon. Berdiri di depan cermin, bayangan pantulanmu memicu rasa muak yang tak tertahankan karena angka timbangan dan diet yang berantakan. Tapi di detik yang sama, perutmu meraung kelaparan, menuntut untuk melahap seluruh isi kulkas dengan beringas. Seperti siklus yang sudah-sudah, fase ini adalah musim dingin yang kejam. Kau bertahan layaknya mamalia yang bersiap hibernasi; menyusun benteng pertahanan mandiri.
Kau menjaga jarak, mengatur napas agar tak melukai siapa pun, meski ujung lidahmu sudah gatal ingin menyemburkan api jika ada satu saja manusia yang berani mengusikmu secara terang-terangan.
Logika mengabur. Kau kembali muak. Kembali lenyap dalam kepalamu sendiri. Pada akhirnya, saat lelah selesai menggerogoti kewarasan, kau hanya mendamba lelap. Semangkuk buah kau telan paksa, sekadar penawar rasa bersalah usai pesta rakusmu barusan. Di titik itulah, kau mematung di depan layar, membiarkan serial Netflix memutar episode demi episode sebagai pelarian paling banal. Kau menatap layar itu sendirian, menyadari bahwa di dunia nyata, teman-temanmu terlalu sibuk dengan naskah kehidupan mereka sendiri untuk menyadari bahwa kau sedang lelah berperang melawan dirimu sendiri.
메타데이터
- post_id
- 8a6aa2d6f115
- slug
- sebelum-hari-merah-datang-8a6aa2d6f115
- url
- https://medium.com/@raawani/sebelum-hari-merah-datang-8a6aa2d6f115
- canonical_url
- https://medium.com/@raawani/sebelum-hari-merah-datang-8a6aa2d6f115
- author_url
- https://medium.com/@raawani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 12:55:45