Menari di Atas Kaca, Terasing di Dalam Dada
Raksasa cahaya dan penari-penari yang kehilangan rasa.
Menari di Atas Kaca, Terasing di Dalam Dada
Raksasa cahaya dan penari-penari yang kehilangan rasa.

Art by Studio Ghibli (ghibli.jp) Whisper Of The Heart︱Frame by apoteker kecil.
Tik… tik… tik…
Simfoni ibu jari memulai malamnya.
Bunyi itu bukan gemericik hujan di atas seng, melainkan jemari yang tekun mengusap cermin-cermin saku — akuarium kecil tempat manusia memelihara sepi agar tampak seperti bahagia. Dari kejauhan, suara itu terdengar seperti kehidupan yang sedang tumbuh. Padahal, mungkin hanya kesunyian yang sedang belajar berganti pakaian.
Malam datang setenang debu yang turun dari rak tua.
Selembut tangan perempuan pertama yang dahulu menjaga demam dan mimpi-mimpi anaknya agar tidak terjatuh dari selimut. Udara berbau senja. Ada sisa cahaya yang menggantung di ujung atap rumah, seakan matahari belum rela beranjak sebelum memastikan semua hati baik-baik saja.
Dahulu, ketika sore masih berbau tanah dan seragam sekolah yang dijemur di halaman, kebahagiaan hanyalah rumah kardus yang didirikan di sudut belakang. Atapnya miring, dindingnya mudah roboh. Namun tawa yang tinggal di dalamnya sanggup menjaga sisa terang yang terlambat menutup kelopak langit.
Betapa anehnya, yang rapuh pernah menjadi tempat paling aman bagi jiwa.
Kini, Pelita pertama rumah itu masih memanggil buah hatinya dengan nada yang sama seperti bertahun-tahun silam. Akan tetapi, yang menjawab hanyalah kelopak mata yang tenggelam pada kotak penelan waktu. Di sisi lain meja, darah yang berasal dari rahim yang sama duduk bersebelahan, tetapi batinnya hanyut seperti sampan-sampan kecil yang kehilangan pelabuhan.
Begitulah jarak tumbuh — nyaris tak tampak, merayap tanpa bunyi di antara tembok-tembok rumah yang masih kokoh. Ruang tamu tetap menunggu dengan sabar, kursi-kursi masih setia saling menghadap, dan cangkir kopi masih mengepulkan napasnya yang paling pelan, seolah sedang merawat ingatan yang sama.
Segala sesuatu tampak patuh bertahan di tempatnya, kecuali manusia-manusia di dalamnya yang tak lagi tahu bagaimana caranya saling tiba.
Percakapan perlahan kehilangan tubuhnya.
Dan keheningan mulai mengenakan suara-suara yang pernah kita cintai.
Ada kalimat-kalimat yang tak lagi menemukan telinga untuk berlabuh, sementara tawa hanya mampir sebagai riasan di bibir, tanpa pernah benar-benar mencapai kedalaman dada. Manusia-manusia duduk begitu dekat, namun batinnya berjarak sejauh suara-suara lama yang perlahan lupa jalan pulang. Barangkali beginilah sunyi bertambah usia: mula-mula hanya seperti benang yang terlepas dari ujung baju, lalu tanpa disadari seluruh percakapan mulai terurai dengan sendirinya.
Setipis embun. Hampir tak terdengar. Hampir tak disadari.
Penduduk bumi telah dibawa menjauh oleh Raksasa Cahaya yang tidak memiliki wajah. Ia tidak datang dengan taring atau derap yang membuat tanah berguncang. Sebaliknya, ia menyusup sehalus kabut yang hinggap di jendela menjelang petang, lalu menitipkan sekawanan kunang-kunang buatan di telapak tangan manusia.
Dari sanalah ia menjalankan sihirnya yang nyaris tak terdengar; bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesabaran yang hampir disalahpahami sebagai kasih sayang. Dan seperti banyak hal yang datang dengan wajah paling lembut, tak satu jiwa pun benar-benar menyadari saat kehilangan mulai belajar mengeja namanya sendiri.
Maka, Begitulah ia mencuri. Sedikit demi sedikit. Mula-mula sepasang mata, lalu sepotong perhatian, kemudian suara-suara yang seharusnya ranum di meja makan. Hingga tanpa disadari, satu pelukan tertinggal di ambang pintu, satu sapaan berhenti di tenggorokan seperti surat yang tak pernah jadi dikirim, dan musim-musim yang seharusnya disimpan sebagai kenangan perlahan luruh.
Barangkali suatu hari nanti, ketika listrik padam dan seluruh langit kembali gelap, penduduk bumi akan mendengar sesuatu yang telah lama hilang.
Suara sendok diketukkan pelan ke bibir gelas yang mulai dingin. Denting tutup panci dari dapur yang belum sepenuhnya tertidur. Batuk kecil Ayah, selalu datang sebelum kata-kata, seperti salam lama yang telah dihafal rumah. Bunyi engsel pintu mengaduh lirih ketika satu hati pulang terlalu malam. Dan satu manusia menyebut nama kita dengan pelan, seolah takut kesedihan di dalam dada, yang akhirnya terlelap, ikut terbangun.
Lalu, di antara bunyi-bunyi kecil itu, ada sesuatu yang terdengar paling asing. Kesunyian yang berasal dari dalam dada kita sendiri.
Suara yang selama ini terkubur di bawah tik… tik… tik… simfoni sunyi dari penari-penari yang kehilangan rasa. Ketika segala sesuatu akhirnya kembali bersuara, tetapi kita telah terlalu lama hidup sebagai mayat-mayat bercahaya, hingga lupa bagaimana caranya mendengarkan.
Catatan dari zaman yang lupa menatap mata.
jaga badanmu, jaga hatimu
‘kata’ adalah pelukan hangat 💛🌻✨
— apoteker kecil —
메타데이터
- post_id
- 8a8b1db4ebab
- slug
- menari-di-atas-kaca-terasing-di-dalam-dada-8a8b1db4ebab
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/menari-di-atas-kaca-terasing-di-dalam-dada-8a8b1db4ebab
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/menari-di-atas-kaca-terasing-di-dalam-dada-8a8b1db4ebab
- author_url
- https://medium.com/@apotekerkecil
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49