from a stranger #1
Jay masuk ke dalam flatnya dengan langkah gontai. Badannya luar biasa lelah dan punggungnya terasa sangat pegal setelah seharian menunduk…
from a stranger #1

Jay masuk ke dalam flatnya dengan langkah gontai. Badannya luar biasa lelah dan punggungnya terasa sangat pegal setelah seharian menunduk untuk berkutat dengan kondimen-kondimen kecil di atas working table. Ia melepas sepatu dan ranselnya, menyimpan mereka pada lemari kecil di samping pintu. Kamarnya terasa sunyi sekali, tidak ada musik samar-samar dari kamar sebelah seperti biasanya. Kin, gadis keturunan Vietnam-Amerika yang tinggal di sebelah kamarnya, sepertinya sedang tidak ada di flatnya.
Jay berjalan menuju dapurnya sembari menggulung lengan turtleneck tipis yang ia kenakan hingga siku, kemudian mencuci tangannya pada kitchen sink dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia lalu membuka kulkas dan mengeluarkan botol kaca besar berisi air lemon, stroberi dan daun mint. Ia menuang isinya memenuhi gelas yang ia ambil dari kabinet di atas meja kompornya. Air dingin yang terasa asam dan segar itu membuatnya mendesah senang, merasa hidup kembali setelah mengendarai sepedanya dari tempat ia bekerja.
“Fuck, that hits the spot.”
Setelah membereskan minumnya, ia masuk ke dalam satu-satunya kamar tidur di dalam flat itu. Tangannya dengan cepat menemukan saklar lampu di sisi kiri pintu, menekannya di satu sisi dan membiarkan kamarnya dipenuhi cahaya hangat. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu melepaskan kalungnya dan menaruhnya di tempat yang sama. Ia membuka jendela kamarnya sedikit, membiarkan udara malam bulan Mei masuk ke ruangan itu. Tubuhnya terasa lengket sekali, rambutnya beraroma seperti campuran asap hidangan laut, gorengan, dan sedikit vanila juga sandalwood dari sisa parfum yang ia semprotkan tadi pagi.
Ia memandang ke luar sejenak, menikmati langit malam dari jendela kamarnya yang berada di lantai tiga. Tubuhnya terasa begitu lelah dan matanya berat sekali. Jay ingin segera mandi. Namun, ia juga ingin memberikan dirinya waktu untuk tenggelam dalam suasana sepi kamarnya, membiarkan hidupnya yang sibuk untuk berhenti sejenak. Lima menit. Sejak setahun lalu, cukup lima menit waktu yang ia janjikan pada dirinya untuk menikmati sepi — sebab sepanjang hidupnya ia lebih sering merasakan kesepian, bahkan di tengah ramai pertengkaran keluarganya.
It’s in the pass. I’m here in the present.
Mantra itu sederhana. Namun, Jay memegangnya teguh seperti janji kepada dirinya sendiri untuk memaafkan masa lalu, melupakan mereka untuk pulih dari luka yang ditanamkan keluarganya di dalam darah dan tulangnya. Ia tidak membenci mereka. Jay pernah menyayangi ayah, ibu, dan kakaknya sepenuh yang ia mampu. Menyayangi mereka dan membiarkan dirinya habis terbakar oleh rasa sayang itu sendiri; lukanya membekas dan mungkin akan ia bawa mati.
Namun, kini ia sudah meninggalkan rumah itu. Ia memilih dirinya sendiri, memilih mimpinya yang nyaris berkarat oleh tuntutan dan ekspektasi. Mungkin hidup akhirnya merasa iba, mengasihaninya dan memberinya waktu untuk sembuh. Maka, sejak lima tahun lalu Jay mulai mendengarkan dirinya dengan sungguh-sungguh; tentang apa yang ia mau, apa yang membuatnya bahagia, apa yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri, juga sebesar apa ia mampu memberikan cintanya pada seseorang atau sesuatu tanpa melupakan dirinya.
Jay mempunyai banyak sekali cinta dalam dirinya, terkadang ia kesulitan untuk menampungnya. Maka, dulu ia memberikan cintanya yang nyaris tumpah ruah itu untuk keluarganya. Semua, tanpa sisa. Bahkan tidak untuk dirinya sendiri. Namun, jauh dari rumah membuatnya belajar untuk mencintai dengan cukup dan memaafkan dengan lapang — tak terkecuali untuk dirinya.
Jay menghela napasnya berat, sebuah senyum tipis menghiasi wajah tajamnya kala mendengar gelak tawa samar dari beberapa remaja di bawah sana, mungkin mereka sedang berjalan pulang setelah bersenang-senang atau mungkin mereka baru saja meninggalkan rumah untuk pergi ke salah satu bar di dekat sana. Jay cukup bahagia mengetahui masih banyak orang yang menjalani akhir pekan dengan bersemangat. Dan ia cukup puas dengan kasurnya yang hangat karena ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk berinteraksi dengan manusia mana pun setelah seharian memberi makan puluhan orang.
Lima menitnya sudah habis. Jay segera menutup kembali jendela kamarnya. Ia membuka turtleneck yang ia kenakan, membiarkan tubuhnya terpapar sisa udara musim semi di Brooklyn. Jika membayangkan mandi dengan air hangat saja sudah membuatnya merasa lebih bahagia, membayangkan tidur hingga esok siang membuat lelahnya berkurang secara signifikan.
Ia benar-benar berharap tak ada yang menggangu hari Minggunya besok.
Ia sendirilah yang mengganggu hari Minggunya.
Jay mengerang keras mendengar suara alarm dari ponselnya yang sangat mengganggu. Ia menarik selimut tebalnya menutupi wajah, mengerang lebih keras lagi ketika menyadari ponsel sialan itu tak akan mematikan dirinya sendiri. Ia mengeluarkan satu tangan dari selimut dan meraba-raba nakasnya untuk mencari ponsel berisik itu. Jay mengutuk otak lelahnya semalam yang lupa untuk menonaktifkan fitur alarm yang ia buat otomatis aktif setiap hari.
Ia tak akan bisa tidur lagi.
Kebiasaannya sejak dua tahun lalu adalah tidak pernah kembali tidur setelah bangun di pagi hari. Kebiasaan itu terbentuk setelah ia terlambat datang ke restoran di masa tiga bulan percobaan kerjanya dan nyaris membuat berkilo-kilo langoustine tercinta Yoongi tak bisa digunakan karena tak segar lagi. Yoongi tidak memakinya — koki eksekutif itu adalah koki paling baik yang pernah Jay temui hingga sekarang — dan hanya mengingatkannya untuk tidak pernah terlambat lagi tanpa memberitahu rekan kerja lainnya atau masa percobaan tiga bulannya akan gagal.
Namun, Taehyung, executive sous chef di restoran itu, yang kebetulan datang lebih pagi dari seharusnya, murka sekali. Ia mengajak Jay bicara berdua di ruang pegawai yang ia kunci dari dalam, tidak ingin siapa pun mengganggu obrolan mereka berdua. Taehyung hanya memarahinya dengan nada rendah dan tenang, berusaha menggunakan suara sepelan mungkin agar hanya mereka yang bisa mendengar dan tidak menimbulkan kegaduhan. Tidak ada kata kasar yang keluar dari bibir ranumnya. Namun, Jay bisa merasakan amarah yang menggelegak dari setiap kata yang ia desiskan.
“Kita harus menghubungi semua orang, yang sudah repot-repot melakukan reservasi satu-dua bulan lalu hanya untuk makan udang cincang malam ini, kalau saja aku tidak memutuskan untuk datang lebih pagi.” Jay masih ingat suara berat Taehyung yang mengingatkannya pada desis ular paling berbisa.
“Dan kita akan mengecewakan puluhan orang itu, mungkin merusak hari penting yang sudah mereka rancang sejak lama hanya karena kau bangun kesiangan dan semua langoustine Yoongi tidak lagi memenuhi standar Anchor. Yoongi mungkin tidak memakimu, tapi bukan berarti ia tidak marah.”
“Kau sangat berbakat dan aku yakin kau tidak ingin empat kotak langoustine itu menghancurkan kesempatanmu untuk berada di sini.” Jay juga masih ingat bagaimana ia menangis sendiri di dalam ruangan itu setelah Taehyung keluar dan menutup pintunya dengan amarah yang sudah tidak bersisa, juga sebuah kata maaf yang membuat Jay merasa luar biasa bersalah. “I’m sorry I was too harsh. But, bad langoustines is not a cool reason to get fired this early, alright? I’ll give you five minutes to calm yourself, then you can go back to your station.”
Jay menghela napasnya mengingat bagaimana ia akhirnya menjadikan Taehyung sebagai mentornya setelah itu, menyukai bagaimana laki-laki tinggi itu terlihat begitu keras di luar. Namun, ia sebenarnya adalah sosok yang perhatian, ia adalah orang pertama yang menyadari betapa Jay membutuhkan posisi di dapur Anchor saat itu, juga orang pertama yang menyadari rasa kesepian Jay yang merantau ke Brooklyn seorang diri. Taehyung mengajarinya banyak hal tentang makanan, membimbingnya seperti seorang kakak yang tegas. Taehyung dan kekasihnya — yang merupakan executive pastry chef di Anchor — seringkali mengajaknya keluar di hari libur mereka. Mereka tidak ingin membiarkan Jay merasa seperti orang asing di kota ini, mereka dengan gencar mengenalkannya pada banyak orang setelah ia resmi menjadi salah satu molecular gastronomy chef tetap di Anchor.
Jay menyibakkan selimutnya dengan kasar. Ia merasa kesal karena otaknya tidak bisa berhenti mengingat berbagai hal dan membuatnya tak bisa tidur lagi. Ia lalu bangkit dari posisi tidurnya, duduk di pinggir ranjang dan berjengit kaget ketika kakinya menginjak lantai yang dingin. Musim panas hampir tiba, tapi udara malam musim semi terkadang masih terasa dingin sekali. Ia kembali menaikkan kakinya ke atas kasur, bersila selama beberapa saat di sana dengan mata mengantuk dan rambut berantakan sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun dan membuat sarapan.
Ia mungkin adalah seorang koki di luar sana. Namun, di flatnya yang tidak seberapa luas ini, ia hanyalah seorang laki-laki dua puluh delapan tahun yang tinggal sendirian dan memasak dengan bahan makanan seadanya. Tidak ada teknik khusus dan cairan kimia, tidak ada bahan makanan mahal yang di impor dari tempat lain, tidak ada apron elegan yang membentuk tubuh rampingnya. Ia hanya perlu mengaduk adonan panekuk instan dan sebutir telur, lalu mencampurnya dengan potongan tipis pisang dan cacahan kasar berbagai buah beri beku. Sembari memasak panekuknya, ia juga mencampurkan pisang beku, stroberi segar, satu scoop oat, sedikit bubuk protein, satu sendok makan selai kacang, dan sedikit air kelapa ke dalam blender smoothie.
Jay baru saja mematikan kompornya dan meletakkan satu piring panekuk hangat di atas kitchen island dengan segelas smoothie lezat ketika seseorang mengetuk pintu flatnya. Ia menyahut keras saat orang di balik pintu memanggilnya, memintanya untuk menunggu karena saat ini ia masih mengenakan celana tidurnya yang, err, tidak terlihat pantas untuk menerima tamu. Ketika ia membuka pintu, Jake sudah berdiri di sana, tersenyum secerah matahari bulan Juni sambil menenteng satu set rantang dan sebuah kotak makan yang cukup besar berisi makanan yang mulai tercium harumnya.
“Hi, Jake!”
Ia tidak tahu mengapa suaranya melembut ketika menyapa laki-laki manis di depannya, juga tidak mengerti mengapa sebuah senyum tipis secara tiba-tiba menarik sudut bibirnya. Namun, Jay selalu tak bisa mengendalikan dirinya di hadapan Jake sejak beberapa bulan lalu. Laki-laki itu terlalu menggemaskan. Jay seolah dapat melihat telinga panjang seekor golden retriever dan kibasan ekor lebat penuh semangat setiap kali anak dari pemilik flatnya itu berbicara — tentu saja dengan semua orang.
“Hi! I bring you breakfast,” ucapnya antusias. Jake mengintip sekilas ke dalam flatnya dan Jay menyadari kalau laki-laki itu sedikit menggigil. “Can I come in, please? It’s a little cold here.”
Jay segera membuka pintunya begitu melihat senyum memohon di wajah Jake. “Sure, come in!”
“Oh, you made pancakes!”
Jay yang sedang menutup pintu menoleh ke arah Jake yang kini berjalan menuju kitchen island untuk meletakkan makanan yang ia bawa. Jay mendekatinya, mengamati laki-laki yang kini sedang sibuk membongkar rantangnya. Jay menarik kursi bar di dekat Jake, meminta laki-laki itu untuk duduk terlebih dahulu. Jake menurut dengan senang hati.
“Ibuku membuat kimchi, pickled pink radish, spicy stir-fried octopus, dan bulgogi. Kau bisa menyimpan mereka di kulkas. Ibu juga membuat kepiting fermentasi, tapi aku tahu kau tidak suka,” jelas Jake. “Ibu juga membuat nasi goreng kimchi. Dan karena kau sudah membuat pancakes, kau bisa memasukan ini ke kulkas dan menghangatkannya di microwave untuk makan siang.”
Jay tersenyum hangat, mengapresiasi bagaimana Jake tetap menjelaskan dengan telaten cara menyimpan makanan-makanan itu meskipun ia mengetahui pekerjaan Jay sebagai seorang koki.
“Jadi tema minggu ini adalah masakan Korea, ya? Thank you, Jakey. I really appreciate it.” Ucap Jay tulus.
“Hey, don’t mention it. It makes my mom happy. Giving food, I mean,” sahut Jake tak kalah tulus. “Oh, Ibu memberimu lebih banyak porsi karena ternyata hanya kau yang berada di flat mulai hari ini hingga weekend.”
“Oh? That’s why Kin was so quiet last night.”
Jake tertawa menyahutinya. Ia kembali berkutat dengan kotak kimchinya, membukanya dan membiarkan seluruh ruangan itu beraroma seperti kimchi sawi yang pedas dan asam.
Seperti rumah.
Rumah yang terkadang masih ia rindukan. Namun, lebih sering ia syukuri ribuan kilometer jaraknya.
“You want some?” tawar Jay.
Tangannya sibuk membuka kabinet di atas kompor, mencari piring dan kotak-kotak makanan yang sengaja ia beli karena Hyejin, ibu Jake yang juga pemilik flat tempatnya tinggal, selalu memberinya stok makanan tiap akhir pekan pada minggu kedua dan keempat. Hyejin mengatakan bahwa berbagi makanan ke tetangga pada akhir pekan adalah sebuah tradisi keluarga yang sudah mereka lakukan sejak masih tinggal di Australia. Kini, makanan lezat Hyejin dibagikan kepada penghuni flat yang kebanyakan adalah pekerja muda kelaparan yang dengan senang hati menerimanya.
“Huh?” Jake terlihat bingung. “What?”
“Pancakes. You want some?” tawarnya lagi. Mulut laki-laki manis itu membentuk huruf ‘O’ sebelum akhirnya mengangguk lucu, terlihat senang luar biasa sambil menatap setumpuk panekuk hangat yang masih beruap. Jay terkekeh pelan, menutupi kegemasannya akan tingkah laku Jake yang seperti anak berusia lima tahun. “You can’t have the smoothie, tho. It has peanut.”
Jika Jay menyadari bagaimana daun telinga Jake perlahan memerah, ia pura-pura tidak melihatnya. Ia menyibukkan diri meletakkan tiga buah panekuk ke piring lain, lalu menambahkan cream cheese buatannya dua hari lalu yang ia ambil dari kulkas dan meletakkan piring itu di hadapan Jake yang kini sibuk membuka semua kotak makan milik Jay. Ada selapis darah di bawah pipinya yang putih, membuatnya merona tipis entah karena dingin atau karena Jay masih mengingat alerginya terhadap kacang yang pernah ia ucapkan sambil lalu.
“Biar aku yang pindahkan, kau bisa makan pancakesmu. Kau ingin minum sesuatu? Sepertinya aku punya cranberry juice di kulkas. Atau kau ingin kopi?” tawarnya lagi. Ia meraih kotak makan dalam genggaman Jake.
“Juice is fine,” sahut Jake. “Aku akan ambil sendiri nanti. Kau tidak makan? Ayo makan bersama selagi masih hangat? You cooked it.”
“Oke.”
Mereka makan dengan tenang, sesekali berbincang singkat tentang kota tempat mereka tinggal. Obrolan mereka bergulir seperti tetesan air; tentang Manhattan, atau tempat pizza baru di dekat restoran dumpling, dan pekerjaan mereka. Jake memiliki sebuah kedai kopi yang tidak terlalu jauh dari flat. Kedai itu terbilang cukup besar mengingat usia Jake yang hanya dua tahun lebih tua dari Jay. Matanya begitu hidup ketika menceritakan biji kopi barunya yang sudah datang kemarin.
“Imported from Indonesia, a place called Kintamani Island — if I am not mistaken — somewhere in Bali. It smells gorgeous. Aku belum pernah mencium aroma kopi yang seperti itu sebelumnya. Seperti perpaduan cokelat pekat dan earthy scent.”
Jay bergumam pelan, tidak terlalu mengerti bagaimana aroma bumi yang laki-laki itu maksud. Namun, ia bisa membayangkan aroma cokelat pekat pada kopi. Omong-omong soal cokelat, senyum kecil seketika menghiasi wajahnya yang menatap lurus ke arah Jake. Ia mengunyah panekuknya tanpa gairah, terlalu sibuk menghitung jumlah freckles cantik yang menghiasi pipi dan hidung tinggi laki-laki di hadapannya. Titik-titik cokelat kehitaman di atas kulitnya itu seperti konstelasi bintang di siang hari. Jay berdeham dan menunduk, pura-pura menusuk panekuknya dengan garpu untuk menyembunyikan tawa kecilnya, merasa konyol dengan perumpamaannya yang tidak masuk akal.
“So, Chef,” mulai Jake yang kini menopang wajah di atas meja. Senyum jenaka menghiasi wajahnya. Gorgeous, pikir Jay. Jake menatapnya dengan antusias. “How’s your masterpiece goin’?”
Jay mengerang sebal, meletakkan garpunya sembari melempar kepalanya ke belakang. Kali ini nafsu makannya benar-benar hilang.
Jake tertawa renyah sekali. Gelaknya terdengar seperti kepingan karamel legit yang dihancurkan oleh pastry chef Anchor dan ditaburkan di atas kue lemon harum untuk memberikan tekstur yang sempurna.
Sempurna. Manis dan legit. Tawa Jake.
“Enam per sepuluh. Yoongi benar-benar tak menggunakan hatinya di hadapan makananku. Ia mencicipi sedikit, mengatakan bahwa makananku bernilai enam per sepuluh, dan meletakkan sendoknya. Ia sama sekali tidak meliriknya lagi. No constructive criticism, nothing.”
Tawa Jake sudah reda. Kini hanya ada senyum hangat yang terasa seperti musim semi di wajah tampannya. “Artinya kau masih bisa mencoba. You still have, err, what? Two months?”
“One.”
“Right! A month. Thirty days! It’s plenty of time!”
“No, it’s not, Jake,” sanggah Jay. “Aku rasa makananku tak akan ada di menu bulan Juli.”
“No! Trust me, it will be there and everyone will love it. They’ll want to come back for more.”
Jay tersenyum lesu. Ia harap, ia benar-benar bisa mempercayai Jake.
Jay mengayuh sepedanya di sepanjang Whyte Avenue. Udara pukul delapan Kota Brooklyn masih terasa cukup segar memenuhi paru-parunya. Hari Minggu sebenarnya adalah hari libur untuknya. Ia bisa datang ke restoran sesuka hatinya untuk menyempurnakan menunya, pukul berapa saja. Tidak akan ada tatapan galak Taehyung yang menyambutnya bila ia terlambat datang di hari liburnya ini. Namun, ia tak ingin membuang-buang waktu untuk sekedar bermalas-malasan di atas tempat tidurnya dan menunggu matahari sudah terlalu tinggi untuk pergi ke restoran, mengingat resepnya yang masih dihargai 6/10 oleh Yoongi dua minggu lalu. Tak lama, ia berbelok menuju 47 South 5th Street yang akan mengantarnya pada sebuah bangunan restoran dengan pintu tinggi berwarna hitam. Tas dalam gendongannya terasa cukup berat. Ada sekotak bekal makan siang yang diantarkan Danielle ke flatnya tadi pagi.
Danielle Shim. Alih-alih disambut oleh senyum lebar Jake, pagi itu ia berhadapan dengan Dani ketika membuka pintu. Anak delapan belas tahun itu manis sekali. Ia berdiri malu-malu memeluk dua mangkok kertas berisi satu set nasi Hainan yang luar biasa harum. Pipinya yang juga penuh dengan freckles bersemu merah jambu ketika Jay membuka pintu flatnya. Ia tersenyum kecil melihat anak bungsu dari pemilik flat yang ia tinggali itu menarik sudut bibirnya dengan canggung.
“Hi, Jay?”
Jay membalas sapaannya dengan sopan saat itu, lalu langsung menerima dua mangkok kertas yang Dani sodorkan padanya dengan tergesa dan langsung berpamitan begitu saja setelah Jay mengucapkan terima kasih.
Kini makanan itu sudah berpindah ke dalam kotak bekalnya yang lebih aman dan berada di dalam tas punggungnya, siap untuk ia hangatkan saat makan siang nanti.
Tak sampai satu menit setelah belokan terakhir, ia tiba di depan sebuah bangunan dua tingkat berwarna hitam pekat yang letaknya tak jauh dari Williamsburg Bridge, Brooklyn. Sebuah tulisan ‘anchor’ berwarna putih kecil yang nampak begitu sederhana terpatri pada tembok selegam arang di samping pintu tinggi restoran; tapi bagi Jay sendiri, nama itu terasa begitu mewah mengingat ada dua bintang Michelin yang telah dianugerahkan kepada restoran itu.
Jay membuka pintu lain pada sisi kanan restoran, memasuki ruangan kecil yang cukup untuk memarkirkan maksimal sepuluh sepeda karyawan restoran tempatnya bekerja. Ia meletakkan sepedanya pada salah satu rak yang sudah disediakan, lalu menguncinnya agar aman. Ketika ia memasuki Anchor, Jay dapat melihat executive pastry chef Anchor, Jungkook, sedang berbincang santai dengan Felix, salah satu koki muda yang belakangan ini sedang tertarik dengan ‘proyek black currant’ yang sedang Jungkook sempurnakan untuk seasonal menu mereka.
“Jay! Kemari, coba ini!” Felix memanggilnya dengan antusias ketika mendengar langkah kaki Jay memasuki area dapur, menunjuk dua piring dessert cantik di atas meja.
“Morning, Chef!” sapa Jay. Jungkook membalas sapaannya dengan ramah. Oh, suasana hatinya sedang baik, pikir Jay. Ia lalu melangkah menuju ruang ganti karyawan setelah meminta Felix untuk menunggunya.
Jay menatap cermin di ruang ganti, memandang tubuhnya yang kini sudah berbalut sebuah jaket chef putih berlengan panjang dengan namanya terukir di dada sebelah kanan serta sebuah apron hitam berlogo Anchor yang diikat kencang pada pinggangnya. Ia menghela napas, menghentakkan pelan safety shoes yang telah menggantikan sneakersnya ke lantai untuk memeriksa kenyamanan.
Jay menghela napasnya dalam.
Sepertinya hari ini akan panjang dan ia sudah tak sabar ingin mencoba ‘mainan’ barunya yang tiba dua hari lalu.
Jay kembali ke flatnya pada pukul tujuh malam. Perutnya kenyang oleh seporsi Nasi Ayam Hainan — yang kebanyakan masuk ke perut ramping Felix — yang luar biasa lezat, dua porsi Black Currant Tart with Fresh Cheese ‘gagal’ buatan Jungkook, dan lima porsi Glass Potato and Black Eyed Peas Sphere miliknya yang belum sempurna. Harinya tidak terasa sepanjang yang ia bayangkan karena menunya hari ini mendapat nilai 8/10 dari Taehyung yang tadi sempat mampir untuk menjemput Jungkook pulang.
“Kau bisa kurangi champagne vinegar pada bayam ungumu. Rasanya sedikit terlalu dominan. Aku ingin rasa yang lebih lembut. Aku yakin Yoongi akan setuju,” komentar Taehyung ketika mencoba menu barunya tadi. Ia berpikir sejenak, memandang semua kondimen dalam piring Jay dengan alis bertaut dan melanjutkan, “Berapa lama kau merendam purplettes ini?”
“27 hours, Chef.”
“Make it 24 and it’ll be perfect. Sebenarnya kau juga bisa pertimbangkan lobak merah atau beetroot untuk mengganti kol ungu. Mereka tumbuh segar di kebun kita pada bulan Juni sampai akhir tahun. Yoongi akan sangat senang menggunakan bahan makanan lokal kita. Anchor mungkin bisa menyajikannya untuk menu bulan Juli bila bentuk spherenya tidak lagi mirip telur puyuh.”
Jay tersenyum puas mengingat kalimat Taehyung. Apabila makanannya benar disajikan musim depan, maka ini adalah karya pertamanya yang menduduki daftar menu Anchor setelah hampir tiga tahun bekerja di sana. Jay mengayuh sepedanya memasuki area tempat tinggalnya di 57 Metropolitan Ave, lalu memarkir sepedanya pada rak sepeda yang telah disediakan di depan bangunan flat. Di lobi, ia bertemu dengan Kin. Gadis Vietnam-Amerika yang bekerja di Antidote itu sedang memunguti beberapa lemon yang berserakan di lantai. Jay yang cukup akrab dengan Kin — mengingat kamar mereka yang bersebelahan — menyapa gadis itu.
“Hi! Jake menunggu di depan kamarmu,” balas Kin ketika melihatnya.
Jay membungkuk, mengambil beberapa lemon yang berada cukup jauh dari Kin dan memberikannya pada gadis itu. “Jake Shim?”
“Yup,” sahutnya. “Sepertinya ia membawa makan malam.”
“Huh? Tapi Dani sudah memberikan sarapan untukku tadi,” gumamnya cukup keras. Kin mengangkat bahunya tidak tahu sembari bangun dari jongkoknya.
“Entah. Mungkin kali ini bukan titipan dari Ibunya.”
Jay mengabaikan kerlingan jahil di mata Kin. Gadis itu selalu berpikir ada sesuatu di antata Jake dan dirinya. Kin kembali menunduk, meraih lemon terakhir dan memasukkannya ke dalam tas belanjanya.
“Kalian terlihat cocok. Bila kata ‘hidup’ memiliki wujud. Maka, itu adalah Jake. Dan jika kalimat ‘Sebenarnya aku muak dengan hidup, tapi terlalu malas untuk mati.’ memiliki bentuk. Maka, itu adalah kau. Kalian saling melengkapi.”
“Omong kosong.”
“Fuck you?! I’m dead serious!”
“No, thank you. I don’t fuck woman.”
“Fuckin’ fuck you!”
Jay mendengus geli, mengingat bagaimana ia diam-diam sangat setuju dengan perumpamaan Kin waktu itu.
“Kau pulang dini hari?” tanyanya pada Kin.
“Yup! Ethan akan mengantarku. Tenang saja.”
Jay mengangguk singkat, merasa cukup lega mengetahui seseorang yang ia kenal akan mengantar temannya pulang.
“’Aight, take care, okay? Call me if you need anything.”
Kin mengacungkan ibu jarinya sembari berjalan mundur menuju pintu lobi. “Aye, aye, Chef! Now, hush! Jake sudah menunggu lama.”
“Jay!”
Jay mengulum senyum mendengar namanya dipanggil dengan antusias ketika ia menginjakkan kaki di lantai tiga. Ia melambaikan tangannya, menyapa Jake dengan lebih tenang.
Laki-laki itu terlihat luar biasa tampan dengan kaos putih yang dibalut jaket denim longgar dan celana hitam yang memeluk kaki rampingnya dengan pas. Rambut hitam kecokelatannya yang panjang diikat sebagian dengan asal di belakang kepalanya. Wajah tajamnya dibingkai oleh beberapa helai rambut yang lolos dari ikat rambutnya, mengikal cantik di samping kanan dan kiri wajahnya dan melembutkan wajah tegasnya. Matanya berbinar di bawah temaram lampu lorong bangunan ini.
Jay tidak menyadari sejak kapan ia mulai memperhatikan detail wajah Jake yang, err, nyaris sempurna itu. Sejak pertama bertemu? Bukan. Atau pada pertemuan kedua mereka saat Jake menawarkannya ekstra fruit sando karena Jay terlihat begitu lelah di hari pindahnya ke flat ini? Mungkin. Bisa jadi ketika ia melihat Jake meracik kopi di dalam roasting room di Café In. Benar. Jake terlihat luar biasa menawan hari itu. Rambut ikal panjangnya ia kepang kecil ke balik telinga pada satu sisi, menampakkan tulang pipinya yang tinggi. Jay tak bisa berhenti mengamati freckles manisnya, mata besarnya, hidung tingginya, dan bibirnya. Bibirnya. Bibirnya yang terlihat begitu lembab, merona sehat dengan ujungnya yang sedikit tertarik membentuk busur panah yang amat rupawan.
Jay tak bisa melupakan wajah bahagia Jake ketika melakukan pekerjaannya, tidak mampu menghilangkan wajah Jake yang sedang mengolah biji kopi yang pahit dengan senyum selembut permen kapas.
“Apakah Apollo terlihat setampan ini?” pikirnya hari itu.
Suara gemerincing membangunkan Jay dari lamunan beberapa detiknya. Tenyata sejak tadi tangannya sibuk mencari kunci flatnya. Ia terlalu tenggelam dalam lamunan tentang wajah tampan Jake hingga tubuhnya bergerak sendiri ketika jantungnya sibuk berdebar tak berguna.
“Kin bilang kau membawa sesuatu?” tanya Jay. Jake mengangguk asal, mengangkat dua tangannya yang penuh dengan sekotak camilan dan sebotol Cockburn’s Vintage Port. Mata besarnya sibuk mengamati jemari Jay yang dengan tergesa mencoba membuka pintu.
“Besok kau libur, ‘kan? Mau temani aku minum tidak?” tanya Jake ketika laki-laki yang lebih muda darinya itu akhirnya berhasil membuka pintu flatnya
“Boleh.”
Jay menyalakan lampu huniannya, lalu meletakkan sepatu dan tasnya di tempat bisa. Jake mengikutinya seperti anak anjing penurut dari belakang, melakukan apa yang Jay lakukan; melepaskan jaket dan menggantungnya di rak gantung kecil di dekat pintu, mencuci tangan di wastafel, duduk manis di barstool, memperhatikan Jay yang sedang minum air rendaman buah, dan menerima dengan senang hati segelas air yang sama dari Jay.
“So,” mulai Jay. Ia menggulung lengan kemeja hitam yang ia kenakan, memperlihatkan otot-otot halus hasil menggoyangkan wok setiap hari selama beberapa tahun. Ia membuka kotak makanan yang tadi Jake bawa. “What’s the occasion?”
Jake mengedikkan bahunya. Ada kerling bahagia di matanya yang membuat Jay seketika merasa ikut senang. Jay berbalik badan, berniat mengambil piring untuk wadah buah segar yang ingin ia sajikan. “Peringatan hari diterimanya kau sebagai koki di Anchor, mungkin?”
Jay tertegun, tangannya yang sedang meraih tutup kabinet seketika berhenti di udara.
Ia masih ingat hari di mana ia dinyatakan resmi menjadi koki di Anchor. Jay ingat bagaimana ia menelepon Jake hari itu, meminta laki-laki itu untuk menolongnya dengan suara tercekat. Ketika Jake datang dengan mobilnya yang jarang sekali ia pakai, Jay sedang berjongkok di depan sebuah kedai kopi tak jauh dari Anchor. Kakinya lemas sekali hingga Jake harus membantunya bangkit berdiri.
Jay ingat bagaimana ia menangis seperti anak kecil di kursi penumpang mobil Jake. Ia ingat bagaimana Jake dengan sangat baik hati tidak menanyakan apa-apa, membiarkan Jay terisak di sampingnya. Jake mengemudi dalam diam, membawa Jay mengelilingi Williamsburg dan menyelesaikan tangisnya. Ketika Jay bercerita bahwa ia akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dan terlalu bahagia hingga tak bisa berhenti menangis, Jake menjadi orang pertama yang memberinya selamat setelah Yoongi, sosok yang memberinya pekerjaan.
Jake menjadi orang pertama dalam hidupnya yang terlihat begitu tulus merasa bahagia untuknya.
Dan membuatnya nyaris jatuh hati.
Kini, Jake menjadi satu-satunya orang yang merayakan hari itu untuknya, menjadi satu-satunya orang yang merasa bahwa hari bahagia itu perlu dirayakan.
Jay berbalik, menatap laki-laki yang sedang melamun memandangi berbagai macam camilan di dalam kotak makanan; kepingan cokelat hitam pekat, potongan berbagai keju, beberapa jenis buah kering, dan satu wadah lain berisi apple crumb yang harum sekali. Kemudian, memandangi kerutan yang tiba-tiba terbentuk di pangkal hidung Jake ketika ia nampak sedang memikirkan sesuatu. Jay mengamati wajah mendebarkan itu sejenak. Tanpa sadar memujanya; memuja keindahan fisiknya dan memuja tulus hatinya.
Jay diam-diam ingin menciumnya.
Jake mendongak, lalu menatapnya dengan wajah polos dan bertanya pada Jay. “Kau punya Cola tidak?”
Atau tidak diam-diam.
“Can I kiss you?”
Ada kilat terkejut pada mata besar Jake dan Jay ingin sekali melepas mulut lancangnya dan melemparnya ke luar jendela.
Namun, Jake justru terkekeh setelahnya. Ia menatap Jay seolah ada dua tanduk rusa yang tumbuh di kepalanya. “Kita bahkan belum minum dan kau sudah mabuk?”
“No. I mean, yes. I mean, ugh!” Jay menjawab linglung.
Tangannya mencengkeram kitchen island hingga buku jarinya memutih, menahan diri untuk tidak mengitari meja tersebut dan meraih wajah Jake yang merona manis sekali saat ini. Fuck it, pikirnya. “Can I kiss you?”
Jake meledak dalam tawa renyah, tanpa sadar memutar duduknya ke arah luar. Jay yang berdiri di seberang kitchen island seolah terhubung dengannya, secara otomatis melepaskan cengkeraman tangannya meskipun masih tak bergerak dari posisinya berdiri saat ini.
Jake mengerling melihatnya, merasakan tubuhnya sedikit bergetar oleh antisipasi. “You don’t want to try my apple crumb first?”
“I will, later. But can I kiss you first?” tanya Jay sekali lagi dengan suara parau. Ia nyaris mengiba ketika melihat Jake menarik satu sudut bibirnya. “Can I? Please?”
“Sure, since you asked nicely,” bisik Jake dan Jay nyaris tersedak ludahnya sendiri. “Thought you’d never ask.”
Jay menghampirinya dengan tergesa, hampir jatuh tersandung oleh kakinya sendiri dan membuat Jake meledak dalam gelak. Jay masih sempat mengagumi wajah tampan laki-laki yang sedang tersengal oleh tawa di hadapannya. Ia masih sempat berpikir bahwa Tuhan benar-benar menciptakan mahakarya terbaik-Nya melalui seorang Jake Shim. Kemudian, tangannya meraih lengan Jake dengan canggung dan seketika meredakan tawa laki-laki itu.
Namun, senyum Jake tak pernah hilang. Senyumnya tetap di sana ketika tangannya yang bebas meraih pinggang Jay, menariknya untuk berdiri di antara kakinya yang terbuka. Senyumnya tetap di sana ketika Jay juga tersenyum lembut sekali, menatapnya penuh puja sebelum meraih rahang Jake dengan jemarinya yang kasar akibat bekerja di dapur setiap hari. Jemari itu mengusap rahangnya dengan lembut ketika tangan Jake pada pinggangnya menariknya semakin dekat, hanya berhenti ketika lulut Jay terantuk kaki barstool yang Jake duduki.
Senyum itu masih di sana ketika Jay menciumnya; lembut sekali, sangat hati-hati. Bukan ciuman yang menimbulkan efek kembang api di perutnya. Namun, ciuman itu membuatnya lemas luar biasa, bergetar oleh adrenalin yang merangkak dari dasar perut ke dadanya, membuat ruang rusuknya penuh dengan gemuruh yang ia sukai. Jay memagut bibirnya perlahan, mengundang desah halus dari mulut Jake. Tangan yang tadi melingkar di pinggangnya perlahan merambat naik ke dadanya, lalu memilih untuk melingkar di tengkuknya.
Mereka bergerak seperti air yang memenuhi ruang, tidak menyisakan satu pun celah kosong di antaranya. Jay melepaskan bibir bawah Jake dari pagutannya ketika merasa laki-laki itu mulai kehabisan udara. Kepala Jake bergerak maju mengejar bibirnya, membuat dada Jay bergetar oleh tawa rendah. Jake mengeluh tinggi, kesal karena ciumannya terhenti. Jay mengusap pinggangnya dengan sabar, memberi laki-laki itu waktu untuk bernapas sebentar. Ia mengecupi sudut bibir Jake perlahan, terus bergerak ke rahangnya dan meninggalkan ciuman-ciuman ringan di sana.
Namun, nampaknya Jake menginginkan bibir itu kembali kepada bibirnya yang kini sudah sangat lembab dan semerah cranberry. Maka, ketika Jay kembali menghisap bibir tebal laki-laki dalam rengkuhannya itu, Jake membiarkan mulutnya terbuka, merengek pelan saat Jay hanya terus memagut bibirnya tanpa tergesa. Kemudian, Jay melepaskan ciumannya. Meninggalkan bibir Jake sendirian dan membiarkan mulutnya menutup, mengecap udara. Jay memundurkan kepalanya sendiri, lalu tertawa melihat kerut tak suka pada kening laki-laki di hadapannya.
Ia menangkup wajah Jake yang seketika tenggelam dalam tangan besarnya, mengecup sekilas bibir Jake, yang kini sedikit mengerecut karena kesal, dengan suara kecup yang keras sekali. Kemudian ia menciumi freckles Jake dengan gemas, membuat laki-laki di depannya memejamkan matanya kegelian dan mau tak mau tergelak kecil. Ia memukul dada Jay pelan, lalu pura-pura memberenggut kesal ketika laki-laki itu melangkah menjauhinya setelah puas menciumi seluruh wajahnya seperti mencium bayi.
“Kenapa berhenti, sih?” tanyanya sebal. Tangannya sudah kembali berkutat dengan camilan yang tadi ia telantarkan, mengambil satu keping kecil cokelat dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasa cokelat yang pekat menyebar di lidahnya yang kesepian. Jake menelan cokelat itu sambil mencebik — seperti menelan kecewa karena Jay tidak menciumnya dengan sungguh-sungguh.
“Oh, aku punya Cola,” ucap Jay sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Tangannya kini sibuk membersihkan stroberi dan buah ceri segar.
— Next: to someone i can’t stop thinking about
메타데이터
- post_id
- 8a942be063de
- slug
- from-a-stranger-8a942be063de
- url
- https://medium.com/@raniawasthere/from-a-stranger-8a942be063de
- canonical_url
- https://medium.com/@raniawasthere/from-a-stranger-8a942be063de
- author_url
- https://medium.com/@raniawasthere
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 13:01:55