← Back to list

Grand Launching COMPFEST 18: Menjembatani Digital Skill Gap, Mencetak Talenta Adaptif di Era AI

COMPFEST 18 resmi dibuka! Lebih dari sekadar ngoding, simak reality check pakar industri memangkas digital skill gap di era AI.

Malvin in COMPFEST · 2026-05-17 15:32 · 6 claps · 4.7 min read
#computer-science #competition #indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: CR · CRISPR & Gene Editing 🔬 · Science · General

Grand Launching COMPFEST 18: Menjembatani Digital Skill Gap, Mencetak Talenta Adaptif di Era AI

Read English Version Here

Inovasi kecerdasan buatan (AI) dan evolusi teknologi yang berkembang dengan cepat menimbulkan digital skill gap, suatu krisis yang dihadapi dunia saat ini. Krisis ini berpotensi menghambat inovasi dan produktivitas di berbagai sektor. Akibatnya, timbul ketimpangan antara tingginya kebutuhan keahlian teknologi modern dengan minimnya talenta atau sumber daya yang ada.

Menjawab tantangan global yang urgensinya semakin meningkat, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia menggelar event IT tahunan terbesar yang diadakan oleh mahasiswa, COMPFEST 18. Resmi dibuka dengan tema “Driving Infinite Growth to Enclose the Trench of Digital Skill Gap”, COMPFEST hadir sebagai katalis yang memastikan generasi muda Indonesia tidak hanya melek digital, tetapi juga adaptif dalam memimpin transformasi teknologi dan siap bersaing di era otomatisasi.

Menanggapi COMPFEST 18, Dekan Fasilkom UI, Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom, memberi dukungan penuh. Dalam sambutannya, beliau menekankan esensi COMPFEST yang tidak semata-mata program kerja rutin, namun merupakan sebuah warisan intelektual. “Melalui kompetisi, akademi, dan ruang eksplorasi yang telah disiapkan di COMPFEST 18, kita sedang berupaya melahirkan talenta-talenta digital yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga adaptif dan solutif dalam menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya. Visi tersebut diselaraskan oleh Ketua BEM Fasilkom UI 2026, Makarim Zufar Prambudyo, yang menekankan pentingnya membekali generasi muda agar bertransformasi dari sekadar penonton menjadi penggerak solusi.

Melengkapi kedua dukungan tersebut, Project Officer COMPFEST 18, Khansa Dinda Arya Putri, ikut memaparkan pentingnya penyelenggaraan COMPFEST yang diharapkan mampu menutup jurang kesenjangan kemampuan digital. Menurutnya, acara tahunan yang sudah dimulai semenjak tahun 2009 menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Fasilkom UI dalam memajukan ekosistem teknologi di Indonesia bagi masyarakat luas.

Sesi sambutan Grand Launching COMPFEST 18 oleh Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom (Dekan Fasilkom UI), Makarim Zufar Prambudyo (Ketua BEM Fasilkom UI 2026), dan Khansa Dinda Arya Putri (Project Officer COMPFEST 18). (Sumber: Dokumentasi)

Sesi sambutan Grand Launching COMPFEST 18 oleh Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom (Dekan Fasilkom UI), Makarim Zufar Prambudyo (Ketua BEM Fasilkom UI 2026), dan Khansa Dinda Arya Putri (Project Officer COMPFEST 18). (Sumber: Dokumentasi)

Menariknya, bekal utama yang harus dimiliki untuk menghadapi gempuran teknologi saat ini ternyata bukan sekadar kemampuan menulis kode program. Topik ini dikupas tuntas dalam sesi Keynote Speech yang justru mematahkan stereotip lama tentang keahlian anak IT. Bapak Kristiyanto dari Google for Education Indonesia membuka sesi ini dengan menyoroti pergeseran nilai jual unik (unique selling point) seorang talenta. Di saat kecerdasan buatan sudah mampu mengambil alih tugas analitis dan pemecahan masalah, senjata utama yang dimiliki manusia mulai bergeser ke kemampuan komunikasi, presentasi, dan persuasi.

Melanjutkan pembahasan mengenai disrupsi oleh AI tersebut, pakar teknologi dan AI, Bapak Risman Adnan, Ph.D., memperkenalkan konsep AI Native Engineering. Alih-alih memandang kecerdasan buatan sebagai ancaman dalam merebut lapangan pekerjaan, beliau menegaskan kegunaan AI sebagai instrumen mutlak untuk mempercepat terciptanya inovasi. “AI bukanlah ancaman, tapi orang-orang yang tidak menggunakan AI akan sangat terancam dengan teknologi ini,” pesannya.

Sesi Keynote Speech ditutup oleh praktisi cyber security, Bapak Alfons Tanujaya, yang memberikan “sentilan tajam” mengenai pentingnya kelincahan dalam beradaptasi. Didasari atas kesuksesannya berkecimpung di dunia IT meskipun berlatar belakang pendidikan Ekonomi, beliau membuat analogi bahwa industri masa kini mirip seperti seleksi alam, “Bukan T-Rex yang bertahan sampai hari ini, yang survive adalah kecoa karena ia beradaptasi. Bukan yang paling kuat yang menang, tapi yang mampu menyesuaikan diri.” Lebih lanjutnya, beliau memberikan pesan bahwa di tengah ancaman kejahatan siber yang semakin canggih, talenta IT dituntut untuk menjadi garda terdepan sebagai pelindung ekosistem digital masyarakat.

Jajaran pengisi sesi Keynote Speech: Bapak Kristiyanto (Adaption Lead di Google for Education Indonesia), Bapak Risman Adnan, Ph.D. (Pakar Teknologi & AI), dan Bapak Alfons Tanujaya (IT & Financial Security Specialist di vaksin.com). (Sumber: Dokumentasi)

Jajaran pengisi sesi Keynote Speech: Bapak Kristiyanto (Adaption Lead di Google for Education Indonesia), Bapak Risman Adnan, Ph.D. (Pakar Teknologi & AI), dan Bapak Alfons Tanujaya (IT & Financial Security Specialist di vaksin.com). (Sumber: Dokumentasi)

Jika sesi Keynote Speech terkesan sangat konseptual dan sulit untuk dibayangkan, sesi selanjutnya, yaitu Talkshow bertopik “Reality Check: Bridging the Gap Between What You Know and What the Industry Demands”, akan membawa poin-poin tersebut ke realita lapangan. Dipandu oleh Ibu Kamila Alifia Imanuddin, S.Kom, M.T.I. sebagai moderator, sesi ini akan membedah kesenjangan antara teori di kampus dengan tuntutan di lingkungan kerja bersama Bapak Muhammad Mudrik, seorang software engineer di Flip, dan Bapak Abdul Hasan Zawawi, seorang AI & Machine Learning Engineer di Prudential.

Dalam sesi talkshow, Bapak Hasan menyoroti perbedaan yang signifikan antara ekspektasi akademis dan industri. Di dunia perkuliahan, mahasiswa dinilai dari kemampuan mereka dalam menjawab soal-soal dengan benar. Akan tetapi, di dunia kerja, solusi yang dihasilkan harus cepat dan mampu membawa dampak yang nyata bagi bisnis perusahaan. Beliau juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak hanya berfokus pada IPK, tetapi juga membangun portofolio lewat proyek-proyek dan mengasah soft skills yang tidak bisa ditiru mesin.

Di sisi lain, Bapak Mudrik menyoroti dilema yang dirasakan masyarakat akibat kemudahan teknologi saat ini. Walaupun AI memang dapat membantu dalam menuliskan kode atau menyelesaikan tugas, pemahaman konsep fundamental seperti logika dan struktur datalah yang justru membedakan seorang engineer yang andal dengan pengguna “jalan pintas” instan. “Jadikan AI sebagai asisten untuk belajar memahami konsep, bukan jalan pintas penyelesai tugas,” tekannya. Beliau menambahkan bahwa pada akhirnya, hal yang esensial dalam eksekusi proyek di bidang industri adalah kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam tim, terlepas dari seberapa tinggi hard skill yang dimiliki oleh orang tersebut.

Sesi Talkshow “Reality Check” bersama Ibu Kamila Alifia Imanuddin, S.Kom, M.T.I., Bapak Muhammad Mudrik (Software Engineer Flip), dan Bapak Abdul Hasan Zawawi (AI & Machine Learning Engineer Prudential. (Sumber: Dokumentasi)

Sesi Talkshow “Reality Check” bersama Ibu Kamila Alifia Imanuddin, S.Kom, M.T.I., Bapak Muhammad Mudrik (Software Engineer Flip), dan Bapak Abdul Hasan Zawawi (AI & Machine Learning Engineer Prudential. (Sumber: Dokumentasi)

Seluruh ilmu dan insight yang berharga dari sesi Keynote Speech dan Talkshow pada dasarnya menjadi pembuka dari perjalanan COMPFEST 18. Untuk menjawab tuntutan nyata di dunia industri dan membekali generasi muda dengan amunisi yang diperlukan dalam menghadapi lingkungan kerja, COMPFEST 18 menyiapkan berbagai program unggulan.

Para peserta dapat mengasah kemampuan teknis dan manajerial mereka secara mendalam melalui empat pilar akademi utama, yaitu Data Science Academy, Software Engineering Academy, User Experience Academy, dan Product Management Academy. Selain itu, ruang untuk berinovasi juga disiapkan lewat kompetisi-kompetisi, mulai dari Competitive Programming, Capture the Flag, sampai Business IT Case.

Keseluruhan akademi dan kompetisi akan mencapai puncaknya pada Main Event yang menghadirkan pengalaman interaktif dan Job Fair untuk menghubungkan talenta dengan perusaahan impian. Oleh karena itu, pantau terus informasi lengkap mengenai pendaftaran dan jadwal acara melalui situs web resmi maupun media sosial COMPFEST agar tidak tertinggal dalam mengambil peran dalam transformasi digital saat ini! Mari bersama-sama persiapkan diri, asah potensi, dan jangan lupa untuk enclose the gap!


메타데이터
post_id
8afe55bd1eae
slug
grand-launching-compfest-18-menjembatani-digital-skill-gap-mencetak-talenta-adaptif-di-era-ai-8afe55bd1eae
url
https://medium.com/compfest/grand-launching-compfest-18-menjembatani-digital-skill-gap-mencetak-talenta-adaptif-di-era-ai-8afe55bd1eae
canonical_url
https://medium.com/compfest/grand-launching-compfest-18-menjembatani-digital-skill-gap-mencetak-talenta-adaptif-di-era-ai-8afe55bd1eae
author_url
https://medium.com/@malvinlionard
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30