Eps 22 : Cerita Para Pemimpin
IRAMA on Campus!
Eps 22 : Cerita Para Pemimpin
IRAMA on Campus!
#Challenge Ramadhan Ngide 22/29
Bandung, 2 April 2024

Foto Bareng Kak Royyan
“If you can build an organisation, you can build anything” — Kak Royyan
Hari ini aku diberi kesempatan untuk bertemu dan belajar langsung, lagi-lagi dengan orang yang sangat keren dan terus terlihat ingin bertumbuh, Kak Royyan. Sedikit background, Kak Royyan ini merupakan mantan K3M 2019/2020 yang pernah melakukan aksi demo ke Jakarta bersama kampus lainnya, seperti UI dan UGM. Kesempatan ini aku dapatkan waktu bisa menjadi moderator dari Kak Royyan di acara IRAMA, bagian dari P3RI.

Kak Royyan saat diundang Mata Najwa. Sumber : Google
Talking About Pemimpin
Ada dua karakter poin yang menarik tentang pemimpin ini :
- Mastatho’tum, maknanya tentang kesanggupan untuk berjuang sebisa mungkin.
- Ghuroba, maknanya tentang memegang tegung prinsip Islam, meskipun merasa terasing di tengah masyarakat.
Dalam kepemimpinan, kita juga tidak bisa memandang satu role saja dalam hidup, kita hidup dalam multirole. Multiperan ini dapat kita rasakan, selain mahasiswa kita juga anak orang tua kita, anggota tim ini itu, atau menjadi staf di organisasi tertentu. Dalam konteks memenuhi kesanggupan, kita juga dituntut mencari sebuah balance. Tidak hanya fokus menyelesaikan tanggung jawab utama kita di organisasi, tetapi juga fokus menyelesaikan masalah pribadi yang masih belum terselesaikan.
Poin penting : Start your leadership from lead yourself!
Esensi Pemimpin
Lalu, ada satu konsep penting yang perlu kita bedakan. Apa bedanya pemimpin dengan jabatan?
Punya jabatan, belum tentu jadi pemimpin.
Jadi pemimpin, belum tentu harus punya jabatan.
Lalu, kepemimpinan itu erat kaitannya dengan scaling up impact. Intinya tentang memberi dan meluaskan dampak.
Hubunganya apa?
Ketika menjadi pemimpin, kita harus bisa bermanfaat atau memberi dampak. Kita hadir dengan dampak yang kita sudah tentukan dari awal. Namun, ketika kita punya jabatan, dampak itu akan secara lebih “legal” untuk bisa kita wujudkan. Namun, jika tidak mempunyai, kita juga tidak akan berhenti untuk memberikan dampak dengan cara yang kita bisa.
Contohnya, kita punya mimpi untuk memberi dampak untuk massa himpunan. Dengan menjadi ketua himpunan, bukankah lebih mudah bagi kita untuk menciptakan dampak sesuai target awal kita tadi?
Oh ya tambahan juga, kadang kita bertanya sekarang banyak hal-hal pragmatis yang ditawarkan, seperti MBKM dan Internship program. Namun, apakah organisasi jadi sudah tidak relevan? Jawabannya bukan masalah relevan tidak relevan. Namun, ketika kita belajar hanya dari magang, kita memang akan excellence di bidang kita, tetapi hanya setingkat anak magang saja. Tidak tahu caranya mengelola puluhan bahkan ribuan kepala. Beda halnya jika kita excellence di organisasi, kita sudah tau cara mengelola ratusan bahkan ribuan kepala. Ini adalah peluang yang sangat berbeda.
Memimpin Orang Sibuk
Pertama, perlu kita pahami bahwa,
“Organisasi adalah sebuah organisme dan organisme itu tumbuh secara organik” — Kak Royyan
Artinya, kita tidak bisa memaksakan sebuah struktur organisasi dengan mengabaikan kondisi orang yang berada dalam organisasi. Jangan cuma berpikir tentang struktur organisasi, tetapi juga strategi pengelolaan organisasi ini sendiri.
Kita bisa membuat apa saja hal-hal yang bisa kita maximize dalam tiga bulan ke depan. Kita sesuaikan dengan kondisi organisasi kita dan pilah-pilih suatu program kerja yang low effort, high impact untuk memaksimalkan waktu. Harapannya, dengan waktu yang sempit, kita bisa mengangkat image organisasi menjadi elit. Orang-orang pun akan mau bergabung dan terus bertumbuh.
Namun, masalah pengelolaan orang sibuk tidak hanya serta merta karena pengelolaan organisasi yang dicapai. Namun, mungkin juga memang ada faktor kurang professionalnya orang tersebut dalam tim kita. Tidak semua orang sudah tau bagaimana caranya professional, menghargai orang lain, memiliki motivasi, dan memikul tanggung jawab dengan baik.
Kita perlu memaklumi dan menurunkan ekspektasi sehingga lagi-lagi bisa kembali untuk memetakan strategi organisasi ke depan.
Pemimpin Mahasiswa Udah, Pemimpin Masyarakat?
Jangan menjadi kura-kura dalam tempurung. Kita adalah pemuda. Kita adalah aktivis.
Memimpin mahasiswa, pengetahuan kita hanya sebatas hanya permasalahan mahasiswa. Namun memimpin masyarakat, kita juga tahu masalah yang ada di masyarakat. Masyarakat adalah tempat kembali, mencari nafkah, dan bermanfaat untuk umat. Tempat kita selanjutnya.
Dengan memimpin kita memahami perspektif yang lebih luas. Dengan memimpin masyarakat, kita jadi lebih memahami perspektif masyarakat yang lebih luas. Kita jadi peduli dengan berbagai isu di luar sana, termasuk politik. Salah satunya adalah ketika kita sadar dengan isu Gaza, kita sudah mencoba memahami perspektif di luar sana. Ada apa sebenarnya masalah di dunia yang kita tempati ini. Masalah ini juga yang akan kita rasakan setelah tidak menjadi mahasiswa.

Sumber : PPT Kak Royyan
Tulisan di atas mungkin sekilas tidak akan terkesan cukup tertata seperti biasanya karena konsepnya memang merupakan cuplikan-cuplikan dari apa yang bisa aku bagikan di sesi IRAMA kemarin. Sebenarnya cukup banyak lagi, tetapi lengkapnya bisa teman-teman tonton sendiri di sini.
Key Takeaways
Semua orang bisa jadi pemimpin. Memimpin itu dimulai dari hal yang kecil dan remeh, sesimpel memperbaiki diri sendiri. Alasan untuk mulai memimpin dengan skala yang lebih besar letaknya adalah pada dampak yang diberi. Semakin besar legalitas yang kita miliki, semakin besar pula potensi dampak yang bisa kita berikan. Bukankah hidup itu untuk memberikan kebermanfaatan?

Sketch by me
Tetap semangat, para pemimpin!
메타데이터
- post_id
- 8b124b8aa5ec
- slug
- eps-22-cerita-para-pemimpin-8b124b8aa5ec
- url
- https://medium.com/@katapudin/eps-22-cerita-para-pemimpin-8b124b8aa5ec
- canonical_url
- https://medium.com/@katapudin/eps-22-cerita-para-pemimpin-8b124b8aa5ec
- author_url
- https://medium.com/@katapudin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 04:42:08