Percakapan dengan Waktu: Musim Ke-Lima Kehidupan
Sebuah refleksi di 25 tahun kehidupan
Percakapan dengan Waktu: Musim Kelima Kehidupan
Sebuah refleksi di 25 tahun kehidupan

Di penggalan usia seperempat abad ini, aku tidak sedang berada di puncak apa pun. Aku hanya sedang berjalan. Kadang tergesa, kadang tertatih, tapi belum pernah betul-betul berhenti. Kemandirian datang bukan sebagai pilihan penuh semangat, tapi sebagai keadaan yang harus dihidupi. Di titik ini, aku tahu bahwa menjadi mandiri bukan tentang berdiri gagah di hadapan dunia, tapi tentang bisa menahan gemetar saat tak ada siapa pun yang datang menolong.
Pergi jauh berkilo-kilo meter dari rumah, membentukku dengan caranya sendiri. Bukan karena aku terlalu berani meninggalkan rumah, tapi karena diam di tempat bukan lagi pilihan. Kota ini masih asing di banyak sudutnya, tapi aku mulai terbiasa dengan arah angin yang berbeda, dengan logika sewa tempat tinggal yang naik tiap tahunnya, dengan hidup yang harus dihemat dari minggu ke minggu. Merantau adalah tentang belajar merasa cukup, bukan merasa aman.
Aku baru saja memulai karir. Pekerjaan datang seperti janji-janji yang belum tentu ditepati. Kadang ada, kadang tidak. Ekonomi datang dan pergi seperti tamu tak diundang — kadang membuatku lega, kadang membuatku panik. Tapi aku belajar untuk tidak terlalu bergantung pada kestabilan. Aku belajar menciptakan makna dari pekerjaan, bahkan saat upahnya tidak sepadan. Aku bekerja bukan sekadar untuk uang, tapi juga untuk harga diri, untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa bertahan dengan caraku.
Tentang menikah, aku tidak terlalu tergesa. Bukan karena tidak ingin, tapi karena belum sanggup. Aku belum selesai membangun rumah di dalam diriku sendiri. Masih ada reruntuhan yang harus kubersihkan, pintu-pintu yang perlu kuperbaiki, dan jendela yang perlu kubuka agar cahaya bisa masuk lebih leluasa. Aku ingin seseorang hadir bukan untuk memperbaiki, tapi untuk duduk bersamaku di ruang yang telah kusiapkan dengan jujur.
Hidup tidak selalu terasa menyenangkan. Ada malam-malam di mana aku tidak tahu apakah besok akan jadi hari yang baik, atau sekadar hari yang berhasil kulewati. Tapi aku tidak ingin dikasihani. Aku tidak menulis ini untuk meminta simpati. Aku menulis ini sebagai pengakuan. Bahwa hidup tidak selalu mudah, tapi aku tidak menyerah. Bahwa aku pernah lelah, tapi tidak pernah berhenti. Bahwa aku tahu kapan harus diam, dan kapan harus bertahan lebih lama.
Aku tidak sedang mencari tepuk tangan. Aku hanya ingin duduk sebentar, menarik napas panjang, dan menyapa waktu. Bukan untuk meminta jawaban, tapi untuk mengatakan: aku masih di sini. Dan itu sudah cukup.
메타데이터
- post_id
- 8b485b4e1b82
- slug
- percakapan-dengan-waktu-musim-ke-lima-kehidupan-8b485b4e1b82
- url
- https://medium.com/@ishlahharish/percakapan-dengan-waktu-musim-ke-lima-kehidupan-8b485b4e1b82
- canonical_url
- https://medium.com/@ishlahharish/percakapan-dengan-waktu-musim-ke-lima-kehidupan-8b485b4e1b82
- author_url
- https://medium.com/@ishlahharish
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01