Hegemoni Wacana Dalam Distorsi Makna Anarkisme
Setiap kali kerusuhan pecah dalam suatu gerakan massa, ada satu kata yang hampir selalu muncul di judul berita: “anarkis”. Halte…
Hegemoni Wacana Dalam Distorsi Makna Anarkisme
Setiap kali kerusuhan pecah dalam suatu gerakan massa, ada satu kata yang hampir selalu muncul di judul berita: “anarkis”. Halte dibakar—anarkis. Kaca dipecahkan—anarkis. Bentrok dengan aparat—anarkis. Kata ini dipakai bukan sebagai deskripsi ideologi, melainkan sebagai label untuk kekacauan itu sendiri. Dalam penggunaan sehari-hari, “anarkisme” nyaris menjadi sinonim dari tindakan destruktif tanpa tujuan, vandalisme, dan kerusuhan tak terkendali.
Ini bukan kesan yang muncul begitu saja. Dalam pengantar buku “Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan”, Daniel Hutagalung (t.t.: vii) menegaskan bahwa anarkisme sebagai konsep dalam ilmu sosial dan filsafat kerap “berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa chaotic dan ketidakteraturan”. Hutagalung menambahkan bahwa kekeliruan ini bisa jadi tidak sepenuhnya tanpa sengaja—ada kemungkinan ia memang sengaja dipelihara, sebagian karena minimnya literatur anarkisme yang memadai di Indonesia, sehingga ruang kosong itu diisi oleh generalisasi yang keliru: setiap tindakan destruktif tanpa arah, mulai dari amuk massa hingga vandalisme, buru-buru dilabeli “anarkis” tanpa pernah benar-benar menyentuh makna objektif filsafat anarkisme itu sendiri.
Padahal sebagai tradisi pemikiran, anarkisme punya silsilah panjang: Pierre-Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, Peter Kropotkin, Max Stirner, hingga Emma Goldman dan Alexander Berkman. Proudhon-lah yang pertama kali memakai istilah “anarkisme” sebagai istilah filsafat politik, dan sejak itu tradisi ini terus berkembang menjadi kritik terhadap otoritas yang dipaksakan—baik otoritas negara, kapital, maupun bentuk hierarki lain yang tidak dibangun atas dasar kesukarelaan.
Emma Goldman, dalam esainya “Anarkisme: Apa yang Benar-Benar Diperjuangkan”, Goldman (2017: 4) menegaskan, “Perusakan dan kekerasan! Bagaimana orang biasa mengetahui bahwa elemen kekerasan dalam masyarakat adalah ketidaktahuan.” Goldman lalu menjelaskan lebih jauh bahwa justru kekuatan destruktiflah yang paling diperangi oleh anarkisme, dan bahwa anarkisme tidak menghancurkan jaringan sosial yang sehat, melainkan hanya pertumbuhan parasit yang mengganggunya—seperti mencabut gulma agar tanaman bisa tumbuh sehat. Bagi Goldman, kekeliruan publik dalam memahami anarkisme bukan soal kecerdasan, melainkan soal kemalasan berpikir: lebih mudah mengutuk sesuatu berdasarkan desas-desus ketimbang menyelidikinya sampai ke akar.
Kritik yang lebih tajam terhadap siapa yang memelihara citra ini datang dari Alexander Berkman. Dalam buku “ABC Anarkisme”, Berkman (2017: 7) menulis bahwa citra anarkisme sebagai bom dan kekacauan “Pers, di mimbar, dan setiap orang di dalam pemerintahan” terus-menerus menanamkan gambaran itu ke telinga publik. Berkman menegaskan bahwa kebanyakan dari mereka yang menyebarkan framing ini sebenarnya tahu lebih banyak dari yang mereka akui, tapi punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakan substansi sebenarnya. Di bagian lain bukunya, Berkman bahkan menyebut bahwa media-media kapitalis, elite politik, dan aparat tidak akan pernah berbicara jujur soal anarkisme—karena kebanyakan dari mereka membencinya, dan yang lain punya kepentingan langsung untuk mempertahankan citra itu.
Poin Berkman ini penting: distorsi terhadap anarkisme bukan kebetulan atau sekadar kesalahpahaman yang lahir secara organik di masyarakat. Ia dijaga secara aktif oleh tiga pihak yang punya kepentingan pada status quo—negara yang ingin mempertahankan monopoli otoritasnya, kapital yang ingin kritik terhadap kepemilikan dan hierarki ekonomi tidak pernah benar-benar didengar, serta media yang dalam banyak kasus dimiliki atau berpihak pada kedua kepentingan itu. Ketika publik memahami anarkisme sebagai filsafat yang koheren dengan sejarah panjang perlawanan terhadap penindasan, ia menjadi alternatif yang bisa dipertimbangkan secara serius. Tapi ketika anarkisme direduksi menjadi sinonim “kerusuhan massa”, publik menolaknya secara refleks—tanpa perlu berdebat dengan substansi gagasannya sama sekali.
Yang menarik, Berkman (2017: 2-3) menunjukkan bahwa distorsi ini bukan cuma proyek negara dan kapital semata. Ia mencatat bahwa media-media kapitalis memang menolak anarkisme, tapi ironisnya kebanyakan kaum sosialis dan Bolshevik pun ikut menyebarkan stigma yang sama—menyebut anarkisme sebagai “ketidakteraturan dan kekacauan”—padahal tokoh yang mereka jadikan rujukan utama, Marx dan Engels, justru mengajarkan bahwa anarkisme adalah tahap yang lebih bebas dan lebih baik yang akan muncul setelah sosialisme, bukan lawannya. Bagi Berkman, kontradiksi ini menunjukkan bahwa citra anarkisme sebagai kekacauan bukan hanya dipelihara oleh musuh-musuh anarkisme yang jelas, tetapi juga—kadang secara tidak jujur, kadang karena ketidaktahuan yang sama—oleh gerakan-gerakan lain yang sebenarnya berbagi akar sejarah dengannya. Ini memperlihatkan betapa kuat dan lintas-golongan citra “anarkisme = kekacauan” ini tertanam, sampai-sampai ia direproduksi bahkan oleh pihak yang secara teoretis seharusnya paling memahami posisi anarkisme dalam peta pemikiran kiri.
Uniknya, tradisi anarkis sendiri tidak alergi pada introspeksi soal kekerasan. Max Stirner, misalnya, justru mengajukan kecurigaan yang lebih radikal: baginya, gagasan apa pun—termasuk anarkisme sekalipun—berpotensi berubah menjadi apa yang ia sebut “ide beku” (fixed idea) jika ia mulai menundukkan dan membatasi individu yang meyakininya tanpa jeda kritis. Ini menunjukkan bahwa kejujuran intelektual dalam tradisi anarkis justru mendorong pertanyaan kritis, termasuk terhadap dirinya sendiri—jauh dari citra dogma buta yang sering dilekatkan media padanya.
메타데이터
- post_id
- 8b77dfa76a8d
- slug
- hegemoni-wacana-dalam-distorsi-makna-anarkisme-8b77dfa76a8d
- url
- https://medium.com/@ahmadnurzaky229/hegemoni-wacana-dalam-distorsi-makna-anarkisme-8b77dfa76a8d
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmadnurzaky229/hegemoni-wacana-dalam-distorsi-makna-anarkisme-8b77dfa76a8d
- author_url
- https://medium.com/@ahmadnurzaky229
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 21:01:28