Sudahkah Memerinci Blueprint Kehidupan?
“Tuliskan roadmap kehidupan dalam jangka waktu sekian tahun!” permintaan-permintaan semacam ini atau pertanyaan-pertanyaan, “Mau jadi apa…
Sudahkah Memerinci Blueprint Kehidupan?
“Tuliskan roadmap kehidupan dalam jangka waktu sekian tahun!” permintaan-permintaan semacam ini atau pertanyaan-pertanyaan, “Mau jadi apa nanti?” dan sejenisnya adalah hal-hal yang ketika aku dihadapkan olehnya, membuatku diam seribu bahasa — menyadari betapa jauh diriku dari kata visioner.
Kalo mencoba menilik kembali masa lalu, aku engga punya ingatan tentang sebuah goal yang benar-benar ingin aku kejar. Ketika orang-orang sibuk bertukar pikiran tentang sekolah impian mereka, aku terdiam dalam kebingungan. Aku masuk SMP pilihan orang tuaku, melanjutkan SMA di sekolah favorit kota karena “ya itu yang terbaik”, lalu berkuliah di tempat yang sama dengan kedua orang tuaku. Semuanya seperti rangkaian keputusan yang kubiarkan mengalir begitu aja. Hidup mengalir bukan berarti membuatku engga ada usaha yaa. Tetap ada kok, tapi berusaha untuk arah yang seolah udah disiapkan untukku.
“Apa yang membuatmu semangat bangun menjalani hari?”
Pertanyaan itu muncul ketika kami sedang bermain kartu, kartu-kartu pemantik refleksi yang — jujur — kadang menyebalkan. Lagi-lagi aku selalu bingung kalo dihadapkan pertanyaan-pertanyaan begini, mungkin tampak sederhana, tapi bagiku ini pertanyaan yang untuk dapetin jawaban jujurnya tuh butuh refleksi dengan waktu yang engga sebentar pastinya. Saat itu yang terlontar dari mulutku adalah: Keluarga. Apakah itu jawaban jujur? hmm harusnya iya, tapi rasanya aku sendiri masih belum cukup puas dengan jawaban itu.
Quarter Life Crisis
Dor! usia segini lagi lucu-lucunya yah.. peralihan pasca kuliah yang mungkin pada saat sebelum lulus udah punya sedikit bayangan mau ngapain, eh tiba-tiba jadi manusia yang sangat kehilangan arah dan makna hidup. Isi hidupnya hanya mempertanyakan, mempertanyakan, dan mempertanyakan wkwk
“Oh jadi rasanya gini yah…” setelah selama ini mendengar kata QLC yang selalu membuatku berpikir, “kok bisa sih orang-orang kena QLC? terus keknya pada frustasi banget dah”.
Kata orang sih normal yah menghadapi QLC ini, tapi aku merasa kalo dibiarkan berlama-lama akan cukup berbahaya karena membuatku tidak bersemangat menjalani hidup. Oya balik lagi dikit ke pertanyaan di subpoin sebelumnya. Bener aja, jawaban “keluarga” untuk pertanyaan itu pun rasanya belum cukup, bahkan untuk sekedar membuat bertahan.
Dulu, “Let it flow” masih kerasa aman-aman aja untuk menuntun langkahku. Mungkin karena pada saat itu alirannya seolah berada di sungai — ada batas, ada tepi, ada arah. Tapi sekarang? aku merasa berada di laut: luas dan engga terduga. Membuatku terombang-ambing engga jelas kalo membiarkan diri tetap ‘mengalir’.
The Core of Human Existence
Katanya krisis terjadi jika tujuan hidup manusia bercabang atau kabur dari defaultnya. Dalam sudut pandang Islam, sebenernya udah tertulis dengan jelas yah inti eksistensi manusia di bumi tuh untuk apa. Menjadi hamba Allah dan wakil Allah.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Harusnya ini udah jadi pegangan yang jelas untuk manusia. Tapi aku merasa pegangan ini masih terlalu luas untuk aku yang serba bingung ini. Langkah yang mana untuk mencapai hal tersebut? Dengan cara apa? Gimana? dan masih banyak pertanyaan lainnya berputar-putar di otak ini.
Visi yang tepat, besar, dan spesifik
Renungan demi renungan, bacaan demi bacaan, tontonan demi tontonan, aku jelajahi (ciaelah) demi bisa segera meng-handle fase ini. Fyi ada salah satu tontonan yang menurutku gong dan relate banget untukku.

salah satu podcast Temani
Disini sedikit banyak dijelasin seputar visi misi hidup yang baik dan bener tuh kaya gimana. Better to watch by your own for the details.
Kesimpulan yang aku ambil, yang menurutku juga relate dengan situasi kondisiku, adalah perlunya membuat visi yang tepat, besar, dan spesifik. Tepat disini aku artikan sebagai sesuatu yang muaranya menuju dua inti eksistensi manusia tadi — Allah. Besar aku artikan sebagai sesuatu yang kebermanfaatannya melampaui diri. Spesifik aku artikan sebagai sesuatu yang diurai secara jelas arahnya.
Little did I know, ternyata selama ini visiku jauh dari kata spesifik yang membuatku tersadar hal ini berdampak ke turunan misinya. Misi hidupku malah jadi terlalu luas yang akhirnya menampakkan seolah semua jalan bisa ditempuh untuk mencapai visi itu. Padahal sejatinya manusia punya limitasi dari segi waktu, tenaga, pikiran, dan potensi. Akan lebih optimal kalo limitasi yang ada tadi bisa dialokasikan untuk suatu hal yang lebih tepat sasaran.
Cerita dikit, Teh Qoon punya visi hidup untuk menjadi bagian dari pembebas Baitul Maqdis yang mengarahkan Teh Qoon untuk mengambil langkah-langkah yang mendekatkan beliau menuju visinya tersebut. Sadar bahwa isu kepalestinaan akan berkaitan dengan skala internasional, membuat Teh Qoon memprioritaskan waktunya untuk belajar lebih dalam mengenai bahasa asing, minimal bahasa inggris dan bahasa arab. Beliau juga memperbanyak belajar mengenai sejarah dan mulai terjun di aktivitas-aktivitas kemanusiaan khususnya isu Palestina hingga akhirnya melahirkan organisasi dan komunitas Smart_171 serta Baik Berisik yang sekarang udah makin luas kebermanfaatannya. Disebutin juga lah contoh lain yaitu Ust. Nouman Ali Khan. Singkat cerita, Al-Qur’an menjadi jalan kembalinya beliau dari masa kegelapannya (atheisme) yang mana membuat beliau juga ingin orang lain merasakan betapa dahsyatnya kekuatan Al-Qur’an kalo bisa memahaminya. Hal itu membuatnya menggunakan waktu, tenaga, pikirannya untuk mendalami Al-Qur’an lebih lanjut hingga akhirnya beliau mendirikan Bayyinah Institute, sebuah institusi dengan visi memfasilitasi orang awam agar mudah memaknai dan mendalami Al-Qur’an, yang sekarang juga udah banyak penikmat manfaat dari program-programnya seputar tafsir Qur’an.
Persimpangan Jalan
Hidup itu ternyata tentang memilih. Akan selalu ada masa dimana kita dihadapkan dengan persimpangan jalan yang membuat kita bingung jalan mana yang harus dipilih. Entah karena sama-sama terang, sama-sama gelap, atau justru sama-sama abu-abu. Terus apakah dengan punya visi spesifik akan membantu? Menurutku iya, karena visi spesifik tuh ibarat kompas yang membantu mengarahkan kita untuk bisa mendefinisikan jenis jalan yang menjadi pertimbangan dalam keputusan kita. Kita jadi tahu mana jalan utama, mana yang cuma distraksi, dan mana yang sebenarnya batu loncatan. Kadang pilihan yang dateng engga sepenuhnya terlihat sejalan dengan visi — engga ideal, engga lurus — tapi kalau pilihan itu bisa membawa kita lebih dekat pada tujuan, it’s still worth to take sebagai batu loncatan. Kita juga harus ingat bahwa kita punya limitasi; engga semua jalan bisa kita pilih loh. Oya di sisi lain, visi juga membantu kita meneguhkan diri di jalan yang udah kita pilih, terutama ketika realitasnya engga semulus ekspektasi di awal.
Aku juga jadi teringat pada postingan Teh Qoonit di instagram yang bercerita bagaimana ia memutuskan meninggalkan kariernya di Jakarta untuk melanjutkan gerak kepalestinaan di pelosok desa. Kalau dihitung dari sisi keuntungan material mah, pilihan itu hampir engga ada apa-apanya. Tapi karena jalan itulah yang paling mendekatkan pada visi hidupnya, Teh Qoonit tetap memberanikan diri untuk menempuhnya.
Melanjutkan Perjalanan
Visioner bukan berarti tahu detail masa depan, yang penting tahu arah dan kontribusi yang ingin dikejar. “Let it Flow” bukan berarti hidup tanpa tujuan, tapi bisa menerima bahwa jalan menuju tujuan engga selalu linear. Quarter Life Crisis meski tampak menyeramkan bukan berarti sebuah tanda tersesat atau sebuah kegagalan, tapi ini merupakan fase untuk berhenti sekedar menjalani, dan mulai bertanya, menimbang, lalu mendefinisikan kembali apa yang benar-benar penting.
Aku menyadari bahwa semuanya tentang proses merangkai titik demi titik. Kita udah diberi panduan besar dalam Al-Qur’an, tapi untuk merealisasikannya dalam hidup, kita perlu memerincinya menjadi blueprint kehidupan kita sendiri. Dan jujur, untuk sampai ke titik itu emang butuh waktu — butuh trial and error — sampai akhirnya kita beneran tahu apa yang kita inginkan, yang kemudian mampu untuk mengelaborasikan potensi, minat, nilai, dan tujuan menjadi arah yang utuh. Jangan lupa di tengah proses mencari itu pun, kita selalu bisa memaksimalkan peran kita sebagai hamba Allah, salah satu inti eksistensi manusia yang paling fundamental.
Terakhir, dengan punya visi, kita jadi lebih punya alasan untuk semangat menjalani hari (keknya ini jawaban benernya utk pertanyaan yg di atas td), lebih percaya sama timing kita sendiri, dan engga gampang ke-pressure sama perjalanan orang lain. Oh aku jadi kepikiran, mungkin itu juga yah alasan kenapa Al-Qur’an hanya memberi gambaran besar: karena setiap manusia punya jalan dan perannya masing-masing. Kita diciptakan beragam, maka blueprint kehidupan kita pun akan berbeda satu sama lain, meski pada akhirnya tetap menuju ultimate goal yang sama.
Jadi… sudahkah kamu memerinci blueprint kehidupanmu? Kalo belum gapapa banget, just try to enjoy the process but keep in mind that time is ticking hahahaa 🙏😇
메타데이터
- post_id
- 8b7fada2835d
- slug
- sudahkah-merinci-blueprint-kehidupan-8b7fada2835d
- url
- https://medium.com/@liulifufuli/sudahkah-merinci-blueprint-kehidupan-8b7fada2835d
- canonical_url
- https://medium.com/@liulifufuli/sudahkah-merinci-blueprint-kehidupan-8b7fada2835d
- author_url
- https://medium.com/@liulifufuli
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 09:08:27