← Back to list

KONTRAK ILMIAH

Mylchehua · 2026-06-06 01:06 · 0 claps · 7.7 min read
#anime #bxb #dr-stone #senku #comedy
Open on Medium ↗
Wiki topics: 😂 · Humor & Satire

KONTRAK ILMIAH — CHAPTER 1

BAB 1 Subjek yang Paling Tidak Ideal (Tapi Sempurna)

Asrama Gedung C lantai tiga pukul sebelas malam.

Gen Asagiri duduk di depan laptopnya dengan tatapan kosong yang sudah bertahan sejak dua jam lalu. Kursor berkedip-kedip di halaman proposal praktikum psikologinya seperti sedang mengejek. Satu baris terakhir yang ia ketik tiga puluh menit lalu masih tergantung tanggung di tengah kalimat:

"Relawan penelitian berjumlah minimal satu orang dengan kriteria—"

Kriteria apa?

Gen menarik napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menatap langit-langit kamar.

Semester empat program studi Psikologi ternyata tidak sesantai yang ia kira. Mata kuliah Praktikum Psikologi Kepribadian mengharuskan setiap mahasiswa mengumpulkan satu subjek relawan nyata, melakukan serangkaian wawancara mendalam, observasi perilaku, hingga analisis kepribadian berbasis teori. Hasilnya harus dikumpulkan dalam bentuk laporan setebal minimal lima puluh halaman sebelum akhir semester.

Lima puluh halaman.

Gen menyipitkan mata.

Masalahnya bukan di halaman. Masalahnya ada di kata "relawan".

Semua teman seangkatannya sudah punya subjek. Nami sudah mengajak adik perempuannya. Ryusui bahkan dengan percaya dirinya menjadikan dirinya sendiri sebagai subjek penelitian—yang langsung ditolak dosen dengan alasan conflict of interest dan ekspresi lelah yang tidak disembunyikan sama sekali. Taiju mengajak teman satu tim volleynya. Bahkan Kohaku yang terkenal antisosial sudah berhasil membujuk seorang mahasiswa tingkat tiga dari jurusan Biologi.

Dan Gen?

Gen tidak punya siapa-siapa.

Bukan karena ia tidak punya teman. Justru sebaliknya—Gen Asagiri, tinggi 176 sentimeter, wajah yang oleh banyak orang disebut "terlalu menarik untuk tidak diperhatikan," dengan kemampuan membaca orang yang nyaris tidak masuk akal, punya banyak kenalan di seluruh penjuru kampus. Masalahnya justru di situ.

Ia terlalu tahu siapa yang akan membosankan untuk diteliti.

"Butuh subjek yang menarik," gumamnya pada dirinya sendiri, memutar bolpoin di antara jari-jarinya. "Bukan yang jawabannya bisa ditebak dari pertanyaan pertama."

Klik.

Klik.

BOOOM.

Gen terlonjak dari kursinya.

Suara itu datang dari kamar sebelah—kamar 3-C, yang sudah sejak awal semester pertama menjadi sumber berbagai suara tidak wajar. Pernah ada bunyi mendesis panjang yang bertahan selama dua jam penuh. Pernah ada bau menyengat yang membuat tiga kamar sebelahnya spontan membuka jendela di tengah malam. Pernah ada suara gemericik cairan yang tidak seharusnya terdengar dari balik dinding kamar asrama.

Dan sekarang, ledakan kecil.

Disusul suara yang sangat familiar:

"Sepuluh miliar persen... perbandingan rasionya meleset di sini."

Gen menutup laptopnya pelan.

Ia berdiri, berjalan ke pintu kamarnya, membukanya—

Dan di lorong sudah berdiri seorang laki-laki dengan rambut hitam putih yang diikat tinggi ke atas, mengenakan jas lab putih yang sekarang memiliki noda gelap di bagian lengan kanan, memegang clipboard dengan serius, dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja hampir meledakkan kamar asramanya sendiri.

Senku Ishigami.

Mahasiswa Teknik Kimia semester tiga. Penghuni kamar 3-C. Dan secara resmi, tetangga paling merepotkan yang pernah Gen miliki sepanjang hidupnya.

"Ishigami."

Senku mengangkat kepala. Matanya—hijau tajam di balik kacamata yang ia jarang pakai tapi malam ini tergantung di ujung hidungnya—menatap Gen dengan ekspresi yang tidak bisa disebut bersalah.

"Asagiri."

"Apa yang meledak."

"Bukan meledak." Senku mengoreksi dengan nada datar. "Reaksi eksotermik yang sedikit lebih agresif dari kalkulasi awal. Perbedaan signifikan secara teknis."

"Itu sama saja."

"Tidak sama." Senku mengetuk clipboard-nya. "Ledakan sejati akan memecahkan kaca jendela. Kaca jendelaku masih utuh. Ini hanya... percikan berenergi tinggi."

Gen menatapnya selama tiga detik penuh.

Senku menatap balik tanpa berkedip.

"...Kamu baik-baik saja?" tanya Gen akhirnya.

"Lenganku sedikit terbakar. Tidak signifikan secara medis."

"Tunjukkan."

"Tidak perlu—"

"Ishigami."

Senku menghela napas dengan ekspresi seseorang yang sedang sangat bersabar menghadapi hal yang ia anggap tidak perlu, lalu mengangkat lengan kanannya. Ada bekas merah panjang sekitar sepuluh sentimeter di kulit lengannya—bukan luka bakar serius, tapi cukup untuk membuat Gen mengerutkan dahi.

"Tunggu di sini."

Gen masuk kembali ke kamarnya, membuka laci meja belajarnya, mengambil kotak P3K kecil yang ia beli di awal semester dengan mentalitas 'lebih baik tidak dipakai daripada dibutuhkan tapi tidak ada,' dan kembali ke lorong.

Senku masih berdiri di tempat yang sama. Masih memegang clipboard. Matanya sekarang turun ke arah kotak P3K di tangan Gen dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Duduk."

"Aku bisa—"

"Duduk, Ishigami."

Senku duduk di lantai lorong dengan cara yang anehnya patuh—seperti seseorang yang tahu bahwa berdebat dalam situasi ini adalah pemborosan energi kalkulasi. Gen berjongkok di depannya, membuka kotak P3K, dan mulai membersihkan luka di lengan itu dengan kapas antiseptik.

Senku diam.

Itu hal yang langka, Gen menyadarinya. Senku Ishigami yang ia kenal—atau lebih tepatnya, yang ia amati dari jarak aman selama hampir dua semester—adalah seseorang yang hampir tidak pernah diam. Ada saja yang ia katakan: formula, kalkulasi, komentar tentang ineffisiensi seseorang, fakta sains yang tidak diminta oleh siapa pun. Tapi sekarang ia diam, hanya melihat ke arah lain sementara Gen membalut lengannya dengan plester lebar.

"Selesai," kata Gen.

Senku menurunkan lengannya, melihat balutannya sebentar, lalu mengangguk sekali. "Terima kasih."

"Sama-sama." Gen berdiri, menutup kotak P3K-nya. "Lain kali kalau mau eksperimen yang risikonya meledak, beritahu aku dulu."

"Supaya apa?"

"Supaya aku bisa pindah sementara ke lounge bawah."

Sudut bibir Senku bergerak—sangat sedikit, hampir tidak terlihat, tapi Gen menangkapnya.

Gen berbalik untuk masuk kembali ke kamarnya.

Dan saat itulah, di lorong yang sepi dengan lampu neon remang-remang dan bau samar kimia yang mengikuti Senku ke mana pun ia pergi, sebuah ide melintas di kepala Gen Asagiri.

Ia berhenti.

Ia memutar tubuhnya perlahan.

Senku sudah berbalik ke arah kamarnya sendiri, clipboard masih di tangan, rambut hitam putihnya sedikit berantakan karena insiden tadi.

Gen menatap punggung itu selama beberapa detik.

"Subjek yang menarik," pikirnya.

Bukan yang jawabannya bisa ditebak dari pertanyaan pertama.

Senku Ishigami berusia dua puluh tiga tahun, mahasiswa paling anomali yang pernah menghuni Gedung C asrama putra. Ini bukan opini—ini kesimpulan kolektif dari seluruh penghuni lantai tiga yang sudah mengamatinya selama hampir dua semester penuh.

Ia bangun pukul empat pagi tanpa alarm, bukan karena kebiasaan, tapi karena ia mengkalkulasi bahwa empat pagi adalah waktu paling optimal untuk melakukan eksperimen tanpa gangguan suara dari penghuni lain. Ia makan tepat tiga kali sehari dengan menu yang ia pilih berdasarkan kandungan nutrisi yang ia butuhkan, bukan berdasarkan selera. Ia tidak pernah terlihat bermain game, menonton drama, atau melakukan hal-hal yang secara umum disebut "bersenang-senang."

Yang ia lakukan adalah sains.

Dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu, sains.

Kamarnya—yang beberapa kali pernah Gen lihat sekilas saat pintunya terbuka—adalah campuran antara laboratorium mini dan kamar tidur yang menyerah pada fungsi aslinya. Ada rak penuh botol reagen berlabel tulisan tangan. Ada papan tulis kecil ditempel di dinding penuh formula. Ada setidaknya tiga buku terbuka sekaligus di atas meja yang sama.

Dan di antara semua itu, ada satu ranjang sempit dengan selimut yang dilipat rapi setiap pagi—satu-satunya hal yang terlihat normal di kamar itu.

Gen mengetahui semua ini bukan karena ia sengaja mengamati.

Yah. Mungkin sedikit sengaja.

Tapi itulah insting seorang mahasiswa psikologi—'semua orang adalah subjek observasi potensial.'

Keesokan harinya, Gen mengetuk pintu kamar 3-C pukul sembilan pagi dengan dua cangkir kopi dari mesin di lounge bawah dan sebuah rencana yang ia susun semalam sampai hampir pukul satu.

Tok. Tok. Tok.

Hening sebentar. Lalu suara langkah kaki. Lalu pintu terbuka.

Senku muncul dengan rambut yang belum diikat—itu jarang, Gen mencatatnya—dan ekspresi seseorang yang sudah bangun sejak jam empat dan sudah berpikir lebih keras sebelum jam sembilan daripada yang kebanyakan orang lakukan dalam satu hari penuh.

Ia melihat Gen.

Ia melihat dua cangkir kopi.

"Ada apa?" tanyanya langsung.

"Selamat pagi untukmu juga, Senku-chan."

Senku mengerutkan alis. "Jangan panggil itu."

"Kopi?" Gen menyodorkan satu cangkir.

Senku menatap cangkir itu dengan ekspresi yang persis sama seperti saat ia menganalisis sampel di laboratorium—mencari variabel tersembunyi, mengkalkulasi probabilitas, mengevaluasi risiko. Lalu ia mengambil cangkir itu.

"Masuk," katanya, mundur dari pintu.

Gen masuk.

Dan untuk pertama kalinya dengan waktu yang cukup untuk benar-benar melihat, ia berdiri di tengah kamar Senku Ishigami.

Lebih kacau dari yang ia bayangkan. Tapi juga lebih... teratur dari yang ia bayangkan. Ada sistem di sini, hanya saja sistemnya bukan sistem yang dimengerti oleh manusia normal. Botol-botol berlabel dalam urutan yang pasti bukan alfabetis tapi mungkin berdasarkan sifat kimiawi. Buku-buku ditumpuk dengan penanda warna-warni yang konsisten. Dan di papan tulis kecil di dinding, di antara lautan formula yang membuat kepala Gen sedikit berputar, ada satu kalimat yang ditulis lebih besar dari yang lain:

"10,000,000,000% — jangan menyerah pada kalkulasi yang belum selesai."

Gen menyesap kopinya.

"Aku mau minta sesuatu," katanya akhirnya.

Senku sudah duduk di kursi mejanya, cangkir kopi di tangan, memandang Gen dengan tatapan yang mengatakan 'sampai di sini aku sudah tahu kamu punya agenda, lanjutkan.'

"Aku butuh relawan untuk praktikum psikologi." Gen langsung ke intinya—ia cukup tahu Senku untuk mengerti bahwa basa-basi panjang hanya akan menghabiskan kesabaran mereka berdua. "Subjek penelitian. Serangkaian wawancara, observasi perilaku, beberapa tes kepribadian standar. Satu semester."

Senku tidak langsung menjawab.

"Aku memilih kamu," lanjut Gen, "karena kamu menarik."

"Menarik secara psikologis."

"Secara psikologis, ya."

"Karena aku anomali."

"Karena kamu unik." Gen memperbaiki kata dengan senyum yang halus. "Ada perbedaan konotatif."

Senku menyesap kopinya dengan tatapan yang tidak berubah. "Dan imbalan apa yang ditawarkan?"

"Aku membantu eksperimenmu." Gen mengangguk ke arah laboratorium mini di kamar itu. "Selama kontrak penelitian berlangsung, aku jadi asisten lab-mu. Tidak resmi, tapi serius. Kamu kasih instruksi, aku bantu."

Sunyi sejenak.

Gen menunggu.

Di luar jendela, suara kampus mulai menghidup—langkah kaki di lorong, suara pintu, seseorang di lantai bawah yang memutar musik terlalu keras untuk jam sembilan pagi.

"Kamu tidak punya background sains," kata Senku akhirnya.

"Tidak."

"Kamu akan lambat."

"Mungkin."

"Kamu akan banyak bertanya hal-hal yang jawabannya sudah ada di buku teks dasar."

"Kemungkinan besar, ya."

Senku menatapnya lagi—dan Gen, yang sudah terbiasa membaca orang, menangkap sesuatu di balik tatapan hijau itu yang tidak bisa langsung ia beri nama. Bukan penolakan. Bukan juga penerimaan yang antusias. Sesuatu di antaranya—kalkulasi yang sedang berlangsung.

"Satu semester," kata Senku akhirnya.

"Satu semester."

"Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang tidak relevan secara ilmiah."

Gen hampir tertawa. "Kalau begitu aku yang tentukan relevansinya."

"Kontrak tertulis."

Gen mengedipkan matanya. "...Kamu serius?"

"Aku selalu serius." Senku meletakkan cangkir kopinya. "Aku ingin klausul yang jelas. Apa yang boleh kamu tanyakan, seberapa sering sesi wawancara, dan—" ia berhenti sebentar, "—kamu tidak akan mempublikasikan data identitasnya di mana pun tanpa persetujuan eksplisit."

Gen menatapnya.

Lalu, dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ia mengerti pada saat itu, ia tersenyum.

"Deal," katanya, mengulurkan tangannya.

Senku menatap tangan itu selama satu detik.

Lalu menggenggamnya.

Jabatan tangan itu singkat, formal, dan terasa seperti awal dari sesuatu yang akan jauh lebih rumit dari yang keduanya antisipasi.


Gen keluar dari kamar 3-C dua puluh menit kemudian dengan kontrak tertulis tangan yang sudah ditandatangani keduanya—karena ternyata Senku benar-benar serius soal kontrak tertulis, langsung mengambil kertas dan bolpoin, dan menulis klausul-klausulnya dengan presisi yang membuat Gen merasa sedang menandatangani perjanjian bisnis sungguhan—dan sebuah ekspresi di wajahnya yang ia tidak bisa sepenuhnya jelaskan.

Ia berdiri di lorong, menatap kertas kontrak itu.

Subjek: Senku Ishigami, 23 tahun, Teknik Kimia. Durasi: Satu semester akademik. Kewajiban subjek: Bersedia diwawancara, diobservasi, dan menyelesaikan instrumen psikologi yang diberikan peneliti. Kewajiban peneliti: Membantu kegiatan eksperimen subjek sebagai asisten tidak resmi selama durasi kontrak.

Gen melipat kertasnya, memasukkannya ke saku, dan berjalan kembali ke kamarnya.

Di depan laptopnya, ia membuka kembali proposalnya. Kursor masih berkedip di kalimat yang menggantung itu.

"Relawan penelitian berjumlah minimal satu orang dengan kriteria—"

Gen mengetik, dan untuk pertama kalinya malam itu, jari-jarinya tidak berhenti di tengah kalimat.

"...kepribadian yang kompleks, pola perilaku tidak konvensional, dan potensi analitik tinggi yang layak dikaji secara mendalam menggunakan pendekatan idiografis."

Ia menyimpan dokumennya.

Lalu bersandar di kursinya, menatap langit-langit, dan berpikir bahwa satu semester ke depan akan menjadi sangat, sangat menarik.

Di kamar sebelah, terdengar suara Senku bergumam sendiri, disusul bunyi peralatan laboratorium, disusul suara tulisan kapur di papan.

Gen menutup matanya.

'Menarik,' ulangnya dalam hati.

'Atau mungkin kacau.'

'Kemungkinan besar keduanya.'

— Akhir Bab 1 —

Preview Bab 2: Di mana Gen menemukan bahwa "membantu eksperimen" artinya lebih dari yang ia bayangkan, dan Senku menemukan bahwa subjek penelitian psikologi ternyata mengajukan pertanyaan yang sangat mengganggu.


메타데이터
post_id
8b9d9082ec50
slug
kontrak-ilmiah-8b9d9082ec50
url
https://medium.com/@mygky/kontrak-ilmiah-8b9d9082ec50
canonical_url
https://medium.com/@mygky/kontrak-ilmiah-8b9d9082ec50
author_url
https://medium.com/@mygky
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11