← Back to list

Seperempat Abad

Nanti kau akan membaca ini, tapi usiamu tidak 25 lagi.

Aksara Sandyakala · 2026-03-28 14:56 · 0 claps · 1.8 min read
#diriku
Open on Medium ↗

Seperempat Abad

25

25

Hari ini, waktu menatapku lebih dalam dari biasanya. Seolah ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kenangan untuk berbaris rapi di pelataran ingatan. Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan kumpulan cerita yang perlahan membentuk siapa aku hari ini.

Aku mencoba mengingat kembali langkah pertama yang mungkin sudah lama terlupakan. Tentang tawa kecil yang dulu begitu mudah tercipta, tentang jatuh yang tak pernah benar-benar ditakuti, dan tentang mimpi-mimpi yang dulu terasa begitu sederhana, namun luas seperti langit tanpa batas.

Seiring waktu berjalan, aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai, tetapi juga tentang menerima. Tentang memahami bahwa tidak semua yang diinginkan akan tinggal, dan tidak semua yang hilang berarti kegagalan. Ada pelajaran yang hanya datang melalui luka, dan ada kedewasaan yang tumbuh dari kehilangan.

Aku pernah menjadi seseorang yang begitu terburu-buru mengejar dunia. Mengira bahwa hidup adalah perlombaan panjang yang harus dimenangkan secepat mungkin. Namun waktu, dengan caranya yang sederhana namun tegas, mengajarkanku bahwa tidak semua hal perlu dikejar. Ada yang memang ditakdirkan datang pada waktunya, ada pula yang harus dilepaskan agar aku bisa terus berjalan.

Dua puluh lima tahun mengajarkanku banyak hal: tentang sabar yang tak selalu manis, tentang kuat yang sering kali sunyi, dan tentang harapan yang harus terus dirawat, bahkan ketika dunia terasa begitu bising dan melelahkan. Mengajarkanku arti kehilangan, arti menunggu, arti berharap tanpa kepastian. Tetapi lebih dari itu, ia juga mengajarkanku arti pulang , pulang pada diri sendiri. Pada ruang kecil di dalam hati yang tetap hangat, meski dunia di luar sering kali terasa asing.

Hari ini, aku tidak hanya merayakan usia. Aku merayakan perjalanan. Segala jatuh bangun, segala ragu yang pernah singgah, dan segala keberanian yang diam-diam tumbuh di dalam diri. Aku merayakan versi diriku yang dulu, yang telah bertahan sejauh ini, meski tak selalu tahu arah.

Dan untuk seseorang yang paling aku sayangi, diriku.

Ayu, terimakasih sudah sampai sejauh ini. Untuk setiap langkah yang terasa berat, untuk setiap malam yang diam-diam kau lewati dengan air mata, dan untuk setiap pagi yang tetap kau sambut dengan keberanian, meski ragu masih tinggal.

Maaf jika aku sering terlalu keras padamu. Menuntutmu untuk selalu kuat, selalu tahu arah, selalu baik-baik saja. Padahal, kau juga berhak lelah, berhak berhenti sejenak, berhak tidak sempurna.

Di usia ini, aku ingin belajar memelukmu dengan lebih utuh. Menerima segala kurangmu tanpa ingin menghapusnya, dan merayakan setiap lebihmu tanpa merasa bersalah.

Nanti kau akan membaca tulisan ini, tapi usiamu tidak 25 tahun lagi. Selamat bertambah usia diriku.

Aku bangga padamu. Sungguh.


메타데이터
post_id
8baec2b8ea0f
slug
seperempat-abad-8baec2b8ea0f
url
https://medium.com/@ayuendangpurwati368/seperempat-abad-8baec2b8ea0f
canonical_url
https://medium.com/@ayuendangpurwati368/seperempat-abad-8baec2b8ea0f
author_url
https://medium.com/@ayuendangpurwati368
status
ok
fetched_at
2026-07-11 16:18:17