← Back to list

Ketika Gajah Harus Mati: Refleksi dari Zimbabwe untuk Dunia

Mereka tidak merusak alam. Mereka adalah bagian dari alam itu sendiri.”  — Dr. Michelle Henley, Elephants Alive

furqon lubis · 2025-06-06 10:13 · 0 claps · 3.3 min read
#konservasi #gajah #lingkungan-hidup #afrika #opini
Open on Medium ↗

Ketika Gajah Harus Mati: Refleksi dari Zimbabwe untuk Dunia

Mereka tidak merusak alam. Mereka adalah bagian dari alam itu sendiri.” — Dr. Michelle Henley, Elephants Alive

Pada tahun 2022, populasi gajah Afrika tercatat sekitar 415.000 ekor (WWF). Di balik angka ini tersimpan paradoks yang sulit dicerna: bagaimana mungkin spesies yang disebut “rentan punah” oleh IUCN justru harus dibunuh secara legal melalui kebijakan culling?

Zimbabwe, negara yang menampung lebih dari 100.000 ekor gajah, mengklaim bahwa populasi tersebut telah melebihi daya tampung habitat dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Maka, culling — atau pemusnahan sistematis — kembali diajukan sebagai solusi. Sebuah pilihan yang menciptakan lebih banyak tanya daripada jawab.

“Savana di Hwange National Park, Zimbabwe — habitat ribuan gajah yang kini menjadi sorotan dalam kebijakan culling.”

“Savana di Hwange National Park, Zimbabwe — habitat ribuan gajah yang kini menjadi sorotan dalam kebijakan culling.”

Culling: Nama Lain dari Kepunahan yang Dikelola?

Istilah culling terdengar teknokratis, nyaris steril. Dalam praktiknya, ia berarti pembunuhan atas nama pengelolaan populasi. Di Zimbabwe, ide ini bukan hal baru. Antara tahun 1965–1988, lebih dari 50.000 ekor gajah telah dibunuh oleh negara.

Pemerintah berdalih bahwa taman nasional seperti Hwange hanya mampu menampung sekitar 15.000 gajah, sedangkan saat ini populasinya bisa mencapai 5–6 kali lipat. “Kami tidak punya pilihan,” ujar pejabat dari ZimParks.

Namun konservasionis mempertanyakan asumsi ini. Dr. Michelle Henley dari Elephants Alive mengatakan:

“Gajah tidak merusak alam. Mereka bagian dari proses regeneratif di ekosistem savana.”

Alih-alih mengontrol populasi, culling skala besar justru dapat menghancurkan struktur sosial gajah yang rumit, terutama peran matriark yang menyimpan pengetahuan antargenerasi.

Di Balik Belalai: Emosi, Ingatan, dan Trauma

Gajah bukan hanya makhluk raksasa dengan belalai panjang. Mereka dikenal memiliki ikatan sosial kuat, ingatan tajam, dan bahkan menunjukkan emosi mendalam.

Di Afrika Selatan, seekor gajah muda yang selamat dari peristiwa culling diketahui mengalami trauma berkepanjangan. Ia menjadi agresif, sulit dikendalikan, dan tidak bisa berbaur. Peneliti menyebutnya mengalami semacam elephant PTSD — trauma psikologis akibat kehilangan seluruh keluarganya.

Bayangkan Anda melihat orang tua dan saudara dibunuh di depan mata. Lalu, Anda diminta bertahan hidup sendirian. Culling bukan sekadar kebijakan populasi. Ia adalah tragedi personal yang diulang ribuan kali.

Siapa yang Berhak Memutuskan?

Konservasi adalah arena kompromi antara ekologi, ekonomi, dan etika. Di satu sisi, Zimbabwe berdalih atas nama kedaulatan pengelolaan satwa liar. “Kami tidak bisa terus dimoralisasi oleh negara-negara Barat yang sudah menghancurkan keanekaragaman hayatinya sendiri,” tegas salah satu menteri.

Di sisi lain, komunitas internasional, LSM, dan sebagian ilmuwan melihat culling sebagai dalih untuk membuka jalan legal bagi perdagangan gading dan industri perburuan trofi.

Negara seperti Kenya memilih menolak total praktik ini dan fokus pada konservasi berbasis komunitas.

Dalam konflik ini, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah kita melindungi spesies demi kelestarian, atau demi kendali atasnya?

Gajah Kita, Dilema Kita: Cermin dari Indonesia

Kita tak punya gajah Afrika, tapi kita punya gajah Sumatra dan gajah Kalimantan, dua subspesies yang juga sedang terancam. Gajah Sumatra diperkirakan tersisa hanya 1.700 ekor (KLHK, WWF Indonesia, 2022).

Berbeda dari Zimbabwe, di Indonesia gajah bukan dibunuh secara legal, tapi hilang diam-diam: terjerat, diracun, atau terusir karena habitatnya dikapling menjadi kebun sawit dan permukiman. Salah satu kasus memilukan terjadi di Aceh, saat seekor gajah ditemukan mati dengan gading hilang.

Kita mungkin mengecam Zimbabwe. Tapi dalam cermin itu, wajah kita sendiri juga tak sepenuhnya bersih.

Konservasi: Antara Empati dan Kuasa

Apa sebenarnya tujuan konservasi? Apakah sekadar menjaga angka dan pagar taman nasional? Atau lebih dalam: pengakuan bahwa makhluk hidup lain punya hak eksistensi, bukan hanya nilai guna?

Gajah memiliki peran ekologis penting: mereka membantu menyebarkan biji, membuka kanopi hutan, dan menciptakan ruang hidup bagi spesies lain. Tapi di balik semua itu, mereka juga makhluk yang mampu merasa, mengingat, dan… kehilangan.

Konservasi tak seharusnya hanya menjadi proyek elit birokrat atau angka dalam laporan keberlanjutan. Ia mestinya jadi ruang perenungan akan posisi kita di tengah semesta kehidupan.

Penutup: Mendengar yang Tak Pernah Bersuara

Tidak ada jawaban mudah dalam isu ini. Tidak ada solusi instan. Tapi ada satu langkah awal: belajar mendengar. Mendengar bukan hanya para ahli atau pejabat, tetapi juga suara yang lebih sunyi — jeritan seekor gajah yang kehilangan induknya, sunyi hutan yang tak lagi dipijak kawanannya.

Dalam memeringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, hari dimana kita didorong untuk sadar dan bertindak lebih terhadap lingkungan. Mari sejenak kita merenung — Konservasi sejatinya bukan tentang menyelamatkan alam dari manusia, melainkan menyelamatkan sisi manusia dari keangkuhannya sendiri.

Referensi:

  • WWF, “African Elephant Population”, 2022
  • African Elephant Database, “Zimbabwe Culling History”
  • National Geographic, “Do Elephants Grieve?”
  • KLHK & WWF Indonesia, “Populasi Gajah Sumatera”, 2022
  • Mongabay Indonesia, “Gajah Ditemukan Mati di Aceh”, 2021

메타데이터
post_id
8bbc47a03005
slug
ketika-gajah-harus-mati-refleksi-dari-zimbabwe-untuk-dunia-8bbc47a03005
url
https://medium.com/@furqon.140191/ketika-gajah-harus-mati-refleksi-dari-zimbabwe-untuk-dunia-8bbc47a03005
canonical_url
https://medium.com/@furqon.140191/ketika-gajah-harus-mati-refleksi-dari-zimbabwe-untuk-dunia-8bbc47a03005
author_url
https://medium.com/@furqon.140191
status
ok
fetched_at
2026-06-25 16:53:31