← Back to list

Bertambah Usia Belum Tentu Bertambah Bijaksana

Usia kronologis tidak bisa mengukur empati dan kebijaksanaan seseorang

Dian Paramita Nugraharini in Ruang Kontemplasi · 2026-07-10 23:27 · 102 claps · 1.6 min read
#ruang-kontemplasi #refleksi-diri #pengembangan-diri #psikologi #kontemplasi
Open on Medium ↗

Bertambah Usia Belum Tentu Bertambah Bijaksana

Usia kronologis tidak bisa mengukur empati dan kebijaksanaan seseorang

Photo by Aneta Hartmannová on Unsplash

Photo by Aneta Hartmannová on Unsplash

Bertambah usia belum tentu membuat seseorang bertambah bijaksana. Seringkali, pengalaman hidup dan asam garam kehidupan lah yang menempa jiwa seseorang hingga mampu bersikap bijak dan dewasa.

Bahkan ada orang bilang, pada titik tertentu saat seseorang menua, Ia justru semakin bersikap kekanak-kanakan, manja, dan ingin dimengerti.

Tenang, saya tidak sedang ngomongin orang tua saya. Ada satu hal yang terjadi hari ini yang membuat saya merasa sangat kecewa, dan justru ide untuk “merusak hari saya” itu datang dari sosok seseorang yang di-tua-kan. Namun ini bukan berarti saya menggeneralisasi bahwa seseorang yang sudah dianggap senior selalu bersikap seperti itu. Hal ini tentu berkaitan dengan level empati dan kebijaksanaan seseorang.

Hal inilah yang kemudian membuat saya berpikir, bahwa pertambahan usia tidak selalu diiringi dengan bertambahnya kebijaksanaan seseorang.

Saya juga tidak habis pikir dengan seseorang yang bisa memendam dendam selama bertahun-tahun lamanya. No matter how hard we tried to apologize, they still act like we haven’t tried to be a better person.

Kelelahan psikologis bisa datang dari kelelahan fisik, bisa juga dari rasa kecewa bahwa ternyata apa yang sudah kita upayakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ternyata tidak dihargai sebagai sebuah usaha nyata.

Sadarilah bahwa dendam bisa menggerogoti cahaya di hatimu. Rasa dendam bisa merusak dirimu sendiri.

Saat seseorang sudah berupaya sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik namun tidak dihargai usahanya, yang ada justru demotivasi untuk menjadi lebih baik dan akhirnya memilih untuk menyerah saja. Kesabaran itu ada batasnya. Bahkan malaikat Jibril pun bisa hilang kesabarannya saat melihat Rasulullah terus disakiti.

Dan seringkali, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membungkam orang lain yang meragukan kesungguhan kita adalah dengan menunjukkan bahwa kita bisa hidup dengan baik tanpa keberadaan dan bantuan mereka. Dan setelahnya, berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dengan tidak melakukan perlakuan buruk yang dilakukan orang lain kepada kita kepada orang lain lagi.

Kebaikan yang kita terima dari orang lain selayaknya kita teruskan kepada sesama, namun keburukan yang kita terima dari orang lain sebaiknya berhenti di diri kita sendiri saja.

Memang berat, namun bukan tidak mungkin untuk terus diupayakan. Tetap semangat untuk kita semua.

Sekian.


메타데이터
post_id
8bff1d8a27c2
slug
bertambah-usia-belum-tentu-bertambah-bijaksana-8bff1d8a27c2
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/bertambah-usia-belum-tentu-bertambah-bijaksana-8bff1d8a27c2
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/bertambah-usia-belum-tentu-bertambah-bijaksana-8bff1d8a27c2
author_url
https://medium.com/@firstlumos
status
ok
fetched_at
2026-07-12 00:43:12