← Back to list

Fungsi Lain Tanda Hubung: Menghubungkan yang Seharusnya Bersatu, tetapi Berbeda

Tanda hubung dapat menghubungkan huruf kecil dengan huruf kapital, angka, atau cetak miring dalam satu kata.

Ahmad Sulton Ghozali in Bahas Bahasa · 2025-08-07 12:46 · 50 claps · 4.0 min read paywalled
#bahasa-indonesia #ejaan #tanda-baca
Open on Medium ↗

Fungsi Lain Tanda Hubung: Menghubungkan yang Seharusnya Bersatu, tetapi Berbeda

Tanda hubung dapat menghubungkan huruf kecil dengan huruf kapital, angka, atau cetak miring dalam satu kata.

Tanda hubung dalam bahasa Indonesia (dokumentasi pribadi).

Tanda hubung dalam bahasa Indonesia (dokumentasi pribadi).

Ini bukan perihal hubungan asmara yang terhalang dinding besar status sosial, suku, hingga agama. Meskipun tampak seiras, sebenarnya tiap hubungan yang terhalang perbedaan tetap dapat bersatu. Dalam konteks bahasa, khususnya tanda baca, fungsi “menghubungkan perbedaan ini” dilakukan oleh tanda hubung.

Pada dasarnya, tanda hubung atau en dash ( - ) digunakan untuk beberapa fungsi dalam bahasa Indonesia.

Pertama, digunakan untuk memisahkan tanggal, bulan, dan tahun dalam penulisan numerik. Contohnya 7–8–2025 untuk menyatakan tanggal 7 Agutus 2025.

Kedua, digunakan untuk mengeja per huruf, suku kata, atau antara imbuhan dan kata dasar. Dalam hal ini, tanda hubung juga dapat digunakan untuk memenggal kata di baris berikutnya berdasarkan satuan silabel atau suku kata jika ruang penulisannya tidak cukup. Contohnya, b-e-r-l-a-r-i atau ber-la-ri atau ber-lari.

Fungsi-fungsi di atas tampak sederhana. Namun, masih banyak lagi kegunaan tanda baca yang satu ini. Beberapa fungsi lainnya ini terkadang masih sulit untuk diingat. Terlebih, dalam pengerjaan SNBT, khususnya materi Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM), siswa sering mengeluh terkait aturan penggunaan tanda hubung yang lumayan banyak untuk diingat.

Fungsi lain tanda hubung yang sering luput dari perhatian adalah menghubungkan bentuk yang berbeda dalam sebuah kata.

Begini maksudnya. Normalnya, suatu kata ditulis dengan beberapa huruf yang sama-sama ditulis dengan huruf kecil. Huruf kapital pun umumnya hanya ditulis di awal huruf karena berbagai aturan penulisan huruf kapital itu sendiri, misal di awal kalimat atau penulisan nama.

Namun, ketika dihubungkan dengan aturan ejaan lainnya, akan kita temui beberapa penulisan kata yang mengharuskan penggunaan huruf kecil dengan bentuk lain di tengah-tengah kata, seperti huruf kapital, angka, hingga cetak miring. Untuk lebih jelasnya, mari kita bedah satu per satu.

Huruf kecil dengan huruf kapital

Kasus ini dapat kita temukan dalam penggunaan pronomina persona (kata ganti orang) terikat, yaitu -ku, -mu, -nya. Bentuk pronomina ini seringnya digunakan untuk menyatakan kepemilikan atas suatu hal. Akan tetapi, pronomina ini juga perlu diawali dengan huruf kapital, terutama ketika merujuk kepada entitas Ilahi atau ketuhanan.

Sebagai contoh, untuk pronomina terikat -mu untuk merujuk kepada kepemilikan orang kedua, kita dapat menggunakannya secara langsung seperti pada kata mobilmu. Namun, jika pronomina ini digunakan untuk merujuk kepada Tuhan, maka diawali dengan Kapital dan dihubungkan dengan tanda hubung, seperti hamba-Mu.

2. Huruf kecil dengan angka

Penulisan huruf kecil yang bersebelahan dengan angka dapat ditemukan ketika menulis urutan. Sebenarnya, penulisan urutan dapat dilakukan secara langsung selama seluruhnya menggunakan huruf, misalnya kata pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Namun, ada beberapa aturan atau gaya yang membatasi penulisan bilangan dengan huruf dan angka. Hal ini ditujukan untuk menghemat ruang penulisan, terutama dalam ranah jurnalistik.

Jika suatu bilangan terdiri dari satu sampai dua kata, maka ditulis dengan angka. Jika suatu bilangan terdiri dari lebih dari dua kata, maka diringkas dengan menggunakan angka. Contohnya, dua, lima belas, 31 (tiga puluh satu, 505 (lima ratus lima), dan seterusnya.

Saya sendiri lebih senang jika penulisan bilangan dilakukan secara konsisten, tepatnya menggunakan angka semua. Selain lebih rapi, penggunaan angka dalam teks juga lebih mudah untuk diidentifikasi sebagai data numerik.

Aturan penulisan bilangan yang sedikit ribet ini juga berlaku dalam penulisan urutan. Sebagai contoh, kata kedua ditulis dengan huruf semua karena kata dua terdiri dari satu kata. Kata kelima belas ditulis dengan huruf semua karena kata lima belas terdiri dari dua kata.

Nah, kata urutan dengan bilangan yang terdiri lebih dari tiga kata akan dipaksa menjadi angka. Sejak bentuk huruf pada imbuhan ke- akan bertemu dengan angka, keduanya perlu disatukan dengan tanda hubung. Contohnya, kedua puluh satu terdiri dari imbuhan ke- dan kata bilangan dua puluh satu. Bilangan dua puluh satu akan menjadi angka 21. Dengan demikian, kata kedua puluh satu akan diubah menjadi ke-21.

Selain urutan, penulisan huruf dengan angka dalam satu rangkaian ini juga berlaku di penulisan strata akademik. Strata sarjana juga ditulis dengaan S-1, kemudian S-2 untuk magister, dan S-3 untuk doktor.

Sebagai catatan, aturan ini dikecualikan dalam penulisan singkatan yang menggunakan angka dan huruf, misalnya LP3I sebagai kepanjangan dari Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia.

3. Huruf kecil dengan cetak miring

Kasus berikutnya berkaitan dengan penggunaan cetak miring. Seperti yang telah diketahui bersama, penggunaan kosakata bahasa asing diperbolehkan dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, penggunaannya harus memilih dua jalur penyesuaian. Pertama, diubah dengan kata padanan atau serapannya dalam bahasa Indonesia. Kedua, dipertahankan dengan bentuk penulisannya yang dicetak miring.

Bagi sebagian penulis, kosakata bahasa asing tetap diperlukan, terutama jika suatu istilah sudah lebih dikenal oleh masyarakat dengan bahasa asing tersebut. Sebagai contoh, kata download sudah memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu unduh.

Kendati demikian, masyarakat lebih dahulu mengenal dan lebih cepat mengenali kata download. Itulah sebabnya, beberapa penulis wara (copy writer) atau penulis konten (content writer) lebih sering memakai kata download agar terkesan tidak kaku, lebih modern, dan lebih dikenali oleh masyarakat.

Seperti dalam paragraf sebelumnya, jika hendak menggunakan kata download atau kata dari bahasa asing lainnya yang belum mengalami serapan dalam bahasa Indonesia, hendaknya ditulis dengan cetak miring.

Lantas, bagaimana jika kata dari bahasa asing tersebut dipaksa menjadi kata kerja dengan ditempeli imbuhan dari bahasa Indonesia? Sejak memuat bentuk huruf yang berbeda, yaitu huruf kecil yang tegak dan huruf kecil yang dicetak miring, maka penulisannya tetapi dirangkai dengan bantuan tanda hubung. Sebagai contoh, men-download atau di-upload.

Ketika mengajarkan materi Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) bagi siswa yang hendak mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), saya memberikan trik cepat seperti di atas. Tanda hubung (-) dapat dipakai untuk menghubungkan bentuk yang berbeda dalam sebuah kata, baik huruf kecil dengan huruf kapital, huruf kecil dengan angka, dan huruf kecil dengan cetak miring.

Jika mereka (unsur pembangun kata) berbeda, seharusnya mereka berpisah, tetapi dapat terhubung dengan bantuan tanda hubung.

Cara ini memang terkesan sedikit ugal-ugalan, tetapi dapat meringkas pemahaman tentang fungsi tanda baca tersebut. Jika memang relevan sebagai panduan penulisan sehari-hari, silakan digunakan. Jika teman-teman memiliki cara lain, silakan bisa ditulis di kolom komentar.

Demikian kiranya. Nantikan artikel yang gurih nan asyik berikutnya! 😉


메타데이터
post_id
8c19bdd54be0
slug
fungsi-lain-tanda-hubung-menghubungkan-yang-seharusnya-bersatu-tetapi-berbeda-8c19bdd54be0
url
https://medium.com/bahas-bahasa/fungsi-lain-tanda-hubung-menghubungkan-yang-seharusnya-bersatu-tetapi-berbeda-8c19bdd54be0
canonical_url
https://medium.com/bahas-bahasa/fungsi-lain-tanda-hubung-menghubungkan-yang-seharusnya-bersatu-tetapi-berbeda-8c19bdd54be0
author_url
https://medium.com/@anginraga
status
ok
fetched_at
2026-06-25 07:00:49