Di Ujung Timur Jakarta
Tulisan ini seharusnya sudah lama rampung dan menjelma di monitor pembaca. Namun dasar rasa malas yang tidak mampu ditekan, baru sekarang…
Di Ujung Timur Jakarta

Tulisan ini seharusnya sudah lama rampung dan menjelma di monitor pembaca. Namun dasar rasa malas yang tidak mampu ditekan, baru sekarang ini bisa terlayang. Baiklah, mari kita mulai.
Awalnya, aku pikir aku tak pernah barang sejenak terlintas untuk bekerja di sebuah NGO. Tentu saja, aku seperti kebanyakan manusia di dunia ini, yang ingin hidupnya sejahtera dengan gaji besar dan jabatan tinggi selepas kuliah.
Jika pembaca yang baik hati pernah-dan atau sudi- membaca perkenalanku di blog ini, mungkin masih ingat betapa aku gandrung pada literasi; membaca dan menulis. Dua hal fundamental dalam kehidupan manusia. Aku mencintai dunia literasi.
Akhir tahun ketiga sekolah lanjutan pertama, aku sibuk berpikir untuk mendirikan sebuah perusahaan penerbitan, lengkap dengan nama, konsep, dan tetek bengeknya. Beranjak SMA, aku mengumpulkan buku-buku bekas dan DVD film yang cocok untuk diputar di depan anak-anak seusia kami, bersama teman-teman satu band-ku dulu. Rencana kami adalah membuat perpustakaan yang mudah diakses dan menyenangkan untuk dibaca oleh semua siswa dan masyarakat di sekitar sekolah. Sampai saat ini, tak satupun mimpi masa kecilku terwujud.
Tentu saja, aku begitu terobsesi pada tulisan, dan sedikit tertarik dengan dunia perfilman. Cita-citaku sampai di akhir masa kuliah hanya dua; menjadi penerbit dan penulis buku atau sutradara. Hal itu aku upayakan dengan mendatangi tempat-tempat yang tepat untuk mengaplikasikan lamaran. Tak pernah jauh dari stasiun TV, penerbit, surat kabar harian, dan tempat bimbingan belajar. Yang terakhir adalah karena aku tak memiliki pilihan lain selain mendapatkan pemasukan untuk menyambung hidup di rantau kota.
Saat tak sengaja netraku membaca ada kesempatan bekerja menjadi copy writer di perusahaan manapun, sudah pasti dengan percaya diri aku mengajukan lamaran. Puluhan surat itu, hingga kini tak pernah berbuah balas. Sampai akhir masa kuliah, aku sedikit melupakan cita-citaku sebab tempatnya tergantikan oleh kesibukan akibat padatnya kegiatan organisasi, mengerjakan skripsi, dan mengajar ngaji anak-anak pasar belakang RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo di Salemba.
Akhir tahun kelima kuliah di kampus hijau negeri di Jakarta, aku mendapatkan gelar sarjana. Pilihanku hanya dua selepas wisuda. Kembali ke kampung halaman yang nyaman; dekat dengan karib dan handai taulan; bekerja di perusahaan yang Mama pilihkan-dan tentu gajinya besar serta dekat dengan rumah, atau bertahan di rantau orang; di belantara kota dengan segala rintangan dan sedikitnya kesempatan bagi anak bawang calon pengangguran. Bermodalkan nekat dan gaji sebagai guru ngaji yang hanya cukup untuk sampai pada akhir pekan kedua tiap bulan, aku memilih yang kedua. Meyakinkan Mama yang seperti kebanyakan orangtua lain atas pilihanku, tentu tidak mudah. Aku memiliki alasan kuat untuk berada di kota yang segala siasat adalah sah.
메타데이터
- post_id
- 8c1d249cefc0
- slug
- di-ujung-timur-jakarta-8c1d249cefc0
- url
- https://medium.com/@ikvinia.nurfatimah/di-ujung-timur-jakarta-8c1d249cefc0
- canonical_url
- https://medium.com/@ikvinia.nurfatimah/di-ujung-timur-jakarta-8c1d249cefc0
- author_url
- https://medium.com/@ikvinia.nurfatimah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01