← Back to list

Epistemologi Sosial I

Pengaruh Sosial dalam Pembentukan Pengetahuan

Sela Sibuk · 2024-11-12 02:02 · 0 claps · 6.2 min read
#epistemologi #epistemologi-sosial #sosial #pengetahuan
Open on Medium ↗

Epistemologi Sosial I

Pengaruh Sosial dalam Pembentukan Pengetahuan

Epistemologi sosial itu, kalau kita lihat dari awal, biasanya beda banget sama epistemologi individu yang sering kita bahas. Di epistemologi individu, fokusnya ada di “pengetahuan” pribadi — kayak kita tahu atau nggak, paham atau nggak, semuanya urusan diri sendiri. Belajarnya solo, ngeceknya solo, pokoknya “single-player mode”. Nah, belakangan muncul nih isu yang dikenal sebagai epistemologi sosial. Kenapa disebut “baru”? Karena banyak yang masih menganggapnya bukan bidang yang mandiri. Jadi, masih banyak perdebatan.

Pertanyaan yang muncul: apa berpikir bareng-bareng bisa disebut pengetahuan? Secara logis, mikir tuh biasanya individual, kan? Bener nggak, ada proses mikir yang benar-benar dilakukan “bersama-sama”? Faktanya, pas kita bilang “berpikir bersama”, tiap orang tetep aja mikir sendiri di otaknya masing-masing. Kita nggak punya “USB antarotak”, jadi kalau ada ide A dari kita dan ide B dari teman, ya hasilnya cuma disatukan aja.

Ada yang bilang epistemologi sosial itu seharusnya nggak berdiri sendiri, cuma bagian dari sosiologi, bukan epistemologi. Tapi, ada juga yang ngotot kalau ini emang bidang yang mandiri, apalagi dengan adanya pandangan-pandangan pasca-modern. Paham pasca-modern ngebuka kesadaran kita kalau dunia humaniora itu dinamis banget, dan interaksi sosial punya dampak besar buat pemikiran individu.

Terus, kalau dipikir-pikir, sekitar 80% pengetahuan kita hari ini mungkin hasil interaksi sama orang lain. Dari kecil, kita udah belajar dari orang tua, dari guru, bahkan dari lingkungan. Jadi, kalau dihitung-hitung, pengetahuan yang beneran kita gali sendiri, mungkin cuma 20%. Coba deh, seberapa banyak dari materi kuliah yang benar-benar kita pelajari secara mandiri, tanpa bantuan dosen? Bahkan buku filsafat yang super penting itu aja, seringnya cuma dibaca sedikit terus keburu ngantuk dan nggak dilanjutin. Jadi, sadar nggak sadar, kita emang lebih banyak bergantung ke pengetahuan yang ditransfer dari orang lain daripada belajar sendiri full.

DALL-E

DALL-E

Pengaruh Sosial dalam Pengetahuan

Penting banget buat kita bahas gimana konteks sosial bisa ngefek ke pengetahuan kita, karena dalam prosesnya, dunia sosial itu super berperan! Gaya kita berpikir hari ini, cara kita lihat dunia, banyak dipengaruhi sama lingkungan sekitar. Jadi, meskipun kita ngerasa “nemu sendiri”, kenyataannya, lingkungan tuh punya andil besar banget dalam membentuk cara kita mikir.

Epistemologi sosial ini fokusnya ada di dimensi sosial dan hubungan kita dengan orang lain dalam proses pembentukan pengetahuan. Kayak ilmuwan, misalnya, mereka nggak bisa kerja sendirian — mereka pasti butuh hasil penelitian dari ilmuwan lain buat lanjut ke penemuan berikutnya. Bahkan dosen-dosen kita juga nggak bisa sampai di titik sekarang kalau nggak ada interaksi sama banyak orang, kayak guru mereka, atau bahkan orang tua yang udah ngarahin mereka sejak kecil.

Intinya, pengetahuan tuh punya dimensi interpersonal yang gede banget. Seberapapun pinter kita, semua itu bukan murni hasil usaha sendiri. Kalau kita ngerasa udah nyari dan belajar mandiri, sebenarnya kita lagi ngebentuk pola pikir dari banyak pengaruh sosial di sekitar kita.

Salah satu asumsi utama dalam epistemologi sosial adalah: sebagian besar pengetahuan kita itu hasil dari interaksi sosial. Makanya, jadi “single fighter” dalam belajar itu kadang nggak optimal. Dulu, banyak guru yang ngingetin kalau pinter itu hasil dari diskusi dan ngobrol bareng. Pas belajar sendiri, kita sering nggak tahu apakah udah paham bener atau belum. Baru deh, pas diskusi sama orang lain, kita sadar ada pemahaman yang ternyata salah atau kurang lengkap.

Nah, ini kenapa kita perlu hati-hati dan sadar sama dimensi sosial dari pengetahuan. Dulu, pengetahuan dianggap cuma punya individu, tapi sekarang kita tahu kalau nggak sesimpel itu. Contohnya, Al-Ghazali — filsuf besar, kan? Dia nggak akan jadi kayak sekarang kalau nggak ada interaksi sama ilmuwan lain. Karya besarnya, “Tahafut al-Falasifah,” itu juga nggak akan muncul kalau dia nggak pernah debat sama filsuf lain. Dan inilah inti dari epistemologi sosial!

Revisionisme dalam Epistemologi

Nah, model pertama dalam epistemologi sosial yang perlu kita tahu adalah revisionisme. Intinya, revisionisme ini tuh kayak “upgrade” terhadap epistemologi tradisional. Para pengikutnya sering mengkritik pandangan klasik dalam epistemologi yang dianggap kurang lengkap. Menurut mereka, epistemologi klasik punya asumsi yang udah nggak sepenuhnya relevan.

Pertama nih, epistemologi tradisional menganggap kalau pengetahuan itu urusan pribadi. Jadi, benar atau salahnya suatu pengetahuan sepenuhnya tanggung jawab individu, kayak “sendiri-sendiri”. Pandangan ini juga bilang kalau kebenaran bisa dicapai tanpa melibatkan interaksi dengan orang lain. Kalau mau tahu yang bener atau salah, ya mesti dicari sendiri.

Kedua, tradisionalis cuma fokus pada hasil — yang bener atau yang salah — tanpa peduli sama prosesnya. Makanya, diskusi di epistemologi tradisional sering cuma tentang klaim mana yang bener dan yang nggak, tapi jarang banget bahas gimana sih proses buat dapet kebenaran itu? Contohnya, pas David Hume bilang kebenaran harus punya bukti empiris, dia lebih fokus di pentingnya bukti daripada ngejelasin gimana caranya ngumpulin bukti tersebut.

Padahal, kalau kita bahas prosesnya, bisa jauh lebih kompleks. Contohnya nih, dalam hukum fikih. Hasil akhirnya bisa berupa halal, haram, sunah, makruh, atau mubah, yang kita kenal sebagai context of justification. Tapi buat sampai ke kesimpulan itu, proses yang melibatkan ilmu fikih, sosiologi, sampai psikologi, semuanya berperan.

Ambil contoh perdebatan tentang rokok, apakah itu halal atau haram. Jawabannya nggak sesederhana “iya” atau “nggak” karena harus lihat banyak perspektif. Bisa aja, dalam konteks tertentu, seseorang merasa rokok ada manfaatnya, sedangkan bagi yang lain malah merugikan. Semua tergantung pada proses dan konteks yang dipakai buat menilai.

Di epistemologi klasik, begitu dapat justifikasi benar atau salah, biasanya proses nggak lagi diulik. Padahal, kalau proses itu dibahas lebih dalam, hasil akhir yang kelihatannya pasti bisa jadi lebih cair atau relatif, nggak cuma hitam-putih.

Ada juga yang namanya context of discovery, yang kebalikannya dari context of justification. Meskipun hasil itu penting, proses buat mencapai nilai itu kadang lebih penting. Jadi, context of discovery ini adalah soal “jalan” atau cara yang kita tempuh buat dapat pengetahuan.

Contoh gampangnya, misalnya nih, proses buat cari pacar yang baik, jadi kaya raya, atau jadi anak saleh — semua itu ada banyak jalurnya. Kadang, meski hasilnya bagus, proses awalnya bisa aja nggak mulus. Sebaliknya, proses yang kelihatannya “gagal” di awal, bisa aja menghasilkan sesuatu yang baik. Nah, revisionisme ini mengkritik epistemologi tradisional yang cuma peduli sama hasil, tanpa lihat konteks prosesnya.

Para revisionis bilang epistemologi tradisional itu perlu dikritik karena kurang memperhatikan context of discovery. Mereka percaya, kalau mau ngerti pengetahuan dengan utuh, kita harus paham dulu gimana proses penemuan itu terjadi, bukan cuma lihat benar atau salah di akhirnya.

Buat kelompok revisionis, proses adalah bagian penting dalam pembentukan pengetahuan. Tanpa proses, kita nggak akan benar-benar tahu apa aja yang terlibat buat nemuin kebenaran. Jadi, sebuah klaim pengetahuan nggak cuma dinilai dari hasilnya aja, tapi juga gimana proses itu dibangun dari pengalaman, interaksi, dan penemuan sepanjang jalannya.

Jadi, context of discovery ini ngasih dimensi yang lebih luas dalam epistemologi, nunjukin kalau pengetahuan itu nggak cuma soal hasil akhir, tapi juga soal perjalanan yang ngebentuk kita buat sampai ke sana.

Nah, poin ketiga yang dikritik sama kelompok revisionis adalah standar-standar dalam epistemologi tradisional yang dianggap terlalu kaku dan nggak fleksibel. Standar ini normatif, universal, dan selalu klaim kebenaran secara mutlak. Misalnya, segala pengetahuan dianggap benar kalau ada bukti empirisnya, atau dianggap benar kalau logis dan rasional. Kalau nggak rasional? Langsung salah, titik. Standar kayak gini kaku banget dan susah diterapkan secara fleksibel.

Padahal, menurut kelompok revisionis, nggak semua pengetahuan butuh bukti empiris yang sama. Ada pengetahuan yang cukup dibuktikan secara logis aja, nggak perlu data empiris. Ada juga situasi yang cukup pakai dalil atau argumen tambahan dari hadis. Jadi, fleksibilitas ini penting banget karena kita nggak bisa paksa semua jenis pengetahuan buat memenuhi satu standar yang sama.

Contohnya, kadang dalil agama udah cukup buat menetapkan kebenaran. Tapi, ada juga kasus di mana dalil itu perlu didukung sama bukti lain kayak hadis, fakta empiris, atau argumen logis tambahan. Dengan standar yang lebih fleksibel, kita bisa menilai pengetahuan sesuai konteks dan jenis argumen yang cocok, bukan cuma pakai standar normatif universal yang berlaku sama rata.

Epistemologi tradisional juga punya kecenderungan buat memisahkan berbagai metode pemikiran, kayak empirisme vs rasionalisme, yang masing-masing menganggap diri paling bener. Nah, kelompok revisionis nggak setuju sama pendekatan kayak gini dan ngerasa kalau model yang terlalu kaku kayak gini perlu dirombak.

Mereka menekankan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual. Jadi, mereka nggak percaya sama standar tunggal yang mutlak buat nentuin kebenaran. Karena menurut mereka, kebenaran itu punya banyak jalan, dan cara kita menilai pengetahuan harus disesuaikan sama situasi dan konteksnya.

Terus, kelompok revisionis juga kritik pandangan bahwa kebenaran harus sepenuhnya objektif dan universal. Dalam epistemologi tradisional, kalau suatu fakta bisa diverifikasi, berarti dianggap benar dan sah. Tapi kenyataannya, dunia itu lebih kompleks dari sekadar fakta hitam-putih.

Contohnya, anggap aja saya selalu bawa HP dan ngerasa butuh HP. Secara fakta, ya, ini bener. Tapi, apa itu artinya HP selalu bikin seneng? Nggak juga. Kadang malah HP yang bikin kita terganggu, kan? Jadi, walaupun faktanya benar, kenyataannya nggak sesimpel itu. Dalam budaya Indonesia, kita sering bilang, “begini ya begini, begitu ya begitu,” maksudnya kebenaran itu harus disampaikan sesuai konteks dan cara. Misalnya, kalau mau bilang seseorang kurang enak dilihat, nggak perlu bilangnya kasar; lebih baik pakai kata-kata yang halus biar tetap sopan dan nggak nyakitin.

Makanya, kebenaran nggak cukup cuma dilihat dari fakta aja. Harus dipikirin juga konteks ruang, waktu, dan relevansi dari kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang objektif mungkin valid di satu pengertian, tapi dalam hidup sehari-hari, konteks emosional, sosial, dan budaya juga penting buat ngukur apakah sesuatu itu bener secara keseluruhan.

Jadi, revisionisme dalam epistemologi sosial menganggap bahwa kebenaran itu harus dipahami dalam konteksnya. Nggak semua kebenaran objektif cocok di setiap situasi. Makanya, penting buat sadar kalau kebenaran nggak selalu absolut tapi bisa relatif tergantung ruang, waktu, dan situasi.

bersambung


메타데이터
post_id
8c331d753ff6
slug
epistemologi-sosial-i-8c331d753ff6
url
https://medium.com/@selasibuk/epistemologi-sosial-i-8c331d753ff6
canonical_url
https://medium.com/@selasibuk/epistemologi-sosial-i-8c331d753ff6
author_url
https://medium.com/@selasibuk
status
ok
fetched_at
2026-08-22 16:50:40