Keberanian yang Tertunda
dari rasa yang tak pernah sempat disuarakan
Keberanian yang Tertunda
dari rasa yang tak pernah sempat disuarakan

Rasa menyukai seseorang memang candu. Setiap perkataannya terdengar seperti melodi yang berputar ulang di kepala. Setiap tindakannya, mampu membuat perasaan melayang lebih tinggi dari seharusnya. Tanpa sadar, meromantisasi hal-hal sederhana yang ia lakukan menjadi rutinitas yang sulit dihentikan.
Hari demi hari, rasa itu kian memuncak. Ia terus bertanya dalam hati, “Apa ini saatnya menyatakan perasaan?” Pertanyaan itu berisik, memenuhi ruang pikirannya. Namun, tindakannya selalu tertahan. Kemungkinan-kemungkinan buruk datang lebih dulu, berbaris rapi seperti ingin memastikan ia tetap diam. Ia sadar, keberaniannya hanya cukup untuk menyukai dalam sunyi, bahkan semut pun mungkin menggelengkan kepala melihatnya.
Bukankah rasa suka kerap tumbuh dari interaksi yang intens di antara dua hati? Lalu mengapa ia bisa terjatuh sedalam ini, sementara interaksi pun bisa dihitung dengan jari? Perasaan memang tak selalu butuh logika untuk tumbuh, ia datang tanpa aba-aba, tanpa izin.
Kini ia hanya mampu mengagumi dari kejauhan, berbisik pada diri sendiri, “Suatu saat aku akan cukup berani untuk membiarkan perasaan ini menemukan jalannya.” Namun, ia hanya menggantungkan segalanya pada takdir, tanpa benar-benar mencoba menjemputnya. Ironis, bukan?
메타데이터
- post_id
- 8cc5ce4ea61e
- slug
- keberanian-yang-tertunda-8cc5ce4ea61e
- url
- https://medium.com/@nazwasm/keberanian-yang-tertunda-8cc5ce4ea61e
- canonical_url
- https://medium.com/@nazwasm/keberanian-yang-tertunda-8cc5ce4ea61e
- author_url
- https://medium.com/@nazwasm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13