Ketupat
Cerpen ini mengisahkan perjalanan emosional dua individu yang menghadapi perubahan besar dalam hubungan mereka.
Ketupat

pic: pinterest
Rasa-rasanya hendak kulempar saja cangkir kopi dan nomor meja ‘1’ ke wajah orang yang sedang aku tunggu begitu dia datang nanti. Aku seperti lenyap ditelan abang-abang barista bertubuh gempal yang dari tadi memelototiku. Aku hampir dua jam duduk di cafe ini tanpa melakukan apapun, hanya memesan secangkir espresso, dan sesekali celingukan seperti orang linglung.
Bunyi dorongan pintu membuatku langsung mendongakkan kepala, dengan harap orang yang aku tunggu datang. Namun, ternyata salah. Orang yang datang adalah Julia, teman sekantorku, sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Ratu, dia belum datang?” tanya Julia, menyerahkan benda yang dia bawa kepadaku.
Aku tadi datang terburu-buru sehingga laptopku tertinggal di kantor.
“Belum. Makasih, Julia.”
“Mau gue temenin sampai dia dateng?” tawar Julia, sebelum dia berbalik menuju kasir untuk memesan sesuatu.
Dalam waktu hitungan menit itu, ingatan yang luar biasa ini mampu kembali ke sekitar dua puluh tahun silam. Di hari penerimaan siswa baru, aku kecil yang tengah mengenakan seragam merah putih dihampiri oleh Nadim, anak laki-laki yang juga berseragam sepertiku.
“Hidungnya mancung dan bisa dipakai perosotan kutu rambut.”
Itulah lelucon yang kala itu aku katakan dengan spontan. Namanya anak kecil, kadang selalu blak-blakan. Nadim menjambak rambutku karena merasa kalau aku mengejek hidungnya. Guru kami heboh, orang tua kami dipanggil, dan kami berlomba membangun benteng gengsi setinggi-tingginya.
Siapa sangka kalau ternyata aku dan Nadim terus bersama. Selalu satu kelas, masuk di SMP yang sama dan satu kelas, bahkan SMA, saat rolling tempat duduk, pernah lebih dari tiga kali kami mendapatkan nomor yang sama.
“Kalau bukan dia pasti sudah kamu tinggal, ‘kan, Ratu?” celetuk Julia tiba-tiba. Dia datang membawa dua potong cake cokelat di tangan kanan dan kiri.
“Nggak juga.”
Julia mengeluarkan senyuman kematian. “Lo sama Nadim itu kaya ketupat.”
Entah sudah berapa ribu kali, kalimat itu disemprot ke arahku. Julia ini adalah teman sejak SMA dan dulu kami satu fakultas. Otomatis dia merupakan saksi hidup pertemananku dan Nadim.
Mungkin benar kata Julia. Saking lama dan sefrekuensinya kami, tanpa sadar aku dan Nadim saling menganyam segala hal dalam hidup sampai rapat seperti ketupat. Setiap kami duduk bersama, apa saja bisa jadi topik diskusi — bahkan hal sederhana seperti rambut pak Sutris, tukang kebun di SMA, yang jarang tumbuh bisa mengarah ke teori konspirasi masa depan.
“Ratu, pacar gue minta putus, gimana dong?
Aku ingat, saat itu kami tengah duduk di tepi jalan depan gerbang SMA. Hujan telah usai mengguyur, sehingga ini waktu yang pas untuk makan semangkok mi kuah instan hangat. Kalimat itu keluar setelah tragedi baju kami terciprat genangan air ulah dari minibus yang melintas.
Aku hanya menghadapi dengan wajah datar. Menurut aku, cukup simpel untuk menghadapi pasangan yang berselingkuh, yaitu dengan berhenti berhubungan dengannya. Aku sebelumnya sudah menyuruhnya untuk mengakhiri. Selain karena berselingkuh, pacar Nadim itu selalu diselimuti gengsi atau bisa dibilang cinta harta api membara.
“Putusin aja. Pacaran aja sama gue,” jawabku santai, lalu menyeruput sisa kuah mi rasa kari ayam.
Mata Nadim membulat sempurna. “Gila ya?”
Sebenarnya aku tidak begitu serius atau hanya asal menjawab. Perbincangan seperti ini memang tidak pernah terjadi selama kita berteman bertahun-tahun.
Nadim itu orang yang santai. Dia tidak akan memusingkan perkataanku tadi. Walaupun begitu, tingkat kepekaan dan pedulinya itu sangat tinggi. Saat babak terendah dalam hidup, gagal masuk di perguruan tinggi sehingga aku harus mengulang satu tahun, di sana Nadim menemaniku.
Satu kalimat yang aku ingat sampai sekarang adalah, “Semua orang berhak bermimpi dan mereka wajib untuk berusaha mewujudkannya. Perkara hasil, akan datang sesuai yang kita butuhkan.”
Lembaran-lembaran di kalender harian dirobek satu persatu. Aku masuk satu kampus yang sama dengan Nadim, hanya fakultas kami yang berbeda. Waktu yang kami habiskan tambah banyak. Kalau kami nongkrong lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiskusi hal-hal relate.
Seakan dimakan waktu, Aku merasa bahwa perasaan serta hubungan kami semakin ambigu. Perasaan yang bukan seharusnya ada dalam kata ‘teman’ atau ‘sahabat’. Bukan mempertanyakan hubungan, melainkan aku berhati-hati kalau-kalau ‘sesuatu’ ini merusak anyamanku dan Nadim.
Di suatu sore, di sebuah kafe, di meja bertuliskan nomor ‘1’, kafe yang sama tempat aku dan Julia sekarang. Waktu itu kami tengah mengerjakan tugas masing-masing. Aku masih ingat wajah serius Nadim. Hidung mancungnya yang sesekali dia kerutkan karena kesal tugasnya tidak kunjung selesai.
Tanpa lewat perantara angin, hujan, maupun debu-debu yang berkeliaran di Ibu kota, Nadim membuka pembicaraan di tengah keheningan kami. “Ratu, kenapa aturan dibuat untuk dilanggar?”
“Karena gue suka pelanggaran,” sahutku seadanya. Menurutku, hidup terlalu terorganisir tidaklah seru.
Nadim menggaruk-garuk kepala, mengacak rambut yang sudah dia sisir sedemikian rupa. Meja kami bergoyang ulah kaki Nadim yang tidak bisa diam. Jemarinya mengetuk meja secara bergantian, tapi tidak menimbulkan suara.
Setelah dia menyeruput teh tegukan terakhir, Nadim mengatakan sesuatu, “Semakin dihindarin, semakin kuat energi tarikannya.”
“Maksud lo?”
“Ratu, situasi ini makin sulit diartikan. Semua yang kita lakuin semakin buat gue lupa kalau kita ga lebih dari sahabat. Ratu, gue takut kehilangan lo.”
Aku paham betul maksud tersirat Nadim. Sekarang aku tidak tahu harus menyembunyikan wajah atau bahkan mengerutkan tubuh lalu bersembunyi di mana. Ini yang sebetulnya menjadi keresahanku sejak lama. Keresahan yang tanpa sadar sudah ada sejak tiga tahun sebelum Nadim berpacaran dengan orang yang menusuknya dari belakang. Selama ini kukira hanya aku, tapi ternyata Nadim juga.
“Kita pacaran aja yuk?”
Aku yang tengah menyesap kopi untuk menghilangkan kecanggungan, mendadak mengalir bukan ke kerongkongan melainkan ke rongga hidung.
“Ga bisa, Nadim. Gue juga takut.”
Namun ternyata, pertentanganku itu kian hari semakin tidak ada artinya. Hingga akhirnya, kami berdua sadar bahwa hubungan ini sudah melampaui batas persahabatan — sesuatu yang baru dan tak terdefinisi.
Ada perasaan takut kalau semuanya berakhir nanti dan kami menjadi saling asing. Walaupun begitu, aku semakin menikmati alurnya. Tidak ada yang berubah, selain perasaan dan frekuensi komunikasi kami yang kian membaik. Seperti perlahan saling mengisi ketupat yang kami anyam.
Aku tahu, waktu bisa saja membawa kami ke arah yang tak terduga. Namun saat itu, di saat aku merenung, aku merasa bahwa kami sudah cukup kuat untuk bertahan. Tanpa terasa, hubungan kami mengalir begitu alami, seolah kami tak pernah berhenti untuk berjalan bersama, saling memberi ruang dan waktu untuk berkembang. Nadim, dengan caranya yang lembut, selalu membuatku merasa bahwa apapun yang terjadi nanti, kami sudah menciptakan sesuatu yang istimewa dalam perjalanan ini.
“Ratu, itu doi datang,” tunjuk Julia.
Segera aku melihat ke arah pintu masuk. Tampak seorang laki-laki mengenakan kemeja hitam lengan pendek masuk ke dalam cafe. Pandangannya menyapu seluruh penjuru cafe tanpa kecuali. Hingga kedua mata kami bertemu, di situlah dia melempar senyum lalu berjalan mendekat.
“Ratu,” sapanya.
Dia mengulurkan tangan, tapi aku hanya bisa membeku. Tanganku kaku, seolah-olah diikat oleh keraguan yang selama ini tak kunjung terlepas. Dadaku terasa sesak, seolah-olah ada beban berat yang tak terlihat.
Walau aku dan laki-laki ini tidak bertemu cukup lama, tapi tampang dan perawakannya masih sama. Hanya rambutnya yang ditata berbeda. Hidung yang mancung itu selalu mengingatkanku pada ‘perosotan kutu rambut’. Iya, orang di depanku ini adalah Nadim.
“Ratu?” panggilnya lagi, mengembalikan pikiranku yang berlarian.
“Ratu gue tinggal dulu ya,” pamit Julia. Dia tidak pergi jauh atau hanya berpindah tiga meja.
Nadim melempar senyumnya padaku, tapi mulutku seperti ditempel lakban. Dia menarik kursi di depanku lalu duduk.
“Apa kabar, Ratu?”
Aku mengerutkan dahi. Dadaku terasa panas dan mendidih. Setelah semua hal yang aku lewati selama ini, tidak cukup bila hanya dijabarkan dari kata ‘kabar’.
Mata Nadim menatap lurus ke arah papan nomor meja berbahan stainless. “Ratu, kangen gak sih kita dulu sering ke sini.”
Aku sudah cukup lama tidak bertemu bahkan tidak mendengar kabar Nadim. Sudah lebih dari tiga tahun, tapi rasanya kita telah bertemu setiap hari.
Aku kembali tidak bisa melakukan apa-apa. Niat awal aku akan memarahi Nadim habis-habisan, selain karena aku terlalu lama menunggu di sini, perpisahan terakhir kita juga penuh akan tanda tanya. Dia menghilang begitu saja seperti angin dan bisu seperti batu.
“Lo ke mana aja selama ini?” Enam kata saja susah keluar dari mulutku. Napasku seperti sedang tenggelam ke dasar laut.
Nadim menatapku dan bergeming. Dia masih bisa menarik senyuman, sedangkan aku di sini semakin tidak ada celah untuk menarik napas panjang. Ada sesuatu yang memberontak ingin keluar di dalam mataku.
“Nangis aja, Ratu,” ucap Nadim dengan lembut, mungkin angin saja bisa meniupnya. Tak lama kurasakan telapak tangan Nadim berada di pucuk kepalaku.
Mataku terasa panas terbakar. Rasa sakit seperti ini kembali menyelimuti dadaku. Aku terpaksa kembali mengingat kejadian yang sangat menyakitkan, tetapi tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
“Ratu, ini sudah tahun ke 6, kita dari awal sama-sama tahu ini bakal susah dilanjutkan, gue minta maaf ya.”
Itu adalah satu kalimat yang masih aku ingat keluar dari mulut Nadim dengan suara bergetar. Aku yakin waktu itu dia mengucapkan dengan susah payah, terbukti dari tempo bicara yang sedikit cepat dari biasanya. Lalu setelah pertemuan itu Nadim menghilang entah kemana.
Sejak awal kami tahu ujungnya akan seperti ini. Sejak awal kami tahu kalau ada tembok tinggi dan sulit dihancurkan, memisahkan aku dan Nadim. Sulit menerima fakta itu, tapi kami terlanjur basah. Perasaan kami memang satu, tetapi keyakinan kami yang berbeda.
Bertahun-tahun aku sudah membuat tameng untuk berdamai dengan perpisahan kami, tetapi itu semua menjadi tidak ada artinya sekarang. Air mata yang aku simpan selama ini akhirnya tumpah membanjiri seluruh wajahku. Aku mengucek mataku cepat-cepat, lalu yakin-takyakin aku menatap mata Nadim lekat-lekat.
“Kenapa lo pergi tanpa kabar, Nadim? Apa gue cuma bagian dari masa lalu lo yang gampang dilupakan?” tanyaku dengan suara gemetar, masih membiarkan air mata mengalir tanpa perlawanan. Nadim tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.
Nadim menatapku lekat. Matanya seperti menyimpan seribu penyesalan yang tak mampu ia katakan. “Gue baru punya keberanian sekarang, Ratu.” Dia menghela napas. “Pasti sulit buat lo selama ini. Gue menyesal ngelempar lo ke jurang ini.”
Setiap kali aku melihat Nadim, ada dua suara di kepalaku. Satu memintaku untuk mempercayainya seperti dulu, dan yang lain terus mengingatkan luka yang ia tinggalkan tanpa kata.
Aku menahan isakanku sejenak, mencoba mencerna kata-kata Nadim. Ada kejujuran di sana, tapi juga luka lama yang tiba-tiba terbuka lebar. “Jadi, lo datang cuma buat bilang itu? Setelah semua yang gue lalui sendirian?” tanyaku dengan suara serak, antara marah dan putus asa.
Dia menatapku, dan kali ini, aku bisa melihat ada genangan di matanya. Tapi aku tidak mau melemah lagi. Aku sudah terlalu lama tenggelam dalam perasaan itu.
“Ratu,” katanya lirih. “Gue nggak mau lo terus terikat sama bayangan gue, Ratu. Lo jauh lebih kuat dari yang gue tahu, dan itu alasan kenapa gue akhirnya dateng.”
Aku bisa mengerti. Kehadirannya di sini mengisyaratkan penyesalan bukan hanya bagaimana cara dia mengakhiri, tetapi cara dia mengawali ini semua. Seperti sebuah pengakuan dosa.
Aku menarik napas dalam-dalam, kembali mengusap muka cepat-cepat. Aku hanya terbawa suasana. Melihat wajahnya lagi membuatku membuka luka lama lagi. Bukan hanya Nadim yang menganyam, tetapi aku juga. Aku menatapnya dalam diam sekali lagi, kali ini dengan mata yang lebih tenang. Semua emosi yang sempat bergejolak kini mulai mereda. Aku tidak lagi butuh jawaban darinya. Kehadirannya di sini sudah cukup untuk memberiku pemahaman yang selama ini aku cari.
“Tapi sekarang gue tahu satu hal. Gue nggak perlu lagi terus bertanya-tanya tentang lo, tentang kita. Gue sudah cukup tahu.”
Aku meraih tas di sebelahku dan berdiri. “Terima kasih udah datang, Nadim. Tapi gue rasa, gue nggak butuh penjelasan lagi. Gue cuma butuh melangkah ke depan, dan lo juga.”
“Ratu, jangan nyesel pernah ketemu gue dalam hidup lo.”
Aku tersenyum tipis ke arahnya, meski hati terasa berat.
Baiklah, aku akan menyampaikan apa yang belum pernah keluar dari mulutku. “Nadim, seandainya lo sejak awal lebih jelas sama perasaan lo, semuanya bisa berbeda. Tapi lo memutuskan untuk diam, dan itu justru membuat semuanya lebih rumit. Gue berharap lo bisa ngasi tau gue lebih awal. Mungkin berpisah akan tetap jadi akhir kita, tapi gue bisa mempersiapkan dengan lebih baik.”
Terlalu banyak ‘seharusnya’ yang aku rasakan dan ingin kusampaikan pada Nadim. Tapi kenyataannya, kita tidak pernah melakukannya. Kita lebih memilih diam, berharap masalah akan hilang begitu saja.
Mungkin, ada saatnya anyaman perasaan ini harus dibiarkan lepas, supaya kami bisa merajut hidup kami masing-masing.
Aku tidak berniat menunggu balasan Nadim, atau bahkan melihat ekspresinya saat ini. Saat aku berjalan menuju pintu keluar cafe, seorang anak kecil berkuncir kuda datang dari arah berlawanan. Dia berlari kencang sambil tersenyum melewatiku. Suara hentakan kakinya terdengar nyaring meskipun berasal dari kedua kaki kecil itu. Dia berlari sambil kedua tangannya terlentang.
“PAPAA!”
Dari pantulan kaca pintu cafe, aku melihat, anak itu melempar pelukan pada pria yang duduk di depanku tadi. Aku menarik napas panjang, dan dengan perlahan melangkah keluar dari cafe, meninggalkan kenangan itu di belakang. Seperti ketupat yang kami anyam bersama, setiap simpul dan sela telah terisi oleh cerita, hingga akhirnya harus dilepas untuk memberi ruang baru.
Aku tahu, saat ini aku harus membebaskan diri dari masa lalu, begitu juga Nadim, yang kini menjalani kehidupannya dengan cara yang baru. Segala sesuatu ada waktunya untuk pergi, dan aku merasa inilah saatnya untuk melangkah ke arah yang baru, dengan pelajaran yang tersisa dari kisah kami.
메타데이터
- post_id
- 8d466569e7fd
- slug
- ketupat-8d466569e7fd
- url
- https://medium.com/@narazhn/ketupat-8d466569e7fd
- canonical_url
- https://medium.com/@narazhn/ketupat-8d466569e7fd
- author_url
- https://medium.com/@narazhn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 23:56:40