Menenun Asa hingga Langit ‘Bimasakti’: Sisi Pragmatis untuk Menghidupi Seni
{Cara Yuyun Ahdiyanti membawa nama Tenun Bima ke level dunia}
Menenun Asa hingga Langit ‘Bimasakti’: Sisi Pragmatis untuk Menghidupi Seni
{Cara Yuyun Ahdiyanti membawa nama Tenun Bima ke level dunia}
Taropo meluncur membawa seuntai benang pakan ke dalam celah yang tercipta dari serentang benang lusi berjejer rapi di badan Tandi, kemudian sebuah Lira kembali ditarik merapatkan tiap helai benang pada kain setengah jadi, memastikan indahnya motif takkan terurai semudah pasir yang ditiup angin. Irama nada dari peralatan kayu, bambu, dan benang yang saling beradu, menghiasi ruangan salah satu rumah panggung warga dengan harmoni musikal yang tak perlu kata-kata untuk bermakna. Suara akrab dalam kampung Ntobo, Kota Bima, yang sebagian besar warganya bermata pencaharian utama sebagai penenun.
Dewasa ini, mudah untuk menemukan mereka melalui dunia maya. Warna-warni motif yang khas dan sarat akan makna filosofis membuatnya menonjol dibandingkan kain daerah lain. Tak lupa, bahan berkualitas dan proses pembuatan yang ramah lingkungan melalui tangan-tangan handal para pengrajin turut menambah nilai estetikanya, membuat kain tenun asal Kota Bima ini menjadi salah satu komoditas paling dicari di NTB. Semua itu tak lepas dari kisah sosok yang berhasil membawa nama kota bima ke kancah internasional beberapa tahun silam; Yuyun Ahdiyanti, salah satu penerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2024 di bidang kewirausahaan, dengan kontribusinya memberdayakan masyarakat sekitar kampung halaman melalui sebuah program kerja bersama UKM Dina.
Waktu berpacu dengan kebutuhan, indah saja tidak akan cukup

Kampung Ntobo, Kota Bima. dokumentasi dari facebook (https://web.facebook.com/share/v/19qXpxtEvn/)
Program Yuyun, ‘Srikandi Penenun Asa Kampung Ntobo’ memang secara spesifik membicarakan perihal pemberdayaan warga kampung Ntobo dan kain tenun Bima sebagai seni budaya lokal yang bangkit kembali setelah bertahun-tahun terpinggirkan, sehingga secara tidak langsung program ini juga mengungkap kondisi umum budaya dan seni indonesia dalam dunia industri yang keras, terkadang tanpa hati.
Yuyun Ahdiyanti besar di kampung yang sebagian besar warganya adalah penenun sejak kecil berkat adat tradisi yang sangat dijaga. Memahami bahwa tradisi turun-temurun mereka adalah warisan yang pantas dihargai dengan sungguh-sungguh, bukan hanya untuk dilihat maupun disimpan dalam lemari itulah yang pertama kali menggerakkan Yuyun untuk mengubah kondisi kampungnya. Yuyun tahu bahwa ‘menenun’ bagi mereka, bukan sekedar kegiatan pengisi di sela waktu maupun kebiasaan harian yang tinggal berlalu, melainkan bentuk cinta dalam mengabadikan warisan budaya yang luhur.
Namun tidak semua orang mengerti hal itu. Para pedagang perantara tidak mau merugi, para pembeli hanya ingin barang bagus semurah mungkin. Selagi asalnya bukan dari tempat jauh maupun brand luar biasa populer, kain tenun daerah tak bernama hanyalah komoditas biasa yang tidak perlu dilirik. Tidak punya jalan lain untuk mencari penghasilan, banyak warga Kampung Ntobo mau tidak mau menerima hasil jerih payah mereka dipatok lebih murah demi mencapai entah siapa yang mau membeli di pasar. Keterbatasan untuk menunjang kehidupan warga inilah yang membuat kampung halaman Yuyun sungkar dianggap ‘Kampung Tenun’ selama bertahun-tahun lamanya dulu.
Apa yang terjadi di Kota Bima bukanlah satu-satunya. Banyak budaya nusantara entah di belahan pulau mana yang bisa saja perlahan menghilang ditelan waktu dari wawasan orang-orang tanpa disadari, banyak karya yang mengendap dalam bayangan tanpa kesempatan untuk disorot. Mati bersama penggiat yang tak mampu bertahan di dunia industri yang butuh materi.
Seni tanpa ketenaran biasa dianggap sebagai hasil dari waktu luang seseorang yang kebetulan indah, pujian datang sesaat kemudian tenggelam di antara tumpukan barang di pojok ruangan. Budaya, meski memiliki nilai filosofis dan kental akan sejarah, bila tidak mencapai mereka yang memang memahami daya tariknya, sulit mencapai masyarakat luas yang memiliki kesibukan dinamis, cenderung lebih mudah jatuh hati akan sesuatu yang dapat memberi manfaat maupun hasil instan.
Berawal dari cinta ke sebuah aksi, setiap karya berhak untuk diapresiasi secara nyata

Yuyun Ahdiyanti. Dokumentasi dari Instagram @Satu_Indonesia (https://www.instagram.com/p/DHippbQzYw8/?utm_source=ig_web_copy_link)
Narasi apik nan dramatis hanyalah cerita sesaat, sedang kehidupan seseorang akan terus lanjut meski dalam hampa. Yuyun Ahdiyanti mengambil langkah awal di aspek yang paling penting untuk mengubah nasib warga Kampung Ntobo yakni; Modal usaha yang memadai dan akses mencapai ke pelanggan yang tepat. Keduanya penting demi bisa menjalankan sebuah usaha tanpa membuat kehidupan sehari-hari diabaikan.
UKM Dina didirikan bukan tanpa maksud. Organisasi usaha kemasyarakatan ini berfungsi sebagai wadah yang tidak hanya menaungi penenun yang mengerjakan komoditas utama, namun juga menggandeng berbagai pekerjaan lain yang warga sekitarnya miliki sehingga mereka bisa saling gotong royong menguatkan ekonominya sendiri melalui jaringan unit kerja yang terarah dan terpercaya. Benang dan bahan dapat terus dipasok teratur, Penenun bisa fokus menenun kain yang indah, Penjahit memiliki pesanan yang terus datang, dan Penjual bisa memasarkan dagangan tanpa perlu biaya tambahan dengan adanya teknologi dan internet sebagai jalan alternatif dari pasar tradisional. Supaya pekerjaan tidak berhenti begitu narasi terasa basi, Yuyun Ahdiyanti juga perlahan mengubah persepsi orang-orang yang mengira tenun mereka hanyalah seni tradisional khusus untuk waktu-waktu sakral, dengan memperlihatkan manfaatnya yang bisa dirasakan pula dalam aktivitas harian.
Bukan mengesampingkan nilainya, ini adalah langkah strategis dalam menghadapi realita dunia industri yang sangat beragam peluangnya. Daripada menunggu seseorang akhirnya datang karena FOMO, UKM Dina mendorong warga untuk aktif menggapai pasar yang lebih luas — pembeli yang membutuhkan kain mereka untuk berbagai keperluan sesegera mungkin — tidak hanya dengan menyediakan modal dan fasilitas tapi juga pemberdayaan dan peningkatan kualitas masyarakatnya. Dengan demikian, mereka tidak hanya punya keindahan motif tenun bernilai tinggi tapi juga sebuah komunitas yang berkelanjutan dengan pondasi usaha yang kokoh.
Kisah Yuyun Ahdiyanti adalah satu langkah pencerahan bagi industri kreatif nusantara

UKM Dina. Dokumentasi dari Instagram @kaentenunbima (https://www.instagram.com/reel/DO-IhJrldgw/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==)
Yuyun Ahdiyanti telah menunjukan, aksi sekecil memposting foto kain tenun di halaman internet pun memiliki dampak yang besar hingga bisa mengubah nasib suatu desa. Dia tidak sendirian, ada orang-orang disekitarnya yang turut bekerja sama dan saling membantu mencari solusi untuk perlahan mengatasi masalah yang ada di masyarakat. Komunitas tidak hanya membantu para seniman memasukan karya mereka ke pasar yang tepat, namun juga memberdayakan pekerjaan lainnya melalui kolaborasi dan inovasi seni ke bidang yang lebih luas.
Seni memang indah, tapi kita adalah makhluk hidup yang punya kebutuhan pula. Menjadi sedikit pragmatis dengan menanggapi kebutuhan pasar modern seperti Yuyun Ahdiyanti lakukan bukan berarti menghilangkan nilai-nilai yang ada, melainkan membuat keseimbangan antara menjaga nilai budaya leluhur dan peluang yang tercipta dari tangan orang-orang disekitar dengan manfaat yang tetap terasa nyata.#APAxKBN2025
Daftar Referensi:
- Alan Malingi. (2011). Mengenal Alat Tenun Tradisional Bima-Dompu. https://alanmalingi.wordpress.com/2011/04/27/mengenal-alat-tenun-tradisional-bima-dompu/
- Tempo. (2025, 18 Juli). Yuyun Ahdiyanti yang Sukses Membawa Ntobo Menjadi Kampung Tenun. https://www.tempo.co/info-tempo/yuyun-ahdiyanti-yang-sukses-membawa-ntobo-menjadi-kampung-tenun-2035754
- Priyanto Sukandar. (2024). Semangat Hari Sumpah Pemuda, 15th SATU Indonesia Awards 2024 Apresiasi Lima Generasi Muda Inspiratif, https://indonesia.jakartadaily.id/ekonomi-bisnis/69313846621/semangat-hari-sumpah-pemuda-15th-satu-indonesia-awards-2024-apresiasi-lima-generasi-muda-inspiratif?page=2
- Idris Hasibuan. (2024). Srikandi yang Mengabadikan Tenun Bima Lewat Kampung Tenun Adalah Yuyun Ahdiyanti. https://olret.viva.co.id/news/18018-srikandi-yang-mengabadikan-tenun-bima-lewat-kampung-tenun-adalah-yuyun-ahdiyanti
메타데이터
- post_id
- 8da1e945bb65
- slug
- menenun-asa-hingga-langit-bimasakti-sisi-pragmatis-untuk-menghidupi-seni-8da1e945bb65
- url
- https://medium.com/@ferizqadwi.2405/menenun-asa-hingga-langit-bimasakti-sisi-pragmatis-untuk-menghidupi-seni-8da1e945bb65
- canonical_url
- https://medium.com/@ferizqadwi.2405/menenun-asa-hingga-langit-bimasakti-sisi-pragmatis-untuk-menghidupi-seni-8da1e945bb65
- author_url
- https://medium.com/@ferizqadwi.2405
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13