Di Tengah Remang dan Sebuah Percakapan Tanpa Arah
Sebuah Percakapan antara Ibu dan bukan Anak Kandungnya
Di Tengah Remang dan Sebuah Percakapan Tanpa Arah
Sebuah Percakapan antara Ibu dan bukan Anak Kandungnya
Photo by Zac Meadowcroft on Unsplash
Setiap orang punya sisi lemahnya.
Ya, hal yang sudah pasti. Tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan, manusia yang paling dicintai oleh Tuhan pun memiliki kekurangan di hidupnya. Ketika kau mengeluh, sebaiknya pikirkan hal baik yang sudah kau dapati. Dari hal baik itu, tidak semua orang mendapat jatahnya, melainkan jatah itu diberikan kepadamu.
Tadinya aku selalu berpikir negatif akan kehidupan. Aku merasa paling diabaikan. Aku merasa tidak ada yang mengenalku. Aku merasa tidak ada yang mau mendengarku. Aku lebih nyaman berdiam diri di sebuah ruangan sempit yang remang, menangis jika merasa sedih sendirian, tertawa terbahak jika merasa bahagia, yang mungkin juga menertawakan kesedihan dan berharap hal tersebut berubah menjadi kebahagiaan.
Aku terlalu terbiasa menikmati kesendirian itu. Lupa akan dunia yang aku tempati begitu luas. Sebegitu luasnya hingga aku tak bisa melewati dunia ini satu per satu. Bahkan semua manusia pun rasanya tidak mungkin bisa menjelajahi seluruh isi di dunia ini.
Kelak suatu malam, di sebuah ruang yang sengaja aku buat remang, seorang Ibu berkata padaku, “Ini tentang bagaimana kamu menerima. Ketika hidup bersama seseorang dan menerima dia, ketika kondisinya nanti yang tidak tahu bagaimana, semua penuh dengan penerimaan. Apakah kamu siap dengan semua itu?”
Kemudian aku berpikir… terus berpikir. Hingga semua jawaban itu mengerucut menjadi satu: penerimaan.
Untuk berada di dunia ini juga adalah sebuah penerimaan. Dahulu ketika manusia masih di rahim ibunya, seorang bayi pun ditanyai tentang kesiapannya untuk bertumbuh di dunia. Apabila bayi itu lahir, berarti bayi itu sudah siap menerima apapun yang akan terjadi di dunia.
Jadi, apalagi selain ‘penerimaan’?
Ya, nyatanya memang harus menerima. Bahagia atau tidak, itu pilihan. Manusia bisa menciptakan bahagianya sendiri. Sesuai versinya.
Hanya saja, manusia benar-benar harus ikhlas menerima apa yang terjadi di hidupnya. Jalani sebaik-baiknya. Perbaiki yang perlu diperbaiki. Dan… bentuk kebahagiaan itu.
Begitulah adanya kehidupan.
메타데이터
- post_id
- 8dba19286367
- slug
- di-tengah-remang-dan-sebuah-percakapan-tanpa-arah-8dba19286367
- url
- https://medium.com/@miraprianti/di-tengah-remang-dan-sebuah-percakapan-tanpa-arah-8dba19286367
- canonical_url
- https://medium.com/@miraprianti/di-tengah-remang-dan-sebuah-percakapan-tanpa-arah-8dba19286367
- author_url
- https://medium.com/@miraprianti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 11:07:01