← Back to list

Riang Gembira

Riang adalah riang.

Adenia A · 2025-10-11 17:18 · 2 claps · 1.9 min read
#riang #gembira #sendu
Open on Medium ↗

Riang Gembira

Photo by Felix Mooneeram on Unsplash

Photo by Felix Mooneeram on Unsplash

Sore tadi riang berkelana di atas jok motor seorang pengelana. Menghabiskan hampir satu jam lamanya untuk menuju negeri pengelana. Ia mengambil gembira dari aktivitas yang kata orang melelahkan — dan menyebalkan. Tapi riang bukanlah orang, maka ia berduet mesra dengan gembira.

Beberapa hari sebelumnya, riang disambut sendu yang membuat sinarnya meredup. Sendu datang dari negeri antah berantah. Ia dikirim oleh seorang yang riang sayangi dengan amat di ibukota. Seorang yang ia temui beberapa bulan lalu. Seorang yang ia sayangi sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, huru-hara serba cepat di ibukota membuat seorang itu berubah dengan cepat pula. Maka, alih-alih rindu, dikirimlah sendu kepada riang.

Namun riang adalah riang.

Riang merelakan beberapa jam tak terjamah manusia, untuk menyambut sendu yang datang tanpa babibu. Ia matikan lampu. Ia tutup tirai dan pintu. Ia pastikan tak ada apapun yang bisa mendengar pembicaraannya dengan sendu. Dalam gelap, mereka berbincang. Sendu membuatnya mengucap beribu pertanyaan retoris yang tak akan mendapat jawaban dari siapapun, termasuk sendu. Sendu membuatnya tenggelam dalam air mata yang sudah dibendungnya entah sejak kapan. Sendu membuatnya menenggelamkan namanya yang riang dalam kuyu yang menghabiskan tepat satu bungkus tisu seharga 2 ribu. Ia lepas riangnya. Ia lepas citranya. Ia lepas kulitnya. Hanya di depan sendu ia berani melakukan itu.

Namun riang adalah riang.

Riang hampir terlelap akibat sendu yang tak kunjung pamit. Namun, bugar kembali matanya saat teringat apa yang sudah ditundanya demi meladeni sendu.

Riang adalah riang.

Ia lanjutkan kalimat di bukunya yang belum sempat terselesaikan. Ia habiskan makanan di mejanya yang belum sempat dihabiskan. Ia tamatkan video di ponselnya yang belum sempat ditamatkan. Ia lanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan. Sendu pun perlahan bosan dan meninggalkan riang dalam pertunjukan hariannya.

Maka riang adalah riang.

Sudah terlalu lama riang merindukan gembira. Maka dalam hembusan angin di jalan raya yang penuh kendaraan, ia jemput gembiranya kembali. Ia tak lupa tentang apa yang sudah mendatanginya sekian hari yang lalu. Ia tak lupa tentang apa yang sudah dilakukannya sekian hari yang lalu. Ia tak lupa tentang apa yang sudah direnggut darinya sekian hari yang lalu.

But the show must go on.

So you wear the mask, go dry your eyes You keep it all locked up inside Pawn your broken heart and sell your soul And you’ll tell yourself you must be strong 'Cause the show must go on

The Show Must Go On — Bruno Major

Riang jadikan pertunjukan itu balasan dari perbincangan dingin sekian hari yang lalu. Setidaknya, ia bisa beriang gembira dan melanjutkan hidupnya melalui pertunjukan itu. Ia tak lupa dan tak tutup mata mengenai citranya yang sedikit palsu. Ia pun mengakui bahwa riangnya yang selalu dibawa ke mana-mana itu tak selalu asli. Namun itulah yang seringkali mempertahankan kewarasannya.

Maka, riang adalah riang.


메타데이터
post_id
8dbd68bcce6d
slug
riang-gembira-8dbd68bcce6d
url
https://medium.com/@aeiaden/riang-gembira-8dbd68bcce6d
canonical_url
https://medium.com/@aeiaden/riang-gembira-8dbd68bcce6d
author_url
https://medium.com/@aeiaden
status
ok
fetched_at
2026-07-16 22:09:17