Benarkah Orang Indonesia Benci Membaca? Berhenti Cari Solusi Instan, Cari Mentor Lewat Buku!
Kabar penutupan jaringan Toko Buku Gunung Agung beberapa waktu lalu meninggalkan rasa sentimental sekaligus prihatin yang mendalam bagi…
Benarkah Orang Indonesia Benci Membaca? Berhenti Cari Solusi Instan, Cari Mentor Lewat Buku!
Kabar penutupan jaringan Toko Buku Gunung Agung beberapa waktu lalu meninggalkan rasa sentimental sekaligus prihatin yang mendalam bagi kita semua. Fakta bahwa sebuah bisnis toko buku legendaris harus gulung tikar merujuk pada satu indikator nyata: minimnya pembeli dan pengunjung. Fenomena ini memicu spekulasi pahit bahwa masyarakat kita memang semakin menjauh dari buku.
Data UNESCO bahkan merekam potret yang sangat ekstrem, di mana minat baca masyarakat Indonesia tercatat hanya 0,001% — menempatkan kita di peringkat 61 dari 62 negara yang diteliti. Mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana kita bisa mengubahnya tanpa harus melulu menyalahkan keadaan atau menunggu tindakan pemerintah?

SUARA BERKELAS #2
Mari kita bedah insight mendalam (daging semua!) yang dirangkum dari obrolan hangat Bilal Faranov dan Agus Leo di Podcast Suara Berkelas Episode 2.
1. Budaya “Bertanya Sebelum Membaca” & Candu Konten Instan
Salah satu refleksi terbesar dari rendahnya literasi di Indonesia adalah kebiasaan sosial kita: lebih suka bertanya dulu sebelum membaca, bukan membaca dulu baru bertanya.
Kita hidup di era digital yang memanjakan kita dengan kepuasan instan. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar hanya untuk menikmati potongan video pendek berdurasi 5–6 detik di media sosial (scroll TikTok/Instagram Reels). Bayangkan, video 5 detik yang ditonton sebanyak 100 kali saja sudah memakan waktu yang lama, dan tanpa sadar kita kehilangan waktu produktif.
“Kita lebih senang memilih sesuatu yang menghibur secara instan daripada sesuatu yang berbobot ilmu dari buku. Padahal, sesuatu yang bertahan lama tidak akan pernah datang dari proses yang instan.”
2. Buku Sebagai Satu-satunya Medium Bebas Distorsi
Banyak orang beralasan, “Ngapain baca buku? Kan sekarang bisa dapat ilmu lewat video edukasi atau dengerin podcast?” Tentu menonton video edukasi tidak salah. Namun, konten audio-visual memiliki tingkat distorsi yang tinggi. Saat menonton video atau podcast, fokus kita sering teralihkan oleh hal-hal di luar substansi: cara berpakaian pembicara, gerakan tangan (body language), keindahan studio, hingga kualitas audio. Kita cenderung menilai “meyakinkan atau tidak” si pembicara daripada isi ilmunya.
Sebaliknya, buku adalah satu-satunya medium yang memaksa otak kita melakukan simulasi mandiri. Saat membaca, otak kitalah yang aktif memproses struktur kalimat, membayangkan intonasi, dan mencerna maknanya secara mendalam. Buku melatih kita untuk berpikir kritis secara objektif dan tidak mudah digiring opini ke sana-kemari oleh tren media sosial.
3. Mengubah Mindset: Buku adalah Akses Mentor Tanpa Batas
Banyak anak muda di usia 20-an merasa tersesat (stuck) dan mengeluh karena tidak memiliki akses ke sosok mentor untuk membimbing karier atau kehidupan mereka. Jawaban sebenarnya ada pada buku.
Tokoh-tokoh besar dunia tidak langsung sukses secara instan:
- Bill Gates: Mengklaim membaca hingga 50 buku dalam setahun.
- Elon Musk: Di masa lalunya yang belum kaya, sering menghabiskan waktu pulang sekolah di perpustakaan untuk membaca hingga diusir oleh petugas.
Membaca buku biografi atau buku yang membuat mikir sama seperti kita sedang “berteman dan mengobrol” langsung dengan penulisnya. Lewat buku, kita memiliki akses tanpa batas untuk mengadopsi pola pikir orang-orang terbaik di dunia — mulai dari Seth Godin hingga Warren Buffett — dengan harga yang sangat murah. Buku memicu rasa keingintahuan kita untuk memecahkan masalah (read what I want to solve).
💡 Tips Ampuh Menyerap Isi Buku Agar Tidak Mudah Lupa
Banyak orang malas membaca karena alasan, “Baru baca beberapa halaman, besoknya udah lupa.” Podcast Suara Berkelas membagikan 3 langkah konkret ini:
- Catat Insight Penting: Jika menemukan kalimat yang memicu pemikiran baru atau relevan dengan hidupmu, segera catat.
- Gunakan Teknik Parafrase: Jangan sekadar menyalin ulang kalimat dari buku. Tulis kembali poin penting tersebut menggunakan gaya bahasa dan konteks pribadimu sendiri agar otak mengunci informasi tersebut.
- Langsung Beraksi (Action): Ilmu dan informasi dari 100 buku sekalipun tidak akan mengubah hidupmu tanpa adanya aplikasi nyata. Lakukan aksi sekecil apa pun dari apa yang kamu baca secara konsisten.
4. Rekomendasi 5 Buku Wajib untuk Anak Muda Usia 20-an
Jika kamu bingung harus mulai membaca dari mana, berikut adalah 5 rekomendasi buku terbaik yang sangat relevan untuk meretas masa depan anak muda:
- The 4-Hour Workweek (Tim Ferriss): Mengajarkan tentang Parkinson’s Law — bagaimana produktivitas dan hasil kerja kita sangat bergantung pada efisiensi manajemen waktu (memanfaatkan momentum kepepet secara terstruktur), bukan sekadar durasi kerja yang lama.
- The Alchemist (Paulo Coelho): Sebuah novel fiksi filosofis yang luar biasa untuk kamu yang sedang berjuang mencari jati diri, mendengarkan hati kecil, dan memahami makna perjalanan hidup.
- Atomic Habits (James Clear): Panduan praktis membangun kebiasaan positif melalui langkah-langkah mikro yang berdampak makro dalam jangka panjang (seperti penerapan two-minute rules dan modifikasi sinyal/cue di sekitar kita).
- The Psychology of Money (Morgan Housel): Mengupas tuntas bahwa mengelola keuangan bukan soal seberapa pintar kamu matematika, melainkan bagaimana perilaku, ego, dan psikologimu terhadap uang (berhenti gali lubang tutup lubang karena paylater!).
- Jurnal Inspirasi (Bilal Faranov): Buku reflektif yang menyajikan kacamata nyata dan sudut pandang praktis dalam menghadapi kerasnya dinamika serta jatuhnya mental di usia 20-an.
Sesi Q&A Pilihan: Menjawab Kegelisahan Gen Z
Di akhir sesi, podcast ini menjawab beberapa pertanyaan tajam yang diajukan oleh netizen:
Q: Bagaimana cara tahu kalau diri kita yang sebenarnya “Toxic” di sebuah lingkungan?
Jawab: Indikator paling mudah adalah melalui pola yang berulang. Jika kamu sering berganti-ganti lingkungan pertemanan atau tempat kerja, namun kamu tetap merasa bahwa lingkungan baru tersebut selalu “toxic” dan negatif, maka kemungkinan besar sumber masalah utamanya ada pada dirimu sendiri. Cobalah berkaca dan latih diri untuk melihat sesuatu secara objektif berdasarkan fakta operasional, bukan subjektif berdasarkan asumsi, perasaan baper, atau gosip negatif.
Q: Bagaimana tips membagi waktu agar bisa produktif bekerja/berkarya sebagai kreator?
Jawab: Terapkan metode Time Boxing. Mulailah harimu dengan menulis daftar tugas (to-do list), lalu tentukan skala prioritas untuk memilih 3 tugas teratas yang memiliki dampak terbesar (Daily Highlight). Selain itu, pelajari ilmu Delegasi. Kita tidak bisa mengerjakan 100% hal teknis sendirian jika ingin berkembang; berikan tugas-tugas pendukung kepada sistem atau orang lain agar kamu bisa fokus pada hal yang esensial.
Q: Bagaimana cara mengatasi gengsi yang berlebihan di kalangan Gen Z?
Jawab: Gengsi muncul karena kita mendirikan status sosial semu di dalam pikiran kita sendiri demi mendapatkan validasi eksternal dari teman sebaya (peers). Kita menganggap hidup ini seperti kompetisi siapa yang paling cepat, padahal yang terpenting adalah siapa yang tujuannya paling jelas. Buku yang sangat tepat untuk mengatasi hal ini adalah “Ego is the Enemy” karya Ryan Holiday. Turunkan egomu, berhentilah mencari validasi dari orang lain, dan fokuslah pada motivasi intrinsik untuk mencapai tujuan hidupmu.
Kesimpulan
Berhentilah beralasan bahwa kamu harus sukses atau kaya terlebih dahulu baru memiliki waktu untuk membaca buku. Balik polanya sekarang juga: coba ganti waktu kebiasaan scrolling media sosialmu dengan membaca buku selama 30 hingga 60 hari saja. Lihat bagaimana pola pikir, cara bicaramu, dan hidupmu akan berubah total.
Bagaimana denganmu? Apa buku yang sedang kamu baca bulan ini? Tulis di kolom komentar ya!
Stay Classy!
Artikel ini dirangkum dari tayangan video SUARA BERKELAS #2 di YouTube.
메타데이터
- post_id
- 8dc399f4d0c2
- slug
- benarkah-orang-indonesia-benci-membaca-berhenti-cari-solusi-instan-cari-mentor-lewat-buku-8dc399f4d0c2
- url
- https://medium.com/@afifarifmustofa/benarkah-orang-indonesia-benci-membaca-berhenti-cari-solusi-instan-cari-mentor-lewat-buku-8dc399f4d0c2
- canonical_url
- https://medium.com/@afifarifmustofa/benarkah-orang-indonesia-benci-membaca-berhenti-cari-solusi-instan-cari-mentor-lewat-buku-8dc399f4d0c2
- author_url
- https://medium.com/@afifarifmustofa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13