Tempat Menetap
where your soul feels at home
Tempat Menetap
where your soul feels at home
Photo by Víctor Vázquez on Unsplash
“Asal saya dari Surabaya, Mbak. Sudah 15 tahun tinggal di sini,” ucap pria paruh baya yang mengantarku malam ini.
“Lah, kok betah, Pak?” tanyaku heran — namun hanya dibalas tawa renyah dari ujung sana.
Ini bukan pertama kali aku mengajukan pertanyaan itu. Setiap perantau yang kutemui — di pasar, tempat makan, barisan antrean swalayan, hingga rute jalan langgananku — semua kutanyai dengan adil dan merata. Apa yang membuat mereka betah tinggal di sini? Sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa menjawab rasa penasaranku.
Bagiku, Tarakan adalah kota yang teramat aneh. Lihat saja cuacanya: labil. Siang yang selalu terik, lalu tiba-tiba hujan — membuatku perlu minum obat flu setidaknya sekali dalam seminggu. Kota yang terkenal sebagai penghasil minyak bumi ini pun tidak membuat harga bahan bakar menjadi lebih murah. Dan meskipun bertetangga dengan Pulau Bunyu sang penghasil batu bara, listrik masih sering mati di sini — membuatku jadi pelanggan tetap EJ Cafe untuk bekerja.
Lalu, aku berpikir mungkin tempat ini tepat bagi pencari kerja. Namun, setelah mengecek besaran UMR yang hanya cukup untuk membeli 20 kg daging sapi segar, aku mengurungkan hipotesisku. Tarakan adalah kota yang mahal, bahkan untuk membeli daging murah. Warga harus mengendap-endap karena daging bagus dan murah adalah barang ilegal — hasil selundupan dari negara tetangga. Tak pernah terlintas skenario di kepalaku: ditangkap polisi ketika memakan semangkuk sup konro karena dagingnya ilegal. Untungnya, itu hanya sebatas imajinasi konyol saja.
Tiga bulan berlalu, dan jawaban atas pertanyaanku belum juga kutemukan. Tapi ada hal-hal lain yang diam-diam menetap: sambutan tangan terbuka dari pulau ini, hangatnya rawon hasil akulturasi tangan Ammak yang rasanya mirip buatan Mbah, sejuknya taman mangrove dan keceriaan bekantannya. Tidak lupa, manisnya udang goreng Warung Bu Bahagia dan pertemanan dengan Syarah — yang entah bagaimana terasa seperti versi diriku yang lebih cantik, tapi Minang.
Mungkin, ada jawaban yang muncul bukan karena dicari, melainkan cukup dirasakan. Hanya mereka yang menetaplah yang bisa merasakannya.
Dan, aku? Sepertinya, perlu mencari lagi untuk cukup beruntung merasakannya.
메타데이터
- post_id
- 8e1c921bb6c6
- slug
- tempat-menetap-8e1c921bb6c6
- url
- https://medium.com/@tikaamalia/tempat-menetap-8e1c921bb6c6
- canonical_url
- https://medium.com/@tikaamalia/tempat-menetap-8e1c921bb6c6
- author_url
- https://medium.com/@tikaamalia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-08 08:50:16