Berkembang
Tentang sedikit mimpi menjadi pemimpin yang menemukan wadah berkembang di kepanitiaan (dan/atau himpunan kelak)
Berkembang
Tentang si pemimpi yang menemukan jalan ninjanya di kepanitiaan (dan/atau himpunan kelak)
Mima kelas 3 SD merasa gemas ketika dia telat masuk kelas karena mengikuti latihan pagi, teman-teman yang lain duduk diam memperhatikan penjelasan guru. Teman-temanku saat itu masih wangi, bau sabun mandi dan parfum anak yang bergambar princess Disney dan superhero, trend saat itu. “Gak asik, ih, cuma belajar di kelas,” batinku.
Aku berlatih untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat Kecamatan. Pesta Siaga adalah lomba kepramukaan yang digelar berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional. Aku masuk kelas jam 9 pagi. Badan Mima kecil sudah apek, berkeringat, muka memerah.
Persiapan yang kami lakukan yaitu mempelajari tali temali; menghafalkan Dasa Darma Pramuka; mengenali bau rempah-rempah dengan mata tertutup; memimpin barisan; mempelajari pengetahuan umum kepramukaan, dari nama Ka kwarnas saat itu hingga nama lima gunung yang mengitari Magelang. Aku sadar, bahwa hal-hal seperti ini yang aku sukai, di lapangan, berkumpul bersama teman-teman, sibuk, dan (yang paling penting) tidak belajar di kelas.
Ketika SMP, dengan percaya diri, aku masuk ke ekskul (ekstrakurikuler) Palang Merah Remaja, padahal aku tidak memiliki keinginan menolong orang atau keinginan menjadi dokter. Hahaha beberapa teman PMR-ku sudah berprinsip FK harga mati waktu itu dan aku masuk PMR dengan modal “Aku ga takut darah. Fine-fine aja.” Terpantau agak…liar ya hahaha.
Ketika ada Jumbara (Jumpa, Bakti, Gembira) — Jamborenya PMR, aku ditunjuk menjadi ketua simulasi pertolongan pertama.
Kami belajar mengecek tanda vital, membidai, membersihkan luka, membuat dragbar (tandu dari tongkat dan tali pramuka), menghapalkan tahapan pertolongan pertama, dan melakukan persiapan-persiapan lain.
Ketika ditawari jabatan itu, langsung kuterima karena….. “Daripada ikut LCC di dalam ruangan, mending ikut PP (Pertolongan Pertama),bisa susur sungai,” pikirku. Pokoknya aku anti di dalam ruangan (apalagi ber-AC, takut mabuk) hahaha.
Puji Tuhan, kelompok kami mendapat juara 1 dalam kategori lomba simulai PP dan menjadi juara umum tingkat Kota. Dengan modal itu, aku didapuk menjadi perwakilan PMR di Jambore Nasionalisme mewakili Kota Magelang. Salah satu lomba yang kami ikuti adalah drama penyuluhan. Aku berperan menjadi Bi Iyem, pembantu rumah tangga. Syukur kepada Tuhan (lagi), kami menjadi juara 1 dalam kategori itu.
Jambore hanya berlangsung 3 hari tetapi kulitku 3 tingkat lebih hitam, flek juga semakin terlihat di wajahku. Akan tetapi, aku menyukainya (walau harus berjuang melepas kaos kaki setelah mengikuti lomba pemetaan dan penginderaan jauh. Kami harus berjalan berkilo-kilo meter menggunakan fantovel untuk membuat peta tersebut dan berakhir dengan kaki kapalan!)
Mendirikan tenda, mengikuti lomba pemetaan dan penginderaan jauh, menjadi Bi Iyem, berpanas-panasan di lapangan, hingga meneriakkan yel-yel sambil mengitari piala (tradisi ekskul-ekskul mentereng hahaha).
Aku menemukan “aku” di sana.
Berlanjut sampai SMA, aku diangkat menjadi anggota divisi acara Persekutuan Siswa Kristen ketika kelas 10. Dengan jobdesc harian seperti biasa dan puncaknya adalah perancangan proker (program kerja) retreat tahunan, kami menjalani persiapan dengan haha-hihi. Asik. Seru. Chaos.
Pun aku mengikuti kaderisasi ekskul Pasukan Pengibar Bendera. Kalian tahu, kan besarnya tekanan menjadi calon anggota muda di ekskul yang menekankan korsa ini. Tidak hanya itu, aku ditunjuk untuk mengikuti dua lomba paduan suara, juga satu lomba Vokal Grup, mewakili nama gereja dan Kota Magelang.
Di saat kelelahan dengan tanggung jawab yang dengan penuh kesadaran kuambil semua ini, pikiranku berkembang. Aku yang saat SD menyukai kegiatan lapangan (karena tidak berada di kelas) menjadi tertarik dengan perancangan acara dan segala tetek bengeknya. Masih tetap karena tidak suka belajar di kelas dan suka berkumpul hihihi. Tidak terima ucapan “Sok sibuk lu!” Karena emang aku gasuka diem temen-temen, jadi maafkeun.*
Ketika mengikuti lomba paduan suara, aku berpikir, “Keren ya bisa ngehandle acara padus kaya gini, tingkat Provinsi lagi.” Ketika mengambil hukuman seri push-up di kaderisasi Paskibra — waktu itu matahari di atas kepala, tiba-tiba terlintas “Yang bikin susunan acara gini siapa ya? Tugas yang diberikan bisa bertahap dan sampai jalan malam pun bisa dikoordinasikan dengan baik,” sambil mengumpati diri sendiri karena lupa sudah “turun” berapa hitungan. Untungnya tiap turun, kami meneriakkan hitungan dengan lantang. “Duh, ini udah set keberapa ya” hahaha.
Manis untuk dikenang, tidak untuk diulang. Skip banget lurr!
Aku menemukan bahwa semuanya butuh “panitia belakang”. Dia (atau mereka) yang bekerja di balik layar. Tidak berdiri di atas mimbar, tidak harus dikenal oleh semua orang, tidak memberikan kata sambutan, tidak diberi tepuk tangan. Dia yang tidak tampak. Akan tetapi, tanpa dia, “pertunjukan” tidak akan berlangsung.
Aku merasa pandanganku ini selaras dengan keluaran Divisi Acara. Kami membuat “produk” yang bisa dinikmati oleh penerima, tanpa mereka tahu pembuat “pertunjukan” itu. Divisi acara versi wara-wiri sibuk di belakang adalah aku. Kami — aku dan divisi acara, seperti kesatuan yang bulat, utuh, tidak dapat terpisahkan.
Kecintaanku terhadap kepanitiaan sekarang sedang kuusahakan tetap ada walau tergencet tekanan akademik yang cukup besar di perkuliahan. Mau tidak mau aku harus belajar — dengan kuat, untuk bisa bertahan dalam suasana “persaingan” akademis yang ketat. Tidak lucu bila aku di-DO karena ambis panitia sedangkan nilaiku E. Jika boleh berharap, semoga kepanitiaan menjadi matkul wajib. Sudah pasti akan kuambil SKS penuh. Tolong dengarkan aspirasi saya, Bu Rektor, hahaha.
Kembali ke kepanitiaan saat SMA, Divisi Acara menjadi subjek pokok dan serba semua saat itu. Tangan kanan ketua. Mulai membuat rundown, mencari pembicara, survey tempat, hingga mengatur publikasi, semua dilakukan anak Acara.
Saat berkuliah, aku sadar, bahwa kepanitiaan SMA yang kugadang-gadang paling efektif karena satu pintu dan merangkum kepanitiaan dalam jumlah kecil, ternyata skalanya masih rendah, sangat rendah. Mungkin acara yang akan digelar masih sederhana sehingga kepanitiaan yang dibentuk hanya melibatkan divisi-divisi pokok.
Di SMA, aku hanya mengenal rundown, sedangkan di perkuliahan, susunan acara menjadi makin rumit. Rundown itu dipecah menjadi rundown itu sendiri, teknis lapangan, deskripsi rangkaian acara, timeline progress, dan lain-lain. Dahulu, mencari pembicara dan menyusun materi menjadi tanggung jawab Divisi Acara, sekarang menjadi tanggung jawab Divisi Materi. Dahulu, survey tempat pun kami lakukan, sekarang ada Divisi Akomodasi dan Transportasi yang melakukannya. Dahulu, rancangan anggaran hanya dipegang oleh Bendahara. Semua satu pintu. Sekarang, tiap divisi pun harus mengetahui bagaimana menyortir kebutuhan berbayar, dilihat dari tingkat urgensinya. Dahulu, panitia berjumlah dua puluh orang sudah terhitung banyak. Sekarang, panitia inti sampai harus oprec (open recruitment) anggota divisi.
Ya, semua berkembang. Bukan kepanitiaan semasa SMA yang salah atau kepanitiaan semasa kuliah yang rumit, tetapi memang makin tinggi tingkatannya, makin banyak hal yang bisa dilakukan.
Ketika kuliah, makin banyak acara yang bisa dikembangkan oleh panitia. Makin kompleks juga acara yang akan digelar. Hal ini tentu membutuhkan berbagai perubahan dari kepanitiaan di zaman SMA, mulai dari perubahan tingkat acara menjadi tingkat nasional; perubahan divisi dan pembagian tugas kerja; sampai perubahan sasaran acara.
Tidak jarang, kan, kita menemui berbagai rangkaian acara yang digelar mahasiswa tingkat nasional; mengundang pembicara ahli; memiliki banyak varian acara; melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah dan aparatur keamanan; memiliki anggota kepanitiaan berjumlah ratusan. Perbedaan panitia di SMA dan kuliah merupakan bukti bahwa semakin kita tua, seharusnya kita semakin berkembang.
Semua orang tahu, bahwa
Semakin dewasa, semakin kompleks tanggung jawab yang akan kita emban,
tetapi tidak semua orang menyadarinya. Proses berkembang itu akan selalu ada, sampai besok ketika kita sudah dipanggil Tuhan. Bagiku, kepanitiaan (dan/atau berhimpun) adalah langkah awalku untuk berjalan lebih jauh. Salah satu cita-citaku yaitu menentang stereotip : -Anak muda, tuh gabisa diandalkan. -Dia gaada pengalaman. -Emang dia bertanggung jawab? -Perempuan, tuh gabisa kerja lapangan. dan pandangan-pandangan lain yang mendiskreditkan perempuan dan anak muda. Ya, salah satu langkah yang kulewati untuk berkembang yaitu dengan menerjunkan diri dalam kepanitiaan.
Lambat laun, pemikiran tentang “panitia belakang” berganti menjadi “pemimpin di belakang”. Itulah mimpiku. Masih dengan pandangan yang sama tentang definisi “belakang”, aku menyadari bahwa pemimpin bukan sekedar jabatan, tetapi komitmen.
Ada satu quote dari Ki Hajar Dewantara (dalam bahasa Jawa) yang kurasa relevan dengan pola pikirku terhadap “pemimpin” Ing ngarsa sung tuladha ‘di depan memberi contoh’ Ing madya mangun karsa ‘di tengah memberi semangat’ Tut wuri handayani ‘di belakang memberikan daya kekuatan.’
Aku ingin menjadi perempuan muda yang bertanggung jawab; pemimpin yang berkomitmen terhadap semua hal yang ia pilih. Ia bisa memposisikan diri, haruskah sekarang ia berada di depan, di tengah, maupun di belakang.
Pemimpin bukan cuma seorang yang memberikan sambutan di depan, atau memberikan apresiasi kepada staff yang berdedikasi tinggi menyukseskan acara, tetapi pemimpin itu menjadi manusia pertama yang resah ketika anak buahnya susah sekaligus menjadi manusia terakhir yang tumbang ketika anak buahnya sudah di ambang.
Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12 TB)
Bersyukur bisa berkembang sejauh ini. Entah untuk kamu yang juga suka berkumpul dan menjadi pengabdi panitia sampai mati ataupun kamu yang bersebrangan dengan aku. Gapapa! Tiap orang punya wadahnya sendiri untuk berkembang.
Jadi, apa wadahmu untuk berkembang?
메타데이터
- post_id
- 8e446bc38bc8
- slug
- berkembang-8e446bc38bc8
- url
- https://medium.com/@cinahya/berkembang-8e446bc38bc8
- canonical_url
- https://medium.com/@cinahya/berkembang-8e446bc38bc8
- author_url
- https://medium.com/@cinahya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 00:30:12