← Back to list

Kalau Bisa Bersatu Kenapa Harus Terpecah Belah?

Mau sampai kapan kita terjebak dalam perdebatan tiada akhir? Apa susahnya berlapang dada?

Fandy Ardiansyah Ladaima · 2025-09-23 08:07 · 0 claps · 2.3 min read
#islam #umat-islam #unity #curcol #persatuan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎮 · Gaming 🕊️ · Religion

Kalau Bisa Bersatu Kenapa Harus Terpecah Belah.

Saya ingat betul perkataan Ustad Felix Siauw dalam bukunya Beyond the Inspiration “Life is Choice”, hidup itu pilihan. Bisa dikatakan perkataan inilah yang menjadi menu utama pembahasan dalam buku tersebut. Mau jadi baik ataupun buruk, benar ataupun salah, semua itu adalah pilihan. Ketika kita memilih menempuh jalan kebaikan, maka konsekuensinya adalah akan dibenci oleh pelaku keburukan. Berbicara tentang kebenaran, masing-masing kepala punya pengertianya masing-masing. Dan jika diteruskan maka bisa dibayangkan betapa berantakannya hidup ini. Tentunya harus ada satu-satunya kebenaran yang datang langsung dari sumbernya. Bukan asal-asalan hasil rekayasa akal manusia. Kalau kata orang sekarang loe loe, gue gue. Begitulah pilihan, akan selalu berbenturan antara satu dengan yang lain.

Hidup dimulai dari kesaksian kita bahwa Allah ada Rabb, lalu dilahirkan dan menjalani hidup hingga nanti dipanggil dan diminta pertanggungjawaban. Sang Pencipta memberi petunjuk agar terang benderang jalan dunia. Ada yang mengiyakan dan tidak sedikit yang mengabaikan. Begitupun Rasulullah SAW dengan suri tauladannya yang wajib diikuti. Dan seterusnya dilanjutkan oleh para ulama pewaris para nabi. Al-Qur’an dan Hadits kita ibaratkan sebagai kompas penunjuk arah. Dalam gelap dan gulitanya kebodohan, dua sumber itulah penerang hati dan jiwa. Manusia tidak akan tersesat bila berpedoman pada kebenaran yang murni.

Maka benar perkataan Nabi bahwa diakhir zaman kita akan jadi layaknya orang asing. Orang-orang yang berpegang pada kebenaran akan dipandang sebelah mata. Kita benar-benar sedang diputar balik, diobrak-abrik. Para penikmat keburukan bukanlah orang lain, melainkan mereka yang terpandang gelarnya, keturunannya, sayangnya mereka sudah bertekuk lutut pada hawa nafsunya. Otaknya sudah ditutupi rupiah. Untaian do’a dan ibadah mereka tidak lain hanyalah topeng. Dibalik itu semua mereka mengangguk mengiyakan kaum lan tardho. Diam-diam mengambil hak orang lain yang telah dinanti bertahun-tahun. ”Realistis aja sih, cari duit susah. toh kayak gini cuma beda caranya aja, tujuannya sama.” Berkata dengan lemah lembut. Mencuri pakai peci nampaknya memang cara paling ampuh untuk jadi kaya di negeri ini. Tenang saja, selama punya fans garis keras pasti ada yang bela. SAVE MAS YAKULTZ. Ternyata para penjual ayat itu benar-benar ada. Hati-hati dengan mereka, karena secara cover mereka sudah mencerminkan kesholehan.

Tidak sampai disitu. Sampai saat ini kita masih saja sibuk dalam perdebatan, perselisihan, bahkan pertengkaran tentang masalah-masalah yang sebenarnya sudah selesai dibahas para ulama terdahulu. Maka jangan heran kita masih belum bersatu. Saya pribadi miris dengan keadaan yang entah kapan akan berakhir ini. Saling tuduh, saling menyesatkan. Sebagai seorang awam, fenomena ini layaknya pertarungan saudara. Masing-masing mengedepankan ego. Antara satu sama lain ingin agar argumennya dilihat. Alih-alih membawa bendera persatuan, tanpa sadar tiap orang ingin berebut pengaruh. Siklusnya berputar dan berulang entah kapan berakhir. Fenomena ini tidak ada untungnya untuk persatuan. Bahkan lebih condong pada kerugian yang menyebabkan retaknya persaudaraan. Dikala kita sibuk saling hantam, musuh-musuh kita nun jauh disana tertawa sambil menginjak kepala saudara kita yang berlumuran darah. Teruskan saja perdebatan, hingga nanti kita sadar bahwa waktu kita sudah habis banyak untuk menghancurkan rumah sendiri. Rumah yang dibangun susah payah oleh keikhlasan para pendahulu.

Walhasil, kita hanya bisa berdoa dan berusaha sebaik mungkin. Karena itulah pilihan terbaik. Jangan capek-capek untuk berdoa agar persatuan itu kembali. Ingat, hidup itu pilihan. Ditengah hiruk pikuk negeri yang seakan tiada akhir, mari perlahan bangkit. Mari pantaskan diri kita untuk menjadi pemegang risalah kejayaan agama ini. Jangan bosan menentang kezhaliman. Teriakkan kebenaran sekeras-kerasnya. Nyatanya, kita hanya kurang terlihat saja. Ingat, berbuat baik itu perintah Sang Pencipta. Begitu juga melawan kemungkaran.

Kalau mereka bisa sepercaya diri itu menampakkan keburukan. Kenapa kita harus malu untuk berbuat baik?

Mari kita mulai perjuangan ini dengan Bismillah!


메타데이터
post_id
8e70cde133ea
slug
kalau-bisa-bersatu-kenapa-harus-terpecah-belah-8e70cde133ea
url
https://medium.com/@fandyladaima/kalau-bisa-bersatu-kenapa-harus-terpecah-belah-8e70cde133ea
canonical_url
https://medium.com/@fandyladaima/kalau-bisa-bersatu-kenapa-harus-terpecah-belah-8e70cde133ea
author_url
https://medium.com/@fandyladaima
status
ok
fetched_at
2026-07-17 08:22:18